Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
83 Pria misterius


__ADS_3

Sudah tidak sanggup lagi mengejar Nara, Alvian akhirnya menyerah. Ia pasrah dengan kelakuan gadisnya yang kekanak-kanakan itu.


“Kemarilah!” titah Alvian, meminta Nara mendekatinya.


Nara menggelengkan kepalanya tak mau mengikuti perkataan Alvian.


“Kenapa?” seolah tidak ada dosa, bisa-bisanya Ia masih bertanya lagi.


“Kita ini musuh yah, nanti aku di bunuh lagi.”


Helaan nafas kasar terdengar oleh Nara, ketika Alvian menghembuskannya. Nara memilih sepuluh langkah jauh dari Alvian, duduk berhadapan dengan pria itu.


“Apa yang akan kau lakukan dengan flashdisk itu?” yah, pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari mulut Alvian.


“Bukan urusanmu!” judes Nara.


Awalnya, amarah pria itu sudah redah eh malah di bangkitan lagi dengan ucapan Nara. Namun, kali ini, Alvian mencoba mengontrol agar tidak kelepasan.


“Apa kau masih berhubungan dengan mantan kekasihmu itu?!” sedikit berteriak, Alvian melontarkan pertanyaan yang susah Ia ketahui jawabannya.


Bruk


Tas Nara melayang, terjatuh tepat di wajahnya. Ada sedikit kekehan yang bisa di dengar Nara, pria itu hanya mengejeknya saja.


“Apa kau-


“Dasar pria tua, bisa diam tidak?!”


Nara tau apa yang akan dilontarkan Alvian selanjutnya, jadi Ia memilih memotong pembicaraan Alvian dengan cepat. Benar saja, tawa Alvian kembali renyah terdengar oleh telinganya.


“Aku tidak tua Nara, “ serkah Alvian tak terima dikatai tua oleh kekasihnya itu.


“Kau sepertinya butuh kaca, mau ku belikan? Akh tidak, pakai saja punyaku.” Nara melemparkan kaca kehadapan Alvian.


“Cukup tampan.”


“Hoek, “ ledek Nara.


Sedari tadi, keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa mereka tengah di perhatikan oleh ketiga pria. mereka adalah, Bram, David, dan juga Alvaro.


"Capek-capek aku membantu, dia malah pacaran, " sesal Alvaro sudah membantu Alvian tadi.


Bukan hanya Alvaro saja, Bram maupun David bereaksi sama dengan Alvaro.


"Lebih tadi tidur, pasti sekarang aku sedang mimpi indah, " tambah Bram.


...***


...


Rumah sakit,


Tina yang sedari tadi di bujuk Rian untuk pulang, akhirnya mau mengikuti perkataan putranya tersebut.


“Kalau Nara pulang, suruh dia ke rumah.”


“Iya, Iya sudah sana.”


Sembari menentang beberapa barang dalam tasnya, Tina bergegas meninggalkan rumah sakit menuju halte bus. Matanya tanpa sengaja, melirik seorang pria berpakaian serba hitam masuk kedalam rumah sakit.


“Mungkin mau berobat, “ monolog Tina mencoba positif thinking.


Terlepas dari Tina, Rian sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa setelah selesai mengambil obat yang akan di berikan pada Firman.

__ADS_1


“Minggu depan ospek, habis itu kuliah, huftt bakal mati berdiri aku.” Matanya sama sekali tidak lepas dari ponselnya, membalas pesan Nabila.


[Aku di dekat rumah sakit, boleh aku mampir?]


"Aku, di dekat rumah sakit, boleh aku mampir?"


Rian tampak membaca berulang kali pesan itu, ada apa dengannya apa dia begitu o’on. Membacs pesan itu saja, harus berulang kali.


“Yah tentu saja.” Bukan tes yang di kirimkan Rian, melainkan voice note.


Setelah mengirimkan pesan itu, Rian bangkit dari rebahannya yang hanya berlangsung beberapa saat keluar menuju parkiran menunggu Nabila.


Tanpa di sadarinya, seorang pria dengan memakai penutup wajah memasuki ruang rawat Firman ketika Rian sudah tidak di sana lagi. Pria misterius itu, menyuntikkan sesuatu dalam infus Firman.


“Heh! Siapa kau?!” teriak Nabila, yang sepertinya mengambil jalan berbeda dengan Rian.


“Tolong! Dokter!”


Gemahan suara Nabila, membuat para dokter berlari cepat menuju ke ruangan Firman. Pria misterius itu, melarikan diri melewati jendela saat Dokter sudah memasuki ruangan.


Merasa ada yang tidak beres, Rian berbalik lagi menuju ruangan Firman.


“Rian, tangkap dia!”


Rian yang masih bingung, hendak mendekati pria itu tersungkur ketika di dorong keras. Security berdatangan, membantu menangkapnya. Namun, pria itu sudah berlari jauh dari sana.


“Ada apa Bila?” Rian mendekati Nabila.


“Dia menyuntikkan sesuatu pada infus paman,”


Tanpa menunggu lama, Rian langsung berlari menuju ruangan Firman. Di sana, sudah terlihat dokter bersama beberapa orang perawat sedang menangani Firman. Tubuh Firman mulai kejang-kejang, dengan banyak peluh yang bercucuran.


“Sial!”


Buk


“Rian, jangan sakiti dirimu. Percaya pada dokter, “ ujar Nabila menenangkan.


Sembari mengusap kasar wajahnya, Rian mengeluarkan ponselnya menekan nomor kakaknya Nara.


“Angkat Nara!” frustasi Rian.


Nara yang tengah asik memarahi Alvian, terkejut saat ponselnya berdering dengan begitu nyaring. Ketika melihat nama Rian dalam layar, jantungnya berdegup kencang seakan Rian akan membawakan berita buruk.


“Ha-


[Ara, ayok pulang. Kondisi ayah,]


Belum sempat Rian melanjutkan perkataannya, Nara berlari menuju Jalanan membuat keempat pria itu menatapnya bingung.


“Nara!”


Alvian maupun Alvaro, ikut berlari mengejarnya. Tak lupa, David juga membawa tas dan juga ponsel Nara memasuki mobilnya.


“Nara, tunggu!”


Sembari bercucuran air mata, Nara terus berlari tanpa memperdulikan suara Alvian maupun Alvaro yang meneriakinya.


“Ayah, “ gumamnya.


Ketika mobil Bram mencapai Nara, pria itu dengan cepat membuka pintu mobilnya. Ia menarik Nara masuk, kembali melajukan mobilnya.


“Ma-

__ADS_1


“Rumah sakit.”


Bram tidak jadi melanjutkan perkataannya, hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Nara sembari menancapkan gasnya.


Dalam perjalanan, hanya suara tangisan Nara yang menghiasi mobil Bram.


Tak lama setelah kepergian Nara dan juga Bram, David juga berhenti tepat di depan kedua pria itu. Mereka melaju, menyusul kedua insan tadi.


Ketika Bram menepikan mobilnya di parkiran rumah sakit, Nara meluncur begitu saja tanpa menunggunya menghampiri Rian dan Nabila.


“Ara, ayah Ara, “ terlihat dari wajah Rian, Firman sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


Saat itu juga, Dokter Putri yang selama ini menangani Firman, keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.


“Dok ayah saya.”


“Detak jantungnya tidak terdengar, “


Tak mau menunggu jawaban dari Nara maupun Rian, Putri berlalu pergi dengan sedikit berlari menuju ruangannya.


“Nara, ada apa ini?”


Baik Alvian, Alvaro, maupun David, memiliki pertanyaan yang sama di kepala mereka. Air mata Nara sudah tidak bisa di kondisikan lagi, tak hnya Nara saja Rian sudah sangat tidak berdaya lagi.


“Ada yang menyuntikkan sesuatu kedalam selang infus paman, dia kabur begitu saja.”


“Kau tau ciri-cirinya?” tanya David.


“Setinggi tuan Alvian, berbadan tegap, memakai penutup wajah, ohiya ada sebuah tato pada lengannya.” Nabila menjelaskan secara detail.


“Tato apa?” Alvian memastikan lagi.


“Stengah kupu-kupu.”


Bram langsung meluncur pergi dari sana, setelah Nabila selesai menjelaskan pelakunya.


“Nara, bantu kami dengan doa.”


Putri yang hendak masuk kembali kedalam ruangan Firman, sedikit menatap Nara dan juga Rian bergantian. Setelah dipastikan Putri sudah benar-benar berada dalam ruangan Firman, Nara mendekati tempat doa.


“Tolong jangan ambil ayahku.” Batin Nara bercucuran air mata.


Ada sedikit rasa sakit dalam hati Alvian, ketika melihat sosok gadis yang dicintainya menumpahkan air matanya. Alvain mendekati Nara, menarik gadisnya masuk dalam pelukannya.


“Apapun akan aku korbankan, asal kau tidak mengambilnya jauh dariku.” Alvian menuntut Nara, membawanya menuju bangku di sana.


“Nara!”


Suara yang begitu familiar bagi Nara maupun Rian, mampu mengalihkan pandangan mereka semua kearah seseorang yang berada di ujung sana.


Nara melepaskan pelukan Alvian, berlari menghampiri pria yang ada di ujung sana.


.


.


.


Siapa yah pria itu? 🤔🤣


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2