Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 6 Rumah sakit


__ADS_3

“Ayolah Ar, aku bisa jadi dendeng di sini! “ terbaik Rian dari luar ketika Nara tak kunjung keluar kamar.


Saat tengah kesal menunggu sang Kaka, Nabila anak Dosen di kampus Nara berjalan menuju ke arahnya.


“Eh Bila, mau kemana? “ basa basi Rian.


“Anak orang mau jalan kok di ganggu, Ayok jalan! “ ucap Nara sembari memukul pundak Rian saat sudah berada di atas motor.


“Kan jadi kabur anaknya, “ oceh Rian melihat Nabila yang sudah berlari jauh dari pandangannya.


Nara tertawa renyah melihat kekesalannya adiknya itu. Tak menjelang lama, Rian melajukan motornya meninggalkan halaman rumahnya.


Tak menjelang lama kepergian Nara dan Rian, Fitri bersama beberapa orang warga mulai bergosip tentang keluarga Atmaja.


“Kan buk, Nara tuh katanya udah tunangan eh nggak jadi. Kayaknya emang di nggak bener deh, “ ujar Fitri sembari menatap sinis ke arah rumah Nara.


“Yang bener Fit? “ tanya seorang warga yang ikut bergosip.


"Ih nggak percaya nih ibu-ibu, aku nggak bohong. bener tau, " ujar Fitri dengan segala kebusukannya.


Tina yang hendak membuang sampah, mendapati nama putrinya di sebut oleh Fitri dan beberapa ibu-ibu kompleks menghampiri mereka.


“Cukup yah Fit! Kamu itu keterlaluan banget yah, mau anak saya seperti apapun itu bukan urusan kamu, “ amarah Tina pecah saat berhadapan dengan Fitri.


“Ya kan emang bener, putri mu nggak bener. Yah kan ibu-ibu, “ ujar Fitri terus memanasi Tina.


“FITR-


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Dada Tina tiba-tiba sesak dan terjatuh di aspal. Fitri dan ibu-ibu yang berada di sana, bukannya membantu malah pergi begitu saja meninggalkan Tina yang sudah terkapar.


Rian dan Nara yang baru saja pulang dari pasar, melihat ibunya pingsan dengan cepat berlari ke arah Tina.


“Mama! “ teriak Rian berlari ke arah Tina.


“Rian, cepat cari angkot! “ pintah Nara yang langsung di patuhi Rian.


Sementara itu, dari dalam rumah Fitri tengah mengintip dari balik kaca jendela mengamati Nara dan Rian yang tengah kesusahan menggotong Tina ke atas angkot.


Setelah berhasil membawa Tina kedalam angkot, Nara kembali turun. Rian yang sudah di atas angkot menarik tangan kakaknya.


“Mau kemana? “ tanya Rian.


“Kamu bawa mama cepat ke rumah sakit nanti aku menyusul, “ tanpa menunggu lagi jawaban Rian, Nara berlari masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Rian bersama Tina sudah melaju menuju rumah sakit.


Setibanya di kamarnya, Nara mencabut semua uang yang tertempel di buket itu lalu bergegas menyusul Rian. Namun baru selangkah, Ia berbalik lagi menuju kediaman Fitri.


“Ada apa? “ tanya Fitri dengan ketusnya.

__ADS_1


Plak


Satu tamparan mendarat begitu mulus tepat di pipi kiri wanita itu. Dengan menggebu-gebu Nara menariknya dan mendorongnya ke luar.


“Aku tidak pernah sekalipun membalas setiap kata yang keluar dari mulut busuk mu itu Kak, tapi hari ini dirimu begitu sangat keterlaluan. Ingat jika terjadi sesuatu dengan mamaku, tidak akan ku biarkan kau hidup! “ tegas Nara dengan berapi-api.


“AAAAA YA TUHAN ANAK INI, TOLONG! “ teriak Fitri dramatis mengundang rasa penasaran beberapa warga.


Tanpa memperdulikan drama yang di mainkan Fitri, Nara dengan sedikit mendorong wanita itu berlalu menyusul Rian.


Setibanya di rumah sakit permata, Nara bergegas ke UGD yang dimana disana Tina mamanya sedang di tangani.


“Ian, gimana mama? “ tanya Nara khawatir saat melihat sang adik duduk dengan menundukkan kepala.


“Mama lagi di tangani dokter, ayah juga sebentar lagi kesini, “ jawab Rian dengan nada suara yang begitu pelan.


Kedua Kaka beradik itu berpelukan sembari menunggu Tina. Tak menjelang lama, Firman dengan baju yang masih kotor akibat semen mendekati kedua anaknya.


“Ayah mama yah, “ Rian seketika berlari ke pelukan Firman, dirinya tak kuasa lagi menahan tangisnya.


“Sudah nak, masa Barada kebanggaan ayah nangis, “ ujar Firman menenangkan putranya.


Mau sekuat apapun Rian, dia tidak akan bisa menyembunyikan kesedihannya apalagi menyangkut sang wanita hebatnya itu.


“Heii, apa ini seorang Adrian Atmaja, “ ujar Nara mengusap air mata adiknya.


“Keluarga nyonya Tina? “ tanya dokter yang langsung didatangi oleh Firman, Rian, dan juga Nara.


“Saya suaminya dok, “ jawab Firman.


“Kondisinya tidak terlalu parah, tapi saya mohon agar selalu di kontrol amarahnya. Takutnya darah tingginya naik dan bisa berakibat fatal, “ jelas Dokter menerangkan tentang kondisi Tina.


“Baik Dokter terima kasih, “ ujar Firman.


Dokter hanya mengangguk berlalu meninggalkan keluarga Atmaja. Setelah kepergian sang Dokter, perawatan datang menghampiri mereka.


“Maaf pak, bisa ikut saya melunasi administrasi? “ ujar perawatan.


Firman sedikit ragu menjawab sebab, saat ini sepeserpun Ia tidak punya.


“Sudah yah, biar Nara yang urus. Ayok Sus, “ ujar Nara sesaat sebelum meninggalkan Firman dan Rian.


Setibanya di lobi, Nara mengeluarkan beberapa lembar uang yang masih terbungkus rapi dengan plastik. Sang perawat yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.


Saat tengah menunggu, tanpa sengaja Alvian dan juga Rani berjalan ke arahnya. Nara yang melihat kedatangan mereka, membulatkan matanya saat memandangi perut Rani tanpa berpaling sampai Rani tiba di hadapannya.


“Winara, apa yang kamu lakukan disini? “ tanya Alvian tersenyum sumringah saat melihat kehadiran Nara di hadapannya.

__ADS_1


“Dasar breng sek, “ umpat Nara lalu mengambil struk pembayaran biaya rumah sakit mamanya dan pergi.


Melihat kepergian Nara yang tidak membalas pertanyaannya, dengan cepat Alvian mengejarnya.


Sedangkan Rani dan juga David, hanya bisa saling memandangi satu sama lain lalu kembali menatap kepergian Alvian.


“Nara tunggu! “ teriak Alvian yang terus mengikuti Nara dari belakang hingga keduanya tiba di taman.


“Apa? “ ketus Nara.


Alvian terkekeh mendengar perkataan Nara. Ternyata gadis semenggemaskan Nara bisa marah juga.


“Kenapa kau lari? “ tanya Alvian sembari menarik tangan Nara menuju sebuah bangku panjang yang berada di sana.


“Apa kau gila? Istrimu sedang hamil, kau malah mengejekku, “ oceh Nara tak hentinya membuat Alvian ingin memakannya.


Tanpa persetujuan dari sang pemilik tubuh, dengan lancangnya Alvian menarik Nara masuk kedalam pelukannya.


“Jadi kau marah sebab aku mengantar wanita hamil kesini? Hmm, “ tanya Alvian dengan lembutnya sembari mengusap-usap surai panjang Nara.


“Ihh, memang kau pikir apa lagi?! Ah sudahlah aku tidak ingin duduk bersama pria beristri, “ ujar Nara ingin bangkit pergi namun, dengan cepat Alvian menariknya duduk kembali.


“Mau kemana? Duduklah biar aku jelaskan, “ ucap Alvian lembut.


“Wanita yang kau lihat bersamaku tadi namanya Maharani Jovanka, dia hidupku saat ini. Rani lah yang selalu ada di saat aku sedang membutuhkan penopang, ketika badai yang besar datang menimpaku. Rani adalah kakaku satu-satunya, “ jelas Alvian panjang lebar, membuat Nara tertunduk malu.


“Maaf, “ ujarnya pelan setelah mendengar penjelasan Alvian.


Alvian tersenyum menyambut perkataan Nara dan mengangguk mengiyakan apa yang di ucapkan gadis itu. Dan saat itu juga, ponsel nada berbunyi gadis tersebut melihat dan menampilkan nama Rian disana.


[Dimana Ar? Ayok pulang, ]


Tulis Rian dalam pesannya. Nara berbalik dan menatap wajah Alvian, yang langsung di sambut anggukan dari pria di hadapannya itu.


Nara tersenyum kecil sesaat sebelum bangkit berdiri dan melangkah pergi namun, baru selangkah tangganya di tarik Alvian, membuatnya menubruk dada bidang Alvian.


Chup


Satu kecupan hangat dari Alvian mendarat sempurna di keningnya. Nara yang menyadari pipinya sudah berubah menjadi merah, berlari meninggalkan Alvian yang tersenyum puas.


.


.


.


.

__ADS_1


Makasih buat yang sudah mampir, di mohon kalau mampir tinggalin jejak yah.


__ADS_2