
Lama Mario terduduk di trotoar, kedua adiknya bergeming, tak berani untuk mendekatinya
Setelah sekian menit terduduk dengan nafas ngos-ngosan karena masih tak berhasil mengeluarkan emosi secara plong, Mario bangkit, mengusap wajahnya dan duduk di kursi yang tadi dihantamnya
Tasya dan Raisa masih di tempat mereka, saling lirik dan memandang takut-takut kearah Mario
Kembali Mario menghembuskan nafas panjang, menunduk sebentar lalu menengadahkan wajahnya
"Kak....." panggil Raisa pelan dan takut-takut
Mario tak menjawab, dia terus saja diam
"Kita pulang yuk kak, kakak istirahat saja di rumahku, tenangkan dulu fikiran kakak"
Mario menoleh
"Dulu kakak juga seperti ini, mengamuk dan menghancurkan segala yang ada di depan kakak, tapi kakak puas karena saat itu Intan pergi karena memang keinginannya, tapi kali ini Intan pergi karena dia ingin menjaga hubungan persaudaraan kita"
Tasya dan Raisa menunduk dan hanya bisa menggigit bibir mereka mendengar perkataan Mario
"Tapi kakak nggak akan menyerah, kakak akan terus memperjuangkan cinta kakak"
Habis berkata seperti itu Mario bangkit lalu berjalan kearah kedua adiknya
Tasya dan Raisa langsung menundukkan kepala mereka kembali begitu mengetahui Mario berjalan kearah mereka
"Ayo kita pulang, hari sudah malam, takutnya suami kalian bertanya-tanya kemana kalian kakak bawa"
Raisa dan Tasya mengangguk tapi masih tak berani mengangkat kepala mereka
Ketika di dalam mobil, keduanya masih juga diam tidak bersuara sedikitpun
Begitupun dengan Mario, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia terus fokus menatap ke depan, menjalankan mobilnya dengan pelan, tidak ngebut seperti ketika mereka pergi tadi
Di sebuah rumah makan cepat saji, Mario menepikan mobilnya, turun tanpa mengajak kedua adiknya
Setelah Mario agak menjauh dari mobil, Tasya dan Raisa langsung menarik nafas lega dan menghembuskan nafas mereka panjang-panjang layaknya orang yang sesak nafas
"Untung kakak nggak mukul kita" ucap Tasya sambil mengusap dada dan wajahnya
Raisa mengangguk setuju, dia pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Tasya, dia ikut mengusap lega dadanya karena kakaknya Mario tidak memukul mereka walau sangat jelas tadi dilihatnya kilatan kemarahan di mata sang kakak
"Kakak kok nggak ngajak kita turun ya?" kembali Tasya bergumam sambil menoleh kearah rumah makan cepat saji tersebut di mana dari balik kacanya yang transparan dilihatnya kakak mereka duduk seperti menunggu pesanan
"Kakak beli buat dibawa pulang kali kak, nggak mungkin jika kakak makan nggak ngajak kita"
"Ya kali, kan kakak lagi marah"
Raisa memonyongkan bibirnya dan ikutan melihat kearah luar dimana dia melihat jelas jika kakaknya duduk di meja sendirian
Tak lama ada seorang pelayan mendekat dengan membawa tiga kantong kresek
Mario menerima kantong tersebut lalu keluar dan berjalan kearah mobil. Melihat kakaknya berjalan kearah mobil, Tasya dan Raisa kembali diam dan membeku
__ADS_1
Setelah menutup pintu mobil, Mario menoleh kearah kedua adiknya, memberikan dua kantong kresek pada mereka
"Bawa ini, untuk keponakan kakak"
Tasya dan Raisa menerima kantong kresek yang diulurkan Mario dan mengucapkan terima kasih dengan pelan, lalu keduanya saling lirik dan tersenyum dikulum
Mario memasang seat bealt, setelah selesai barulah dia menghidupkan mesin mobil dan pergi dari depan rumah makan cepat saji tersebut, melaju menuju rumah Raisa
Ketika tiba di depan rumah Raisa, Mario dan Tasya turun
"Kakak nginep di rumah saya saja" ucap Raisa
Mario menggeleng
"Kakak akan langsung pulang" jawab Mario sambil melirik jam di tangannya
Raisa melihat jam analog di hpnya lalu menatap kearah Mario lalu beralih pada Tasya
"Kak, ini sudah malam, bahaya kalau kakak pulang, ini aja hampir jam sebelas malam, jam berapa kakak sampai rumah?"
Mario hanya tersenyum getir sambil kembali menggeleng
Raisa menekan bel, yang tak lama muncul suaminya
"Go kakak langsung pulang ya, salam saja buat keponakan kakak"
Suami Raisa, Virgo, mengangguk dan menoleh kearah Raisa dengan tatapan heran
"Hati-hati ya kak" ucap Virgo sambil menjabat tangan Mario
Tasya mengekor di belakang dan segera duduk ketika Mario memutar badannya menuju bagian kemudi
Mario menekan klakson, Virgo dan Raisa melambaikan tangan mereka, setelah mobil Mario tak kelihatan lagi, Raisa menarik nafas panjang lalu masuk, dan sang suami yang sebenarnya penasaran apa yang terjadi memilih diam tidak bertanya, dia ingin membuar Raisa tenang dulu, karena jelas dilihat olehnya jika raut wajah Raisa tampak sekali kusut
Dan Mario yang sekarang sedang diperjalanan menuju rumah Tasya kembali diam tidak bersuara, begitupun dengan Tasya
Dia juga diam dan sesekali menoleh kearah luar lewat jendela yang tertutup rapat
Suasana jalan raya masih ramai walau sudah hampir tengah malam, dan Mario menjalankan mobil dengan kecepatan sedang karena dia juga harus kembali menempuh perjalanan jauh
"Kakak pulang" ucap Mario ketika Ferdian membuka pintu dan menyambut kembali kedatangannya
Wajah Ferdian tampak kaget mendengar ucapan Mario
"Sudah malam kak, apa tidak seharusnya kakak menginap saja di sini, besok baru kakak pulang ke rumah kakak"
Mario tersenyum
"Lain kali saja"
Lalu Mario melirik kearah Tasya yang memandangnya dengan wajah sedih
"Hati-hati kak, jangan ngebut" lirih Tasya
__ADS_1
Mario mengangguk, dilihatnya jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan angka sebelas lewat
"Kabari aku ya kak jika kakak sampai rumah" kembali Tasya berkata tatkala Mario telah memundurkan mobilnya
Mario hanya mengangguk, mengangkat tangannya lalu mengklakson sekali kemudian meninggalkan rumah mewah Tasya dan Ferdian
"There is something trouble?" tanya Ferdian ketika dilihatnya wajah Tasya yang muram
Tasya tak menjawab melainkan menarik nafas panjang
"Besok saja saya ceritanya pa, sudah malam, aku ngantuk"
Ferdian mengangguk lalu membimbing bahu Tasya masuk kedalam rumah
Sedangkan Mario yang saat ini telah berada di jalan raya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Jarak yang akan ditempuhnya memang jauh, tapi karena dia masih kesal dengan kedua adiknya dia lebih memilih pulang ketimbang bermalam di rumah salah satu adiknya
Keluar dari jalanan propinsi dan sekarang menuju daerahnya, jalanan yang lurus berubah menjadi jalanan berkelok dan menanjak
Mario yang tadi melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena di jalan lurus, sekarang harus mengurangi kecepatannya
Terlebih karena jika malam terdapat banyak mobil-mobil besar yang mendominasi jalan sehingga Mario harus lebih waspada dan ekstra hati-hati
Nyaris hampir empat jam perjalanan yang ditempuh Mario. Dan saat ini dia telah memasuki daerah perbatasan propinsi dengan daerah tempatnya berdinas
Hawa dingin kian menusuk tulang, karena daerah tempatnya berdinas memang daerah dingin terlebih karena saat ini sudah hampir dini hari
Mario menguap dan melihat jam yang ada di dalam mobilnya
"Hampir jam tiga" gumamnya
Mario menepikan mobilnya di sebuah warung yang ada di pinggir jalan, turun membeli minuman energi agar dia tidak mengantuk
Setelah mendapatkan minuman yang diinginkan Mario kembali masuk kedalam mobil dan terus melajukan mobil, tidak berbelok kearah rumahnya
"Aku harus menemui Intan" gumamnya pasti sambil kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi
Sepanjang jalan Mario sudah menyusun kalimat apa yang akan diucapkannya ketika nanti Intan kaget melihatnya dan merangkai kalimat apa yang akan diucapkannya untuk meyakinkan Intan bahwa Raisa dan Tasya bukanlah penghalang hubungan kita
Dan aku seperti biasa sebelum subuh sudah terjaga karena aku harus menyiapkan sarapan dan bekal untuk kedua anakku
Selagi aku sibuk di belakang tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara ketukan pintu di depan
Aku yang awalnya takut menjadi memberanikan diri berjalan kedepan ketika hp ku berdering
"Buka sayang, aku di depan rumah kamu sekarang"
Mulutku membulat ketika mengetahui jika yang mengetuk di depan adalah Mario
Segera aku berjalan kearah pintu, terlebih ketika kulihat dari balik kaca jika yang berdiri di luar adalah Mario
Mario memutar badannya ketika mendengar suara kunci di putar
__ADS_1
"Mario???!" ucapku kaget ketika kulihat Mario berdiri di depanku