Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
54 Tidak pulang dari semalam


__ADS_3

Hari sudah semakin siang, sejak pagi Nara sama sekali tidak menampakkan dirinya di kantor.


Ana dan juga Ria, berjalan menghampiri Victor di ruangannya.


"Tuan, kemana Nara? apa dia sakit? "


Pertanyaan beruntun dari keduanya, membuat kekhawatiran Victor semakin menjadi-jadi.


"Apa dia tidak mengabari kalian? "


Bukannya menjawab, pria itu balik bertanya yang membuat kedua gadis itu semakin bingung.


Keduanya menggelengkan kepala, pertanda tak mendapat informasi dari gadis tersebut tentang keberadaannya.


Victor bangkit dari kursinya, berjalan ke arah rooftop.


Ana yang melihat itu, buru-buru mengejar pria itu sampai ke atas atap. Sedangkan Ria, memilih kembali ke ruangannya. Yah, walaupun dalam perjalanan mulutnya tidak berhenti mengocehi tingkah laku Ana.


"Kenapa mengikuti ku? " tanya Victor saat menyadari kehadiran Ana.


"Jaga-jaga saja, kalau anda lompat saya bisa memberitahu orang-orang. "


Victor hanya tersenyum mendengar penuturan Ana.


"Nah gitu dong, senyum kan nggak kaku hari ku ini, " titah Ana.


Victor kembali tersenyum, menatap lekat wajah Ana. Gadis yang di tatapnya, seketika pipinya berubah menjadi merah bak tomat masak.


"Sepertinya akan lompat itu kamu bukan saya, " ujar Victor.


"Hmm, jadi berhentilah tersenyum tuan. "


Keduanya tertawa renyah, sembari menatap ke arah depan yang menampilkan seisi kota.


Alvian yang tengah sibuk dengan laptopnya, menghentikan kegiatannya menatap ponselnya.


"Kemana dia? " ujarnya pelan.


David yang baru saja memasuki ruangan itu, melangkah mendekati Alvian.


"Ada kabar tentang Nara? "


Pertanyaan dari Alvian membuat David meloloskan senyumannya. Sepertinya tuannya itu, mulai khawatir dengan keadaan Nara.


David menggelengkan kepalanya, berjalan ke arah sofa.


"Cari dia! "


Mendapat perintah dari Alvian, David sama sekali tidak bergerak cepat seperti biasanya.


"Kau saja yang cari, aku sedang banyak urusan. "


Alvian membelakan matanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Dengan perasaan kesal bercampur khawatir, Alvian melangkah keluar ruangannya.


Pria menghampiri mobilnya, melaju menuju rumah sakit.


Tina yang baru saja hendak melangkah masuk kedalam ruangan firman di rawat, berbalik saat namanya di panggil.


"Bibi Tina, "


Tina tersenyum saat sosok Alvian menghampirinya.


"Ada apa nak? "


"Apa Nara ada di dalam? "


Mendengar pertanyaan dari Alvian, Rian sedang fokus pada ponselnya berjalan ke ambang pintu.


"Apa maksudmu? "


Tina dan juga Alvian berbalik, ketika suara Rian terdengar.


"Apa Nara belum pulang? "


Mereka saling melontarkan pertanyaan, tanpa ada yang menjawab. Tina menatap bingung Rian dan Alvian secara bergantian.

__ADS_1


"Nara tidak kembali ke rumah, " ujar Tina.


"Dia juga tidak ke sini. "


Mendapat Jawa dari Tina dan Rian, Alvian melangkah pergi. Namun, dengan cepat tangannya di tahan Tina.


"Ada apa nak? "


Melihat kekhawatiran dalam wajah Tina, Alvian tersenyum menatap wanita itu.


"Tidak apa-apa Bi, saya permisi. "


Rian tau, saat ini Alvian tengah menyembunyikan sesuatu dengan senyumannya.


Setelah kepergian Alvian, Rian yang hendak membuntuti pria itu, di tahan Tina.


"Sudah, biarkan dia menyelesaikan masalahnya dengan kakakmu. "


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Nara? "


"Percaya padanya, " ujar Tina, sesaat sebelum melangkah masuk menemui suaminya.


Di saat Alvian sedang sibuk mencarinya, Nara justru tengah asik menikmati indahnya pemandangan pantai bersama Alvaro.


"Kau suka? "


Nara mengangguk mengiyakan perkataan Alvaro, dengan pandangan yang terus tertuju kedepan.


Alvaro menatap lekat wajah Nara dari samping, lalu kembali menatap pemandangan di hadapannya.


"Apa yang kau sukai selain pantai? "


Nara mengalihkan pandangannya, berbalik melirik Alvaro.


"Hujan. "


Alvaro tampak bingung dengan maksud ucapan Nara. Mana ada orang yang menyukai hujan?


"Hahaha maksudku hujan, " ujar Nara.


Dan yah, tak menjelang beberapa menit semesta menumpahkan tangisannya memenuhi seluruh bumi.


Alvaro yang sudah menggenggam tangan Nara, berbalik menatap Nara yang melepaskan pangutan tangannya.


"Kenapa? kau takut hujan, " titah Nara.


Gadis itu tersenyum lebar, sembari menikmati setiap bulir bening yang menyentuh tubuhnya.


Alvaro tertawa renyah, menarik tangan Nara melangkah bersama menginjak pasir yang bertaburan pada bibir pantai.


"Hahaha, " tawa renyah Nara terdengar di kala kakinya diterpa ombak yang ikut menari menikmati kebahagiaannya.


"Apa kau tidak pernah sebahagia ini? "


"Ayolah, sejak kemarin kau hanya bertanya terus. "


Nara yang tidak mendengar perkataan lain dari mulut Alvaro, menjadi sedikit kesal.


"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi, " ujar Alvaro.


Hujan yang mengguyur bumi, semakin deras meneteskan kristal air.


"Sudah, ayok ke mobil! " pintah Alvaro tegas.


Dengan sangat terpaksa, Nara menerima uluran tangan Alvaro keduanya beriringan menuju mobil.


Setibanya di mobil, Alvaro melepaskan jaketnya membungkus tubuh Nara.


"Jangan di lepas, sampai kita tiba di rumahmu. "


Nara mengangguk patuh, dengan kecepatan sedang pria itu melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Karena diterpa angin, mata Nara menjadi berat. Perlahan, Ia menutup kedua manik indahnya terlelap dalam alam mimpi.


Alvaro melirik sekilas ke arah Nara, lalu kembali fokus pada jalanan.


Pria itu menghentikan mobilnya saat di lampu merah, kemudian membangunkan Nara.

__ADS_1


"Winara, ayok bangun. "


Nara perlahan membuka matanya, ketika tangan dingin Alvaro menyentuh kulitnya.


"Setelah lampu merah ini, rumahmu ke ara mana? "


"Ke arah kanan, jalan lima menit ke depan. Aku turun di gang depan, " ujar Nara.


" Kenapa? "


"Jalan masuk ke rumahku sempit, mobilmu tidak akan bisa masuk. "


Alvaro mengangguk, kembali melajukan mobilnya menuju jalan yang di maksud Nara.


Saat sudah tiba di depan gang rumah Nara, Alvaro menghentikan mobilnya.


Nara membuka sabuk pengaman hendak membuka pintu. Namun, dengan cepat Alvaro menahannya.


"Apa kita akan bertemu lagi? "


"Tentu saja. "


Mendapat jawaban pasti dari Nara, pria itu melepaskan tangannya sembari tersenyum.


"Sampai jumpa, " ujar Nara sesaat, lalu melangkah keluar dari mobil Alvaro.


Mobil Alvaro kembali melaju, menjauh dari hadapannya. Dengan sedikit pincang, Nara berjalan menuju rumahnya.


"Aduhh kakimu kenapa? " hebo Fitri mendekatinya.


"Keserempet motor. "


Nara melangkah begitu saja, tanpa memperdulikan apa yang di katakan Fitri lagi.


" Makanya hati-hati! "


Teriakan Fitri menggema, mengikuti langkah Nara yang sudah tiba di halaman rumahnya.


Nara yang hendak meraih handle pintu, mengurungkan niatnya saat pintu sudah terbuka dari dalam.


Gadis itu menampilkan senyuman lebar di wajahnya, ketika melihat sosok kekasihnya Alvian berada di hadapannya.


"Al, " ujarnya.


Alvian menatapnya datar, menarik Nara masuk kedalam rumah.


"Dari mana saja kau?! "


Nara seketika tersenyum pahit, saat nada suara Alvian meninggi.


"A-aku, di serem-


Belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, Alvian menarik tengkuknya ******* habis bibir Nara.


"Maafkan aku, " ujar Alvian setelah melepaskan pangutannya.


Nara yang sudah tidak bersuara lagi, menatap lirih wajah Alvian.


Alvian memeluk erat tubuh gadisnya itu, dengan tangan yang sudah menjalar ke setiap inci tubuh Nara.


Nara menghentikan tangan Alvian, ketika pria itu sudah hendak sampai ke bagian sensitifnya.


Alvian yang menyadari hal tersebut, melepaskan tangannya kembali memeluk erat tubuh Nara.


"Dengar Nara, kau hanyalah miliku, " bisik Alvian dengan nada yang begitu berat.


Nara yang bisa merasakan hembusan nafas Alvian pada telinganya, mengeratkan pelukannya.


"Kemarin dia bersikap gila, hari ini dia begitu sangat posesif. Hufft dasar tuan muda. " batin Nara.


.


.


.


Makasih ya sudah mau mampir ke cerita aku makasih 🌹

__ADS_1


jangan lupa like komen biar aku tau ada yang baca ❤️


__ADS_2