
"Ada yang bisa kami bantu mbak? Mau cari apa?” tanya seorang pelayan yang langsung menghampiri kedua wanita cantik yang saat ini menatap ke arahku itu
Kedua kasir yang ada di sebelahku saling toleh, dan kulirik keduanya saling member kode dengan tatapan mata mereka
Sementara pelayan yang tadi menawarkan bantuan kearah Tasya dan Raisa masih berdiri di tempatnya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya
“Kami mau bicara sama mbak Intan” jawab Raisa tanpa menoleh ke pelayan yang tadi menawarkan jasanya
Mendengar itu kedua kasir yang ada di sebelahku kembali saling toleh
“Mbak ini yang buat video minta maaf dulu itu kan?” tanya salah satu kasirku kearah mereka
Tampak olehku senyum kaku di wajah Raisa dan Tasya ketika mendengar pertanyaan kasirku tersebut
“Oh, mbak nonto ya?” tanya Tasya
Kasir yang tadi bertanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap ke arahku yang masih diam memperhatikan mereka berlima
“Bisa kita bicara mbak?” tanya Tasya lagi yang membuatku menoleh ragu kearah kedua kasirku.
“Mas bisa balik lagi kesana, ini tamu kakak” ucapku kearah pelayan yang masih berdiri di tempatnya. Pelayan itu menganggukkan kepalanya ketika mendengar perintahku, tapi kedua kasirku masih menatap ke arahku dengan menggelengkan kepala mereka
“Nggak apa-apa” ucapku pada mereka yang sekarang menatap kearah Raisa dan Tasya dengan tatapan curiga
“Terima kasih mbak” ucap Raisa
Aku tidak mengomentari ucapan terima kasihnya, aku segera menepuk pelan kasir yang berdiri tepat di sampingku, kemudian aku meninggalkan tempat dinasku, berjalan kearah luar
Raisa dan Tasya mengekor di belakangku ketika aku berjalan lebih dulu. Kemudian aku berjalan kearah samping, duduk di atas semen pembatas bangunan ruko. Sementara Raisa dan Tasya berdiri di depanku
“Mau bicara apa?” tanyaku setelah kami saling tatap
“Kak Mario nyuekin kami” buka Tasya yang disusul dengan anggukan kepala dari Raisa
Aku menarik nafas panjang, kemudian melengos mendengar ucapannya. Ucapan klise, batinku. Kemudian aku kembali menatap keduanya
“Terus tujuan kalian kemari, mau apa?” tanyaku
Keduanya diam, dan tampak saling toleh
__ADS_1
“Masih menuduh jika aku yang membuat ulah, masih menuduh jika aku yang brain wash Mario. Masih mau bilang jika aku yang sudah menghasut Mario, gitu?” tanyaku karena mereka berdua masih terus diam
“Sekali lagi aku tekan kan dengan kalian berdua, aku tidak pernah menghasut Mario dan tidak pernah menyuruh Mario untuk membenci kalian. Jika sekarang Mario nyuekin kalian, kalian jangan datang sama aku dong. Kalian temuin Mario, kalian bicara empat mata sama dia. Tanyakan sama dia kenapa dia nyuekin kalian”
“Kalian salah tempat jika datang padaku, karena aku sama sekali nggak tahu kenapa Mario menjauhi kalian. Harusnya kalian yang paling tahu kenapa Mario berbuat demikian sama kalian. Jika kalian tidak salah, tidak mungkin kan Mario sampai begini sikapnya sama kalian” tambahku lagi
Keduanya masih diam, dan akhirnya mungkin karena lelah berdiri, keduanya memilih duduk di sebelahku. Kudegar tarikan nafas panjang dari Tasya, dan aku hanya menatap lurus ke depan, tanpa sedikitpun menoleh kearahnya yang duduk tepat di sebelahku
“Mbak mau kan bantu kami?” lirihnya
Dengan cepat aku menoleh kearah Tasya, menatap heran kearahnya yang juga menatap ke arahku dengan tatapan sedih. Aku menggeleng
“Maaf, aku tidak bisa mencampuri urusan kalian. Ini urusan pribadi antara kalian dan Mario. Kalian selesaikan sendiri. Ada baiknya kalian minta bantuan mama sama papa, karena aku yakin mama sama papa adalah orang yang paling tepat untuk menyelesaikan urusan kalian sama Mario”
“Tapi mbak, mama sama papa juga nggak bisa” jawab Raisa cepat
Giliran aku yang menarik nafas panjang sekarang
“Mama sama papa saja nggak bisa, apalagi aku” jawab ku kemudian
“Tolong lah mbak, karena hanya mbak yang bisa bantu kami. Kami sangat menyesal mbak. Sumpah” ucap Tasya sambil menarik tanganku
Dengan cepat tanganku yang ditariknya aku tarik kembali
Tasya diam, kemudian dia menoleh kearah adiknya
“Aku yakin kalian menyesal karena dicuekin Mario, iya kan?” ucapku lagi sambil tersenyum sinis
“Kalian pasti tahu kantor tempat Mario berdinas, silahkan kalian temui dia disana. Maaf aku tidak bisa membantu kalian untuk akur dengan Mario. Asal kalian tahu, aku sudah berusaha membujuk Mario untuk memaafkan kalian dan memintanya membuka kembali komunikasi diantara kalian. Jika sampai saat ini Mario masih saja belum membuka pintu maaf atau komunikasi antara kalian, itu bukan salahku. Aku tegaskan sekali lagi, itu bukan salahku, karena aku sudah berusaha untuk membujuk Mario. Tapi seperti yang kalian lihat, Mario masih menutup jalur komunikasi untuk kalian”
“Jadi mbak nggak mau bantu kami?” tanya keduanya lagi serempak
Aku menarik nafas panjang
“Maaf Sya, bukan aku tidak mau. Tapi ini diluar mampuku. Aku nggak mampu membujuk Mario. Kalian berdualah yang bisa, kan kalian bersaudara, masa kalian tidak faham sifat satu sama lain?” tanyaku yang membuat keduanya kembali terdiam
“Kalian tentu tahu jika tadi pagi Mario berangkat pagi-pagi sekali dari rumah” ucapku kembali sambil tersenyum sinis dan menggeleng-gelengkan kepalaku
Tasya dan Raisa kembali menunduk, dan aku dapati ada raut sedih dari wajah keduanya. Tapi aku tidak boleh tertipu dengan wajah sedih mereka. Karena mereka berdua adalah queen drama yang hebat. Bukan sekali dua aku berdebat dengan mereka. Bisa saja kali ini wajah sedih mereka adalah tipuan belaka
__ADS_1
“Maaf, aku harus masuk toko kembali” ucapku sambil berdiri dan meninggalkan keduanya yang hanya bisa menatap kepergianku dengan diam
“Bagaimana kak? Mereka bilang apa tadi?” tanya kedua kasirku ketika aku masuk kebagian kasir kembali
Aku langsung meneyeng kepala keduanya yang membuat keduanya terkekeh
“Kepo….” Ucapku dengan mendelikkan mataku kearah mereka
Selanjutnya aku sudah tidak tahu bagaimana Raisa dan Tasya selanjutnya, karena aku sudah kembali fokus bekerja. Hingga jam istirahat barulah aku naik ke atas, duduk di balkon dengan menyelonjorkan kakiku
“Sayang…..” ucap sebuah suara yang mengagetkan ku yang tengah fokus menatap layar hp
Aku menoleh dan mendapati Mario berjalan ke arahku, kemudian ikut duduk di sebelahku
“Lagi apa?” tanya Mario memiringkan tubuhnya melihat layar hp ku
Aku memamerkan hp ku padanya, yang membuatnya tersenyum begitu mengetahui jika aku sedang melihat video dekorasi pernikahan
“Semua EO yang handle, kamu tenang saja” ucap Mario yang langsung merebahkan tubuhnya di atas pahaku
Aku meletakkan hp kemudian mengusap lembut kepalanya
“Makan yuk, aku yakin jatah makan siang sudah sampai” ucapku sambil terus membelai kepalanya
Mario tak menjawab, melainkan menarik tanganku dan mendekapnya
“Tasya dan Raisa tadi kesini?” tanyanya sambil menatap serius wajahku
Aku tersenyum kaku kemudian mengangguk
“Mereka bilang apa?”
Aku meraih hp yang tadi letakkan, kemudian membuka menu rekaman percakapan kami tadi
“Kamu dengarin saja ini. Aku sengaja merekam percakapan kami. Aku nggak mau Tasya dan Raisa kembali memutar balikkan fakta seperti yang sering mereka lakukan” ucapku sambil memberikan hp pada Mario
Kemudian terdengarlah suara percakapan dari kami bertiga tadi, dan kulihat wajah Mario masih datar tanpa ekspresi, hingga percakapan itu selesai
“Maafkanlah mereka Mario. Mereka adik kandung mu, adik kesayanganmu. Kamu jangan egois, toh mereka sudah menyesali perbuatan mereka” ucapku ketika Mario meletakkan hp tersebut di lantai, di sebelahnya
__ADS_1
Mario masih diam, matanya masih lurus menatap kelangit balkon. Dan aku membiarkan dia bermain dengan perasaan dan pikirannya, sampai akhirnya Mario memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggangku
“Aku masih belum bisa memaafkan mereka…..”