Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Keinginan Mas Arif


__ADS_3

"Jika begini cara kamu, uang pembagian dari hasil jual mobil kalian nggak bakal mama kasih dengan kamu" lanjut mantan mertuaku masih dengan nada marah


"Loh kok bisa gitu ma?, perjanjiannya kan bagi rata"


"Nggak, enak aja kamu mau nikmati uang hasil dari anakku. Anakku yang kerja, sedangkan kamu enak-enakan ongkang kaki di rumah"


"Ya Alloh ma, segitunya ya mama nilai aku, mama pikir aku jualan itu uangnya untuk aku sendiri?, tanya mas Arif ma bagaimana aku juga membantu mencukupi biaya hidup kami"


"Terserah, tapi yang jelas uang beli mobil kan uangnya Arif, bukan uang kamu"


Aku diam, jawaban mamanya mas Arif memang benar, uang beli mobil adalah uangnya mas Arif, dia kredit tiap bulan, tapikan itu harta bersama karena dibeli waktu kami menikah, nggak bisa dong kalau mamanya mas Arif hanya menganggap jika itu semua punya mas Arif


"Mama ngomong gini sama aku sudah rembukan dan dapat restu nggak dari mas Arif?"


"Nggak perlu ijin dari Arif, dia pasti nurut apa kata saya"


"Nggak bisa ma, jika mama begini modelnya aku akan bawa masalah ini ke pengadilan, kita selesaikan di pengadilan"


Terdengar suara tawa mengejek dari mamanya mas Arif


"Nggak punya malu, kenapa, calon kamu orang miskin, iya?, sampai kamu masih ngarep uang dari harta gono gini?"


Aku menarik nafas dalam kembali mencoba mati-matian menahan marah yang siap meledak


"Pa, apa papa kesini memang mau ngomongin masalah ini?" aku mencoba mengalihkan perhatianku pada mantan papa mertuaku


Papanya mas Arif diam, dan itu sudah cukup sebagai jawaban untukku


"Oke, aku akan nemui mas Arif kalau gitu, aku mau dengar langsung dari mas Arif, jika memang itu maunya mas Arif, oke, aku nggak apa-apa. Memang benar yang mama tadi bilang, semua kredit dipotong dari gajinya mas Arif, sedangkan aku nggak ada gaji, jadi wajar kalau aku memang tidak punya hak atas mobil itu"


"Tuh kamu sadar"


Aku memaksa senyum getir mendengar jawaban menohok mamanya mas Arif


"Oh iya, ngomong-ngomong gimana ma dengan kehamilannya Mirna?"


Wajah mamanya mas Arif kembali terkesiap


"Dari mana kamu tahu dia hamil, jangan ngarang sembarangan kamu"


"Loh kok ngarang sih ma, aku belum lama ini sekitar sebulan yang lalu besuk mas Arif, dan dia bilang kalau Mirna hamil, dan aku meminta pada mas Arif untuk tanggung jawab"

__ADS_1


Wajah mamanya mas Arif memerah dan menatapku dengan tajam


"Dan aku juga tahu, kalau tak lama setelah itu mas Arif nikahi Mirna"


"Dari mana kamu tahu jika Arif menikah?"


Aku tersenyum mendengar nada sinis dari mamanya mas Arif


"Apa sih ma yang nggak jaman sekarang, ada gempa saat ini saja di Amerika sana, lima menit kemudian seluruh dunia bakal tahu, apalagi kalau cuma masalah pernikahan mas Arif" jawabku santai tapi mengena


"Hemm, belum move on kamu rupanya dari Arif, buktinya kamu masih mencari tahu tentang kabar Arif"


Kembali aku tersenyum


"Ma, aku menghargai mama dan papa sebagai kakek neneknya Meka dan Bobbi, mertua aku dulu, tapi kalau aku masih berharap dengan mas Arif, nggak mungkin kan ma aku menggugat mas Arif apalagi sekarang aku sudah tunangan"


Kembali aku lihat mamanya mas Arif tersenyum mengejek


Karena tak ingin semakin ribut aku memilih untuk diam, dan akhirnya kami berempat diam semua, tak ada yang bersuara, sampai akhirnya papanya mas Arif berinisiatif mengajak istri dan anaknya pulang


Walau dengan hati yang dongkol aku masih mencium punggung tangan mamanya mas Arif ketika beliau akan masuk kedalam mobil


"Ingat ya Ntan, ini rumah anak kamu, bukan rumah kamu" kembali beliau berkata sambil melihat kearah rumah kami


Setelah mereka pergi aku masuk kedalam rumah dan tercenung.


"Ya Tuhan, kenapa malah jadi begini sih?" gumamku bingung


Aku jadi tak sabar menunggu besok agar aku bisa langsung menemui mas Arif di penjara, aku ingin bertanya langsung padanya


Berkali-kali aku menghembus nafas panjang berusaha menenangkan diriku yang tiba-tiba kembali merasa marah


...-------_--------...


Besoknya sekitar jam sebelas aku keluar dari rumah dengan kembali mengendarai motor matic kesayanganku, tujuanku satu, lapas tempat mas Arif ditahan


Setengah jam lebih selanjutnya aku sudah berada di area parkiran di lapas, segera aku turun dari motor berjalan masuk dan menemui bagian depan, memberitahukan jika aku berniat membesuk mas Arif


Setelah petugas tersebut mencatat namaku, aku diminta untuk menunggu di ruang tunggu khusus, hingga tak lama kemudian mas Arif muncul


Wajahnya tirus dan tak terawat, tampak kuyu sekali, tubuhnya juga tampak kurus, aku yakin pasti mas Arif tertekan batin selama disini, syukurin, lagian salah sendiri, kenapa juga berlaku bodoh, sudah nakal bodoh pula, akhirnya kena karmanya kan?

__ADS_1


Mas Arif memasang senyum samar sambil duduk di depanku, aku juga memasang senyum samar padanya


Kami saling bertanya kabar sampai akhirnya aku memberikan sebuah bungkusan padanya


"Titip untuk Mirna juga ya mas, bumil itu harus banyak makan makakan bergizi, dan aku nggak yakin bagaimana dia memenuhinya selama dia di penjara ini" ucapku


Mata mas Arif tampak terbelalak ketika aku menyebutkan jika aku juga membawa makanan untuk istrinya


Tak lama mas Arif yang mulai berusaha tenang dengan menanyakan kabar kedua anak kami dan menanyakan mengapa aku tidak membawa serta mereka berdua, padahal mas Arif sangat kangen dengan mereka


"Begini mas, aku kesini karena ada yang ingin aku tanyakan sama kamu"


Kulihat wajah mas Arif menyiratkan kekagetan dan keingintahuannya


"Mau nanya apa ma?"


Aku tertawa datar mendengar mas Arif yang sampai detik ini masih memanggilku dengan sebutan mama


"Intan mas, nggak enak kalau Mirna mendengar, nanti dia salah sangka" ralatku sambil tersenyum getir kearahnya


Mas Arif juga berusaha tertawa mendengar penjelasanku


"Gini mas, kemaren mama sama papa ke rumah, dan mereka bilang nggak mau ngasih uang hasil jual mobil mas, dengan alasan karena itu semua hasil uang mas, nggak ada hasil aku, padahal janji awalnya nggak gini mas, mama sama papa janji depan ayah ibu aku kalau bakal bagi rata"


"Mama juga bilang, ini atas persetujuan mas, benar mas?"


Kulihat mas Arif diam, tampak gelisah dan berusaha menghindari tatapanku


"Mas...?" kejarku karena melihatnya gelisah


Mas Arif masih tak menjawab yang akhirnya membuatku mengangguk-anggukkan kepalaku mengerti


"Oh.... gitu ya mas?" aku berkata sambil berusaha tersenyum getir kearahnya


"Oke, memang benar itu hasil uang mas semua, aku nggak ada hak sama sekali, oke lah. Benar kata mama aku harusnya sadar diri"


Aku mencoba tertawa kemudian menghembus nafas panjang


"Itu karena kamu mau menikah lagi Ntan, mas nggak suka dengarnya, mas sakit hati"


Aku melongo mendengar ucapannya

__ADS_1


"Sakit hati??!"


__ADS_2