
Hari sudah semakin siang, Alvian yang perutnya sudah keroncongan, menekan tombol pada telepon seluler di atas mejanya.
"David, minta mereka bawakan makanan untu saya. "
Setelah tangannya lepas dari benda itu, Alvian menyenderkan kepalanya pada kursinya.
Tak menjelang beberapa menit, bukan David yang datang melainkan Nara dengan membawa makan siang pada tangannya.
"Da-
Belum sempat Alvian meneriaki nama itu, Nara sudah lebih dahulu membungkam mulutnya.
"Dia sedang ada diskusi bersama pak Carl, " ujar Nara menjelaskan.
Masih dengan wajah datarnya, Alvian mengambil makanan yang di bawa Nara lalu memakannya dengan lahap.
Tak mau pergi dari ruangan Alvian, Nara memilih memainkan ponselnya sembari duduk berhadapan dengan kekasihnya tersebut.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lagi? "
Nara memang mendengar apa yang di katakan Alvian namun, Ia lebih memilih fokus pada ponselnya dari pada dengan pria itu.
Kesal di cueki, Alvian mengambil sepotong buah memasukkan kedalam mulut Nara.
"Yak! " teriak Nara tak terima.
Namun, orang yang di tatapnya saat ini, menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi.
"Bawa keluar!"
Terkejut, yah itulah reaksi gadis itu sekarang ketika Alvian menyodorkan bekas makannya.
Nara yang sudah hendak berbicara, mengurungkan niatnya saat jari telunjuk Alvian terangkat ke udara lalu bergerak kearah pintu.
Dengan sangat terpaksa, Nara berjalan keluar sembari membawa bekas makan Alvian.
Ia menghentikan langkahnya, berbalik lagi menuju ruangan Alvian. Ketika sudah membuka pintu, Ia kembali keluar di saat tatapan Alvian tidak begitu bersahabat.
"Argh! aku bisa gila dengan sikapnya, " ujarnya frustasi.
Setelah memasukkan bekas makan itu kedalam tong sampah, Nara di buat kaget dengan kehadiran Bianka yang begitu tiba-tiba di belakangnya.
"Hahaha kagetkan lo, " ujarnya tertawa puas.
"Sudah mulai kerja? "
Bianka mengangguk antusias, beriringan dengan langkah Nara menuju ruang devisi.
"Kok nggak bilang? di devisi mana kamu? "
Pertanyaan beruntun dari Nara, membuat Bianka harus menutup telinganya.
"Keuangan, " ujar Bianka bersemangat.
Nara sedikit kecewa sebab tak sama-sama dengan Bianka namun, Ia merasa senang sebab kini Ia sudah sekantor dengan salah satu sahabatnya.
Saat tengah asik mengobrol, keduanya di kejutkan dengan kehadiran Ana dan juga Ria yang entah dari mana datangnya.
"Kemana aja sih? kita nyariin tau, " ujar Ana seolah kesal.
Hanya tawa renyah yang di berikan Nara, ketika menanggapi perkataan Ana.
"Aku habis dari ruangan presdir, " jelas Nara.
Bianka tersontak kaget, berbeda dengan Ana dan Ria yang hanya mengangguk merespon ucapan Nara.
"Wow, keren Lo Ar, bisa ke ruangan presdir."
Ana dan Ria sontak berbalik menatap kekonyolan Bianka.
__ADS_1
"Setiap hari juga dia kesana, " titah Ana yang semakin membuat Bianka melototkan matanya.
"Yang benar Ar? "
Tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Bianka menatap Nara mencari jawaban pasti.
"I-iya, " ujar Nara.
Ria yang mengerti dengan sikap gugup Nara, mencoba mengalihkan perhatian mereka semua.
"Lihat Ana, tuan Victor datang."
mata semuanya tertuju pada lift yang baru saja menampilkan Victor, Pria itu dengan gagahnya mendekati mereka.
"Buatmu."
Victor menyodorkan segelas kopi pada Ana, yang langsung mendapat tatapan yang tidak biasa dari Nara.
"Akhm, akhm."
Deheman Nara membuat kedua insan itu tersipu malu, apa lagi Ana yang sudah seperti kesetanan.
Selepas kepergian Victor, tawa Nara dan juga Ria pecah melihat tingkah konyol Ana.
"Siapa dia? "
lagi lagi, pertanyaan dari Bianka menghentikan tawa mereka berdua.
"Dia salah satu tangan kanan tuan muda, " ujar Ria menjelaskan.
"Aku harus mendapatkannya, bila perlu presdir Jovanka grup sekalian." batin Bianka.
Melihat senyuman aneh dari Bianka, Ria merasa curiga pada gadis itu.
"Nara, dari tadi kau tidak memperkenankan kami."
Seolah mengalihkan fokus Bianka, Ria mengalihkan pembicaraan.
"Ah, dia sahabat ku waktu kuliah, namanya Bianka."
Bianka sedikit tersenyum, menyodorkan tangannya kehadapan Ria dan Ana.
Ria yang seolah risih dengan tingkah Bianka, menerima uluran tangan Bianka dengan cepat lalu kembali masuk kedalam ruang kerja mereka.
"Aku Ana, " ujar Ana dengan senyuman, menerima uluran tangan Bianka.
"Anak-anak, ayok masuk! "
Bunyi suara teriakan Meri, menggema di seluruh penjuru ruangan. Tanpa menunggu lagi, Ana menarik tangan Nara memasuki ruang kerja mereka.
"Bi, sampai ketemu di parkiran! " teriak Nara, sebelum akhirnya benar-benar masuk kedalam ruangan itu.
Bianka tersenyum smrik, berjalan meninggalkan tempat itu.
"Akan ku pastikan kau hancur Nara, " gumamnya pelan.
Tanpa di sadarinya, Ria sedari tadi terus mengawasinya.
"Ada yang tidak beres dengan gadis itu, " ujarnya.
Nara yang mendekati Ria, bingung dengan maksud dari perkataan Ria.
"Siapa? "
Ria yang terkejut akan ucapan Nara, berbalik menatap Nara.
"Tidak ada, mari kita lanjutkan kerja. "
Nara yang pasrah, hanya bisa mengikut ketika di tarik Ria pergi dari sana.
__ADS_1
...***...
Di sebuah rumah yang bisa di bilang cukup sederhana, seorang gadis yang baru saja di bantu dokter membuka perban dari wajahnya menatap ke arah kaca.
"Akan ku balas, perbuatan kalian, " ujarnya.
Sembari tersenyum, wanita itu berjalan semakin mendekat ke arah kaca yang sudah menampilkan tubuhnya secara penuh.
Tak menjelang lama setelahnya, seorang pria memasuki ruangan itu.
"Bagaimana kerjamu? " ujar wanita itu, menyambut kedatangannya.
"Sedikit luar biasa, sejauh ini mereka sepertinya sedang tidak bersama. "
Senyuman wanita itu terukir di bibirnya, menatap ke arah luar jendela.
"Ke rencana berikutnya, buat keributan yang luar biasa di antara keduanya."
"Tenang saja, sudah ada yang akan membantu kita menghancurkan keduanya."
Lagi lagi, senyuman keduanya mengambang membayangkan kehancuran Alvian.
Beberapa saat setelahnya, keduanya di kejutkan lagi dengan kehadiran seorang wanita paruh baya.
"Sudah membaik? "
Hanya anggukan kecil yang di terima wanita paruh baya itu. Ia sedikit mendekat, menatap intens seluruh wajah gadis di hadapannya.
"Ingat, rencana kali ini harus benar-benar menghancurkan keduanya. "
Bram yang sedari tadi memperhatikan ketiganya, tersenyum puas ketika melihat sosok Diandra yang berada didalam sana. Namun, bersama siapa Ia bicara Bram belum bisa melihat dengan jelas.
Sialnya, Bram harus memutar mobilnya meninggalkan tempat itu, walaupun belum sempat mengetahui apa yang dibicarakan sebab panggilan telepon dari Victor terus menggangunya.
"Akan ku pastikan semua yang kau rencanakan, menjadi bumerang bagimu, Nyonya. "
Dengan begitu sangat terpaksa, Bram melaju meninggalkan tempat itu menuju kediaman utama Jovanka.
"Sudah kau hubungi Bram? " tanya Alvian.
"Sudah tuan."
"Setelah David selesai dengan Carl, katakan padanya hari ini kita lembur. "
Victor yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Alvian, lalu melangkah meninggalkan Alvian.
"Bukan hanya kita, beritahu bagian Marketing juga. "
Victor yang sudah hampir memegang handle pintu, dengan segera melepaskan lalu berbalik melirik sekilas Alvian.
"Tapi tuan, target mereka dalam bulan ini hampir tercapai semua."
Sepertinya asistennya itu, mencoba menolak perintahnya. Hanya dengan satu tatapan dari Alvian, Victor langsung melangkah pergi dari sana.
"Aku hanya tidak ingin Nara menemui pria lain, selain diriku. " batin Alvian.
Setelah kepergian Victor, Alvian kembali fokus pada laptopnya. Ia terpaksa harus lembur, agar ketika Ia kembali ke Swedia pekerjaannya di sini tidak terlalu berat.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚