
Dalam pelukan pria itu, Nara menumpahkan seluruh tangisannya. Tak hanya Nara saja, Rian juga sama seperti Nara keduanya seolah mengadu pada pria itu.
“Kemana saja kau selama ini, hidup kami hancur tanpamu, “ ujar Rian melepaskan pelukannya.
“Ada banyak urusan yang harus aku lakukan.”
Nara sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya, Alvaro yakin saat ini hari Alvian begitu hancur melihat itu.
Sedikit mendekati Alvian, Alvaro mengusap punggung Alvian menguatkan musuh yang saat ini sedang menjadi teman. Keterkejutan mereka tak hanya sampai di situ saja, mereka juga terkejut saat melihat sosok Tiara juga berada di sana.
“Dit, ayah Dit, “ keluh Nara.
Yah, pria itu adalah Dito. Ketika mengetahui kabar itu dari pelacak pada balik telinga Nara, Dito bersama Tiara meluncur ke rumah sakit.
“Tenanglah, paman pasti sembuh, ” Dito
melepaskan pelukan Nara, memakai pakaian Snelli kerap atau jas dokter memasuki ruangan Firman.
Terkecuali Nara, seluruh penghuni depan ruang rawat itu menatapnya tanpa suara. Apa lagi Tiara, Ia mengangga tak percaya dengan apa yang matanya lihat.
“Dia dokter?aku pikir pengacara,
Pengangguran banyak acara,” gumam Tiara pelan.
Dito melangkah masuk kedalam, langsung di sambut Putri dan juga beberapa orang perawat di sana.
“Bagaimana kondisinya?”
“Tekanan darahnya rendah, detak jantungnya juga tidak stabil, yang disuntikkan kedalam tubuhnya itu racun,” jelas Putri menyingkir dari tempatnya, membiarkan Dito yang duduk di sana.
“Dok, racunnya menyebar dalam dua puluh menit, “ timpal Putri lagi.
Sembari mendengar penjelasan Putri, tangan Dito dengan telaten memeriksa tubuh Firman. Ia mengambil sebuah alat, menekan pada tubuh Firman berulang kali. Ketika menemukan titik racun menyebar, Dito dengan segera menyuntikkan sebuah obat kedalamnya.
“Dok, “ ragu Putri.
“Lima menit lagi, racunnya keluar.”
Semuanya terus memperhatikan, dan benar saja dalam lima menit berikutnya mulut Firman terlihat mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya.
“Woow, jika anda tidak cepat kesini nyawanya tidak akan tertolong.” Putri menatap kagum wajah Dito.
Detak jantung Firman mulai stabil dan bisa terlihat pada monitor, Dito memeriksa tekanan darahnya tapi masih rendah.
“Dalam tiga puluh menit mendatang, periksa kondisinya lagi.” Dito melangkah keluar ruangan.
Ketika kakinya baru menginjak luar pintu, Nara maupun Rian sudah menghampirinya dengan sejuta pertanyaan yang terlihat jelas pada wajah keduanya.
“Sudah membaik, “ ujar Dito.
Sejak tadi, Alvian sama sekali tidak mengeluarkan suara Ia hanya memperhatikan ketiganya dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.
“Tuan Jovanka, “ sapa Dito mendekati Alvian.
Semua menatap bingung, bagaimana Dito tau Alvian sedangkan mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
“Saya Dito, sahabat masa kecil Nara.” Dito menyodorkan tangannya.
Alvian tak langsung menyambut tangan Dito, Ia menatap lekat wajah pria itu hingga manik Nara tertuju padanya. Tanpa sepatah kata pun, Alvian menerima uluran tangan Dito.
__ADS_1
“Tenanglah, saya tidak akan merebut Nara dari anda, “ ujar Dito, yang masih mendapat tatapan yang sama dari Alvian.
Seolah tidak memperdulikan semua itu, Nara melangkah meninggalkan tempat tersebut.
“Kak, mau kemana?” Nabila mengikuti Nara namun menghentikan langkahnya saat tangan Nara menyuruhnya tetap tinggal.
Melihat kepergian Nara, tentu saja Alvian tidak tinggal diam Ia bangkit dari duduknya berjalan menyusul gadisnya. Ketika Alvaro ingin mengikuti mereka, tangannya di cekal Dito yang tersenyum padanya.
“Mau kemana? Biarkan mereka pergi, “ ujar Dito.
Alvaro yang kesal akan sikap Dito, menghempaskan tangan Dito kasar lalu duduk di samping David.
“Kemana kau selama ini? Dan, sejak kapan kau jadi dokter?”
Pertanyaan beruntun dari Rian, ikut mengalihkan perhatian semuanya menatap wajah Dito.
“Swedia, aku kuliah di sana. “ mata Dito sama sekali tidak lepas dari Alvaro.
Tiara sedikit menaruh rasa curiga pada keduanya, mereka sepertinya punya hubungan yang sama sekali tidak di ketahui.
“Kau tidak berbohong, “ tanya Tiara memastikan.
Mendengar penuturan dari Tiara, David yang tadinya tidak memperdulikan semua itu seketika ikut penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
“Tentu saja tidak, “ serkah Dito.
Namun, dari ekspresi yang ditampilkan oleh Alvaro, Tiara semakin menaruh kecurigaan pada keduanya. Gadis itu melangkah begitu saja, menyusul Nara maupun Alvian.
Saat ini, Nara sudah tiba di depan parkiran rumah sakit. Ia berjalan menghampiri seorang wanita yang terlihat tersenyum masam padanya.
“Kenapa baru keluar!” bentak wanita itu, tak lain adalah Fitri.
“Cik, alasan. Ini, terima berat bodoh!” judes Fitri.
Nara sama sekali tidak mempermasalahkan setiap kata yang keluar dari wanita itu, karena begitulah gaya bicara Fitri.
“Ibumu ingin kesini, tapi aku tolak karena melihatnya sudah sangat capek.”
“Tumben, “ ledek Nara.
“Heh, bukannya bersyukur sudah di bantu malah ngeledek.”
Masih dengan ocehannya, Fitri menyerahkan sekantong makanan lagi meski sedikit judes tapi hatinya sangat baik.
“Kau yang memasaknya?”
“Hmm, bagaimana kondisi pamanku?”
“Ba-baik, “ bohong Nara.
Fitri yang tau kalau Nara berbohong, menyentil kening gadis itu sekilas lalu menatapnya sinis.
“Kau pikir aku tidak tau, “
“Tolong jangan katakan pada mama, “ mohon Nara.
“Menyusahkan saja.”
Fitri menarik Nara masuk kedalam pelukannya, mengusap punggung gadis itu lembut memenangkannya.
__ADS_1
“Semuanya pasti baik-baik saja.”
Nara Hanya mengangguk mengiyakan perkataan Fitri. Matanya menatap Fitri, yang sudah memutar motornya hendak meninggalkan tempat itu.
“Jangan lupa di makan!” teriak Fitri, setelah motornya sudah benar-benar keluar dari sana.
Ketika Nara berbalik hendak kembali kedalam, Ia sedikit terkejut dengan sosok Alvian yang sedari tadi memperhatikannya bersama Fitri.
“Al, “ Nara mendekati Alvian.
Pandangan Alvian sama sekali tidak tertuju padanya, Alvian menatap keluar parkiran yang di sana terlihat seorang pria menatap masuk kedalam rumah sakit.
Namun, ponsel Alvian yang berbunyi seketika membuatnya beralih pada bendah pipi itu. Setelah menggeser tombol hijau, Alvian menempelkan benda itu pada kupingnya.
“Bram, bagaimana?”
Yah yang menelpon adalah Bram, sepertinya ada informasi yang menarik sehingga dirinya harus menelpon Alvian.
“Anda harus melihat in-
Belum selesai Alvian mendengarkan ucapan Bram, Ia sudah berlari mengejar pria misterius itu ketika melihat ada yang tidak beres.
“Alvian!” teriak Nara.
Tak mau tinggal diam saja, Nara juga ikut mengejar kepergian Alvian dengan beberapa rantang makanan masih di tangannya.
Tiara yang juga baru tiba di depan rumah sakit, langsung meluncur mengikuti jejak Nara maupun Alvian yang sudah hampir menjauh darinya.
“Nara, tunggu!” teriak Tiara mengiri langkahnya.
Aksi kejar-kejaran itu terus berlanjut, Alvian mengeluarkan senjata apinya mengarahkan kearah pria misterius itu. Namun, Ia harus mengurungkan niatnya ketika melihat beberapa orang anggota polisi sedang mengatur lalu lintas di sekitar sana.
“Sial!” umpat Alvian.
Di saat melihat sebuah motor yang terparkir bersama kunci, Alvian langsung mengendarai kuda besi itu tanpa memperdulikan siapa pemiliknya.
“Woi motor gue!” teriak seorang pemuda yang diduga pemilik motor.
“Sory kak, ini sebagai jaminan.”
Nara Menyodorkan ponselnya, lalu kembali mengejar Alvian yang sudah sedikit jauh darinya.
“Gila nih orang, “ ujar pemuda itu.
Ketika sudah mencapai pria itu, Alvian langsung menjatuhkan motor tepat di hadapan pria tersebut. Maniknya membulat ketika melihat sosok yang berada di hadapannya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹
__ADS_1