Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Mario Datang


__ADS_3

Mario tak menjawab melainkan segera merangkulku.


Aku membalas rangkulannya, aku biarkan Mario menenggelamkan wajahnya di bahuku


Ku elus punggungnya berkali-kali berharap agar dia tenang, karena aku sangat yakin dia sedang tidak baik-baik saja


Terbukti dengan kemunculannya di pagi buta seperti ini


"Ayo masuk!" ajakku membimbing tangannya


Mario menurut, ikut masuk bersamaku, tapi dia masih diam tidak bersuara sedikitpun


Mario segera merebahkan kepalanya di sandaran sofa dan aku yang duduk di sebelahnya hanya bisa menarik nafas panjang melihat wajahnya yang begitu kusut


"Mario....?" lirihku


Mario yang memijit keningnya menoleh lalu merebahkan kepalanya di pangkuanku


Aku bengong, tak tahu harus berbuat apa ketika secara tiba-tiba Mario tidur di pangkuanku


Karena aku kaget Mario menarik tanganku, meletakkan di atas kepalanya, dan aku yang faham apa maksud Mario mengelus-elus kepalanya hingga tak lama setelah itu Mario tampak terpejam dan pulas


Aku kembali bengong ketika melihat Mario pulas, kembali aku menarik nafas panjang, tapi tanganku tak kuhentikan mengusap kepalanya dengan harapan agar Mario makin pulas


Sekian menit aku masih duduk sambil mengusap kepala Mario tanpa bisa melanjutkan aktivitasku. Kulirik jam yang tergantung di tembok, menunjukkan jam lima lewat dua puluh menit. Dan aku harus membangunkan kedua anakku dan menyiapkan bekal mereka


Dengan pelan aku mengangkat kepala Mario, dan sama pelannya aku meletakkannya di sofa, lalu mengambil bantal sofa lalu kembali aku mengangkat kepala Mario dan meletakkan kepala Mario di bantal


Setelah yakin jika Mario tenang, aku mengusap wajahnya lalu mengecup keningnya dengan dalam, lalu aku beranjak ke belakang, menyiapkan sarapan dan bekal untuk kedua anakku


Selesai dari sana aku beranjak ke kamar kedua anakku, membangunkan mereka dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Mario yang pulas


Ketika Meka dan Bobbi berteriak rebutan handuk aku memberi kode pada keduanya untuk diam dengan meletakkan jari telunjukku di bibirku


"Jangan berisik, om Mario tidur" ucapku pelan sambil menoleh kearah sofa dimana terdengar tarikan nafas teratur dari Mario


"Om Mario kesini nya kapan ma?"


"Baru sampai, oleh karena itulah Om nya tampak lelah, makanya jangan berisik, kasihan, Om nya baru tidur"


Meka dan Bobbi mengangguk, lalu berjalan berjingkat masuk kedalam kamar mandi, jika biasanya mereka akan berisik, maka pagi ini keduanya tenang begitu juga ketika keluar dari dalam kamar mandi


Aku yang telah menyiapkan pakaian keduanya segera memakaikan mereka seragam, memberikan sarapan dan juga memasukkan bekl keduanya kedalam tas mereka masing-masing


Jam setengah tujuh mobil jemputan keduanya tiba dan keduanya langsung berangkat


Setelah mengantarkan kedua anakku sampai depan mobil, aku kembali masuk menoleh kearah Mario yang tampak bergerak


Aku segera berjalan cepat kearahnya, mengusap pelan tangannya bak memperlakukannya layaknya anak kecil


Aku berdiri dan tersenyum kearah Mario yang tampak kembali tenang dan mengusap wajahnya sebelum akhirnya aku kembali ke belakang

__ADS_1


Hingga jam sepuluh Mario belum juga bangun, dan aku yang telah menyelesaikan seluruh pekerjaanku memilih naik ke atas karena aku mau mandi


Ketika selesai mandi dan aku kebawah, Mario masih pulas dan aku semakin yakin jika dia benar-benar lelah dan mengantuk


Aku mengambil hp dan mengirimi pesan kepada semua pelangganku dengan mengatakan jika pengantaran pesanan mereka sore nanti, tidak bisa siang ini


Karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku memilih menonton tivi, menonton acara gosip, selesai acara tersebut aku berpindah ke media sosial, membuat status dagangan ku kembali, jika biasanya aku live, maka kali ini aku hanya memilih mempromosikan jualanku dengan mengetik kalimat saja


Hingga siang Mario belum juga terjaga dan aku yang bengong duduk di depannya hanya memperhatikan wajah tampannya yang begitu memikat menurutku


Kembali tubuh Mario bergerak dan aku masih memperhatikannya, berharap jika dia terjaga


Dan benar, Mario membuka matanya, menggerakkan tangannya sepertinya meregangkan ototnya lalu Mario menoleh ke arahku


Aku tersenyum begitu Mario menoleh ke arahku


"Sudah bangun?" ucapku sambil tersenyum kearahnya


Mario duduk, menurunkan kakinya lalu mengulurkan tangannya ke arahku


Mau tak mau aku mendekat dan menyambut tangannya. Kembali Mario mendekapku dan menenggelamkan wajahnya di bahuku


Dan aku sama seperti tadi pagi, mengelus kepala dan punggungnya


"Ada apa?" lirihku pelan


Mario tak menjawab melainkan makin erat mendekap ku, dan aku kembali terus mengusap kepalanya


Cukup lama Mario memeluk ku sampai akhirnya dia melepaskan dekapannya dan menangkupkan kedua tangannya di wajahku


Aku berusaha untuk tersenyum mendengar perkataannya, lalu mengangguk ragu


Mario tersenyum, lalu menarik wajahku kedekatnya, mengecup keningku dengan dalam


Setelah itu Mario kembali tersenyum ke arahku dan menarikku kedadanya


"Jam berapa sekarang?" tanyanya


Aku menarik kepalaku


"Jam dua belas lewat" jawabku sambil melihat kearah tembok dimana terdapat jam tergantung


"Hah?!"


Aku terkekeh mendengar Mario kaget


"Kok nggak bangunin aku" protesnya sambil berdiri dan berjalan kearah kamar mandi, dan tak lama telah keluar dengan wajah yang segar


"Makan ya?" ajakku yang menarik tangannya ke belakang


Mario menurut dan duduk, sedangkan aku segera menyiapkan piring untuknya dan meletakkan di depannya setelah terisi lengkap

__ADS_1


Sambil makan aku memperhatikan wajah Mario yang sudah tampak tenang, tidak kusut seperti dia datang subuh tadi


"Aku semalam menemui Tasya dan Raisa"


Aku menghentikan kunyahanku lalu memandang serius wajah Mario


"Tolong jangan pernah terlintas di pikiran kamu untuk meninggalkan ku kembali"


Aku hanya melihat kearah tangan Mario yang menggenggam erat tanganku


"Tasya dan Raisa biarlah menjadi urusanku"


"Tapi Yo?"


Mario menggeleng


"Kamu mencintaiku kan Ntan?"


Aku mengangguk pasti


"Kalau itu jangan kamu tanya" jawabku


Mario tersenyum sumringah, dapat kulihat kilatan bahagia di matanya


"Yang menjalani hidup itu kita, bukan Raisa ataupun Tasya, jadi kita jadikan saja penolakan mereka berdua sebagai kekuatan cinta kita"


Aku kembali tersenyum getir


"Papa sama mama bagaimana?"


Mario bangkit, memelukku dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di bahuku, dikecupnya pipiku dengan sayang


"Kamu tahu sendiri bagaimana sayangnya mama sama kamu, jadi jangan tanyakan bagaimana perasaan mereka sama kamu, ya?"


Aku mengangguk dan menoleh kearah Mario yang masih memelukku dari belakang


"Aku sayang kamu Mario..." lirihku sambil mengecup pipinya


Mario tersenyum lalu membenarkan posisi berdirinya, kembali ke kursinya, melanjutkan makan siangnya yang tertunda


Dan kali ini Mario makan dengan sangat lahap, mungkin karena beban pikirannya sudah berkurang


Selesai makan Mario duduk di teras belakang, sedangkan aku yang selesai membersihkan meja berjalan kearah depan, karena hp ku berdering


Aku tertegun karena di layar tampil nama Raisa


Aku menoleb ke belakang, takut jika Mario mendengar percakapan kami nanti


Dengan menarik nafas panjang aku menerima panggilan Raisa


"Ya Sa?" jawabku

__ADS_1


"Bagus kamu ya, makin berhasil kamu ya meracuni otak kakakku Mario"


Aku memejamkan sebentar mataku mendengar jawaban sinis Raisa


__ADS_2