Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Kebahagiaan Kedua Anakku


__ADS_3

Mario masuk, kemudian langsung menarik kursi dan duduk tepat di sebelahku. Dia menoleh ke arahku tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya. Dan aku, walaupun dengan degup jantung yang masih tak karuan akhirnya menyambut juga uluran tangan Mario.


Selesai dengan menjabat tanganku, Mario lalu mengulurkan tangannya ke arah kakakku, dan seperti biasanya, walaupun dia seorang polisi, Mario mencium punggung tangan kakakku.


Kakakku tersenyum sambil melirik ke arahku yang bersikap seperti biasa-biasa saja.


Kemudian mulailah antara kakakku dan Mario saling menanyakan kabar mereka. Dan mereka terlibat obrolan santai, dan aku yang mendengarkan hanya sesekali ikut tersenyum ketika melihat mereka berdua tertawa.


"Kamu kok pulang, apa cuti?" tanya kakakku yang memantik rasa ikut penasaranku karena aku juga penasaran kenapa Mario sampai bisa ada di sini.


"Nggak sih Kak, cuman pengen pulang aja. Karena sudah hampir dua tahun aku nggak pulang. Kangen sama Papa dan Mama, dan ingin ketemu seseorang juga" jawab Mario.


Kakakku tampak menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Mario. Dan aku kembali berusaha bersikap biasa saja mendengar jawabannya, walau tak urung aku juga penasaran siapa sebenarnya orang yang ingin ditemui oleh Mario.


Karena kedatangan Mario, akhirnya kakakku belum memberikan laporan kepadaku.


Karena mereka berdua terus mengobrol, akhirnya aku berinisiatif untuk masuk sendiri ke dalam kantor. Bertegur sapa dengan tiga orang karyawan kakakku yang ke semuanya adalah laki-laki. Dan ngobrol dengan santai dengan mereka.


Sesekali Aku mencuri pandang ke arah Mario melalui kaca jendela yang bisa membuat aku melihat dengan jelas Mario yang terus mengobrol dengan kakakku.


Aku akhirnya menanyakan kepada karyawan kakakku, kira-kira mereka tahu tidak laporan yang sudah disiapkan oleh kakakku. Tapi ketiganya menggeleng dan mengatakan jika mereka tidak berani masuk ke ruangan kakakku. Karena untuk masuk ke sana itu harus ada izin terlebih dahulu dari kakakku.


Dan aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil bergumam O panjang ketika mendengar jawaban mereka.


Hingga akhirnya aku sendiri yang bangkit dari kursiku dan masuk ke dalam ruangan kakakku.


Sebelum masuk, Aku menoleh ke arah tiga pria tersebut sambil berkata


"Kalian tahu kan, jika aku adiknya, jadi ya Kakak ku In Syaa Alloh nggak bakal marah"


"Mbak bukan hanya adik pak Indra, tapi Mbak juga pimpinan nomor satu di sini. Jadi kami yakin pak Indra tidak bakal marah" jawab salah satu dari mereka yang membuatku terkekeh.


Aku segera mendorong pintu ruangan kakakku dan langsung menuju meja kerjanya. Dan benar saja, di atas meja kerja kakakku aku sudah melihat sebuah laporan tebal yang di sampulnya bertuliskan "Laporan Tour and Travel".


Segera aku mengambil laporan tersebut dan membawanya keluar.


Lalu mengangkat laporan tersebut ke arah tiga karyawan kakakku yang menganggukkan kepala ke arahku.


Kemudian aku langsung berjalan keluar, di mana kakakku dan Mario masih tampak mengobrol akrab.

__ADS_1


"Kak, ini kan laporannya?, laporannya aku bawa ya?" ucapku sambil memamerkan laporan yang ada di tanganku.


"Iya, emang itu laporannya. Lah terus kamu mau ke mana?"


"Pulang. Aku meninggalkan toko loh Kak. Laporannya biar aku baca di ruko saja. Nanti jika ada yang aku nggak paham, aku bisa nelpon Kakak"


"Tapi dek?" tanya kakakku kembali sambil menoleh ke arah Mario yang saat ini menatap serius ke arahku.


"Kakak kan masih sibuk, masih ada tamu. Jadi yaaaa, nggak papa lah laporannya aku bawa pulang. Kakak lanjutkan aja ngobrolnya sama Mario" jawabku mengelak.


Kakakku tersenyum, kemudian menggeleng ke arahku. Dan aku paham arti kode yang diberikannya tersebut. Tetapi aku tetap bersikeras untuk pulang, karena aku tidak ingin suasana hatiku kembali kacau karena ada Mario.


Aku lalu mengulurkan tanganku arah kakakku, mencium punggung tangannya, lalu beralih mengulurkan tangan ke arah Mario.


"Aku juga pulang, kita pulang bareng" jawab Mario yang membuat ku sedikit kaget.


Aku hanya bisa tersenyum kaku mendengar jawaban Mario. Kemudian dengan senyum yang masih kaku di wajahku, aku juga menoleh ke arah kakakku yang tampak tersenyum dikulum.


Kemudian Mario bangkit dari kursinya dan kembali mengulurkan tangannya ke arah kakakku. Lalu secara bersama-sama, kami berpamitan dengan kak Indra dan keluar dari kantor tersebut.


"Motornya tinggalkan di sini saja Ntan. Biar nanti karyawan Kakak yang Kakak suruh untuk mengantar motor kamu ke toko" ucap kakak ku ketika aku sudah berjalan menuju motor matic ku.


Dan lagi-lagi keras kepalaku kumat, dengan cepat aku menggeleng


Kali ini yang tersenyum kaku bukan aku, melainkan Mario.


Lalu aku melambaikan tangan ke arah kakakku dan juga Mario. Kemudian aku langsung mengegas motorku meninggalkan Mario yang baru saja menyalakan mesin mobilnya.


Dan aku tidak melihat bagaimana ekspresi kakakku ketika melihat aku mendahului Mario.


Aku hanya melihat melalui kaca spion, di mana kulihat mobil Mario tampak mengiring di belakangku.


"Ini orang apa akan ikut aku ke toko ya?" gumamku karena Mario terus saja mengikuti ku.


Ternyata tebakan ku benar. Mario terus mengikuti ku sampai akhirnya mobil yang dikendarainya berhenti di depan tokoku ketika motorku juga berhenti.


Aku yang lebih dulu turun dari motor segera menghampirinya yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Aku sudah sampai, terima kasih"

__ADS_1


"Aku mau masuk, nggak boleh?" tanya Mario yang membuatku kembali kaget.


"Oh, mau masuk ya?, ya sudah nggak papa, silakan" jawabku akhirnya mengalah.


Dan Mario kembali tersenyum ke arahku yang membuat degup jantungku kembali berpacu tak menentu.


"Papaaaaa....." suara teriakan langsung mendominasi toko ketika aku dan Mario masuk.


Meka dan Bobby langsung berhamburan ke arah Mario yang merentangkan kedua tangannya. Langsung saja kedua anakku masuk ke dalam dekapan Mario, dan langsung mereka bertiga berpelukan erat.


Aku yang melihat ketiganya berpelukan hanya bisa melongo.


Bukan hanya aku, tetapi pengunjung toko dan juga karyawanku yang melihat adegan ini ikut melongo.


Aku lalu menepuk pundak Mario, sehingga Mario melepaskan dekapannya pada kedua anakku.


Meka dan Bobby yang sepertinya masih sangat kangen dengan Mario, terus saja melingkarkan tangan mereka ke lengan Mario.


"Papa ikut kami naik ke atas. Kita ngobrol di atas" ucap Meka sambil menarik tangan Mario.


Mario tidak menolak tarikan tangan Meka. Dia langsung berjalan melewati ku, dan berjalan menaiki tangga. Dan kembali Aku hanya bisa menarik nafas panjang melihat ketiganya.


"Itu siapa Buk?" tanya tiga orang kasir ketika aku masuk kearah bagian kasir.


"Tunangan ibuk" jawabku.


"Serius buk itu Tunangan Ibuk?, Ya ampun ganteng banget....." ucap ketiganya yang membuatku sadar jika aku sudah salah bicara.


"Nggak nggak nggak. Ibuk tadi salah ngomong. Dia itu saudara jauh Ibuk" ucapku meralat omonganku. Tapi ketiga karyawanku menggeleng kuat dan mereka langsung cekikikan .


"Ya ampun sumpah buk, ganteng banget. Tubuhnya macho, atletis. Benar-benar pria idaman aku banget...." ucap kasir cadangan ke arahku dengan mimik muka yang sangat tidak ku suka.


"Ih apa lah kamu ini" jawabku sambil meneyeng keningnya.


Kasir tersebut yang semula wajahnya seperti orang menghayal langsung mengusap keningnya. Dan nyengir ke arahku.


Aku lalu berusaha bersikap biasa saja, agar karyawan dan pengunjung tidak curiga.


Tapi ternyata usaha aku sia-sia, ketika tak lama berselang Meka turun dan memaksaku untuk ikut naik.

__ADS_1


"Ibuk ayo naik. Papa sudah nunggu di atas" ucap Meka lantang yang membuatku harus sedikit memejamkan mataku.


"Ibuk ayok. Apa ibuk nggak kangen sama papa??" teriak Meka lagi yang membuatku langsung dengan cepat menarik tangannya dan langsung mengajaknya naik ke atas.


__ADS_2