
Nara yang di antar Rian, berhenti didepan rumah utama Jovanka, sebab Alvian menyuruhnya kesana.
"Kau tidak ingin mampir? "
"Tidak, aku mau mengganti mama menjaga ayah, " jawab Rian.
Nara mengangguk. setelah kepergian Rian, Ia meluncur masuk kedalam rumah Alvian.
Tak seperti biasanya, Rani hanya menatapnya dengan penuh kerisauan.
"Hai gembul, " ujar Nara mendekati Alexa mencium wajah bayi itu.
Mendapat tawa renyah dari Alexa, Nara ikut tersenyum.
Alvian yang sedari tadi memperhatikannya dari atas, menekan tombol ponselnya menghubungi David.
Selesai mengirimkan pesan kepada asisten itu, Alvian kembali ke kamarnya.
Nara yang tengah menyibukan diri dengan Alexa, di kejutan dengan kehadiran David diantara dia dan juga Rani.
"Nona, tuan menunggu anda di balkon kamarnya."
Sedikit melirik kearah Rani, Nara langsung berlalu pergi setelah anggukan kepala dari wanita itu terpancar dalam matanya.
Dengan sedikit berjalan cepat, Nara menaiki anak tangga menuju kamar Alvian.
Saat hendak mengetuk pintu, Ia menghentikan niatnya. Sebab, pintunya tidak dikunci oleh Alvian.
Nara menyelonong masuk, matanya menyapu isi kamar itu mencari keberadaan Alvian. Sedikit menarik senyuman pada bibirnya, Nara berjalan mendekati balkon.
"Hai Kak, " sapa Nara mendekati Alvian.
Tak menjawab perkataan gadisnya, Alvian bangkit berdiri menatap Nara.
"Dengan apa kesini?"
"Motor, Rian yang mengantar."
Seolah tidak percaya dengan penjelasan Nara, Alvian menatap lekat wajah Nara mencari titik kebohongan gadis itu. Ia cukup menarik nafas lega, ketika tidak menemukan kebohongan dari diri Nara.
"Duduklah, " ujarnya.
Nara sedikit tersenyum, lalu duduk di sofa bekas Alvian.
"Kenapa menyuruhku kesini?"
Tak menjawab pertanyaan Nara, Alvian menarik gadis itu masuk kedalam pelukannya.
"Maafkan aku."
Kata-kata itu, keluar begitu saja dari mulut Alvian. Nara melepaskan pelukan Alvian, berbalik menatap Alvian.
"Kenapa?"
"Sikapku padamu akhir-akhir ini, sangat keterlaluan, Maafkan aku sayang."
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Alvian, kembali mengeratkan pelukannya.
"Nara!"
Teriakan Alvian, menyadarkan Nara dari lamunannya. Sial! hanya khayalan, sikap Alvian masih saja dingin.
"Maaf, " ujarnya.
"Dimana, berkas yang aku minta?"
"Ah, Iya."
Nara mengeluarkan berkas itu dari tasnya, menyerahkan kepada Alvian.
Seolah teriris, Nara mengepal kuat tangannya berusaha untuk tidak meloloskan air matanya.
"Apa saya sudah bisa pulang?"
"Duduk!" pintah Alvian.
Sembari mengangguk, Nara berjalan ke samping Alvian.
"Capek ya Tuhan, sikapnya berubah menjadi dingin lagi." batin Nara menatap wajah Alvian.
__ADS_1
"Hmm, bagus."
Nara sedikit lega, dengan apa yang diucapkan oleh Alvian. Jika tidak, Ia akan kembali ke kantor lagi.
"Kenapa mau disuruh-suruh, Meri dan juga teman-temannya? "
Nara terdiam sebentar, sejujurnya Ia juga tidak ingin di suruh tapi jika tidak seperti itu, Ia tidak punya waktu untuk mampir menemui ayahnya di rumah sakit.
Ketika pulang dari kantor, Waktunya sudah malam Tina otomatis menyuruhnya pulang. Jadi, Ia memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin.
"Saya baru, jadi tidak mengapa sekaligus belajar, " ujar Nara.
Alasan yang sangat tidak masuk akal, biasakah otaknya berpikir mencari alasan yang lain?
"Dasar bodoh! " umpat Alvian yang masih terdengar Nara.
Jika saja Alvian tidak sedingin dulu, mungkin saat ini Ia tidak ragu menceritakan semuanya.
Mata Nara menatap kearah ponselnya, hati kecilnya teriris ketika melihat salah satu grup yang bertuliskan "The Gosip Hot"
Senyuman pahit kini terukir paksa pada bibirnya, ingatannya berputar pada saat dimana grup itu di buat.
Keduanya tiba-tiba saja, di kejutkan dengan Ridwan yang membuka pintu dengan kasarnya.
"Kau! sedang apa di sini?"
Nara yang tersontak kaget, menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Nara.
"Saya, hanya mengantar berkas tuan."
Seolah di tusuk-tusuk dengan pisau, Hati Alvian begitu terluka mendengar perkataan Nara.
"Victor! "
Gemahan suara teriakan Alvian, membuat Victor berlari cepat ke kamarnya.
"Sudah kukatakan padamu, jangan ada yang masuk ke kamar ini!" bentak Alvian lagi.
Namun saat ini, Nara begitu ketakutan hingga menutup matanya.
"Ayah yang meminta masuk, kenapa kau tidak ingin ayah mengganggu waktumu, bersama gadis kampung ini?"
Tak mau memperpanjang masalah, Alvian menarik tangan Nara keluar dari kamarnya.
Alvian menghentikan langkahnya, ketika melihat sosok gadis cantik tengah asik mengobrol dengan Rani.
"Tiara, " ujar Alvian.
Sosok wanita yang diyakini Tiara, berbalik ketika namanya disebut.
Begitu cantik, wajah yang lucu dengan rambut panjang, sangat memanjakan mata bagi siapa saja yang menatapnya.
Alvian melepaskan genggaman tangan Nara, berlari menghampiri Tiara, memasukkan gadis itu kedalam pelukannya.
"Apa yang anda lakukan tuan?! " batin Victor menjerit.
Nara memperhatikan seluruh manusia yang hadir di ruang keluarga, mereka sepertinya begitu senang akan kehadiran Tiara.
Apa lagi Rani, wanita itu begitu bahagia melihat adiknya dan Tiara berpelukan.
"Nara, " ujar Evan mendekati gadis itu.
Dengan senyuman paksa, Nara melirik kearah Evan di sampingnya.
"Ayolah Vian, aku kehabisan pasokan udara, " ujar Tiara dari balik tubuh Alvian.
"Maafkan aku, kapan kau kembali?"
Alvian menarik tangan Tiara, membawanya duduk di samping Rani yang tengah menggendong Alexa.
"Kemarin, aku melewati Jovanka grup. Sepertinya kau tidak ada di luar, " ujar Tiara sedikit terkekeh.
"Mana ada seorang presdir nongkrong di halaman depan, " tambah Rani, membuat tawa ketiganya menggelar.
Ridwan yang baru turun dari kamar putranya, sedikit menyenggol lengan Nara berjalan melewatinya menuju Alvian dan juga Tiara.
"Hai paman Ridwan, " sapa Tiara, ketika melihat Ridwan menghampiri mereka.
"Hai Nak, bagaimana kabarmu? maaf, paman tidak bisa hadir dalam pemakaman ayahmu, " sahut Ridwan.
__ADS_1
Ridwan sedikit meminta maaf, sebab tidak bisa hadir dalam acara pemakaman ayah Tiara, yang meninggal akibat kecelakaan pabrik.
"it's okey paman, " ujar Tiara.
Ridwan tersenyum senang, sebab Tiara sama sekali tidak marah.
"Kemana pria kecilmu kak?"
Tiara sedikit menatap Rani, wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Sekolah, " jawab Rani.
Saat itu juga, yang dibicarakan masuk sembari berteriak heboh.
"Aunty! "
Tiara yang hendak membuka tangannya menyambut kedatangan Alexo, menjadi kecewa ketika bocah kecil itu menghampiri Nara.
"Lexo merindukan Aunty, "ujarnya setelah berada dalam dekapan Nara.
Tiara yang bingung siapa gadis yang dipeluk Alexo, menatap wajah Alvian mencari jawaban.
"Siapa?"
Sedikit mengusap kasar wajahnya, Alvian mendekati Nara.
"Tiara, Dia Nara. Nara dia Tiara, " ujar Alvian memperkenalkan.
"Lebih tepatnya mantan kekasih Alvian, ah Apa kalian sudah putus? "
Diandra yang baru saja tiba, ikut menambahkan perkataan Alvian yang menurutnya tidak lengkap.
Nara hanya bisa tersenyum pahit, sedikit berjongkok menyamai tingginya dengan Alexo.
"Apa kau tidak ingin makan?"
Mendengar tawaran Nara, bocah kecil itu mengangguk antusias, menarik Nara kedalam dapur.
"Hai sayang, " sapa Diandra.
Tiara tersenyum manis, kembali mendekati Alvian membawa pria itu duduk di tempat mereka semula.
"Ceritakan Al, apa saja yang kau lakukan selama ini?"
Dari dalam dapur, Nara yang sudah tidak bisa menahan lagi, meneteskan air matanya.
"Lexo, kau makanlah Aunty harus pergi."
Setelah mengecup singkat kening Alexo, Nara yang sudah mendapat anggukan bocah itu, meninggalkan rumah Alvian lewat belakang.
"Nona, "
Victor yang mencoba menahan Nara, mengurungkan niatnya ketika gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kembali kedalam Victor!"
Jujur saja, Victor begitu sangat tidak tega melihat air mata Nara saat ini.
Sembari mengusap bulir-bulir bening dari matanya, Nara sudah berhasil keluar dari halaman rumah Alvian.
Saat itu, sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya.
"Masuklah. "
Tanpa menunggu lama, Nara memasuki mobil itu setelah memastikan siapa pengemudinya.
Mobil itu melaju, meninggalkan kediaman Alvian.
.
.
.
Bangsat banget yah Alvian? 🤣🤣
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚