Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 9 Aksi Nara


__ADS_3

Nara yang baru sadar dari pingsannya mencoba menggerakkan tubuhnya namun, tidak bisa sebab dirinya sedang terikat di sebuah kursi.


“Hei kau sudah sadar? “ suara halus itu membuatnya melihat ke sekeliling ruangan gelap itu namun, pandangan tetap tak menemukan apapun selain gelap yang menguasai.


"Dimana ini? " tanya Nara.


"Kita di culik, tapi tenang saja adikku akan membebaskan kita, " jelas Rani dengan santainya.


Seketika cahaya lampu menyinari keduanya, Nara baru menyadari jika wanita di sampingnya adalah kakak Alvian.


Begitu juga, dengan Rina yang menyadari jika wanita di sampingnya adalah wanita yang sama di rumah sakit waktu itu.


“Wah wah, Maharani Jovanka, “ ujar seorang pria yang muncul dari kegelapan.


Rani yang begitu familiar dengan suara itu, membuang nafasnya panjang saat pria tersebut berada di hadapannya.


“Kenapa? Kau kesulitan menjatuhkan Alvian sehingga menggunakan cara kotor ini Tuan Milor, “ ucap Rani yang mengeluarkan aslinya bahkan lebih kejam dari Alvian meskipun hanya menggunakan kata-kata.


“Breng sek! “ Kesal Milor sembari mencengkeram erat dagu Rani, membuat wanita itu menjerit kesakitan.


Sementara Nara menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan ikatan di tangannya.


Bruk


Dengan sebatang kayu yang tergeletak tak berguna, Nara menghantam kepala Milor hingga pria tersebut mengeram kesakitan.


“Hahaha kau ingin bermain-main denganku, “ Milor tersenyum smrik sembari menatap seluruh tubuh Nara.


"Kau lumayan menggoda juga gadis manis, " titah Milor sembari mencoba mendekati Nara, dengan sesekali mengusap dagunya.


“Hei Tuan, apa kau pernah mendengar bahwa Jika kau meremehkan seorang wanita maka percayalah kehidupanmu akan berakhir hari itu juga? Jika belum maka akan ku buat kau tidak akan melupakan kata-kataku ini, “ ujar Nara dengan memegang erat balik kayu dengan tangan yang bergetar hebatnya.


“Aku mengerti sekarang mengapa Alvian begitu menginginkanmu, sebab dalam ketakutan sekalipun tekatmu begitu kuat, “ ujar Milor yang berjalan mendekati Nara.


Bruk


Belum sempat sampai ke hadapan gadis tersebut, dengan cepat Nara melayangkan pukulannya dan membuat Milor terkapar tak berdaya.


Nara membuang balok tersebut lalu berlari menghampiri Rani dan membuka ikatannya.


"Dengar Nona, kita harus segera keluar dari sini, " ujar Nara sembari melepaskan ikatan Rani.


Ketika ikatan Rani selesai di buka, datanglah beberapa orang pria bertubuh besar memasuki ruangan itu setelah mendengar teriakkan Milor dari dalam.


"Mau kemana kalian! " bentak salah seorang dari pria tersebut membuat Nara dan Rani tak berani berbuat apa-apa.


“Heiii bagaimana ini? “ tanya Rani panik, jika saja Ia tidak sedang hamil mungkin beberapa pria di hadapannya bukanlah tandingannya.


“Aku pernah membaca jika barang siapa berseru dalam nama Tuhan, Ia akan disela-


“Ya Tuhan selamatkan kami dari parah bedebah ini, “ belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, Rani sudah terlebih berseru.


“Habisi kedua wanita itu! “ teriak Milor memerintah.


Anak buahnya bersiap dengan membawa beberapa senjata tajam di tangannya.

__ADS_1


Namun belum sempat melancarkan aksi mereka, Drone yang di terbangkan Rian jatuh tepat di hadapan Nara dengan sebuah kertas bertuliskan “ Bad Blood.”


“Kau tau kak, Doamu di kabulkan secara instan, “ ujar Nara mengambil earphone dari dalam kantong celananya dan tersenyum smrik.


“Jangan remeh kekuatan wanita, “ ujarnya.


Nara menarik Rani agar berlindung di belakangnya, lalu mengambil balok yang di ditelantarkannya tadi dan menggenggam erat yang kali ini tanpa tremornya.


“Hahaha apa yang kalian tunggu, cepat tembak dia, “ ujar Milor meremehkan.


Dor


Satu peluru meluncur ke arah mereka namun, dengan lihainya Nara menarik Rani dan berhasil menghindar dari serangan itu.


"Wow wow, kau hebat juga dalam hal menghindar gadis manis, " cerocos Milor yang melihat Nara berhasil menghindar dari serangannya.


Sedangkan dari luar gedung tua itu, Alvian yang sudah bersiap dengan baju anti pelurunya masuk kedalam dengan di temani beberapa anak buahnya.


“Arahkan aku dimana mereka berada, “ pintah Alvian dari earphone yang saat ini juga terhubung dengan earphone milik Nara.


“Kamar kedua dari arah barat, “ ujar Rian mengarahkan.


“Apa aku tidak di izinkan menyerang kapten Rian, aku kewalahan menghindari peluru ini, “ ujar Nara yang sedari hanya bisa menarik Rani berlari mengitari ruangan kecil itu menghindari peluru serangan musuh.


Alvian yang mendengar hal itu, menarik senyumannya saat sudah tiba di depan pintu dimana Nara dan Rani di kurung.


Sedangkan David dan juga Victor bersama beberapa orang anak buah Alvian, berhasil memusnahkan seluruh penjaga di luar, kembali ke tempat Rian.


“Baiklah Winara kau diizinkan menyerang, “ ujar Rian lalu menyandarkan kepalanya di kursi kemudi bertepatan dengan masuknya Victor dan David.


"Baiklah calon ipar, " ujar Rani tersenyum.


Nara memasang kuda-kuda setelah peluruh terakhir dari anak buah Milor habis. Ia yakin, jika Milor masih menyimpan sebuah senjata cadangan dalam dirinya.


“Dasar Mura Han, “ ujar Milor kesal saat mengetahui trik Nara.


Bruk


Hanya menggunakan tangan kosong, gadis itu berhasil melumpuhkan sebagian anak buah Milor.


Karena kesal di kalahkan seorang wanita, Milor mengeluarkan senjata cadangannya dan mengarahkan tepat di kening Nara.


Bukannya menghindar Nara malah semakin maju ke arah senjata tersebut, membuat Rani yang tengah asik menghajar beberapa pria kebingungan.


“Mau ku bantu hitung, jika hitungan sampai tiga kau harus menarik pelatuknya bagaimana? “ tawar Nara.


“Nara apa kau gila! “ teriak Rani ketakutan.


Sedangkan Alvian yang sedari tadi mendengar perkataan Gadisnya tersenyum lebar.


“Apa kau dengar Rian, kakakmu begitu sangat menggemaskan jika sedang bermain-main dengan bahaya, “ ujar Alvian, yang memang bisa di dengar oleh Rian, David, Victor. Ketiga pria tersenyum mendengar perkataan Alvian begitu pula dengan Nara.


“Aku suka dengan gayamu, ayok mulai berhitung, “ pintah Milor saat ujung pistolnya tepat di kening Nara.


“Satu, “ Nara mulai berhitung.

__ADS_1


"Berhenti bersikap bodoh Nara! " teriak Rani yang semakin risau.


“Dua! “


“Tiga! “


"Alvian! " teriak Rani menutup telinganya, di kala hitungan Nara sampai pada hitungan ketiga.


Dor


Dor


Dor


Beberapa tembakan Alvian tepat mengenai dada kiri Milor, yang membuat pria tersebut terkapar lemah dengan banyak lumuran da rah di lantai.


Rani yang masih menutup matanya, membuka perlahan kedua maniknya saat jeritan suara Milor yang di dengar.


Sementara Nara belum bisa membuka matanya, sampai hembusan nafas Alvian menyentuh wajah indahnya.


“Lihat aku, “ yah suara Alvian mampu membuatnya begitu yakin bahwa dirinya baik-baik saja.


“Dasar tua bangka! “ Maki Rani melihat Milor terkapar tak berdaya.


Alvian mengalihkan pandangannya dari Nara, lalu Melangkah menuju Milor yang masih membuka matanya.


“Aku sangat tidak suka jika seseorang berani menyentuh apa yang menjadi milikku, paham! “ ujar Alvian dingin.


“Bram antar ke Victor dan juga David, “


mendengar perkataan adiknya Rani memilih keluar, sedangkan Nara masih setia mematung di tempatnya.


“Kau pria sialan, kau menghancurkan hidup anakku dengan menolak perjodohan ku kemarin. Aku tidak akan memberikan itu, “ ujar Milor terbata-bata.


“Bukan aku tapi kau, kau sendiri yang memilih menghancurkan putrimu, “ ujar Alvian sesaat sebelum meninggalkan pria paruh baya yang menjerit kesakitan.


“Ayok pergi, “ ujar Alvian menatap wajah Nara.


Namun, bukannya menjawab perkataan Alvian gadis tersebut justru memilih pingsan, Alvian menarik nafasnya panjang lalu menggendongnya.


“Beberapa menit yang lalu lagaknya seperti seorang pahlawan, sekarang hanya melihat da rah Ia sudah jatuh pingsan, “ ujar Alvian sembari berjalan menuju keluar dengan di kawal beberapa anak buahnya.


Saat kaki Alvian menginjak pintu gedung tersebut, David langsung meluncurkan rudal membakar gudang tua tempat penyanderaan milik Milor.


.


.


.


.


BERKOMENTARLAH DENGAN BIJAK!!


MAKASIH SUDAH MAMPIR 🌹

__ADS_1


__ADS_2