
Aku yang tengah rebahan di kamar terjaga ketika kurasakan ranjangku bergerak. Aku memasang senyum ketika kulihat ternyata Mario yang membuat ranjangku bergoyang tadi
Aku mengulurkan tanganku dengan manja kearah Mario, yang membuatnya segera masuk dan menelungkupkan wajahnya di atas dadaku
“Sudah dari tadi?” tanyaku sambil mencium kepalanya
“Barusan. Niatnya sih pengen peluk kamu diam-diam, ehh malah kamunya terjaga” jawabnya yang membuatku tersenyum
“Makan siang ya?”
Mario mengangguk yang membuatku menepuk bahunya menyuruhnya bangun. Dan Mario segera bangun diikuti menarik tanganku, membantuku duduk. Kemudian secara bersama kami keluar dari dalam kamar dan berjalan menuruni tangga
“Im… sekalian makan bareng, yok?” ajakku dengan setengah berteriak ketika sudah berada di bawah
Terdengar sahutan dari Ibrahim. Tanpa menunggunya, aku dan Mario langsung berjalan kearah dapur. Aku segera menyiapkan makan siang untuk Mario. Dan ini adalah makan siang pertama kami di rumah kami setelah beberapa hari kemarin di rumah orang tuaku dan di rumah orang tuanya Mario
“Cappuccino sayang……”
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian segera mengambil teremos dan juga kopi instan kesukaan Mario. Sedangkan Mario sendiri telah mulai makan siang sambil memperhatikan aku yang tengah menyeduh kopi kesukaannya
“Aku bisa buat sendiri kak…..”
Aku mengangkat kepalaku mendengar suara Ibrahim, kemudian aku mencebik kearahnya yang dijawabnya dengan terkekeh. Sembari aku meletakkan cangkir kopi di dekat Mario, Ibrahim juga duduk dengan piring yang berisikan nasi dan mengepulkan sedikit asap
“Bagaimana mas?” tanya Ibrahim di sela-sela dia makan
Aku menghentikan kunyahanku, lalu menoleh kearah Ibrahim. Menerka kira-kira apa maksud pertanyaannya
“Apanya yang bagaimana?” Mario balik bertanya
“Tahanan baru di kantor mas……”
Aku langsung menarik nafas panjang kemudian melirik kearah Ibrahim dengan tatapan tak suka
“Oh, baik. Kenapa emangnya?”
Ibrahim terkekeh yang membuatku kembali melirik kearahnya
“Bagus deh jika dia baik. Dan semoga aja dia betah di sana” sambung Ibrahim setelah dia selesai terkekehnya
Sekarang giliranku menatap kearah Mario, menantikan kejelasan jawabannya
“Tergantung kakak kamu sih Im, mau mas Arif dipenjara atau nggak” jawab Mario sambil menoleh ke arahku
“Lah kok aku? aneh” protesku tak suka
__ADS_1
Mario tersenyum kemudian tanpa kami minta dia mulai menceritakan bagaimana mas Arif yang nantanginnya
“Ya nggak usah di penjara lah. Kasihan loh sama Mirna. Mereka loh ada anak kecil. Aku yakin orang tua mereka pasti kebingungan karena sudah berapa hari ini anak mereka nggak pulang”
Ibrahim meletakkan sendok lalu menatap ke arahku dengan wajah masam.
“Please deh kak, nggak suka aku dengarnya”
Aku mendecak kemudian melanjutkan makanku tanpa mempedulikan Mario yang terus bercerita tentang sikap mas Arif yang tidak ramah padanya
“Gimana sayang, dipenjara atau di pulangkan?”
Aku diam lalu menarik nafas panjang
“Kan dia nggak buat keributan sih Yo, pulangkan aja ya?”
“Nggak buat keributan apa? Kakak jangan ngayal deh, jelas-jelas dia buat keributan kok malah bilang dia nggak buat keributan. Aneh”
Aku kembali memasang wajah tak suka kearah Ibrahim
“Kasihan sama Meka dan Bobby, Im. Masa sih ayah mereka harus dipenjara lagi. Nanti mereka malah benci loh sama kakak dan mas mu gara-gara masalah sepele ini. Sudahlah, toh mereka berdua juga sudah pernah mendekam di penjara cukup lama. Masa sekarang mau dihukum lagi. Kalau menurut hemat kakak sih, dipulangkan ajalah dengan perjanjian hitam di atas putih”
Ibrahim dan Mario diam, sepertinya keduanya tampak memikirkan ucapanku
Aku menarik nafas panjang mendengar keputusan Mario. Aku tidak berani membantah, karena aku takut malah kami nanti yang akan salah faham. Dan Ibrahim walau awalnya sempat tidak setuju dengan ide Mario, tapi akhirnya setelah Mario meyakinkannya, akhirnya Ibrahim setuju juga walau setengah hati
Jam satu siang Mario kembali lagi ke kantor dan bilang jika dia akan pulang begitu jam kantor bubar, walau sebenarnya aku tahu, abdi negara seperti dia itu mana ada jam pulang tepat waktu. Pasti molor, bahkan molornya bisa sampai tengah malam jika ada kejadian atau pekerjaan mendadak
Aku hanya melambaikan tanganku kearah Mario ketika dia naik keatas motor besarnya, kemudian aku masuk dan bergabung bersama Ibrahim di ruang kerjanya. Membantunya mengecek semua orderan apakah sudah sampai kepada pemiliknya atau belum atau juga melihat sudah sampai di mana pesananku untuk tokoku sendiri
Sementara Ibrahim yang tampak mengantuk setelah makan siang, aku suruh beristirahat dan aku menggantikan tugasnya dengan semangat. Karena tugas ini sudah lama sekali aku tinggalkan
Dan di lain tempat, Mario yang sudah tiba di kantornya disambut oleh anak buahnya dengan anggukan hormat
“Lanjutkan saja istirahatnya jika memang belum ada yang selesai makan siang. Sementara yang sudah ready, silahkan lanjutkan tugasnya dengan tanggung jawab masing-masing, ya?”
Anak buah Mario kembali menganggukkan kepala mereka, dan mulai bergerak kembali ketempat mereka begitu mendengar instruksi dari Mario. Sementara Mario yang masuk kedalam ruangannya tampak menghubungi anak buahnya ketika dia sudah duduk di kursinya
Tak lama seorang polisi masuk dan mengatakan ada tugas apa yang harus dikerjakannya
“Kamu buat draft perjanjian buat seseorang yang ada di dalam penjara itu. Setelah selesai antarkan kembali kesini”
Petugas yang dipanggil Mario tersebut menganggukkan kepalanya, kemudian segera keluar dari dalam ruangan Mario, tapi tak lama kemudian dia masuk kembali dengan laptop di tangannya
“Maaf komandan, saya tadi lupa menanyakan apa saja isi draft perjanjiannya?”
__ADS_1
Mario tersenyum kemudian memutar kursinya, dan bangkit dari kursi tersebut, berjalan kearah anak buahnya yang sudah duduk di sofa
“Tulis di perjanjian tersebut, jika yang bersangkutan tidak bisa seenaknya menemui istri saya. Dan jika itu dia langgar, maka dia akan masuk ke penjara. Terlebih jika dia kembali melakukan intimidasi yang membuat istri saya takut”
“Selanjutnya kamu buat juga jika yang bersangkutan ingin menemui kedua anaknya yang tinggal bersama kami, harus izin dahulu sama kami berdua, tidak bisa menemui seenaknya, apalagi jika coba-coba membawa kabur kedua anak kami”
“Yang terakhir kamu buat, jika yang bersangkutan tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan istri saya, oleh karena itu, diharapkan kepadanya untuk sadar dan menerima kenyataan”
Anak buah Mario langsung menahan tawanya ketika mendengar draft terakhir yang disebutkan Mario. Dan Mario yang melihat anak buahnya menahan tawa segera bertanya yang membuat anak buahnya langsung gugup
“Kamu nggak tahu bagaimana bajingannya lelaki itu ketika menjadi suami istri saya. Makanya saya tak ingin jika dia masih berharap untuk kembali pada istri saya. Karena jika dia masih saja berfikir jika aku akan melepaskan istri saya, maka saya tak akan segan-segan membuat perhitungan padanya”
Anak buah Mario hanya menganggukkan kepalanya dan segera mengetikkan draft yang tadi diperintahkan oleh atasannya. Dan ketika selesai, laptop yang sejak tadi menghadap kearahnya, diputarnya kearah Mario, meminta pada Mario untuk membaca terlebih dahulu draft yang telah diketiknya
Dan Mario mengangguk setuju ketika dia telah selesai membaca ketikan yang tampil di layar laptop tersebut. Kemudian anak buah Mario segera berpamitan untuk kembali keruangannya karena akan mencetak draft yang telah di setujui oleh Mario
“Awas saja jika mas Arif tidak setuju. Jika dia tidak setuju aku sih gampang saja akan tetap memenjarakannya” gumam Mario
Tak lama berselang kembali ruangan Mario diketuk dan muncul anak buahnya yang tadi keluar. Dan sekarang di tangannya telah ada map berwarna merah yang berisi dua lembar kertas perjanjian yang tadi telah dicetaknya
Segera Mario menerima map yang diulurkan oleh anak buahnya, kemudian keluar dari dalam ruangannya dan berjalan kea rah penjara
“Pak Mario. Tolong pak keluarkan saya pak…..” rengek Mirna ketika Mario berdiri di depan penjara mereka
Mario bergeming, tidak merespon ucapan memelas Mirna. Matanya langsung tertuju pada mas Arif yang hanya menatap kearahnya dengan tatapan dingin
“Mas Arif, di tangan saya saat ini telah ada perjanjian kesepakatan yang harus mas tanda tangani. Jika mas setuju dengan perjanjian ini, mas silahkan tanda tangan, dan mas langsung bisa pulang. Tapi jika mas menolak, maka kasus ini akan saya lanjutkan”
Mata Mirna berbinar mendengar ucapan Mario, segera dia berjalan cepat kearah mas Arif yang masih saja duduk di tempatnya
“Ayo mas, mas segera tanda tangani surat perjanjian yang ditawarkan oleh pak Mario, setelah itu kita pulang. Aku kefikiran terus mas sama anak kita. Sudah tiga hari dia kita tinggalkan. Mas setuju saja apa isi perjanjian tersebut, karena aku yakin perjanjiannya nggak sulit”
Mario menepis tangan Mirna, dan kembali menatap tajam kearah Mario yang masih berdiri di tempatnya
“Bagaimana mas?. Saya sudah berbaik hati loh sama mas berdua. Jika mas memang tidak mau sih nggak apa-apa. Palingan mas mendekam lagi di penjara”
Mas Arif mendecak, kemudian dengan malas akhirnya dia bangkit dan berjalan kearah Mario yang menatap kearahnya dengan tatapan penuh kemenangan
“Sini!” ucap mas Arif tak ramah sambil mengulurkan tangannya
Dengan cepat Mario memberikan map yang sejak tadi dia pegang. Dan mas Arif mengambil map tersebut masih wajah tak ramah
Mario menatap setiap inci wajah mas Arif ketika dia membaca draft perjanjian yang saat ini di tatapnya dengan serius tersebut
“Perjanjian apa ini?. Nggak. Aku nggak mau menandatanganinya” jawab mas Arif cepat sambil mengembalikan map kepada Mario dengan kasar dan berlalu dari hadapan Mario
__ADS_1