Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 45 Sebuah Cincin


__ADS_3

Rian bersama Nabila dan juga David, kembali ke rumah sakit setelah selesai dari kafe.


Sedangkan Victor, sudah kembali ke kantor sebab ada masalah yang harus diselesaikannya.


"Kemana mereka? "


Mata ketiganya menyapu setiap sudut ruangan, tak menemukan keberadaan Nara dan Alvian.


David mendekati penjaga, yang memang orang suruhan Alvian untuk menjaga Firman.


"Apa mereka keluar? "


Penjaga itu hanya mengangguk mengiyakan perkataan David.


Ketiganya menarik nafas panjang, lalu memenuhi sofa.


"Dasar bucin, " gumam Rian pelan.


...***...


Di sebuah taman,


Alvian tersenyum kecil menggenggam erat tangan Nara, membawa gadis itu mengitari seisi taman.


"Kau suka? "


Nara mengangguk mengiyakan perkataan Alvian, lalu melangkah mendekati bunga-bunga indah di sana.


Keduanya berlarian kesana kemari, seolah-olah taman itu hanya milik keduanya.


Bagaimana tidak? Alvian sudah menyewa seluruh taman itu hanya untuk keduanya.


"Mau ice cream? " tawar Alvian menunjuk ke arah penjual yang berada di bibir jalan.


Nara tak menjawab pertanyaan Alvian, Ia menarik tangan Alvian menuju penjual itu.


"Bang, mau rasa vanilla dua. "


"Siap neng, " ujar penjual Ice cream.


Nara membawa Alvian duduk di pinggir jalan, sembari menunggu.


Tak menjelang lama, Ice cream sudah berada di tangan Nara. Alvian menariknya kembali ke taman, setelah membayar.


"Enak banget, " ujar Nara.


"Iya enak. "


Nara melirik jam ice cream milik Alvian, lalu menatap pria itu.


"Ada apa sayang? "


Nara tersenyum menampilkan deretan giginya, lalu menarik tangan Alvian memakan habis ice cream milik Alvian.


"Punya ku Nara, " titah Alvian tak terima.


Pria itu ingin membalas perbuatan Nara namun, dengan cepat Nara berlari menjauh darinya. Maka, terjadilah aksi kejar-kejaran di antara mereka.


"Nara awas kamu yah! "


"Hahaha ayok kejar, " nantang Nara.


Alvian berlari menangkap tubuh Nara. Karena kurangnya keseimbangan, keduanya terjatuh di atas rerumputan dengan Nara di bawa tubuh Alvian.


Alvian mengecup singkat bibir Nara, lalu menarik kekasihnya bangkit berdiri.


"Dasar! " kesal Nara.


Mau bagaimana lagi? Alvian akan selalu mencuri-curi kesempatan untuk bisa menikmati bibir ranum gadisnya itu.


Alvian hanya terkekeh, menanggapi perkataan kekasihnya itu.


"Ayok ke sana. "


Dengan menggenggam erat tangan Nara, Alvian membawanya ke tebing yang di bawahnya terdapat pantai yang indah.


"Wooow. "


Nara di buat takjub dengan pemandangan indah di hadapannya.


"Kenapa aku tidak tau ada tempat seindah ini? " ujarnya.

__ADS_1


"Taman ini, tempatku bermain bersama seseorang yang begitu berarti dalam hidupku, " jelas Alvian.


Ekspresi wajah Nara seketika berubah, saat mendengar penuturan Alvian. Gadis itu tersenyum masam, lalu kembali menatap kedepan.


"Akan ada saatnya kau mengetahui semuanya. " batin Alvian.


Seba Ia sadar dengan perubahan ekspresi wajah Nara, ketika mendengar perkataannya.


Waktu terus berjalan, matahari mulai terbenam. Nara mengambil ponselnya, mengabadikan momen terbenamnya sang surya.


Alvian mengambil sebuah kotak berwarna merah, melangkah kedepan Nara.


"Sayang, maukah kau menjadi bagian dari hidupku. "


Nara terbelak kaget, akan perlakuan Alvian yang seolah melamarnya secara tiba-tiba.


"Kak, " ujarnya gugup.


"Kamu mau kan? "


Nara yang tidak bisa berkata apa-apa, mencoba menarik nafasnya panjang menetralkan rasa gugupnya.


"Maaf, aku belum bisa sepenuhnya menerima mu. "


Kecewa, yah tentu saja hal itu yang di rasakan Alvian saat mendengar apa yang di ucapkan Nara.


"Kenapa? "


Hanya satu kata itu, yang mampu keluar dari mulutnya.


"Kau tau kak, ayahku hanya mempunyai seorang putri. Aku ingin, di saat kau melamar ku saat itu juga ayahku menyaksikan semua ini. "


Alvian mengerti akan keadaan Nara saat ini, Ia memilih memasukkan kembali cincin itu kedalam kantongnya.


Namun, Nara menahan tangannya. Gadis itu membuka kotak cincin menyerahkan kembali kepada Alvian.


"Aku akan mengenakannya sampai ayah sadar, " ujarnya.


Dengan senyuman terukir pada bibir Alvian, pria itu memasangkan cincin tersebut kepada jari tengah Nara.


"Berjanjilah untuk tetap bersamaku, " titah Alvian.


Nara tersenyum, lalu masuk kedalam pelukan Alvian. Dengan background sunset yang indah, Alvian membalas pelukan kekasihnya itu.


"Aku akan mengambilnya darimu Al, " ujarnya berlalu pergi.


Alvian melepaskan pelukannya, membawa Nara menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari mereka.


"Mau kemana lagi? " tanya Alvian.


Nara terlihat berpikir sebentar, memutuskan ingin kemana.


"Hmm, ke oyo yuk, " ujar gadis itu.


Alvian yang sempat terbelak kaget, tertawa renyah mendengar candaan kekasihnya.


"Memangnya mau? "


Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat, sebagai jawaban atas pertanyaan Alvian.


"Tadi ngajak, " goda Alvian.


"Ih bercanda doang. "


"Ayok kita kesana, " titah Alvian dengan sedikit terkekeh.


Nara yang awalnya memulai candaan itu, menjadi kesal akan sikap jail Alvian.


"Pulang aja yuk kak, " ujar Nara.


"Katanya mau ke oyo? "


Nara memukul pelan lengan Alvian, lalu tersenyum malu dengan tatapan Alvian.


Alvian mengangguk membukakan pintu mobil untuk Nara, dan ikut masuk kedalam. Tak menjelang beberapa detik, Alvian melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Saat ini, Victor bersama Evan tengah sibuk mengurus perusahaan Alvian yang berada di Jamaika.


"Bagaimana Victor? "


David yang baru tiba, menghampiri keduanya dan ikut bergabung.

__ADS_1


"Apa kau sudah mengantar Rian? "


Bukannya menjawab pertanyaan David, Victor malah melontarkan pertanyaan kepada pria itu. David mengangguk, dan mulai membuka laptopnya.


"Sial! "


Mendengar umpatan Evan, kedua pria itu menghentikan kegiatannya menatap Evan.


"Ada apa Bos? "


"Perusahaan yang berada di Jamaika sudah lima puluh persen milik Oma, " jelas Evan.


Victor mengusap kasar wajahnya, lalu mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"Ke markas belakang sekarang! "


Tak lama setelah Victor menutup ponselnya, Bram muncul.


"Aku ingin tau pergerakan Niko. "


Bram mengangguk mengerti dengan ucapan Victor, lalu mulai mengotak-atik laptopnya.


"Menurut laporan Ino kemarin pagi, Niko hanya berkeliaran di sekitar kantornya dan juga rumahnya, " jelas Bram.


Victor tampak berpikir sebentar, lalu menatap David.


"Kemarin, aku baru saja mendapat info dari Fauzan. "


Evan tidak menggantungkan pembicaraannya, membuat semuanya menjadi penasaran akan apa yang ingin disampaikannya.


"Apa katanya? " tanya Victor tak sabaran.


"Katanya, perusahaan di Jamaika memang lima puluh persen masih milik Alvian namun, lima puluh persennya lagi bukan atas nama Oma. "


"Lalu atas nama siapa? "


Alvian yang baru kembali, melangkah masuk mendekati mereka.


"Alvaro. "


Semuanya terbelak kaget. Sebab, pria itu tidak berhak atas harta Alvian. Meskipun diberikan Alvian secara cuma-cuma, Ia tetap tidak bisa menggunakan harta itu.


"Biarkan saja, hal itu tidak akan berguna baginya, " ujar Alvian.


"Kenapa begitu? "


Pertanyaan Evan juga sama dengan isi kepala para pria itu.


"Nanti ada saatnya kalian akan tau, " ujar Alvian.


Victor yang melihat perubahan ekspresi wajah Alvian, menatapnya bingung.


"Kenapa menatapku seperti itu, " titah Alvian.


"Ada apa dengan wajahmu tuan? "


Alvian terkekeh, bangkit dari duduknya lalu merenggangkan otot tubuhnya.


"Kalian tau, gadisku mengajakku ke oyo. "


Anak buah Alvian bersama Evan, hanya bisa menganga geli dengan sikap kekanak-kanakan pria itu.


Saat sedang dalam tawa dan kebahagiaan bersama orang kepercayaannya itu, Alvian merubah ekspresi wajahnya saat Jery menghampirinya.


"Maaf Tuan, ada yang ingin saya sampaikan. "


Semua yang berada di ruangan itu, berbalik menatap Jery.


"Katakan! " pintah Alvian.


Jery membuka tabletnya, menunjukkan sebuah rekaman video kepada Alvian.


Dengan segera, Alvian bersama kedua asistennya dan juga Evan bergegas keluar dari markas itu.


.


.


.


Makasih yah, buat yang sudah mampir.

__ADS_1


Love you sekebon deh 🌹🌹❤️


__ADS_2