
Nara yang sudah tiba di rumah sakit, langsung menuju ruangan Firman.
Saat membuka pintu, matanya tertuju pada Rian dan Nabila yang menatapnya.
"Nara kau kenapa? "
Rian bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Nara. Tak menjawab pertanyaan Rian, Nara mendekati Firman.
"Ayah! " ujar Nara sedikit berteriak memeluk erat tubuh Firman menumpahkan tangisannya.
"Ada apa Nara? " bentak Rian.
Nara mengangkat kepalanya, memeluk erat tubuh Rian.
"Aku-
"Siapa yang menyakitimu? kenapa bajumu juga basah? ini lagi, kening mu berdarah. "
Belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, pertanyaan beruntun di lontarkan Rian kepadanya.
Nara semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Rian, dan terus terisak di bawah sana.
"Aku panggil dokter yah, biar di obati luka kak Nara, " tawar Nabila.
Rian mengangguk mengiyakan perkataan Nabila. Dengan segera, Nabila melangkah keluar dan kembali dengan seorang dokter bersamanya.
"Biar saya periksa dulu yah, " ujar dokter tersebut.
Rian mengangguk, melepaskan Nara dari pelukannya membiarkan dokter memeriksa kondisi Nara.
"Lukanya lumayan besar, ini harus di jahit. "
Nara menggelengkan kepalanya menatap Rian.
"Nggak mau! "
"Lakukan dok. "
Mendengar perkataan Rian, Nara bangkit dari duduknya dan hendak berlari keluar. dengan cepat dirinya di tahan Nabila dan Rian.
"Nggak mau, nanti sakit! " teriak Nara menolak.
"Nggak sakit kan dok? " ujar Nabila.
"Ia, paling rasanya seperti di gigit semut. "
"Digigit semut juga sakit kalik, " kesal Nara.
Setelah bersusah payah, akhirnya dengan sangat terpaksa Rian mengikat Nara di kursi.
Tanpa obat bius, Nara di jahit lukanya pada kening oleh dokter. dua belas jahitan berhasil Nara dapatkan, meskipun dengan seribu satu teriakan.
"Sudah selesai, " ujar Dokter.
" Terima kasih dok. "
Dokter tersenyum sekilas, sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah kepergian sang dokter, Nara menatap sinis kedua insan di hadapannya.
"Katakan apa yang terjadi? "
Masih dengan pertanyaan yang sama, Rian melangkah mendekati Nara.
"Sebelum kesini Ak-
Nara yang belum menyelesaikan kalimatnya, menatap ke arah pintu saat Alvian melangkah masuk.
Rian yang seketika paham dengan apa yang terjadi kepada kakaknya, berjalan menghampiri Alvian menghantam keras wajah pria itu.
Victor dan David yang refleks hendak membalas serangan Rian, dengan cepat di tahan Alvian.
__ADS_1
"Untuk apa kemari?! "
Alvian mengusap sudut bibirnya yang telah mengeluarkan darah, menatap Nara yang juga ikut terkejut akan perbuatan Rian.
"Aku begitu percaya kepadamu, tapi lihat yang kau lakukan kepada kakaku, " geram Rian.
"Ini sepenuhnya bukan salahku. "
"Bukan salahmu kau bilang, lalu salah siapa?! "
"Kau bisa tanya kepada David dan Victor, aku sudah menghukum pelakunya. "
Rian berdecak, tak mempercayai perkataan Alvian.
Tanpa menunggu jawaban Rian, Alvian melangkah mendekati Nara.
"Sayang, maafkan aku, " ujarnya menatap wajah Nara.
Nara memalingkan wajahnya, kembali duduk di samping ayahnya sembari meneteskan air matanya.
"Sayang. "
Alvian yang hendak mengelus surai hitam Nara, dengan kasar di tepis wanita itu.
"Cukup! Kak Alvian, tolong keluar, " ujar Rian menetralkan suaranya.
"Saya mohon Rian, biarkan saya memperbaiki semuanya. "
Rian tak memperdulikan perkataan Alvian, Ia menarik tangan pria itu menjauh dari kakaknya.
"Aku pikir kau berbeda dari si bang sat Gino, tapi sama saja. Tolong bawa bos kalian keluar, " ujar Rian.
"Tolong Rian, " mohon Alvian.
Melihat sikap Alvian yang memohon kepada Rian, Victor dan David menahan nafas keduanya. Mereka tersadar, Nara membawa perubahan besar dalam hidup bosnya itu.
Selama ini, pria itu tidak pernah tunduk kepada siapapun itu. Tapi hari ini, Ia melepaskan segala martabatnya hanya demi seorang Winara Atmaja.
"Ini kesempatan terakhir untukmu, " ujarnya.
Alvian mengangguk lalu kembali mendekati Nara.
Suara tangisan Nara membuat Alvian mengeraskan rahangnya.
"Sayang, " ujarnya pelan.
"Pergilah Al, kita tidak pantas untuk bersama. "
Alvian tersenyum pahit, mengangkat wajah Nara menatap lekat kedalamnya.
Alvian mengusap lembut pipi Nara yang berlumuran air mata.
"Maafkan aku, karena terlambat datang, " ujarnya.
Lagi lagi Nara menepis tangan Alvian dengan kasarnya.
Alvian berbalik menatap Victor dan David, yang membuat kedua asistennya itu mengangguk mengerti.
"Rian, bawa gadismu kita ke kafe dekat sini. "
Mendengar perkataan Victor, Rian menaikkan sebelah alisnya pertanda bingung dengan maksud ucapan pria itu.
"Ini baru jam sebelas, " ujar Rian.
Nabila yang mengerti akan maksud dari perkataan Victor, menarik tangan Rian keluar dari sana.
"Aku lapar Ian, " ucap Nabila.
"Benarkah bukannya tadi kita baru makan? "
Nabila berdecak kecil, menarik tangan pria itu keluar dari sana di ikuti Victor dan David.
__ADS_1
Setelah kepergian keempat orang itu, Alvian melangkah menuju pintu lalu mengunci dari dalam.
Nara yang tak memperdulikan semuanya, kembali meletakkan kepalanya pada sebelah kiri Firman.
"Ayah nggak sayang Nara lagi yah, tidurnya lama banget, " gumamnya, namun masih terdengar oleh Alvian.
Nara yang merasakan kehadiran Alvian, mengangkat kepalanya menatap pria itu.
"Pulanglah kak, " ujarnya.
"Kenapa mengusirku? "
"Sudah ku katakan, kita tidak pantas bersama. Nyonya Diandra benar kita tidak selevel, kau dan aku selamanya tidak akan bisa bersama. "
Mendengar nama Diandra di sebut, rahang Alvian mengeras dengan tangan yang ikut terkepal.
"Dia sepertinya tidak puas dengan semua ini. " batin Alvian.
Alvian tak memperdulikan perkataan Nara, Ia menarik wanita itu kedalam pelukannya, meski di tepis berulang kali oleh Nara.
"Lepaskan aku Al, " hardik Nara.
Dengan sangat terpaksa, Alvian melepaskan pelukannya lalu kembali menggenggam tangan gadisnya.
"Kenapa tidak pakai Kaka? mengapa sekarang hanya Al? "
Pertanyaan beruntun dari Alvian, menyadarkan Nara akan ucapannya tadi.
Nara sedikit memalingkan wajahnya tersenyum kecil, lalu kembali menampilkan wajah datarnya.
Alvian yang tak menyadari hal itu, semakin bersalah melihat kening Nara yang terluka.
"Apa ini sakit? "
pertanyaan konyol itu meluncur begitu saja dari mulut Alvian, sembari Ia menyentuh bekas jahitan itu.
"Pake tanya lagi, ya jelas sakit lah! " celetuk Nara kesal.
Alvian mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Nara, membuat gadis itu bisa merasakan hembusan nafas hangatnya.
Nara menelan kasar salivanya, saat dadanya kini sudah menyentuh dada bidang Alvian.
Menyadari hal itu, Alvian bukannya menjauh Ia malah semakin mendekatkan tubuhnya yang kini sudah mendidih Nara di bawahnya.
"Jangan macam-macam Al, " ancam Nara dengan peluh yang sudah bercucuran pada wajahnya.
"Kenapa? hanya kita berdua di sini, mau macam-macam pun tidak akan ada yang tau. "
Nara semakin di buat panik, saat Alvian menghirup dalam ceruk lehernya.
"Ayok kita macam-macam, " titah Alvian dengan nada yang begitu berat.
"Kak, ada ayah di sini. "
Mendengar penuturan Nara, bukannya menjauh dari tubuh gadis itu, Alvian malah tersenyum smrik.
"Lebih bagus lagi sayang, ayah pasti akan langsung menikahkan kita. "
Nara sedikit terkekeh, memukul dada bidang Alvian.
Alvian yang melihat tawa muncul dari gadisnya, mengecup singkat bibir Nara lalu bangkit dari tubuh gadisnya.
"Setelah ini, kau akan selalu dalam pengawasan ku. " batinnya.
.
.
.
Buat yang mampir yuk tinggalin jejak dong,
__ADS_1
buat yang setia sama cerita aku, makasih 🌹