
Alvian dan juga Nara bergandengan tangan menuju tempat di mana Firman di rawat.
Keduanya hanya mendapati Nabila dan juga Rian, sedangkan Tina sudah terlelap di samping Firman.
“Nabila, “ ujar Nara.
Nabila mengangkat kepalanya melihat siapa yang menyebut namanya, sudut bibirnya terangkat saat melihat Nara yang berada di depannya.
“Kaka Nara selamat malam, “ sapa Nabila menghampiri Nara lalu memeluk tubuh gadis itu.
“Kak Alvian. “
Rian yang tidak mau kalah, ikut berdiri dan memeluk tubuh Alvian saat pria itu memasuki ruangan.
Alvian hanya bisa terkekeh melihat tingkah lucu adik kekasihnya itu.
Tawa Nabila renyah melihat tingkah Rian, lalu matanya kembali tertuju pada Alvian.
“Kak ini Nabila tetangga Nara, “ ujar Nara memperkenalkan.
Alvian hanya tersenyum kecil, lalu mengikuti Rian ke sofa.
“Apa yang sedang kalian lakukan? Dimana mama? “
Pertanyaan beruntun dari Nara membuat Rian menatap kesal kearahnya.
“Kita sedang menunggu pengumuman hasil tes masuk universitas, “ jelas Nabila.
“Daftarnya lewat jalur apa? “
“Beasiswa. “
Alvian yang terpancing dengan perkataan Rian, mematikan ponselnya lalu mendekatkan tubuhnya ke arah meja.
“Kenapa tidak jalur yang lain? “
“Aku tidak ingin membebani Nara dan ibu, “ ujar Rian.
Alvian tidak menanggapi perkataannya, Ia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesannya kepada seseorang.
“Kapan pengumumannya? “
“Beberapa menit lagi, “
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Rian, lalu menggeser posisi Rian sehingga Ia duduk di hadapan Alvian menatap laptop.
“Rian sudah di umumkan, “ ujar Nabila.
Rian memasukkan nomor pendaftarannya, dengan perlahan menekan tombol enter.
“Yeeee Rian kamu lulus Yee hahahahaha. “
Hebo Nara membuat Tina seketika tersadar dari tidurnya. Alvian sedikit menyentil kepala Nara, lalu meletakkan kepalanya di atas bahu gadis itu.
“Apa yang Yee? “ tanya Tina menghampiri anak-anak itu.
“Kita di terima di universitas Bina darma dengan Beasiswa Bibi, “ jelas Nabila.
Rian menghampiri mamanya lalu memeluk erat tubuh wanita yang telah membesarkannya dengan Nara.
“Mau gendong, “ ujarnya manja.
“Malulah dengan Nabila. “
Kekeh seisi ruangan itu dengan pelan, melihat tingkah kekanak-kanakan Rian.
“Belajar yang bener, “ ujar Alvian menepuk pundak Rian saat pria itu sudah kembali ke posisi semula.
“Nara, Nak Alvian kapan tibanya? “
“Sejam yang lalu ma, “
“Pulanglah ke rumah, mama tadi sempat kembali dan memasak. “
__ADS_1
Nara mengangguk lalu menatap Alvian yang tersenyum ke arahnya. Keduanya beriringan keluar ruangan, setelah berpamitan kepada orang-orang itu.
Setibanya di kediaman Atmaja, Nara membuka pintu lalu keduanya masuk kedalam.
“Kaka mau mandi? “ tawar Nara.
Alvian tersenyum kecil lalu mengangguk mengiyakan perkataan Nara. Ia berjalan mengikuti Nara kedalam kamar Rian, mencari beberapa pakian yang cocok untuknya.
“Kaka pakai saja baju Rian, sepertinya muat. “
Alvian menerima sodoran pakian dari Nara, lalu memasuki kamar mandi yang sederhana namun sangat bersih.
Sementara Alvian membersihkan dirinya, Nara memanaskan beberapa masakan yang tadi sempat di masak Tina.
Tak lama kemudian, Alvian menghampirinya dengan rambut yang masih. Nara yang di kejutkan karena tetesan air dari rambut Alvian, berbalik dan mendapati Alvian tengah tersenyum ke arahnya.
“Sudah selesai? Wah syukurlah baju Rian pas dengan size Kaka. “
“Besok akan ku beritahu David, untuk mempersiapkan pernikahan kita. “
“Kenapa? “
“Saat ini kita tengah memperagakan sebagai pasangan suami istri. “
Nara tertawa lebar, lalu kembali dengan masakannya. Alvian melangkah mendekati Nara, lalu memeluknya dari belakang.
Nara sejenak mematung dengan posisi itu, Ia mencoba melepaskan pelukan Alvian.
Namun, pria itu semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di curug leher Nara.
“Kaka duduk saja di sini yah. “ ujar Nara menarik Alvian ke meja makan.
Alvian tertawa puas melihat tingkah gugup Nara. Setelah menyelesaikan masaknya, Nara menyaksikan di atas meja.
Ia mengambil sesendok nasi, lalu menambahkan dengan sepotong ayam dan juga tempe.
“Kaka mau sayur? “
Bukannya menjawab, Alvian malah berbalik bertanya dengan ekspresi wajah yang terlihat aneh.
“Itu sayur asem, “ jelas Nara.
“Apa ini enak? “
Nara tidak menjawab pertanyaan Alvian, Ia mengambil sesuap lalu memasukkan kedalam mulut pria itu.
“Bagaimana? “
“Wah, aku baru tau ada sayur seenak ini. “
Alvian mengambil alih sendok makan dari tangan Nara, lalu mengambil beberapa sendok sayur itu. Degan lahapnya, Alvian menghabisi makanan yang di buat Nara.
Nara yang juga sudah selesai makan, mengumpulkan bekas makan keduanya lalu membawa ke belakang.
“Apa sudah selesai? “ tanya Alvian saat Nara mendekatinya di ruang keluarga.
Nara hanya mengangguk lalu mengambil remote televisi, menekan tombol disana yang menampilkan film horor kesukaannya Rian.
“Aaaa! “ teriak Nara.
Alvian yang ikut terkejut, meletakkan ponselnya lalu membawa Nara kedalam pelukannya.
“Apa hantunya sudah pergi? “
“Tutup matamu, hantunya muncul lagi. “
Bohong Alvian yang sengaja agar Nara memeluknya. Dan benar saja, Nara semakin mengeratkan pelukannya.
Dengan sedikit mengintip, Nara kembali melirik ke arah telivisi. Tiba-tiba saja, lampu di rumahnya padam.
“Kaka aku takut, “ ujar Nara sembari menekan kepala kedalam dada bidang Alvian.
“Kenapa bisa padam? “
__ADS_1
“Sepertinya seluruh komplek padam deh kak, “ ujar Nara.
"Kenapa begitu?
"Disini biasa begitu, sepertinya ada perbaikan di ujung komplek. "
"Semalam ini? "
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Alvian.
"Iss mana Nara tau, " kesal Nara dengan pertanyaan Alvian.
Alvian hanya mengangguk, lalu menyalakan flash di ponselnya tanpa melepaskan Nara.
“Katakan dimana lilinnya di simpan? “
Dengan menarik tangan Alvian, Nara memimpin menuju tempat lilin tersimpan.
Setelah menyalakan lilin di beberapa sudut rumah, Alvian dan Nara kembali ke depan televisi.
Dengan menggunakan ponsel Alvian, keduanya menonton kartun kesukaan Nara upin-ipin.
“Hahahaha lucu, “ tawa renyah Nara.
“Ia seperti dirimu. “
Nara berbalik menatap wajah Alvian, lalu tersenyum malu dan kembali fokus pada tontonannya.
“Selfi yuk kak, “ tawar Nara.
Dengan senang hati, Alvian memberikan ponselnya pada Nara. Gadis itu mulai mengarahkan kameranya, mencari titik yang lumayan oke dan terang.
“Gelap, “ ujar Alvian.
Alvian bangkit dari duduknya, mengambil ponsel Nara yang tergeletak tak jauh dari keduanya. Ia menyalahkan flash dari ponsel Nara, menyimpannya di antara keduanya.
“Ide bagus. “
Keduanya terkekeh kecil lalu Nara mulai mengarahkan ponsel mengambil beberapa gambar.
“Ini bagus deh, “ ujar Nara memeriksa.
“Kurang, coba angkat lagi ponselnya. “
Nara mengangguk dan kembali mengangkat ponselnya, menangkap beberapa gambar.
Pada potretan terakhir, Alvian dengan lancangnya mencuri kecupan pada pipi Nara.
“Kenapa? “ ujar Alvian dengan nada seolah tidak terima akan tatapan gadisnya.
“Kebiasaan deh. “
Alvian terkekeh dan kembali menarik Nara berbaring pada dada bidangnya.
Nara yang hanya pasrah, ikut menyenderkan kepalanya. Tak lama kemudian, Nara menutup matanya terlelap dalam kehangatan dekapan Alvian.
Alvian mengambil ponselnya, mengarahkan kamera ke wajah imut Nara.
Cekrek.
Sebuah gambar berhasil di potretannya dengan sempurna, dimana terlihat Nara tertidur lelap. Saat itu juga, Alvian mengganti backgroundnya dengan foto Nara yang di curinya diam-diam.
Tak menjelang lama, Alvian pun ikut hanyut bersama Nara dalam dunia mimpi.
.
.
.
*Makasih yah sudah mau setia sama ceritanya aku, ikutin terus yuk.
jangan lupa saran dan kritiknya makasih ❤️🌹*
__ADS_1