
Meka dan Bobby segera mencium punggung tanganku, dan aku segera mencium kepala mereka ketika mereka sedikit membungkuk
Ketika mereka akan mencium punggung tangan ayah mereka, mas Arif memilih memeluk keduanya
“Ayah sangat sayang sama kalian” lirih mas Arif yang dijawab kedua anaknya dengan tersenyum.
Ketika giliran Mario mengulurkan tangan, kedua anakku malah memilih memeluknya, bahkan Bobby sampai menarik wajah Mario dan mencium wajah Mario
Tentu saja ini makin membuat wajah Mas Arif tak suka, dan melengos. Jika Bobby mencium wajah Mario, maka Meka cukup dengan memeluk dan tersenyum penuh arti
“Dah ibuk, papa, ayah……” ucap keduanya sambil berlari kearah dua angkot jemputan mereka yang sudah menunggu di jalan
Kami melambaikan tangan ketika supir mengklakson, kemudian kami membalik badan kami dan berniat masuk
“Mario tunggu!!!”
Aku sudah menangkap nada tak ramah dari nada panggilan mas Arif. Mario yang berjalan bersamaku menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kearah mas Arif yang berdiri di belakang kami
“Ya mas?”
Mas Arif mendekat, kemudian menatap tajam kearah Mario yang masih berusaha untuk tenang
“Bisa tinggalkan kami berdua buk?” ucap mas Arif sambil menoleh ke arahku
Aku tidak menjawab melainkan menatap kearah Mario yang tersenyum ke arahku sambil menganggukkan kepalanya
“A cup of coffee, please” lirihnya sambil mengacak puncak kepalaku
Aku masih bergeming, dan menatap tajam kearah mas Arif yang masih saja menatap dingin kearah Mario
“Sudah…..” lirih Mario masih terus tersenyum ke arahku yang membuatku akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang dan meninggalkan keduanya dengan perasaan campur aduk
“Bisa kita kesana?” tunjuk mas Arif kearah sudut teras ruko.
Mario mengangguk dan mengikuti mas Arif yang berjalan mendahuluinya dan keduanya duduk di semen pembatas
“Apa yang sudah kamu lakukan pada kedua anak saya?” Tanya mas Arif dengan nada dingin ketika keduanya sudah duduk
“Maksudnya mas?” jawab Mario bingung
__ADS_1
Mas Arif tersenyum sinis mendengar jawaban Mario. Kemudian dia membuang mukanya, melihat kearah jalan raya yang sudah tampak ramai dengan orang-orang yang hendak berangkat beraktifitas
“Saya bukan bodoh Mario. Saya melihat dengan jelas bagaimana perbedaan perlakuan kedua anak saya dengan kamu. Bahkan Meka yang seharusnya menjadikan saya cinta pertamanya, tapi lebih memandang sayang kepada kamu ketimbang saya”
Mario tertawa lirih mendengar ucapan mas Arif, dan berusaha untuk tetap tenang menghadapi mas Arif yang masih terus menatap dingin ke arahnya.
“Mario nggak salah. Yang salah itu kamu mas” jawabku yang muncul sambil membawa dua cangkir kopi
Mas Arif membuang mukanya, dan tidak menoleh sedikitpun ke arahku bahkan ketika aku meletakkan cangkir kopi di depannya
“Anak itu tahu mas mana yang tulus mana yang modus” tambahku sambil ikut duduk
“Jadi ibuk anggap, aku nggak tulus menyayangi kedua anak kita?”
Mario menggeleng ketika aku telah siap menjawab omongan mas Arif
“Sayang, dengarin aku ya. Tadi mas Arif cuma mau ngomong sama aku, berdua, empat mata, bukan enam mata. Jadi aku mohon, kamu masuk lagi yaaaa”
Seketika aku mendecak kesal mendapati jawaban Mario, dan segera kembali meninggalkan keduanya dengan masuk sambil memasang wajah masam
“Terus terang saya nggak suka lihat kamu akrab dengan kedua anak saya” lanjut mas Arif masih dengan nada dingin
“Saat kamu nanti jadi ayah kamu akan merasakan apa yang saat ini saya rasakan Mario”
Mario kembali untuk tersenyum dengan meraih cangkir kopi miliknya lalu menyeruputnya dengan nikmat
“Aku tidak pernah merebut mereka dari mas, ataupun berpura-pura baik dengan mereka di depan mas. Mas adalah orang tua mereka, dan aku sangat menyadari itu. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan permintaan dan perlakuan mereka padaku”
“Jujur mas, aku baik sama Meka dan Bobby bukan karena aku mau menikahi Intan, bukan mas. Tapi aku akui, sebelum aku dekat kembali dengan Intan, aku mengambil hati mereka berdua dulu. Bak pepatah orang dulu, jika ingin mendekati janda, maka dekatilah dulu anaknya” lanjut Mario berusaha untuk bercanda dengan harapan bisa mencairkan suasana”
Kembali mas Arif tertawa sinis mendengar joke garing Mario
“Dan kamu sering menginap disini?” kembali nada dingin keluar dari mulut mas Arif ketika dia berkata demikian
Dan aku yang menguping pembicaraan mereka telah siap untuk kembali keluar ketika mendengar tuduhan mas Arif. Tapi diluar prediksiku, malah aku mendengar tawa dari Mario
“Bagaimana aku bisa sering tidur disini mas, aku dua tahun dinas di propinsi berbeda, dan sebelum inipun mas tahu tempat aku dinas. Jadi dari mana aku bisa sering tidur disini. Ini adalah kali pertamanya untuk aku tidur disini. Dan inipun karena aku ingin menepati janji pada anak-anak”
“Jika aku pulang ke rumah, yang ada aku nggak bakal bangun sebelum siang. Dan aku yakin anak-anak pasti kecewa”
__ADS_1
Kembali terdengar nada mencemooh dari mas Arif mendengar jawaban Mario
“Maafkan aku mas jika kehadiran aku kemarin dan pagi ini bikin mood mas buruk. Aku nggak nyangka jika kita bakal ketemu, karena jujur saja aku baru pulang kemarin lusa kesini. Dan tujuan aku pulang selain karena aku pindah tugas, juga karena aku bakal menikah dengan Intan”
Mas Arif langsung berdiri di depan Mario yang masih duduk di tempatnya
“Maksud kamu apa?, kamu sengaja mau manas-manasin saya?”
Mario mendongakkan kepalanya dan menatap kearah mas Arif yang wajahnya sudah semakin tak sedap dipandang
Aku yang mendengar suasana sudah tidak kondusif segera keluar, dan berjalan cepat kearah mereka berdua. Dengan cepat aku menarik bahu mas Arif
“Maksud kamu apa mas, hem???. Sudah aku bilang aku dan Mario memang akan menikah, suka atau tidak suka mas sama pernikahan kami itu bukan urusan kami. Ingat mas, mas sudah menikah, bahkan saat aku masih menjadi istri kamu”
“Dan sekarang ngapain mas marah-marah mendengar kami mau menikah? Nggak suka???!”
Mario yang telah berdiri begitu aku menarik bahu mas Arif segera memegangi bahuku
“Sudah sayang, kamu jangan marah-marah. Aku saja yang ditantang mas Arif nggak marah kok, kamu yang tenang yaaa……”
BUGGHHH…..
Aku sangat kaget begitu melihat Mario terhuyung kebelakang akibat hantaman tinju besar dari mas Arif. Aku terpekik tertahan melihat mas Arif kembali maju dan sekarang kembali melayangkan pukulan kerasnya kearah Mario
“Stoppp!!!!!” teriakku lantang melihat mas Arif kembali melayangkan pukulannya kearah Mario
“Sayang kamu mundur” ucap Mario menghindari pukulan Mas Arif lagi ketika mas Arif sudah siap untuk kembali melayangkan pukulannya
Rupanya teriakan panikku terdengar sampai kedalam, sehingga Ibrahim dan kedua temannya terbangun dan segera berlari keluar ketika mendengar suara gedebak gedebuk
“Kurang ajar kamu Mario!!!. Tidak akan saya biarkan Intan dan kedua anakku menjadi milikmu!!! Teriak mas Arif lantang dengan nafas memburu
“Kurang ajar kamu Arif……!!!!!”
Aku menoleh cepat ketika aku melihat Ibrahim berlari seperti kesetanan sambil melayangkan kakinya kearah mas Arif
“Ya Tuhan……” pekikku ketika melihat bagaimana sekarang Mas Arif dan Ibrahim bergulat
“Berhenti, atau kalian aku tembak!!!!” teriak Mario sambil mengarahkan pistol kearah Mas Arif dan Ibrahim yang masih bergulat di lantai
__ADS_1
Dani dan Reno yang ikut memukuli mas Arif sontak menghentikan gerakan mereka. Begitu juga dengan mas Arif dan Ibrahim. Keduanya segera bangkit dan saling tatap dengan marah