
Setibanya di kediaman Alvian, Nara di bawa masuk kedalam kamar tamu bukan kamar Alvian.
Tak menjelang lama, Jihan pun datang dengan di temani seorang penjaga Alvian. Jihan merupakan dokter yang setiap bulan di bayar khusus oleh Alvian, untuk memeriksa keluarganya.
Victor yang melihat Nara di letakkan di kamar tamu, mendekati Alvian yang langsung menatapnya tajam.
"Jangan banyak bicara, sana bantu Jihan. "
Dengan begitu sangat terpaksa, Victor melangkah mendekati Jihan.
"Nggak usah Vic, " ujar Jihan.
Victor mengangguk, kembali pada posisinya semula di sebelah Nara.
"Apa yang terjadi padanya? Siapa dia? "
Pertanyaan beruntun dari Jihan, membuat Alvian menarik nafasnya panjang.
"Periksa saja, tidak usah banyak bicara! " bentak Alvian.
Dengan tubuh yang bergetar, Jihan mengarahkan stetoskop pada tubuh Nara.
"Dia hanya kelelahan, sebentar lagi akan sadar, " jelas Jihan setelah menarik stetoskop dari tubuh Nara.
Alvian semakin menaruh curiga pada Nara, setelah mendengar perkataan Jihan yang mengatakan bahwa gadis itu kelelahan.
"Ini ada vitamin, jika dia sudah sadar berikan padanya. Saya permisi, " ujar Jihan.
Wanita itu Menyodorkan beberapa tablet obat, lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Alvian.
Setelah kepergian Jihan, Alvian mendekatkan kursinya tepat di bibir ranjang.
"Kau dengar apa yang di katakan Jihan, Victor? "
"Tapi tuan, kelelahan itu dalam artian yang luas. "
Alvian tersenyum smrik, melangkah meninggalkan Nara yang masih belum sadar.
"Argh! akan ku habisi orang yang melakukan ini, " geram Victor.
Victor mengacak rambutnya kasar, mengikuti langkah Alvian keluar kamar.
...***...
Swedia,
Lidia bersama Niko saat ini, tengah mengadakan rapat dadakan bersama anak buah mereka dalam rangka menghancurkan Alvian.
"Baiklah Lidia, aku harus segera pergi. Jika ada yang penting, hubungi aku, " ujar Niko tanpa mengalihkan pandangannya dari Ilone.
Ilone yang di tatap seperti itu, semakin mendatarkan wajahnya menantang tatapan Niko.
"Baiklah, " ujar Lidia.
Niko bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu. Namun, saat melewati Ilone dengan lancangnya pria itu mencolek dagu Ilone.
"Sangat manis, " ujar Niko pelan.
"Bang sat! " gumam Ilone mengumpati Niko.
Meskipun suaranya begitu pelan, Niko masih bisa mendengarnya. Pria itu tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkahnya.
Setelah kepergian Niko, Lidia kembali ke kamarnya tanpa di ikuti Ilone.
__ADS_1
"Rencana yang sama saja, hufft. "
Gadis itu menarik nafasnya panjang, ikut melangkah menuju dapur.
kembali ke kediaman Alvian.
Nara yang sudah sadar, memegang kepalanya yang masih pusing.
Ia meriah ponselnya dari atas nakas, matanya membulat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Sudah malam, aku harus pulang. "
Nara bangkit dari duduknya, berjalan menatap kesekelilingnya. Ia baru tersadar sudah berada di rumah Alvian.
Dengan sedikit pening pada kepalanya, Nara melangkah keluar menuju dapur.
Dari ruang keluarga, Alvian menatap punggungnya tanpa ekspresi.
"Mbak, bisa minta air putih? " ujar Nara.
Novita yang kebetulan berada di dapur, berbalik menatap Nara lalu menuangkan segelas air putih kepada gadis itu.
Nara menerima pemberian Novita, lalu meneguk habis tanpa sisa.
Setelah selesai, Nara menatap kesekeliling ruangan pandangan tertuju pada Alvian yang tengah sibuk dengan laptopnya di ruang keluarga.
Nara melangkahkan kakinya mendekati Alvian. Tanpa persetujuan Alvian, Nara memeluk erat tubuh pria itu dari samping.
Alvian menepis kasar tangan Nara, bangkit membawa laptopnya menuju kamarnya.
"Kak, " lirih Nara pelan.
Melihat kepergian Alvian yang seolah menghindar darinya, air mata Nara tumpah begitu saja.
"Aku tidak semurahan itu, " gumamnya.
David yang baru saja datang, dengan di iringi Pak Very keduanya berhenti saat berpapasan dengan Nara di depan pintu.
"Nona, mau kemana ini sudah malam? "
Tanpa menjawab pertanyaan David, Nara menyelonong pergi begitu saja.
"Pak, tahan dia saya temui tuan muda. "
Pak Very mengangguk berlari mengejar Nara. Sedangkan David, masuk menemui Alvian.
David yang sudah berada di ambang pintu kamar Alvian, mengangkat tangannya hendak mengetok. Namun, tangannya dengan cepat dihentikan Alvian.
"Lupakan saja, dia tidak akan mendengarkan. "
David yang mengerti akan maksud dari perkataan Victor, mengusap kasar wajahnya.
"Apa dia gila? Nona muda bisa dalam bahaya, " kesal David.
Victor yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Alvian.
Pak very yang berlari menghampiri Nara, menggenggam erat tangan gadis itu.
"Tolong nona, ini sudah malam. "
Nara melepaskan genggaman tangan Very, menggelengkan kepalanya menatap pria di hadapannya itu.
"Saya harus pulang pak, dia tidak menginginkan saya lagi, " jelas Nara.
__ADS_1
Dengan berat hati, Very membiarkan Nara pergi.
Setelah kepergian Nara, David dan juga Victor menghampiri Very yang tengah menatap punggung Nara yang sudah semakin menjauh.
Di dalam kamarnya, Alvian berjalan menuju balkon memegang sebuah rokok di tangannya.
Pria itu menarik asap rokok masuk kedalam mulutnya, dan menghembuskan kasar keluar mulutnya.
"Dasar bang sat! " umpat Alvian berkali-kali, melupakan kekesalannya.
Nara dengan air mata yang tidak hentinya keluar, berjalan perlahan entah kemana arahnya Ia sendiri pun tidak tau. tapi yang pastinya saat ini, gadis itu sudah jauh dari rumah Alvian.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? hiks, Al kau salah paham. "
Kata-kata itu sudah hampir lima puluh kali di ucapkanya, bersamaan dengan langkah kakinya yang terus melangkah.
Tanpa mengangkat kepalanya, Nara yang larut dalam kesedihan sama sekali tidak melihat sebuah motor yang mengarah ke arahnya.
"Awas! " teriak sang pengemudi.
Dalam hitungan detik, tubuhnya terkapar jauh dari badan jalan. Pengemudi tersebut, sudah berlari meninggalkannya begitu saja.
"Aw! " ringis Nara.
Dengan penuh usaha, Nara bangkit berdiri meskipun kakinya tidak bisa di gerakan.
"Al, " ujarnya.
Nara berjalan pincang, sembari menahan rasa sakitnya Ia memungut tasnya yang jauh darinya.
"Aaa sakit, " ringisnya saat sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit pada kakinya.
Nara melirik sedikit ke arah kakinya, Ia sedikit terkejut pasalnya sudah banyak darah yang keluar.
Saat itu juga, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di hadapannya.
Dari dalam mobil, keluarlah seorang pria bertubuh tegap memungut tasnya lalu mendekatinya.
"Kau tidak apa-apa? "
Nara yang terpanah akan ketampanannya, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Hei, " ujar pria itu lagi, berusaha menyadarkan Nara dari lamunannya.
"Ah iya, kaki ku terluka. "
Pria itu menatap kearah kaki Nara, dengan sigapnya Ia merobek ujung bajunya lalu melilitkan pada kaki gadis itu, untuk menutupi luka itu.
"Mau kemana? "
Nara yang terlihat bingung harus menjawab apa, memilih menundukkan kepalanya. Pasalnya, jika Ia memilih pulang Rian dan Tina pasti akan sangat khawatir. Tapi jika Ia kembali pada Alvian, pria itu sama sekali tidak mengindahkan kehadirannya lagi.
"Aku tidak tau, " ujarnya.
Tanpa persetujuan dari Nara, Pria itu menggendong tubuh Nara memasukkannya kedalam mobilnya.
"Kita ke rumahku, akan ku obati lukamu. "
Pria itu mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota, menuju kediaman bersama Nara.
.
.
__ADS_1
.
Makasih buat yang sudah mampir ke cerita aku 🌹 yuk komen sama like biar aku tau ada yang baca ❤️