
Saat aku sampai di atas, kulihat Bobby sedang duduk di pangkuan Mario dan keduanya tampak sedang menatap layar HP.
"Papa lepasin dulu hp-nya, Ini Ibuk sudah datang" ucap Meka sambil terus menarik tanganku dan memaksaku untuk duduk di depan Mario .
Baik Bobby maupun Mario langsung menatap ke arahku. Dan Mario langsung meletakkan handphone nya di lantai .
"Ayo Papa.... bilang kalau Papa itu kangen sama Ibuk!" ucap Meka lagi yang membuatku langsung melotot kan mataku ke arahnya.
Mario langsung tersenyum kaku ke arahku mendengar perkataan Meka. Sedangkan aku berusaha untuk bersikap biasa saja, dengan sedikit membuang wajahku agar tidak terlalu ditatap oleh Mario.
"Tuh kan sekarang malah diem-dieman. Kemarin Ibuk bilang ibuk kangen sama Papa. Tadi Papa juga bilang Papa kangen sama Ibuk, gimana sih?. Kok malah Papa sama ibuk cuek-cuekan?" kembali Meka berkata dengan nada kesal ke arah kami berdua
"Intan sayang..... aku sangat merindukan kamu" ucap Mario yang membuat aku terdiam, Bobby mendongakkan kepalanya dan Meka tersenyum sumringah.
Aku hanya bisa mengedip-ngedipkan kedua mataku dan menelan ludah ketika menatap dalam mata Mario.
"Ayo Ibuk jawab. Bilang sama Papa kalau Ibuk juga kangen sama Papa" ucap Meka lagi sambil menggoyang-goyangkan lenganku.
"Meka, nggak sopan nak kayak gitu" jawabku berusaha dengan membujuknya agar dia tidak memaksaku untuk bilang bahwa aku merindukan Mario.
"Ah Ibu nggak asik" jawab Meka cepat dengan memasang wajah masam.
"Karena Ibuk masih sibuk di bawah, jadi biar kalian sama Papa di atas saja ya?" .
"Yaaa ibuk kok nggak gabung sama kita sih?, ibuk gabung sama kita aja disini. Kan karyawan ibuk banyak".
"Nggak bisa Sayang, ibuk minta maaf ya"
Saat mulut Meka sudah ternganga akan menjawab perkataanku, Mario cepat memotong ucapannya.
"Apa yang dikatakan Ibuk benar. Biar Meka sama Bobby di atas saja sama Papa. Kan kangen kita belum hilang, jadi biar kita kumpul dulu di sini, bagaimana?".
Aku tersenyum kaku ke arah Mario mendengar jawaban bijaknya.
"Tapi aku bosen Pa di sini"
Bobby mengangguk setuju mendengar ucapan Meka.
"Iya Pa kami Bosen di sini" tambahnya
__ADS_1
"Oh.... jadi anak Papa bosen di sini?. Bagaimana kalau Papa ajak jalan-jalan?" tanya Mario sambil menaikkan alisnya berkali-kali.
Meka dan Bobby tidak menjawab pertanyaan Mario melainkan mereka berdua langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan.
"Intan, aku bawa anak-anak ya? Nggak jauh kok. Aku paling bawa mereka ke Timezone atau juga ya ketempat lainnya lah yang ada di sini. kamu nggak keberatan kan?" tanya Mario padaku.
Dan aku kembali hanya bisa tersenyum kaku karena melihat kebahagiaan kedua anakku ketika Mario mengajak mereka jalan-jalan.
"Iya nggak apa Mario. Maaf ya karena merepotkan"
Mario langsung menggeleng cepat mendengar ucapanku
"Oh nggak. Nggak merepotkan sama sekali. Aku malah senang karena akhirnya aku bisa kembali membawa kedua anakku jalan-jalan".
Karena telah mendapat persetujuan dariku, dengan cepat Meka dan Bobby langsung menggandeng tangan Mario dan membawa Mario turun dari lantai dua.
Aku hanya bisa berjalan mengekor di belakang mereka bertiga. Dan mengantarkan mereka sampai ke halaman parkir kendaraan, tepatnya ke dekat mobil Mario.
Kedua anakku segera melambaikan tangan mereka ke arahku ketika Mario mulai memundurkan mobil. Sebelum mobil benar-benar melaju, Mario menekan klakson dua kali ke arahku, kemudian Mario juga melambaikan tangannya.
Aku segera masuk kembali ke dalam toko setelah mobil yang dikendarai oleh Mario melaju. Dan ketika aku masuk, tiga orang kasir yang melihatku masuk menatap penuh curiga ke arahku yang membuatku langsung melotot kan mata ke arah mereka.
"Nggak buk nggak. Kita cuman ngelihat Ibuk aja kok" jawab mereka gugup. Aku hanya mendecak kesal ke arah mereka bertiga. Kemudian kasir cadangan yang menggantikan aku kembali ke tempat kerjanya. Dan aku kembali berdiri di depan meja kasir tempat tugasku.
Ketika menjelang sore, belum juga ada kabar dari Mario. Dan aku sudah beberapa kali menarik laci uang untuk melihat HP, kalau-kalau Mario mengirimiku pesan. Tapi setelah aku mengecek pesan masuk dan juga melihat riwayat panggilan, tidak ada satupun pesan masuk dan missed call dari Mario.
"Tadi Mario ngomong hanya sebentar bawa anak-anak. Ini sudah sore tapi kok belum juga ada kabar ya?. Kemana nih orang.…..." gumamku seperti pada diriku sendiri.
Dan dengan cepat tanganku menarik laci ketika aku dengar hp-ku berdering tak lama kemudian
Dan aku setengah kecewa karena di layar tampil nama Ibrahim.
"Ya Dek?" tanya ku
"Ini kak, Kak Mario di ruko sama anak-anak. Terus Bobby dari tadi nanyain kakak, Kapan kakak pulang"
Aku menarik nafas dengan sedikit lega, begitu mengetahui jika kedua anakku sudah dibawa Mario pulang ke ruko.
"Ya Kakak pulangnya seperti biasa Dek"
__ADS_1
"Apa Kakak nggak bisa pulang sekarang?. Kasihan Bobby loh, dari tadi dia terus nanyain kakak. Kak Mario nggak bisa nenangin nya, yang bisa nenangin Bobby cuman kakak. kakak pulang sekarang ya?"
Aku menarik nafas panjang untuk membuang rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadaku mendengar ucapan dari Ibrahim. Dan aku mengiyakan ucapannya dan berkata jika aku akan pulang.
Kepada dua kasir yang ada di sebelahku, aku berkata jika aku akan pulang. Dan nanti aku akan mengutus Ibrahim untuk berada di toko ini. Jadi uang toko bisa mereka titipkan kepada Ibrahim. Dan seperti biasanya aku memanggil kasir cadangan untuk menggantikan pekerjaanku.
Lalu setelah itu aku langsung bergegas keluar menuju motor matic ku dan langsung melaju menuju ruko.
Kedatanganku pulang ke ruko disambut Ibrahim dengan tersenyum penuh arti dan aku mendecak kesal ke arahnya.
"Tamu yang aku bilang tadi pagi itu ini kak, kak Mario" lirih Ibrahim ketika aku duduk di dekatnya.
"Lah terus anak-anak mana? kamu tadi bilang Bobby merengek terus. Lah sekarang kok nggak ada?".
"Mereka di atas kak. Kak Mario tadi menggendong Bobby ke atas. Sepertinya kak Mario sedang membujuk Bobby deh"
Aku segera menganggukkan kepalaku begitu mendengar ucapan Ibrahim dan aku langsung berjalan cepat menaiki tangga.
Dan benar saja, ketika aku sampai di lantai atas aku lihat Mario tengah berbaring di tempatku tidur, sedang menepuk-nepuk pantat Bobby. Sedangkan Meka duduk di lantai, tengah membuka buka buku.
"Ibuk!!" ucap Meka tertahan karena aku cepat memberi kode dengan meletakkan jari telunjukku ke bibir.
Mario menoleh dan dengan cepat dia langsung duduk. Dan aku pun memberi kode dengan menyatukan jari telunjuk dan jempolku kearah Mario. Sehingga Mario tidak jadi turun sebagaimana yang akan dia lakukan.
Aku melongok kan kepalaku ke arah tempat tidur di mana Aku lihat Bobby sudah tampak terpejam.
Kemudian dengan pelan aku memegang tangan Mario dan duduk di sebelahnya sehingga Mario bisa turun dari atas ranjang. Kemudian aku berganti peran dengan menepuk-nepuk pantat Bobby, setelah itu aku mencium dalam pelipisnya. Barulah setelah itu aku juga turun dari atas ranjang setelah memastikan bahwa Bobby benar-benar tertidur pulas.
"Meka mandi dulu sayang, Ini sudah sore" ucapku kepada Meka yang langsung menganggukkan kepalanya dan turun dari pangkuan Mario.
Dengan cepat Meka langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi. Dan tak lama telah terdengar air jatuh di lantai kamar mandi yang menandakan bahwa Meka memang sedang mandi.
Dan aku kembali hanya bisa tersenyum kaku ke arah Mario yang sejak tadi terus menatap dalam ke arahku.
"Intan!!!" tarik Mario pada tanganku yang membuatku langsung menabrak dadanya.
Lalu dengan cepat Mario langsung melahap bibirku, dan menyesapnya dengan rakus.
Sedetik aku merasa kaget dengan gerakan cepat Mario. Tapi detik berikutnya, aku larut dalam permainannya hingga aku membalas setiap pagutan dari Mario.
__ADS_1
"Aku merindukanmu Mario....." lirihku.