
Hari menjelang siang, Alvian menggendong tubuh Nara membawanya ke kamarnya.
Setelah keluar dari kamarnya, Alvian turun kebawah menghampiri Rian dan juga Rani yang tengah asik bercanda.
“Selamat pagi anak-anak mommy, “ sapa Diandra yang baru saja tiba.
Rani seketika menghentikan candaannya bersama Rian, berbalik menatap Diandra begitu u juga Alvian yang membuang nafasnya panjang.
“Siapa dia? “ tanya Diandra menunjuk Rian.
“Jangan sentuh dia, Rian ini teman baru Aku, “ ujar Rani merentangkan kedua tangannya di hadapan Rian.
Diandra berdecak kesal, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Alvian.
“Bagaimana perkembangan Evan dan cucuku? “ tanya Dianra.
Alvian tidak mempedulikan wanita yang berstatus ibunya itu, Ia lebih memilih kembali ke kamarnya. Namun, saat ingin menaiki tangga Nara dengan tergesa-gesa menghampirinya.
“Segera kumpulan seluruh anak buahmu, “ ujar Nara tergesa-gesa, mengambil laptop yang terletak di atas meja entah punya siapa iya pun tidak tahu.
“Al, cepat! “ teriaknya saat Alvian masih berdiri mematung.
Diandra yang sedari tadi memperhatikan Nara, menarik senyumannya di kala gadis itu memerintah Alvian.
“Viona apa kau terlahir kembali?! “ ujarnya.
Victor dan David yang sudah selesai dengan seluruh anak buah Alvian, menghampiri Nara sembari memakai baju anti peluru merek.
“Apa yang terjadi Nara? “ tanya Rani mendekati Nara.
“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang kak, yang terpenting sekarang Alvian bersama pasukannya harus berada di Kalimantan dalam waktu tiga puluh menit, “ ujar Nara.
“Akan ku buat menjadi sepuluh menit sayang, “ ujar Alvian sembari mengusap lembut pipi Nara.
Diandra tersenyum lebar saat apa yang dipikirkannya ternyata benar, jika Nara adalah gadis milik Alvian.
“Nara, apa kak Rani akan ikut? “ tanya Rian yang seolah tak ingin berpisah dengan Rani.
“Dih, aku tidak akan memisahkan kalian. Yang ke sana cukup mereka bertiga saja, “ ujar Nara.
Rian dan Rani tersenyum lebar, keduanya beriringan ke depan televisi lalu menonton tonton kesukaan keduanya yaitu film horor.
“Ayok berangkat! “ pintah Alvian yang di ikuti anggukan kepala oleh kedua asistennya itu.
Ketika ingin melangkah pergi, Nara dengan segera menahan tangan Alvin membuat pria tersebut menghentikan langkahnya.
“Kembalilah seperti ini, “ ujar Nara.
David dan juga Victor yang melihat hal itu, berlari menuju kehadapan Dianra.
“Apa kau tidak akan memeluk kami Bibi, “ ujar David.
Yah David, dan juga Victor Merupakan teman masa kecil Alvian yang sudah di anggap sebagai saudara oleh Alvian.
__ADS_1
“Baiklah kembali seperti ini okey, “ ujar Dianra memeluk kedua pria itu.
Setelah itu, ketiganya melangkah pergi, jantung Nara berdetak kencang saat Alvian sudah tidak ada dalam maniknya.
“Tidak ada hubungan khusus antara aku dengannya namun, mengapa begitu menyakitkan melihatnya pergi?! “ batin Nara.
Menjelang beberapa menit kepergian Alvian, Dianra bersama tehnya duduk di sebelah Nara memperhatikan apa yang di kerjakan gadis itu.
“Nara bagaimana pergerakan mereka? “ tanya Alvian dari balik earphone yang terhubung dengan earphone milik Nara.
“Cukup ketat, dalam dua puluh menit kalian harus mendarat tepat di Padang dekat sungai, “ ujar Nara mengarahkan.
Dan yah dua puluh menit kemudian, Alvian bersama pasukannya mendarat tepat pada tempat yang di katakan Nara.
“Al, kau harus membagi pasukan ke seluruh penjuru, “ ujar Nara.
Alvian dengan segera mengarahkan David menuju arah Timur, Victor ke arah barat, Bram ke arah selatan, dan dirinya ke arah Utara.
“Bram, dalam langkahmu ke lima akan ada ranjau kau harus menginjaknya, “ semuanya melongo mendengar perkataan Nara.
“Nara? “ ujar Alvian.
“Bram kau harus menginjaknya dalam waktu dua detik, oke injak! “ ujar Nara dengan nada sedikit tinggi.
Dengan segera Bram menginjak ranjau tersebut dan terjadilah ledakan besar, membuat orang suruhan Lidia yang mengurung Evan dan Alexo berlari ke arah selatan.
“Victor waktumu tiga puluh detik, kau harus bergerak cepat. Sekarang! “ ujar Nara.
“Nara, aku berada tepat di halaman rumah tempat mereka di kurung apa kau tidak salah? “ tanya Victor.
“Dengan senang hati, “
Dor
Dor
Dua sasaran berhasil di lumpuhkan oleh David. Namun, suara tembakan itu justru mengundang musuh mendekat.
“Al, dalam hitungan ke lima kau sudah harus berada dalam rumah itu, “ ujar Nara.
Diandra yang sedari tadi memperhatikan, menggerakkan kepalanya kagum dengan apa yang di lakukan gadis itu begitu sangat rapih.
Rani dan juga Rian menghentikan tonton mereka, dan berlari duduk di samping Diandra ikut memperhatikan Nara.
“Satu, Dua, Tiga, Empat, Li.....Ma, “
Dalam hitungan Kelima, Alvian sudah berada dalam rumah tempat dimana Evan dan Alexo di kurung.
“Bram kau harus Munduk kembali menuju helikopter, “ ujar Nara.
Mengikuti perkataan Nara, Bram bersama lima orang pasukannya perlahan berjalan menuju tempat dimana heli mereka berada.
“Victor dalam waktu dua menit ada sepuluh orang yang akan kearah mu, “ ujar Nara.
__ADS_1
Dan benar saja, tak menjelang lama beberapa orang pria dengan tato yang sama berjalan mendekati mereka menggunakan senjata api.
“Urus mereka Victor, Al cari pintu putih. Mereka di dalam, tapi “
“Apa Nara? “ tanya Alvian saat Nara menggantung ucapannya.
“Mereka sudah menunggu kedatangan mu, ingat Al jika kau tidak pulang seperti kau pergi tadi, aku tidak akan memaafkan mu, “ ujar Nara khawatir.
“Baiklah sayangku, “
Degh
Jantung Nara berdetak begitu kencangnya mendengar perkataan Alvian, wajahnya bersemu merah.
“Ayolah Calon Kaka ipar, kita sedang dalam bahaya, “ ujar David dengan sedikit kekehan di ujung kalimat.
Tanpa disadarinya, Ia ketahuan oleh musuhnya. David dengan cepat menghabisi beberapa pria yang ke tempatnya dengan beberapa tembakan.
Victor bersama beberapa orang Alvian, sedang berusaha mengurus beberapa orang musuhnya.
“Bos kita di serang, “ ujar seorang dari mereka dari melapor.
Dor
Karena kesal Victor menembaknya hingga tak bernyawa, “Mainnya ngadu ke mama sih. “
Liam yang merupakan tangan kanan Niko dan juga Lidia seketika panik mendapat pesan dari salah satu bawahannya.
“Sial! “ umpatnya kesal.
“Darke! Cepat bawa mereka pergi, “ ujarnya namun, orang yang bernama Darke justru sudah menjadi mayat di tangan Alvian.
“Sayangnya kau terlambat Liam, “ ujar Alvian memasuki ruang tawanan itu.
Alexo dan juga Evan yang melihat kehadiran Alvian, seketika membulatkan kedua matanya sebagai ekspresi bahagia.
“Hahahaha Alviano, kau akan keluar dari sini sebagai mayat, “ ujarnya sok cool, meskipun dalam dirinya begitu ketakutan.
Dor
Satu tembakan berhasil mengenai dada kiri Alvian namun, Alvian begitu tenang bahkan terus melangkah ke depan.
“Kau telah bermain-main dengan orang salah nyonya Lidia Jovanka! “ teriak Alvian menggema, Ia tau jika saat ini Neneknya itu tengah memantau Evan dan Alexo melalui cctv.
“Dan kau, kesalahan besar jika kau berani mengusik milikku, “ tambah Alvian dengan mengarahkan senjatanya tepat di hadapan Liam.
Buk
Tanpa disadarinya, seorang anak buah Liam dari belakang menghantamnya menggunakan balok tepat di kepala belakangnya membuatnya kehilangan kesadaran dalam beberapa menit.
.
.
__ADS_1
.
Berkomentarlah Dengan Bijak