Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
102 Berlian Indah


__ADS_3

Roseta yang sudah hampir seminggu mengerahkan anak buahnya mencari keberadaan Alvian, menjadi frustasi ketika selalu mendapat informasi yang sama dari setiap anak buahnya.


“Mau ku pecat kalian?! Dasar tidak becus, cari dia!” teriak Roseta, menghancurkan isi meja makannya.


“Tapi Nona, kami sudah menelusuri seluruh kota, dan sama sekali tidak menemukan keberadaan Alvian. Bahkan kami sampai memeriksa bandara, tidak ada informasi penerbangan atas nama Alviano, “ jelas salah satu anak buahnya.


Mendengar hal itu, Roseta semakin menggila menghancurkan seluruh isi rumahnya. Alvaro yang memasuki rumah itu, tersenyum puas melihat wajah frustasi Roseta.


“Kenapa Ro, sudah kau temukan calon tunangan mu yang kabur?”


Alvaro meletakkan bokongnya ke sebuah kursi, menyeruput segelas teh yang tidak dipedulikan di atas meja.


“Akh, sangat melegakan tenggorokan.”


Perkataan Alvaro yang bagi Roseta meledeknya, membuat gadis itu menyodorkan senjata tajam kehadapan Alvaro.


“Kau pasti ada hubungannya dengan Alvian, jujurlah!” bentak Roseta.


Karena terkejut dengan bentakan Roseta, tangan Alvaro tak sengaja menjatuhkan gelas berisi teh hangat ke lantai.


“Jangan teriak-teriak, itu juga salahmu kenapa berani menyentuh perusahaan ku?!” bentak balik Alvaro.


Alvaro yang hendak melangkah pergi, menghentikan langkahnya saat melihat sosok ibunya bersama Lian memasuki rumah itu.


“Wah, wah kedua calon besan datang, teruslah berusaha menjodohkan Alvian dan Roseta, sampai Alvian menghancurkan kalian baru berhenti.”


Alvaro dengan tawa renyahnya, melangkah keluar dari rumah itu. Sepertinya Ia kesini hanya untuk meledek Roseta saja, karena kini dirinya sudah berlalu bersama mobil kesayangannya.


“Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Lian, berjalan memasuki area dapur.


Pria tua itu yang dibuntuti Diandra dan juga putrinya, mengusap kasar wajahnya melihat keadaan dapur bak kapal pecah.


“Berhentilah seperti bocah Ros, anak buah ayah sedang mencarinya.” Lian berbalik menatap putrinya.


“Mau sampai kapan? Bibi Diandra sendiri tidak tau kemana putranya pergi!” teriak Roseta.


Sepertinya hobi gadis itu berteriak, seperti apapun situasinya Ia pasti selalu mengeraskan suaranya dalam mengatakan sesuatu.


“Tenanglah Ro, Aku akan membujuk Alvaro mengatakan keberadaan Alvian. “


Bersamaan dengan berakhirnya Kalimat yang diucapkan Diandra, ponsel Diandra berdering yang ternyata itu dari Alvaro. Diandra menekan tombol pengeras suara, sehingga tak hanya dirinya saja yang mendengar apa yang hendak disampaikan Alvaro.


“Jangan pernah berpikir untuk bertanya padaku soal Alvian, aku tidak akan memberitahukan dimana dia, hahaha.”


Tawa Alvaro menggema, setelah itu Ia mengakhiri panggilannya secara sepihak. Diandra membuang ponsel ke sofa, putranya itu sangat menguji kesabarannya.


“Urus putramu, jika tidak akan ku habisi dia, “ ujar Lian.


“Anak itu, sepertinya Alvian sudah meracuni pikirannya.”


Nara yang sudah selesai dengan pekerjaannya, mengambil tasnya berjalan keluar devisi marketing. Ia sempat berpapasan dengan Bianka, ketika gadis itu juga hendak Keluar.


“Kemana kedua temanmu itu?” ujar Binaka, ketika tak menemukan keberadaan Ana dan Ria.


“Mereka sudah lebih dahulu pulang, “ jelas Nara.


Setelah itu, tidak ada lagi pembasahan di antara keduanya lagi. Nara dan juga Bianka, melangkah bersama-sama menuju parkiran. Di sana, Alvaro sudah sejak beberapa menit yang lalu.


“Bi, aku duluan yah, “ ujar Nara, mendekati mobil Alvaro.


Alvaro sedikit tersenyum smrik menatap Bianka, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan gadis itu sendirian di sana.

__ADS_1


Selepas kepergian kedua insan itu, Bianka mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.


“Mereka sudah pergi,” ujarnya.


Bianka kembali mematikan ponselnya, melangkah mendekati mobilnya.


Bersamaan dengan Nara dalam mobilnya, Alvaro memutar musik yang begitu familiar di telinga Nara.


“Kau tau lagu ini?” tanya Nara, berbalik menatap pria di sampingnya.


“Aku sedikit mendapat bocoran dari Rian.”


Nara melepaskan tawanya, lalu keduanya terhanyut dalam lantunan lagu itu. Hingga akhirnya, mobil itu harus ditepikan Alvaro saat melewati sebuah pantai.


“Ayok turun!”


Nara tersenyum kecil, turun dari mobil setelah melepaskan sepatunya berlari menuju hamparan pasir putih di sana.


Dari kejauhan, tampak seorang pria yang tak lain adalah Victor tengah memperhatikan keduanya dengan senyuman mengambang. Meskipun dengan sebuah senyuman namun, pada dirinya tersimpan banyak sekali kegelisahan yang mendalam.


“Tolong, mereka hanya sebatas teman saja. “ Victor menatap kearah langit.


Victor mengeluarkan ponselnya, merekam setiap pergerakan kedua insan itu. Ketika Nara menatapnya, Victor melangkah mendekati mereka saat gadis itu melambaikan tangannya memanggilnya.


“Sejak kapan di sana?” ujar Nara bertanya, ketika Victor sudah mendekati keduanya.


“Beberapa menit yang lalu, “ ujarnya.


Nara mengangguk mengerti, kembali berlari di tengah hamparan pasir putih dengan ditemani angin yang berhembus kencang meniup-niup surai panjangnya.


“Aku baru sadar Victor, pantas saja Alvian begitu menyayanginya, “ tutur Alvaro, tanpa mengalihkan pandangannya dari Nara.


“Iya, dia meninggal berlian seindah itu, “ timpal Victor menambahkan.


...BROW 🐺


...


^^^/Send Video


^^^


^^^Berlian yang sangat indah Al,


^^^


Alvaro kembali melirik Nara, setelah berhasil mengirimkan video itu pada Alvian. Ia menarik paksa tangan Victor, berlari menghampiri Nara.


Swedia.


Alvian yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendekati ponselnya saat mendengar ponselnya berdering pertanda ada pesan yang masuk.


...Varo


...


/Varo send Video


Alvian memutar video tersebut, Alvian lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang ingin lebih rileks menikmati video itu.


“Apa kalian akan terus berdiri menatapku!”

__ADS_1


Senyuman manis terukir pada bibir pria itu, Ketika suara kekasihnya begitu nyaring terdengar. Alvian begitu menikmati tontonannya, sampai tak menyadari Kiran sudah berada di hadapannya.


“Serius amat, nonton apa?”


Alvian tersadar akan keberadaan Kiran, dengan cepat mematikan ponselnya bangkit dari ranjangnya duduk menatap gadis itu.


“Rambutmu masih basah, sini biar aku keringkan.”


Kiran melangkah menuju hairdryer yang berada di samping kiri Alvian, menghidupkan benda itu. Ketika Ia mengarahkan pada rambut Alvian, Kiran terkejut dengan dada teriris saat Alvian menahan tangannya.


“Aku sendiri saja, kau keluar!”


Kiran tidak langsung pergi dari hadapan Alvian, Ia melirik leher pria itu yang sudah terlilit sebuah kalung dengan inisial “w”


“Sejak kapan ini?”


Tangan Kiran yang hendak menyentuh kalung itu, kembali tangan ditepis kasar Alvian yang menatapnya tajam.


“Jangan lancang, aku bilang keluar.” Dengan nada pelan, Alvain kembali fokus pada rambutnya yang belum kering.


“Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan? Al,”


“KIRAN!” bentak Alvian.


Kiran yang tidak memperdulikan teriakan Alvian, mengambil ponsel Alvian hendak memeriksa isinya. Namun, Ia terpaksa harus mengurungkan niatnya ketika melihat ponsel itu terkunci.


“Sejak kapan ponselmu di kunci?” Kiran masih mencoba membukakannya.


“Keluar Kiran, jangan memancing amarahku!” Bantan Alvian lagi.


"Kau berubah Al, " ujar Kiran.


"Kau sendiri yang menciptakan perasaan bodoh itu, Kira!"


Dengan air mata yang mengalir di pipinya, gadis itu membuang sembarang ponsel Alvian keatas ranjang lalu melangkah pergi.


Alvian sama sekali tidak memperdulikannya, Ia kembali mengeringkan rambutnya. Setelah selesai, Alvian melangkah menuju balkon menghabiskan waktu di sana.


Pria itu menyentuh Kalung yang berada di lehernya, teringat dimalam dirinya mencuri kalung itu dari leher Nara tanpa sepengetahuan gadis itu.


...Gadisku ♥️


...


^^^Aku merindukanmu 🌹


^^^


^^^


^^^


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2