Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
96 Roseta Lagi


__ADS_3

“Apa ini Alvian?” tanya Nara.


Alvian sama sekali tidak menjawab pertanyaan Nara, Ia berjalan mendekati gadis itu, merangkulnya dari samping.


“Kenapa lama sekali? Aku merindukanmu sayang, “ ujar Alvian mengusap lembut gadis itu.


Diandra dan juga Ridwan, tersenyum puas melihat ekspresi wajah Nara. Di tambah lagi, Alvian malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping gadis yang diketahui adalah Roseta.


“Apa mau begitu merindukanku?” dengan nada manjanya, Roseta menatap sayu Alvian.


“Dasar ja Lang,” gumam Tiara pelan. Namun, mampu membuat David berbalik menatapnya.


Rani yang menyadari perasaan Nara saat ini, berjalan mendekati gadis itu memeluknya. Entah mengapa? Pelukan Rani yang begitu nyaman, membuat Nara langsung meneteskan air matanya.


“Roseta, ayok duduk!” titah Ridwan.


Alvian melepaskan pelukannya dari tubuh Roseta, menggenggam tangan gadis itu membawanya menuju sofa melewati Nara begitu saja.


“Apa kau menyuruhku kesini karena ini?!” bentak Nara.


Alvian mengeraskan rahangnya, sama sekali tidak memperdulikan perkataan Nara. Roseta dan juga Diandra, tersenyum smrik melihat perlakuan Alvian pada gadis itu.


“David, aku pulang.”


Nara melepaskan pelukan Rani, mengusap air matanya melangkah keluar kearah pintu. Namun, baru selangkah Ia pergi anak buah Lian menahannya.


“Kau mau kemana gadis kampung? Kau harus melihat lagi, kemesraan kami.” Roseta memeluk manja Alvian, sedikit mengecup leher pria itu.


Bukannya menjauhkan Roseta dari tubuhnya, Alvian malah semakin menekan Rise agar memperdalam ciumannya.


“Tolong minggir, aku harus pergi!” bentak Nara lagi.


Mendapat sedikit tatapan dari Alvian, Tiara dan juga secara bersamaan mendekati Nara. Keduanya membawa gadis itu menuju sofa berbeda, dengan jarak sedikit dekat dengan sofa Alvian duduk.


“Tenangkan dulu dirimu, kau mau Rian melihatmu seperti ini?” Rani membantu Nara mengusap air matanya yang mengalir.


“Karena Ros sudah di sini, ayok ayah mertua apa lagi yang harus di persiapkan?”


Alvian sedikit mendorong tubuh Roseta, mengeluarkan ponselnya mengirimkan pesan pada seseorang lalu kembali menatap keempat orang dihadapannya.


“Wah wah, Ridwan dia sepertinya tidak sabar lagi, “ goda Lian tertawa.


Ridwan dan juga Diandra, menyambut candaan Lian dengan tawa yang sama. Sedangkan Roseta, tersipu malu di sana, menanggapi perkataan ayahnya.


“Ayah bisa aja, “ gumam Roseta.


Alvian yang awalnya duduk membelakangi Nara di samping Roseta, bangkit berdiri berjalan kesamping Diandra agar bisa menatap Nara.


Dari awal mereka masuk, ketiga orang kepercayaan Alvian hanya menjadi penonton saja. Sampai pada akhirnya, Victor harus mendekati Nara lalu membisikkan sesuatu pada gadis itu.


“Jangan bisik-bisik, “ kesal Rani memukul lengan Victor.


“Baiklah Alvian, karena dirimu mau menerima pertunangan ini, maka kejadian kau mengurung Roseta akan ku lupakan, “ ujar Lian.


Alvian tersenyum lebar. Namun, pandangannya sama sekali tidak tertuju pada Roseta, melainkan kekasihnya di belakang gadis itu.

__ADS_1


“Iya Al, ayahku sudah memaafkan mu, “ timpal Roseta menambahkan.


Tiara dan juga Evan, keduanya memutar bola matanya malas secara bersamaan.


“Pelaku rasa korban, “ cibir Evan sedikit keras.


Eksepsi wajah Roseta seketika berubah, perkataan dari Evan membuatnya panas. Ia melirik ayahnya, yang juga kini sedang menatapnya.


“Mereka hanya bercanda, “ elas Diandra.


“Al, setelah menikah nanti, kita akan bulan madu kemana?”


Alvian tidak langsung menjawab pertanyaan dari Roseta, Ia masih sedikit melirik David. Setelah pria itu melangkah menjauh dari sana, Alvian menatap Roseta.


“Kita akan bulan madu ke Zimbabwe, “ ujar Alvian tersenyum.


Semua anak buah Alvian yang ikut hadir di sana, hampir meloloskan tawa mereka. Akan tetapi, mereka terpaksa harus menahan saat Victor menatap tajam.


“Kau tidak salah sayang?!” Roseta memastikan.


Nara yang sedari tadi hanya memperhatikan, sudah terbakar api panas dalam dirinya. Ia harus bisa menahannya sebentar lagi, jika Ia meluapkannya sekarang Rani yang akan terjatuh kelantai.


“Tidak, aku rasa itu tempat yang romantis.” Yakin Alvian.


Ketika obrolan mereka semakin serius, kehadiran seorang pria yang baru saja memasuki ruangan itu membuat seluruh pasang mata mengarah padanya.


“Sedang apa dia di sini?!” ketus pria itu, tak lain adalah Alvaro.


Tak terima dengan kejutekan Alvaro padanya, Roseta bangkit menghampiri pria itu.


Alvaro tersenyum smrik menatap Alvian, lalu pandangannya tertuju pada Nara yang tengah meneteskan air mata.


“Kau bang sat Al, “ ujar Alvaro dengan nada yang terdengar biasa saja. Ia melangkah mendekati Nara yang di hampit Rani dan juga Tiara.


“Ayok pergi dari sini!”


Melihat sodoran tangan Alvaro di hadapannya, Nara masih sedikit melirik Alvian yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Nara menerima uluran tangan Alvaro, bangkit dari duduknya dengan melepaskan kasar kedua tangan yang memegang dirinya.


“Maafkan aku kak, lebih baik aku pergi dari pada aku harus menahan air mataku.”


Alvaro tersenyum senang mendengar perkataan Nara, menarik tangan gadis itu keluar dari sana. Namun, belum sempat keduanya menginjak ambang pintu, Alvian menahan paksa tangan Nara.


“Mau kemana kau?!” bentak Alvian.


Tak terima di bentak seperti itu oleh Alvian, Nara melepaskan genggaman tangan Alvaro dan,


Plak


Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi Alvian, seluruh penghuni ruangan itu menganga tak percaya dengan keberanian Nara.


“Gadis kampung, beraninya kau menampar putraku!” Ridwan mendekati Nara.


“Pelatup ini akan ku lepas, jika anda berani melangkah lagi, “ ancam Bram, mengarahkan senjatanya kearah Ridwan.


“Ayok Nara, kita pergi dari sini.”

__ADS_1


Alvaro sedikit tersenyum meledek Alvian, kembali menggenggam tangan Nara membawanya keluar. Kali ini, keduanya benar-benar menghilang dari sana.


Melihat pertengkaran kecil itu, Roseta menatap ayahnya dan juga Diandra. Ketiganya menggulum senyuman, tak sadar Evan memperhatikan mereka.


Senyuman smrik terukir pada bibir Evan, pria itu mendekati Alvian kembali membawanya pada tempatnya semula.


“Sudahlah Al, jangan kejar dia. Dia memang tidak pantas untukmu, hanya aku yang layak.” Roseta masuk kedalam pelukan Alvian.


Tatapan tak suka dari Alvian mengarah pada ayahnya dan juga Diandra, Alvian mendorong keras tubuh Roseta.


“Apa yang kau lakukan Alvian!” bentak Lian tak terima perlakuan yang di dapat putrinya.


“Nak, dia calon istrimu, mengapa kasar seperti ini?” Diandra membantu Roseta berdiri.


“Maafkan aku Ros, “ ujar Alvian menyelesali tindakannya.


Rani yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan adiknya, meninggalkan tempat itu menuju kamarnya dengan penuh kekesalan.


“Aku lagi yang akan di semprot.” Tarikan nafas panjang Evan, terdengar nyaring di telinga Tiara.


“Hahaha, rasain, “ ledek Tiara.


“Apa pertunangannya bisa malam ini saja?”


Kata-kata yang keluar dari mulut Alvian, sedikit membuat semuanya terkejut. Ada apa dengan pria ini?’ seluruh isi pikiran ana buahnya sama.


Lian sedikit terkekeh begitu juga dengan Ridwan, keduanya mengangguk setuju saja dengan perkataan Alvian.


“Baiklah, lebih cepat lebih baik.”


Alvian tersenyum senang, melepaskan Roseta keatas sofa lalu melangkah menuju kamarnya di lantai atas.


“Ayok Ros, kau harus berdandan cantik.” Roseta dan juga Diandra, melangkah menuju kamar tamu.


Selepas kepergian mereka, Victor, Tiara,Evan,dan juga Bram, keempatnya langsung berhamburan menuju arah yang berbeda.


“Laksanakan tugas kalian, “ ujar Alvian pada ponselnya.


Keempatnya yang sudah pada posisi mereka masing-masing, mulai melaksanan tugas seperti apa yang baru di perintahkan Alvian.Alvian melirik fotonya bersama Nara yang menjadi background ponselnya, tersenyum pahit.


“Tetap jadi gadisku, sampai aku kembali.” Batinnya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹

__ADS_1


__ADS_2