
Nara yang sudah kembali ke kediaman Atmaja dari semalam, merasa khawatir karena belum juga mendapat kabar dari Alvian.
"Nara, apa hari ini kamu tidak bekerja? " tanya Tina mendapati putrinya tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
Mendengar pertanyaan ibunya, Nara meletakkan ponselnya lalu menatap wanita yang membesarkannya itu.
"Nggak ma, katanya hari Sabtu nggak kerja. "
"Kok katanya sih? " ujar Tina.
Nara terkekeh kecil, lalu mengalihkan pandangannya pada Rian yang sudah bersiap hendak pergi.
"Mau kemana? " tanya Nara.
"Ngurus bahan buat ospek nanti. "
Tanpa menunggu jawaban dari Nara dan juga Tina, Rian melangkah menuju motornya.
"Hari ini, biar Nara saja yah ma, yang jaga ayah. "
Tina sedikit berpikir, lalu menganggukan kepalanya.
Setelah mendapat persetujuan dari Tina, Nara melangkah pergi menuju kamarnya untuk bersiap.
"Hati-hati ya sayang, " ujar Tina saat Nara melangkah keluar kamar.
"Ia ma. "
Gadis itu keluar dari kamar, berjalan menghampiri Tina, mencium punggung tangan wanita itu.
"Aku pergi dulu, bye. "
Nara yang sudah berpamitan dengan Tina, berjalan perlahan sembari memainkan ponselnya menuju rumah sakit.
"Apa aku ke rumah Alvian dulu yah? Iya deh, " gumamnya.
Nara mengangkat tangannya, menahan sebuah taksi yang hendak melintas di hadapannya.
"Ke jalan xxx yah pak, " ujarnya setelah berada dalam taksi.
Sopir taksi mengangguk, melaju membelah jalanan kota menuju kediaman Alvian.
"Makasih pak. "
Setibanya di halaman rumah Alvian, Nara segera turun lalu bergegas masuk kedalam.
Ia langsung di sambut tatapan tak mengenakan dari Diandra, yang saat ini berdiri di depan ambang pintu.
"Pagi Tante, " basa basi Nara.
Namun, wanita tua itu membuang kasar wajahnya berjalan mendahului Nara.
"Mau apa kamu kesini?! " ujarnya.
"Aku mau memastikan, apa Alvian sudah pulang? " jelas Nara.
Diandra tersenyum smrik, menarik Nara ke arah kolam.
"Dia nggak butuh kekhawatiran kamu. "
Wanita itu menghempaskan kasar tangan Nara, saat keduanya sudah berada di bibir kolam.
"Heh gadis kampung! aku peringatkan sekali lagi yah, jauhi Alvian, " ujar Diandra.
Nara menatap wanita itu dari atas sampai bawah, lalu menggelengkan kepalanya.
"Gila, jadi selama ini dia hanya pura-pura baik. " batinnya.
"Maaf, atas dasar apa yah? "
Diandra menahan amarahnya, kesal dengan apa yang di lontarkan gadis di hadapannya itu.
"Apa kau tidak sadar diri?! Alvian hanya mempermainkan mu saja, dia tidak benar-benar mencintai gadis kampung seperti mu, " ujar Diandra mencoba mencuci otak Nara.
"Saya tidak peduli! " telak Nara.
Nara yang berbalik hendak melangkah pergi, rambutnya di Jambak Diandra.
Bruk
Wanita tua itu mendorong keras tubuh Nara hingga terbentur di tembok.
__ADS_1
"Aw, " ringis Nara.
Ia bangkit berdiri, memegang keningnya yang sudah mengeluarkan darah segar.
"Maksud anda apa?! " teriak Nara tak terima di perlakukan seperti itu.
Roseta yang baru memasuki ruang tamu, dengan cepat berlari ke arah kolam.
"Wah wah, ada sih kampung nih, " ujarnya.
Roseta berjalan mengambil air dari gelas, mengguyur tubuh Nara.
"Heh kampung! jangan pernah bermimpi mendapatkan Alvian, kau cocoknya jadi babu bukan nyonya. "
Roseta mencengkeram keras dagu Nara, lalu mendorong tubuh gadis itu kasar.
"Apa mau kalian?! " ujar Nara.
Roseta dan juga Dianra tersenyum smrik, melangkah mendekati Nara.
"Jauhi Alvian! " ucap Diandra menekan setiap kalimatnya.
"Jangan harap. "
Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi Nara, dengan berakhirnya Kalimat yang diucapkannya.
"Aaa! " ringis Nara.
Roseta dengan gilanya membenturkan kepala gadis itu berulang kali ke tembok.
Kondisi rumah yang saat tidak berpenghuni selain mereka, membuat Roseta dan juga Diandra semakin gila menyiksa Nara.
Diandra menghentikan kegilaannya, lalu beralih pada ponselnya yang berdering.
"Hallo mas, baik saya kesana. "
Setelah menutup panggilan yang ternyata berasal dari Ridwan, Diandra melangkah pergi.
"Urus dia Rose, " ujarnya sesaat sebelum akhirnya melangkah meninggalkan kolam.
Setelah kepergian Diandra, Roseta bukannya berhenti Ia malah menarik tubuh lemas Nara lalu menceburkan wajah gadis itu berulang kali kedalam kolam.
"Hahaha rasakan, itu akibatnya jika kau menjadi penghalang semua rencana ku. "
"Memangnya apa rencana mu, " ujar Nara.
"Menikah Alvian lalu menguasai seluruh hartanya, apa lagi?! " akunya.
Satu tamparan terakhir di terima Nara, sebelum akhirnya Roseta kembali menyeretnya mendekati tembok.
Dor
Belum sempat Roseta melakukan apa yang Ia mau kepada Nara, Suara tembakan yang menggema di seluruh penjuru kolam.
Hal itu membuat Roseta menghentikan kegiatannya, berbalik mendapati Bram dan juga Rani tengah berjalan kearahnya.
"Dasar ja lang, apa yang kau lakukan! "
plak
Rani mendaratkan jari-jarinya ke atas wajah Roseta berulang kali.
"Aunty Nala, ayok Lexo bantu. "
Nara menerima uluran tangan Bram dan juga Alexo, lalu bangkit berdiri dengan perlahan menuju kursi.
"Uncle bawa kotak obat kesini. "
Bram mengangguk mengiyakan perkataan Alexo, lalu berjalan menuju tempat dimana kotak obat di simpan.
"Kenapa kau menamparku Rani! " teriak Roseta tak terima.
Amarah Rani benar-benar memuncak, Ia melayangkan pukulannya tepat mengenai perut wanita itu.
"Siapa yang mengizinkan mu menyakiti saudara ipar ku! " bentak Rani.
Wanita itu berjalan mendekati Roseta, lalu mencengkeram kuat dagu Roseta seperti apa yang dilakukannya kepada Nara.
"Huh! kau buta, wanita kampung sepertinya tidak pantas menjadi istri Alvian. "
Rani sedikit tertawa mendengar perkataan Roseta yang tidak tau malunya.
__ADS_1
"Kau jauh lebih tidak pantas lagi, " ujar Rani geram.
Bram yang baru kembali, dengan segera memberikan kotak obat kepada Alexo.
Alexo dengan telatennya mulai mengobati Nara.
Rani melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu Roseta, menatap Bram.
"Bram borgol dia! "
Mendengar perintah Rani, dengan segera Bram memborgol kedua tangan Roseta.
"Lepaskan babu! aku calon Nyonya mu, akan ku pecat kau! " teriak Roseta.
Bram merobek lakban yang berada di sana, membungkam mulut Roseta.
Rani melangkah mendekati Nara, yang saat ini tengah di obati Alexo.
Bulir bening yang sedari tadi di tahan wanita itu, kali ini berhasil lolos begitu saja tanpa persetujuannya. Rani dengan cepat, menyeka air mata kekasih adiknya itu.
"Maafkan aku karena tidak datang tepat waktu, " ujar Rani memeluk erat tubuh Nara.
Bulir bening itu semakin deras berjatuhan, ketika kata-kata Rani menembus telinga Nara.
"Ini bukan salah mu kak, " ujarnya.
"Aku memang tidak layak bersama Alvian, " tambah Nara lagi.
Alexo menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju dengan perkataan Nara.
"No, Aunty adalah satu-satunya wanita yang layak bersama Uncle. "
Nara sedikit tertawa mendengar perkataan Alexo, lalu bangkit dari duduknya.
"Mau kemana? " tanya Rani menahan tangan Nara.
"Ini bukanlah tempatku. "
Jantung Rani berdegup tak beraturan, mendengar penuturan gadis itu.
"Aku seharusnya tidak terlalu jauh, aku harus pulang ayahku menungguku. "
Dengan tertatih-tatih, Nara melangkah menuju pintu.
"Nona tunggu! " teriak Bram berlari mengejar Nara.
Rani dan juga Alexo mengikuti langkah Bram yang mengejar Nara.
"Nona maafkan aku, aku tidak bisa mencegah kejadian tadi. tolong jangan pergi, " ujar Bram.
Nara menggelengkan kepalanya sembari tersenyum menatap pria itu.
"Katakan pada Alvian, jangan mencari ku lagi! "
Bruk
Alvian yang baru saja memasuki ruang tamu, matanya membulat mendengar perkataan Nara. Beberapa senjata api di tangannya, terjatuh begitu saja.
"Apa yang terjadi sayang, " ujarnya lembut.
Alvian yang hendak mendekati Nara, dengan cepat di tepis gadis itu.
"Tolong jauhi aku, hubungan kita sampai di sini saja. "
"Apa yang kau katakan sayang? Bram apa yang terjadi?! "
Evan, Victor dan juga David yang baru saja tiba, terbelak kaget melihat tubuh Nara yang penuh luka.
Nara tak menjawab pertanyaan Alvian, Ia wanita itu melangkah pergi menerobos Ketiga pria yang berada di pintu.
"Nara! " teriak Alvian menggema, lalu berlari mengejar kekasihnya.
.
.
.
Agak gila yah part ini hahaha,
yuk komen sama likenya dong biar makin semangat aku nulisnya.
__ADS_1
👉🌹 buat yang selalu setia menemani Nara dan juga Alvian.