
Hari sudah mulai gelap, Alvaro bersama Nara tiba di rumah sakit.
Sembari beriringan, keduanya masuk kedalam ruangan Firman di rawat.
Wajah Alvaro yang tadinya ceria, berubah seketika saat melihat sosok Firman yang tengah terbaring koma.
Rian yang kebetulan berada di sana, menatap Nara seolah bertanya siapa pria disampingnya.
"Alvaro, ini adikku Rian."
Dengan berakhirnya Kalimat yang di ucapkan Nara, Alvaro Menyodorkan tangannya kehadapan Rian.
"Hai, aku Rian."
Senyuman manis terukir pada bibir Rian, sembari menerima uluran tangan Alvaro. Bisa Alvaro lihat sosok Nara dalam wujud pria, pada diri Rian.
"Mirip yah, aku tau."
Alvaro terkekeh mendengar apa yang diucapkan Rian.
"Ayahmu sakit apa?"
Nara yang tengah sibuk menatap ponsel yang diberikan Alvaro siang tadi, sedikit berbalik melirik Alvaro ketika pertanyaan itu menembus telinganya.
"Kecelakaan, " jawab Nara singkat.
Tak mau memperkeruh suasana, Alvaro kembali diam.
"Kenal Nara dimana?"
Pertanyaan dari Rian, seolah membuka kembali percakapan yang hampir mati.
"Ketemu di jalan, " jawab Alvaro.
keduanya asik mengobrol, hingga melupakan kalau sedari tadi mereka tidak berdua saja.
"Winara, aku harus pulang."
Nara yang sudah menutup matanya setelah mendengar pembicaraan Alvaro dan Rian, seketika tersadar dari alam bawah sadarnya ketika Alvaro memegang pundaknya.
"Ah iya, baiklah, " ujar Nara sembari mengumpulkan nyawanya.
Sedikit mengusap kepala gadis itu, Alvaro melangkah meninggalkan ruang rawat Firman.
"Temannya nggak di antar?"
Seolah berbicara sendiri, ketika Rian berbalik Nara sudah tidak lagi sadar. Gadis itu sepertinya lelah, Ia sudah berada dalam alam bawah sadarnya.
"Dasar kebo," ujar Rian.
...***...
Mentari pagi perlahan memasuki ruangan itu, Nara menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya. Matanya menangkap sosok adiknya Rian, tidur dengan memeluk erat kakinya.
"Untung nggak aku kentutin semalam," ujarnya.
"Nggak kentut, aku sesak napas bodoh."
Nara yang terkejut, terkekeh kecil lalu bangkit dari tidurnya.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Rian yang terus memperhatikan Nara mendekati gadis itu.
"Nggak kerja?"
Yah sedari tadi Rian sedikit risau, dikala kakanya seolah tidak sibuk bersiap-siap.
"Nggak."
Mendapat jawaban singkat dari Nara, Rian menarik panjang nafasnya.
__ADS_1
"Apa kau gila? Alvian pasti marah, nanti dia berpikir kau memanfaatkannya, " jelas Rian.
Sejak kemarin, nama Alvian sama sekali tidak ada dalam pikirannya.
Nara dengan cepat, bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar mandi rumah sakit.
Baru selangkah pergi, Ia teringat bagaimana Alvian mengabaikannya. Rian dibuat bingung lagi, dengan Nara yang kembali ke tempatnya semula.
"Kenapa? sana mandi Nara!" tanya Rian.
"Aku akan bolos hari ini."
Sungguh gadis gila, Rian sedikit menyentil kening Nara. Bisa-bisanya dia ingin bolos, apa dia pikir ini sekolah?!
"Sana siap-siap Nara!"
Rian dengan penuh tekanan dalam nada bicaranya, mencoba membujuk Nara ke kantor.
Tak memperdulikan perkataan Rian, Nara mendekati tangan Firman menumpahkan kepalanya di sana.
Hanya helaan nafas panjang yang bisa Rian keluarkan, ketika melihat tingkah laku gadis itu.
"Terserah aku tidak perduli lagi dengan mu," ujar Rian putus asa.
Nara sedikit menjulurkan lidahnya, meledek Rian yang begitu kesal dengan dirinya.
"Bolos sehari saja, " ujar Nara tanpa dosa.
Rian memutar bola matanya malas, kembali fokus pada pesan Nabila yang belum di balasnya.
Di saat Nara dan Rian berdebat untuk ke kantor, saat ini Alvian bersama Victor dan David justru sudah memasuki Jovanka grup.
Tak hanya ketiganya, mereka juga dibuntuti Evan dan Alexo yang memang diminati Alvian untuk kesana.
Saat melewati devisi marketing, mereka dihadang Meri dan juga Ria.
Alvian seketika berbalik menatap Victor dan David, kemudian melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Meri lagi.
"Apa dia belum datang? kemana dia?" batin Alvian bertanya-tanya, ketika tubuhnya sudah berada dalam lift.
Melihat Evan dan Alexo memasuki lift juga, Alvian seketika berjongkok menyamai tingginya dengan Alexo.
"Lexo, uncle tanya sekali lagi, kemana Aunty Nara pergi?"
Alexo sedikit menjauh dari pamannya, berdiri tanpa ekspresi di samping Evan.
Beberapa detik berikutnya, Victor dan David juga memasuki lift. Evan yang melihat kemarahan Alvian hampir meledak, memegang pundak adik istrinya itu.
"Sudah kita peringatkan Al, jika dia sampai pergi darimu maka perlahan-lahan, semuanya akan menjauh."
Bingung? yah itulah reaksi Alvian saat ini, Ia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Evan padanya.
"Berhentilah bersikap sok cool Alvian, aku sahabatmu kita berteman dari kecil. Semua yang kau lakukan, pasti aku dan David mengetahuinya. Tapi akhir-akhir ini kau begitu keterlaluan, " ujar Victor melupakan kekesalannya.
"Benar apa yang dikatakan Victor. kau tau kan Alvaro sudah kembali ke sini, dia bisa berbuat apa saja untuk menghancurkan mu seperti lima belas tahun yang lalu, " tambah David.
Seolah dinasehati ibunya, Alvian hanya terdiam mendengar perkataan asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Nara gadis yang baik, tapi kau malah menyakitinya dengan memeluk Tiara. Apa kau lupa? Tiara memilih pergi darimu di hari pertunangan kalian."
Seperti mendapat kesadaran, Alvian mengusap wajahnya kasar. Ia akhir-akhir
ini terlalu menyakiti Nara.
"Aunty pergi bersama Uncle Valo, " ujar Alexo.
Semua yang berada dalam lift, seketika terkejut dengan apa yang dilontarkan bocah kecil itu.
Ting
__ADS_1
Suara lift yang sudah terbuka, membuat Alvian dengan penuh amarah menuju ruangannya.
Tak tinggal diam, keempat pria itu juga mengikutinya. Jika dalam posisi seperti ini, Alvian pasti akan melakukan hal yang tidak terduga.
Dor
Benar saja, suara peluru yang keluar dari pistol menggema di seluruh penjuru balkon.
"Sial!" umpat Alvian beberapa kali, menyesali kebodohannya.
Semua penghuni Jovanka grup, terkejut akan suara tembakan yang berhasil diciptakan Alvian.
"Sepertinya mereka sedang ada masalah, " gumam Bianka tersenyum smrik.
Alvaro yang saat ini tengah memantau Alvian, tersenyum puas ketika melihat kemarahan dari wajah pria itu dalam tabletnya.
"Ini baru permulaan Al, " ujarnya dibarengi tawa.
Alvaro menutup tabnya, berjalan keluar ruangan menuju parkiran apartemennya.
Dan pada saat itu juga, Alvian memasuki ruang kerjanya yang langsung di sambut oleh orang-orang kepercayaannya.
"Tetap pada rencana kita, " ujarnya, langsung diikuti anggukan dari mereka semua.
"Bagaimana dengan Aunty? "
Belum bisa menjawab pertanyaan Alexo, Alvian sedikit tersenyum lalu mendekati kursinya.
"Victor, hubungi Ilone sudah sejauh apa persiapannya?!"
Masih dengan perasaan kesal, Victor berjalan ke arah sofa melakukan perintah Alvian.
"Evan, kali ini kau juga harus masuk dalam tugas David."
Mengerti dengan ucapan Alvian, Evan dan David mengikuti langkah Victor ke arah sofa.
Alexo yang melihat ketegangan dalam mata ayah dan juga paman-pamannya, berjalan kearah pintu lalu menutup. Tak lupa juga, bocah kecil itu menuliskan di depan pintu dengan tulisan "Dilarang Mengganggu"
"Kita lembur, " ujar Alvian memerintah.
Tak sampai disitu saja, Alvian meraih ponselnya yang terlihat ada panggilan masuk dari seseorang.
"Ada apa?"
Dari balik telepon, Bram yang mendengar pertanyaan dingin dari Alvian sedikit menelan salivanya.
"Dia berada pada tempat biasa, " ujar Bram.
"Bagus, sekarang kembali ke rumah pantau semuanya."
Alvian menutup panggilan Bram, kembali fokus pada laptopnya.
.
.
.
Ada apa ini? bingung kan, sama saya juga 😭
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚
Happy new year sayang-sayang aku 🎉❤️
__ADS_1