
“Ada apa yah pak?”
Mata Alvian memerah, ketika melihat seorang pria paruh baya di depannya dan bukan orang yang di kejarnya.
“Maaf, saya salah orang.”
Dengan senyuman masam, Alvian melepaskan pria itu kembali pada motor yang dicurinya secara paksa.
“Al,” ujar Nara.
Sembari merendahkan nafas yang masih terengah-engah, Nara mendekati Alvian ketika tangan Alvian mengisyaratkan agar Ia mendekat.
“Kenapa ikut mengejar?”
“Ya Tuhan, lari kalian cepat amat, huft.”
Tak hanya Nara, Tiara juga mendekati Alvian dengan nafas memburu akibat berlari tadi.
“Kamu juga, kenapa ikut?”
“Ya kamu juga kenapa lari?” tanya Nara, sedikit kesal.
“Ada pria yang mencurigakan, makanya aku kejar.”
Nara maupun Tiara, menatap ke sekelilingnya sama sekali tidak menemukan pria yang di maksud Alvian. Hanya seorang pria baruh bayah yang tadi di tahan Alvian tengah berjualan.
“Dia?”Nara menunjuk pria itu.
“Bukan, orangnya kabur sepertinya.”
“Sudah, ayok baik!” ajak Alvian.
Setelah menghidupkan motor rampokannya tadi, Alvian menatap Nara yang masih melirik sekelilingnya.
“Ayok!”
Nara tersontak kaget, ikut menaiki kuda besi itu. Sedangkan Tiara, menganga lebar melihat kelakuan kedua pasangan yang melupakannya.
“Lalu aku?”
“Itu, ada becak.”
Setelah mengatakan itu, Alvian melajukan motor meninggalkan Tiara yang menggelengkan kepalanya menatap keduanya.
“Dasar!” umpatnya dengan tangan memanggil becak mendekat.
Alvian menghentikan motor itu di tempat Ia mengambilnya, langsung di dekati oleh pemilik motor itu.
“Main comot aja motor gue!” oceh pria itu.
“Heh, mana ponsel saya?!” ujar Nara tak kalah judesnya.
Sembari cengengesan, pria itu menyodorkan kembali ponsel Nara kemudian melaju pergi dari sana.
“Kamu sih, ponsel aku jadi jaminan deh,” ucap Nara sembari melangkah mendekati Alvian.
Tak ada jawaban ataupun permintaan maaf dari Alvian, pria itu hanya tersenyum kecil mengusap kepala Nara gemas.
“Kasihan jalan kaki yah, “ ledek Tiara, ketika melewati Nara dan Alvian sembari menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Baik Nara maupun Alvian, tertawa renyah melihat tingkah Konyol Tiara. Tak menjelang lama, keduanya juga tiba di halaman rumah sakit. Karena memang, jarak rumah sakit tidak terlalu jauh dari tempat Alvian mengambil motor itu.
“Makanan ini treveling dulu?” Tiara mendekati keduanya.
Nara yang baru sadar ada makanan di tangannya, melangkah cepat mendekati ruangan Firman. Masih dengan penghuni yang sama, Nara mendekati Rian dan Nabila.
“Kalian makan dulu, “ Nara menyodorkan makanan itu ke tangan Nabila.
Melihat kehadiran Alvian juga Tiara, David bangkit dari duduknya mendekati Alvian setelah mendapat pesan dari Bram.
“Tuan, ada yang ingin Victor dan Bram sampaikan.”
“Al, kau harus melihat ini, “ ujar Tiara pelan hanya Alvian dan David yang mendengarnya seorang.
Alvian menatap keduanya, lalu melirik Nara. Ia mendekati kekasihnya, menari tangan Nara masuk kedalam ruangan Firman.
“Sayang, aku harus pergi. Kau tidak apa-apa kan?”
Nara sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alvian, Ia masuk kedalam pelukan Alvian membenamkan wajahnya pada dada bidang Alvian.
“Ini sudah malam, apa kau akan kembali?”
Alvian mengecup singkat kening Nara, mengusap lembut surai hitam Nara.
“Tentu saja.”
Setelah mendapatkan jawaban yang Ia mau, Nara melepaskan pelukannya mengizinkan Alvian kembali ke rumah.
“Apa yang kalian lakukan di dalam?” kepo Rian, tak luput Alvaro apalagi Dito.
Melihat tatapan tajam semuanya, Alvian tersenyum kecil mengusap-usap bibirnya menggoda semuanya.
Alvian melepaskan genggaman tangan Nara, berjalan mendahului David maupun Tiara keluar rumah sakit. Apa mereka akan sendirian? Tentu tidak, Alvian sudah menarik Alvaro bersamanya. Akan sangat berbahaya jika Alvaro terus berada di dekat Nara.
“Lepaskan bedebah!” Alvian melepaskan kasar tangan Alvaro, memasuki mobilnya di ikuti Tiara dan David.
“Alvian, aku butuh tumpangan!” teriak Alvaro, ketika David sudah melaju keluar.
Tak menjelang beberapa menit, Alvaro kembali berlari menuju mobil Alvian ketika David menghentikan laju mobilnya.
Melihat Tiara yang duduk di depan, Alvaro langsung membuka pintu belakang mobil menggeser paksa tubuh Alvian.
“Ngasih tumpangan kok setengah-setengah, “ ocehnya.
Dasar tidak tau diri, sudah numpang masih saja banyak protes. David kembali melaju, mengambil jalan menuju apartemen Alvaro.
“Turun!” pintah Alvian, tanpa menatap wajah Alvaro sedikit pun.
Sama seperti ucapan Alvian, dengan sedikit mengoceh kesal Alvaro keluar dari mobil itu dibarengi tawa dari Tiara.
“Hahaha, lucu loh.”
Tawa Tiara semakin menggelegar, mengiringi langkah Alvaro memasuki apartemennya. Tanpa mereka sadari, dari awal mobil Alvian memasuki apartemen Alvaro seorang wanita terus memperhatikan mereka dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.
Setelah mobil Alvian melaju pergi, wanita itu juga ikut meninggalkan tempat Alvaro.
Setibanya di kediaman Jovanka, David bersama Tiara yang didahului Alvian langsung menuju markas belakang menemui Bram dan Victor yang sedari tadi menunggu mereka.
“Tuan, ada yang harus anda lihat.” Victor menyambut kedatangan Alvian dengan ekspresi wajah penuh kerisauan.
__ADS_1
“Tunjukan!” pintah Alvian.
Tak mau membuang waktu lagi, Victor segera menunjukkan laptopnya. Mata Alvian membulat, melihat isi dari laptop Victor.
“Bukannya ini Ayah Nona Nara?!”
Bukan David saja, semua yang berada di sana juga meyakini hal yang sama dengan apa yang mata mereka tangkap.
“Al, Dito sahabat Nara itu juga sedang melakukan penyelidikan terkait pembantaian di Swedia itu.”
Penjelasan singkat dari Tiara, semakin membuat semuanya percaya keluarga Atmaja ada hubungannya dengan kematian Ibunda Alvian.
“Kenapa kau bisa yakin?” ujar Victor bertanya.
“Flashback itu, isinya bukan data-data lama perusahaan Jovanka, melainkan beberapa foto yang diambil ketika kejadian itu.”
Deg
“Yah, tadi kata Dito sahabatnya Nona muda, Ia kulaih di Swedia. Apa mereka memang ada hubungannya dengan semua ini?” ujar David menambah asumsi.
Sama sekali tidak ada komentar yang keluar dari mulut Alvian, pikiran berkalut Ia barus seperti apa sekarang?
“Apa kalian yakin, gadisku mengetahui ini?” Akhirnya, kata-kata keluar juga dari mulutnya.
“Aku sih yakin Al, waktu sebelum kami ke bar, Nara dan Dito membicarakan tentang pembantaian tersebut.”
Alvian mengusap wajahnya kasar, bangkit dari duduknya berjalan menghampiri jendela kecil di sana menatap jalanan yang sepi.
“Al, sepertinya Dito dan juga Alvaro punya hubungan. Dari tatapan keduanya di rumah sakit tadi, mereka seperti sudah saling mengenal lama.”
“Tunggu, Dito siapa?”
Sedari tadi, Victor sama sekali penasaran dengan sosok Dito yang diucapkan David maupun Tiara tadi.
“Dito, sahabat masa kecil Nara. Dia juga yang menyuruh kami, merebut flashdisk itu dari tangan Osman,” jelas Tiara panjang lebar.
“Bram, sudah kau temukan pelaku itu?” Alvian mendekati mereka.
Ia hampir melupakan pelaku yang menyuntikan racun pada selang infus Firman tadi.
“Sudah tuan, ini beberapa bukti.”
Alvian mengamati foto-foto yang diambil oleh Bram tadi, dari foto itu terlihat pria yang sama yang dikejar Alvian tadi sedang berbicara dengan seorang wanita. Namun, siapa wanita itu? baik Alvian maupun Bram, mereka sama-sama tidak mengetahuinya.
Ketika sedang sibuk meneliti foto yang diberikan Bram, Evan masuk kedalam ruangan itu dengan begitu terburu-buru sembari meletakkan tabnya di hadapan Alvian.
“Bang sat!” umpat Alvian bangkit dari duduknya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1
makasih 🌹