
Dengan sungkan aku duduk di kursi yang ada di teras rumah mamanya Mario
Dan Mario yang telah duduk duluan terus memasang senyumnya padaku dan itu makin membuatku gugup
"Ibu tinggal masuk sebentar ya?"
Aku menoleh khawatir kearah mamanya Mario yang meninggalkan kami
"Coklatnya sudah habis belum?"
Aku memaksa tawa mendengar pertanyaan Mario
"Mau bicara apa Yo?" tanyaku setelah cukup berbasa-basi pada Mario
Sumpah jantungku benar-benar berdebar tak karuan ketika kembali bertatapan muka dengan Mario setelah sekian tahun tak pernah bertemu
Dan Mario jauh berubah tak seperti terakhir kami ketemu dulu, badannya telah berisi dan makin terlihat gagah
"Mas Arif sudah pulang kan?"
"Iya, semalam. Terima kasih ya Yo, berkat bantuan kamu akhirnya mas Arif bisa pulang"
Mario tertawa pelan
"Kebetulan saja" jawabnya merendah
"Terus ada hal penting apa Yo yang ingin kamu sampaikan?"
Mario lalu membuka hpnya dan memberikannya padaku
"Kamu lihat saja sendiri"
Aku menerima hp tersebut dan melihat video yang ada di dalam hpnya
Aku menutup mulutku, nafasku langsung terasa sesak dan air mataku langsung mengalir tanpa bisa ku cegah
"Kalau kamu mau tahu seperti itu kelakuan suami kamu saat dia di luar" gumam Mario sambil menggaruk keningnya
"Kamu dapat semua ini dari mana?" lirihku sambil menghapus kasar wajahku
"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku dapat video ini, tapi tujuanku memberitahumu bukan ingin rumah tanggamu hancur, melainkan agar kamu tahu dan menasehati suami kamu agar dia berubah"
Aku menggeleng
"Berarti ini sudah berlangsung lama"
Mario mengangguk
"Kamu pakai logika Ntan, jangan cuma perasaan, suami yang kamu cintai itu selalu bermain serong di belakangmu, kamu harus memberi ketegasan padanya"
__ADS_1
"Terima kasih Yo untuk buktinya, dan terima kasih juga untuk kebaikan kamu" lirihku sambil bangkit dari kursi lalu berlari cepat kearah motor dengan berlinangan air mata
"Intan Permata Sari, tunggu!!!!" Mario cepat memegang kepala motorku sehingga aku terpaksa menghentikan laju motorku yang telah aku belokkan
"Aku akan selalu ada untuk kamu Ntan, kamu jangan sedih. Sudah aku bilang, aku akan ada waktu 24 jam untuk kamu"
Aku menghapus kasar wajahku lalu menatap wajah Mario dengan sedih
"Terima kasih Yo, tapi itu tidak perlu" ucapku kembali mengegas motor sehingga Mario menepi dan membiarkan ku pergi meninggalkan halaman rumahnya
Mario hanya menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya sepeninggal Intan, sedangkan aku yang saat ini telah melajukan motor menuju rumah pelanggan-pelanggan ku, hanya bisa menangis dalam diam
Mendekati rumah pertama tempat aku mengantarkan pesanan, aku menghentikan motor lalu menatap wajahku di spion
Mengusap wajahku dan mengelap mataku agar tidak terlalu kentara jika aku habis menangis
Setelah merasa cukup aku baru menjalankan motor kembali, mengetuk pintu setiap rumah pelangganku lalu memberikan barang pesanan mereka begitu seterusnya sampai rumah terakhir
Setelah selesai semua barang pesanan aku antar, aku menjalankan motor dengan pelan dan kembali aku menangis terisak
Aku tidak tahu jika ada sebuah mobil yang sejak tadi mengiringiku dari jauh, tapi yang berada di dalam mobil sangat tahu jika aku menangis
Aku menghentikan motor di jalan yang cukup sepi, membuka helm dan menarik nafas banyak-banyak
Lalu aku mengambil hp dalam tas melihat jam, di sana jam menunjukkan angka sebelas lewat, itu artinya Bobbi pulang sekolah masih lama
"Mario?" ucapku ketika kulihat siapa yang turun dari dalam mobil
"Kesana yuk?" ajak Mario menunjuk sebuah tempat
Aku mengikuti tunjuknya, kesebuah lapangan yang tidak terlalu lebar
Aku menggeleng
"Ayo....!" tarik Mario yang memaksaku turun
"Motornya?" tanyaku sambil menoleh kearah motor saat Mario menarik tanganku
"Biarkan, tidak akan ada yang mengambilnya, motor jelek juga" ucapnya sambil terkekeh yang membuatku memukul tangannya yang masih terus menarik tanganku
Di pinggir sebuah lapangan tepatnya hamparan rumput bukan lapangan, kami berdua duduk
Dan kembali aku harus menahan debar jantungku yang kian berdetak kencang
"Ini!" Mario mengeluarkan sebuah coklat dari dalam kantong bajunya
Aku melirik heran padanya
"Udah, makan aja" ucapnya tanpa melihat kearah wajah heran ku
__ADS_1
Aku segera membuka kertas pembungkus coklat tersebut lalu memotongnya, dan mengarahkannya kearah mulut Mario
Mario menoleh dan segera melahap coklat yang aku ulurkan. Kembali detak jantungku berdegup kencang ketika tak sengaja bibirnya menyentuh jariku
"Tunggu disini sebentar!" ucap Mario berdiri dan berlari kecil kearah mobil
Kulihat jika ditangannya Mario telah menenteng sebuah kantong kresek putih
Begitu sampai di tempat duduk kami semula, Mario meletakkan kantong kresek tersebut lalu duduk kembali
"Nih...." dikeluarkannya minuman dingin dan beberapa cemilan
"Wah bisa lama kita disini kalau begitu Yo" jawabku sambil membuka botol minuman ringan
"Aku sih pengennya waktu nggak berputar Ntan, biar kita disini terus nggak usah pulang"
Aku yang tengah menenggak minuman dingin melirik kearahnya lalu setelah selesai aku terkekeh
"Kamu sakit Yo?"
Mario mengangguk, lalu kami sama-sama tertawa
"Nah, kalau ketawa kan enak, dari tadi wajahnya ditekuk"
Aku kembali mencoba tersenyum
"Kamu nggak ngerasain bagaimana sakitnya Yo, karena kamu nggak pernah ditinggal dengan orang yang kamu sayangi"
"Siapa bilang aku nggak pernah ngerasain sakit ditinggal orang yang aku sayang?"
Aku kembali menoleh kearahnya, menatap heran matanya
"Bahkan sampai detik ini rasa sakit itu masih ada" lanjutnya
Aku menelan ludahku, lalu mata kami saling tertumbuk, lama sangat lama hingga entah siapa yang memulai duluan ketika akhirnya bibir kami menyatu dan kami saling mengisap satu sama lain
Lama, lama sekali ciuman ini, bahkan Mario yang memegangi wajahku agar tak menjauh dari bibirnya hanya aku biarkan saja
Aku seperti orang kehilangan akal, lupa dengan status ku yang sudah bersuami dan lupa siapa Mario
Kami berdua masih larut dalam perasaan kami masing-masing hingga teriknya matahari yang sampai di tempat kami duduk tidak kami hiraukan
Kami hanya sebentar melepas pagutan kami, lalu secara bersama-sama kami melanjutkan ciuman kami. Ciuman hangat dan dalam, ciuman yang telah lebih sepuluh tahun tidak pernah kami lakukan
"Aku masih mencintaimu Ntan...." lirih Mario disela-sela hisapannya
Dan aku hanya menganggukkan kepalaku dan bergumam tak jelas, karena sejujurnya jauh di lubuk hatiku masih ada Mario di sana
Entah sudah berapa menit ciuman hangat ini berlangsung, sepertinya ini tak ingin kami akhiri, kami masih sama-sama ingin merasakan lagi getaran yang dulu pernah kami rasakan
__ADS_1