
Aku sudah di kantor polisi tempat mas Arif ditahan ini Ntan
Begitulah isi what's app yang dikirim oleh Mario jam sepuluh malam ini
Makasih ya Yo. By the way bagaimana keadaan mas Arif nya Yo?
Aku nggak nemuin mas Arif aku cuma nemuin teman aku aja, dan aku bilang jika mas Arif itu keluarga aku, aku minta penangguhan penahanannya
Emang bisa gitu Yo?
Bisa lah, bisa-bisanya aku
Kamu pasti bayar mahal ya Yo?
Ah nggak, kata siapa
Halah kamu bohong
Udah nggak usah bahas itu, pokoknya besok kamu siap-siap nyambut kepulangan suami kamu, ya?
Tidak ku balas lagi karena aku kembali melamun memikirkan bagaimana reaksi aku besok ketika melihat mas Arif pulang
Ya Tuhan kembali hatiku berdenyut ketika teringat berita di tivi kemarin, di sana terlihat perempuannya menunduk, berpakaian minim dan berambut coklat kemerahan
Apa wanita seperti itu selera mas Arif?, apa aku juga harus berubah seperti itu agar mas Arif nggak selingkuh lagi?
Berkali-kali aku menarik nafas panjang, entah sampai detik ini aku masih tak habis pikir, kurang aku itu dimana, jadi istri penurut perasaan aku sih sudah, perasaan aku, aku tidak banyak menuntut, nerima apa adanya, dikasih uang segitu-segitu aja tiap bulan bahkan bertahun-tahun, ya nerima-nerima aja, tidak meminta dibeliin ini, dibeliin itu, tapi kok malah seperti ini balasan mas Arif?
Aku kembali menarik nafas panjang, sambil mengusap wajahku.
"ahh iya, aku kurang cantik, pasti karena itu. Kalau aku cantik, modis, gaul tentu Mas Arif tidak akan tergoda wanita lain" batinku kembali
Terlebih ketika aku ingat jika mas Arif malu mengakui aku istrinya di depan teman-temannya
Hingga larut malam aku masih terus berfikir tentang kekurangan dan letak kesalahanku dimana hingga suamiku selingkuh, dan ini tiap malam mengganggu pikiranku sejak suamiku digerebek polisi di hotel
"Sudahlah Intan, kamu sibuk mikirin orang yang tidak sama sekali memikirkan kamu...." gumamku menghibur diriku sendiri bangkit dari kursi lalu berjalan naik ke kamar
Di tengah tangga hp ku berdering, kulihat di layar tampil nama mama mertua, dengan menarik nafas dalam aku angkat juga panggilannya
"Ya ma?"
"Tadi lawyernya Arif bilang, kalo besok Arif sudah bisa pulang"
"Oh Ya?" tanyaku pura-pura nggak tahu
"Kamu gimana sih Ntan, punya keluarga kok dari kemarin-kemarin bantuin Arif. Coba kalo dari kemarin-kemarin, kan mama nggak se pusing ini"
Aku tersenyum kecut mendengar omelan mama mertuaku
"Emang lawyernya mas Arif bilang apa ma?"
__ADS_1
"Kata dia malam ini ada pihak keluarga kamu yang nangguhin penahanan Arif, makanya besok Arif bisa pulang"
"Ya syukur deh ma kalau gitu"
"Iya Ntan, besok mama dan papa bakal ke rumah kamu, kita akan masak yang enak untuk nyambut kedatangan Arif"
Aku menggeleng sambil tersenyum heran, dimana lah perasaan mama mertuaku ini, apa dia tidak merasakan sakit hatiku?
Minimal dia empati lah dengan perasaan ku, bukan dengan senang begini, oke lah anaknya akan bebas, tapi bagaimana dengan hati aku yang masih sakit ini? tidakkah dia bisa berempati sebagai sesama perempuan?
Aku sudah tidak mendengar jelas lagi bagaimana antusiasnya mama mertuaku ngomong apa saja yang akan dia bawa besok
Sampai di kamar, aku letakkan saja hp di atas kasur, aku ngeloyor masuk kamar mandi, jadilah dia bicara sendiri tanpa aku dengarkan
Bahkan ketika aku keluar dari kamar mandi beliau masih terus bicara
"Ya Ntan, setuju kan kamu?"
Aku tergagap, lalu aku mendekat kearah hp yang sejak tadi aku loud speaker
"Terserah mama aja lah" jawabku
"Ya udah, kamu istirahatlah, besok kamu nggak usah ngapa-ngapain, biar mama aja yang belanja semuanya"
Aku hanya mengiyakan sampai akhirnya aku mengucap salam untuk mengakhiri obrolan membosankan ini
...----------------...
Dengan agak berjalan cepat aku berjalan kearah pintu membukakan pintu untuk mertua dan iparku
Aku tertegun ketika kulihat mertuaku menurunkan belanjaan cukup banyak
"Ayo bantuin, kok malah bengong"
Aku tergagap mendengar protes mama mertuaku, segera aku membawa belanjaan yang diletakkannya di teras ke belakang
"Gas nya banyak kan Ntan?"
Aku mengangguk
"Sana Ntan telpon ibu mu, suruh beliau kesini, buat bantuin masak, Arif sebentar lagi pulang, tadi lawyernya bilang sedang siap-siap dan menandatangani berkas-berkas"
Aku lihat betapa sumringahnya wajah mama mertuaku, karena tak ingin mengecewakannya, aku menurutinya menelepon ibuku
"Nggak, ibu nggak akan kesana"
"Tapi buk?"
"Jika kamu sakit hati, ayah dan ibu jauh lebih sakit hati lagi Ntan oleh ulah suami kamu itu. Jadi ayah sama ibu nggak akan kesana, biarlah mertua kamu saja yang sibuk, kan itu anak mereka"
Aku hanya menarik nafas berat mendengar jawaban ketus ibuku. Dan aku sangat memahami bagaimana kecewanya mereka dengan aku karena aku masih tak ada reaksi sampai detik ini
__ADS_1
Setelah ibuku menutup secara sepihak obrolan kami, aku kembali ke dapur dimana mama mertua dan iparku telah sibuk
"Gimana Ntan, apa kata ibu kamu?"
"Ibu lagi nggak enak badan ma, makanya mereka tidak bisa kesini" bohongku
Mama mertuaku saling toleh dengan kakak iparku, tapi terserahlah, bodo amat
Aku ikut membantu mereka seadanya karena aku harus mengantar pesanan pelangganku, aku tak ingin karena ada acara yang dikomandoi mertuaku, pelanggan yang telah menunggu pesanan mereka kecewa
...----------------...
Jam tujuh malam mobil kami yang dibawa suamiku pergi setengah bulan yang lalu masuk ke halaman
Aku yang ada di ruang tengah dengan mertua dan dua anakku menoleh kearah luar ketika terdengar suara klakson mobil
"Papaaaa....." kedua anakku langsung berdiri dan berlari
Sedangkan mertuaku juga segera bangkit dan berjalan cepat ke depan
Meka langsung membuka kunci pintu, begitu terbuka dia dan adiknya langsung berlari kearah teras dimana papa mereka telah turun dan juga berlari kearah mereka
Aku membuang wajahku melihat suamiku menangis ketika mendekap kedua anak kami
Lalu beralih dia memeluk mamanya, dan sama seperti memeluk kedua anak kami tadi, mas Arif juga menangis
Dan ketika memeluk papa mertuaku, tampak papa mertuaku mengusap-usap punggungnya, begitu juga ketika mas Arif didekap oleh dua saudaranya dan dua iparnya, air matanya masih tampak terus mengalir
Dan aku yang berdiri di dekat pintu hanya memperhatikan tingkahnya tanpa berniat sedikitpun untuk maju, menyambutnya apalagi memeluknya
Dan akhirnya mas Arif yang mendekatiku, tampak mengusap kasar wajahnya yang basah lalu tiba-tiba menjatuhkan dirinya di kakiku
Aku yang masih kecewa padanya hanya membuang mukaku dan mendongakkan kepalaku ke langit-langit teras
"Maafkan aku ma, maafkan aku...."
Aku bergeming, tanganku yang ditarik mas Arif dan diciuminya berkali-kali hanya aku biarkan menggantung
"Ma... tolong maafkan aku ma, aku khilaf...."
Aku menarik nafasku, menunduk kearahnya yang menangis sesenggukan di dekat kakiku
"Ma....?"
Aku masih diam tak bereaksi sampai akhirnya mama mertuaku mendekat dan mendekap ku
"Maafkan Arif, Ntan. Dia sudah mengakui kesalahannya, dia sudah menyesali perbuatannya, lapangkanlah hatimu nak....."
Aku memejamkan mataku mendengar ucapan mama mertuaku, lalu lolos lah air mataku
Sakit, sakit sekali rasanya hatiku, beliau saja yang tidak merasakannya. Coba posisi ini bisa ditukar, aku yakin beliau akan tahu bagaimana rasa sakitnya
__ADS_1
Dan Mas Arif yang masih berlutut di depanku masih terus terisak tanpa berniat melepaskan tanganku