Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
69 Serangan Lian Sheng


__ADS_3

Ketika sudah tiba di markas besar Alvian, Victor dengan cepat menuju ruangan meeting mereka. Di sana, sudah ada orang-orang yang dikiriminya pesan.


“Ada apa Victor?”


Pertanyaan yang sama yang ingin di lontarkan semuanya, terwakilkan ketika Evan lebih dahulu bersuara menanyakan hal itu.


Tanpa menjawab pertanyaan Evan, Victor membuka laptop menyambungkan pada ponselnya. Ia membuka gambar hasil curiannya, menunjukkan kepada semuanya yang berada di sana.


“Jadi, Alvaro juga korbannya?” ujar David.


“Belum bisa kita pastikan, kalian tau Alvaro sangat licik. Dia bisa menjadi teman, dan menyerang dalam waktu bersamaan. “


Penuturan Evan, membuat semuanya mengangguk setuju dengan apa yang dilontarkannya. Alvaro orang yang sangat pintar, Ia bisa memanipulasi orang yang melihatnya akan merasa bahwa sosok dirinya begitu sangat baik.


“Ada pesan dari Ilone, “ ujar Victor mengejutkan semuanya.


Dengan segera, Victor menampilkan pesan itu di laptop agar semuanya bisa melihat apa yang disampaikan gadis itu.


...Good Girl...


/Berkas salilan laporan keuangan perusahaan Jovanka awal berdiri


[Buka berkas itu, teliti isinya. Jika sudah, kirimkan padaku]


Evan mengambil alih laptop dari hadapan Victor, menyalin berkas yang dikirim Ilone kedalam ponselnya.


Setelah berhasil menyalin soft file itu, Evan dan juga David dengan segera memeriksa isi file itu dengan telaten. Sedangkan Victor dan Bram, keduanya kembali mengamati setiap foto yang diambil Victor dengan mencuri dari Alvaro.


“Ingat, selesaikan semua malam ini. Jika tidak, waktu kita akan terkuras dan seluruh pekerjaan ini akan sangat terbengkalai setelah kepergian Alvian, “ peringat Evan, di sela-sela kesibukan mereka memecahkan khasus lima belas tahun yang lalu.


Di saat anak buahnya sibuk dengan urusan penting, Alvian justru tengah sibuk bersama Nara yang susah di bujuk kembali.


“Sudah aku katakan Al, pulanglah.”


Sedari tadi, ponsel Alvian terus berbunyi hal itu membuat Nara begitu risih. Bagaimana tidak? Yang menelpon Alvian adalah Tiara.


Sama dengan Nara yang risih, Alvian juga mulai merasakan hal yang sama. Ia mengeluarkan ponselnya menonaktifkan benda itu.


“Kenapa di matikan?”


Ekspresi wajah Alvian seketika berubah, saat pendengarannya menangkap pertanyaan yang keluar dari mulut Nara. Emosinya memuncak, Alvian mencengangkan keras tangan Nara membawa gadis itu menuju mobilnya.


“Sakit Alvian!” bentak Nara melepaskan tangannya.


Namun, Alvian kembali memegang lengan Nara kembali membawanya menuju mobilnya. Bukan tanpa alasan, sedari tadi Ia melihat ada sosok yang memperhatikan keduanya.


“Al, sakit, “ ringis Nara ketika keduanya sudah berada dalam mobil.


Dengan cepat, Alvian membungkam mulut Nara lalu membawa Nara masuk kedalam pelukannya. Matanya menatap kearah luar mobil, dan benar saja sosok itu sudah mendekati mobil mereka.


“Al, “ ujar Nara pengap.

__ADS_1


“Diam sayang, sedari tadi ada memperhatikan kita.”


Mendengar penuturan Alvian, Nara yang awalnya mengangkat kepalanya hendak menatap Alvian, seketika kembali membenamkan wajahnya pada dada Alvian.


Sosok itu semakin mendekatkan kearah mobil mereka, Alvian dengan tangan kanan yang mengusap santai rambut Nara dan tangan kirinya mengarah mencari pistolnya.


Bruk


Kaca mobilnya yang tahan akan apa pun, tidak hancur saat sosok itu menghantam keras kaca tersebut. Nara semakin ketakutan, memeluk erat tubuh Alvian lalu menurunkan kepalanya kearah perut kekasihnya itu.


“Sayang, di balik kantong kiriku, ada pisau lipat di sana.”


“Tidak Al, aku takut.”


Ada sedikit senyuman yang terukir pada bibi Alvian, saat Nara mengatakan hal itu. Tangan semakin lembut mengusap rambut Nara dengan sesekali turun ke punggung Nara.


“Ada aku bersamamu, “ ujarnya.


Seolah diberi kekuatan dan masih dengan posisi yang sama, Nara memasukan tangannya pada kantong celana Alvian.


“Sial!” umpat Alvian saat tangan Nara tak sengaja menyentuh bagian sensitifnya.


Setelah mendapatkan apa yang diminta oleh Alvian, Nara Menyodorkan benda itu kepada pemiliknya.


“Untukmu berjaga-jaga, “ ujar Alvian.


Mata Alvian yang terus menatap keluar, membulat saat melihat yang mendekati mobilnya jumlahnya sudah berlipat ganda.


“Nara, pegang kuat bajuku!” pintahnya sedikit meninggikan suaranya.


Tak sampai disitu saja, keduanya belum lolos. Lagi lagi, manusia bertopeng itu kembali membuntuti mereka dengan sesekali meluncurkan tembakan kearah mobil Alvian.


Dor


Suara tembakan yang dihasilkan oleh manusia bertopeng tersebut, hampir saja mengenai mobil Alvian. Alvian yang awalnya hendak melajukan mobilnya menuju rumah sakit, berputar arah melaju menuju pantai yang jaraknya lumayan jauh dari sana.


“Sayang, are you okey?”


Sama sekali tidak ada suara dari Nara, dengan tangan kiri yang mengendalikan stir mobil. Tangan kanan Alvian, yang awalnya berada pada rambut Nara turun menelusuri leher Nara mengusap pelan di sana.


“Al, apa kita akan baik-baik saja? “


Alvian cukup menarik nafas lega, ketika Nara kembali bersuara. Bukannya menjawab pertanyaan Nara, Alvian justru mencuri kesempatan dengan tangannya yang sudah menyentuh kedua da da gadisnya.


“Selama aku hidup, kau akan tetap hidup, “ ujar Alvian.


Dengan kecepatan tinggi, Alvian terus menancapkan gasnya menghindar dari serangan musuh. Ketika melewati pemukiman penduduk dan memasuki area rawa, Alvian mengambil senjatanya menarik tubuh Nara menatapnya.


“Lihat aku Nara, “ ujarnya ketika mata gadisnya sama sekali tidak terbuka.


Perlahan-lahan, Nara membuka matanya menatap Alvian yang tersenyum manis kearahnya. Pria itu menyodorkan senjata api ketangan Nara.

__ADS_1


“Jika ingin kita tetap hidup, kau harus membantuku.”


Sebuah gelengan kepala didapat Alvian, takut yah saat ini tangan Nara bergetar hebatnya. Ditambah lagi, musuh-musuh itu terus melayangkan tembakan kearah mereka.


Chup


Alvian menarik tengkuk Nara, mengecup lama bibir gadisnya lalu mengangguk percaya bahwa Nara bisa melakukannya.


“A-aku,


“Kau bisa, aku mencintaimu.”


Mendapat kekuatan penuh dari Alvian, Nara sedikit menurunkan kaca mobilnya mulai mengeluarkan senjata milik Alvian mengarah ke arah musuh-musuh itu.


Berulang kali suara tembakan yang dihasilkan Nara, tidak sia-sia begitu saja. Dua dari lima tembakan yang diciptakannya, berhasil membuat mobil musuh terjatuh kejurang.


Alvian yang mengemudikan mobil, tak tinggal diam Ia juga ikut membantu Nara melumpuhkan musuhnya yang sepertinya bertambah banyak.


“Al, mereka bertambah banyak.”


Hanya anggukan kepala dari Alvian, yang dijadikan respon atas apa yang dikatakan Nara. Alvian tersenyum kecil, meraih ponselnya mengirim pesan kepada seseorang.


“Nara, serang ban mobil mereka.”


Tak langsung menjalankan perintah Alvian. Nara terlihat menarik nafasnya sekilas, lalu mulai melakukan apa yang dikatakan Alvian.


Bruk


Nara sudah akan menyerang, menghentikan niatnya saat


mobil belakang dengan gilanya, menabrak mobil Alvian ketika mereka berada di tengah jalan yang pada pinggirannya begitu curam.


Tapi mereka sepertinya salah memilih lawan, yang mereka coba lukai adalah seorang Alviano Jovanka. Alvian menarik pinggang Nara, hingga Nara berhasil terjatuh pada pahanya. Alvian menginjak gasnya memutar mobil berhadapan dengan mobil musuh.


“Sayang, pegang kuat bajuku.”


Nara yang belum di suruh pun, sudah dengan keras mencengkram baju Alvian. Dengan kecepatan tinggi, Alvian menabrak mobil didepannya membuat musuh-musuhnya terjatuh kedalam jurang.


Setelah selesai menyingkirkan musuh yang lainnya, Alvian kembali memutar arah mobilnya melaju manjauh dari jurang itu.


“Victor, Liang Sheng mengerang, temuai aku di pantai Utara.”


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚


__ADS_2