Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
79 Flashdisk


__ADS_3

Alvian yang sudah menarik Nara, berhasil menghindar dari peluru yang diluncurkan Osman tadi. Terkejut, tentu saja soalnya Nara sama sekali tidak menghubungi pria pemarah itu.


Bram yang melihat kehadiran Alvian, menarik nafasnya lega. Berbeda dengan Bram, Tiara saat ini menjadi gugup ketika melihat sosok Alvian di sana.


Alvian mengambil penutup wajahnya, menutupi seluruh wajahnya menarik pinggang Nara berada di sampingnya.


“Sedang apa di sini?” tanya Nara.


Sama sekali tidak ada jawaban dari Alvian, Ia fokus pada Osman yang sudah mengarahkan anak buahnya mendekati mereka.


“Serang mereka!” teriak Osman memerintah.


Alvian dengan gerakan cepat, meluncurkan beberapa tendangan berserta pukulannya melawan musuh-musuh itu.


Di saat Alvian sedang sibuk dengan Osman, Bram yang sudah di hampiri Adam perlahan mendekati orang suruhan Lidia yang sibuk memperhatikan pertengkaran itu.


“Siapa mereka Ordi?” tanya orang suruhan Lidia, kepada rekannya.


“Sudahlah Fahri, dimana barang-barang itu?” ujar Ordi.


Fahri yang merupakan kaki tangan Lidia, mengeluarkan benda-benda terlarang itu dan mulai menyerahkan pada Ordi rekan yang akan membeli benda itu.


“Angkat tangan!”


Adam dan Bram, sudah mengarahkan senjatanya tepat di kening para pengedar tersebut. Bukannya takut, para pengedar maupun pengepul itu tersenyum smrik bangkit dari duduk mereka.


“Sudah ku duga, kalian pasti di sini, “ ujar Fahri menatap Bram dan Adam sembari tersenyum.


Tidak mau membuang waktunya, Fahri melayangkan serangannya. Tak hanya Farhi, Ordi pun ikut menyerang Adam dan Bram.


Beberapa pengunjung di sana yang awalnya menonton pertarungan di bawah, berhamburan keluar ketika melihat pertempuran di lantai atas.


Tiara yang juga melihat ke lantai dua, menjadi paham dari mana datangnya Alvian ketika matanya menangkap sosok Bram di sana.


“Kemana Flashdisk itu?!” terika Osman panik.


Mendengar terikan itu, Tiara dengan cepat menyembunyikan benda itu di balik kaos kakinya lalu menyeruput minuman tanpa dosa.


“Siapa kalian?! Apa kalian mengincar flashdisk itu?!”


Alvian seketika menghentikan serangannya, berbalik menatap Nara lekat. Entah apa yang di pikiran Alvian, Nara sendiri juga bingung saat manik keduanya beradu.


Bruk


Tanpa keduanya sadari, seorang anak buah Osman menyerang dari belakang. Meski tetap menghindar, Alvian masih saja merasakan pukulan itu.


“Kurang ajar!” umpat Alvian.


Ia berbalik menghadap pria yang memukulnya tadi, menendang brutal pria itu hingga tak bernyawa lagi.


Nara membulatkan matanya, Alvian seolah lepas kendali. Pria itu semakin gila, dengan anak buah Osman. Melihat Nara yang sedikit lengah, Osman dengan cepat meringkus gadis itu membuatnya tidak bisa bergerak.


“Lepaskan!” ringis Nara mencoba melepaskan tangan Osman dari lehernya.


Tiara dengan cepat, melayangkan tendangannya mengenai punggung Osman. Pria tua itu tersungkur ke lantai, dengan kepala yang sudah terpentok ujung meja.


“Dasar ja Lang!” teriak Osman menggema.


Di lantai atas, Bram maupun Adam sama sulitnya seperti Alvian dalam menangani Fahri maupun Ordi.

__ADS_1


“Menyerahlah Bram, kau mau menjadi kaki tangan Alvian selamanya?” ejek Fahri menatap Bram dengan senyuman terukir di bibirnya.


“Kau sendiri apa Fahri? Aku masih begitu terhormat bersama Alvian, sedangkan kau dijadikan pemuas naf su para wanita tua itu.”


“Bang sat!”


Tak terima dengan perkataan Bram, Fahri melayangkan pukulannya tepat pada sudut bibi Bram. Tak mau tinggal diam, Bram juga melakukan hal sama membalas pelukan Fahri.


Dor


Suara tembakan dari lantai bawah, membuat Alvian menghentikan pukulannya menatap Nara dan Tiara. Saking sibuknya dengan musuh di dekatnya, Alvian sampai melupakan kedua gadis itu.


“Nara, pelurunya habis, “ ujar Tiara menatap Nara.


Saat ini, keduanya bersembunyi di balik meja yang sudah terbalik di lantai. Nara mengambil alih senjata itu dari tangan Tiara, lalu menekan earphone pada telinganya.


“Dito, Bagaimana ini?” ujarnya.


[Di dalam tasmu.]


Tak hanya Nara, Tiara juga mengalihkan pandangannya ke dalam tas Nara. Keduanya saling beradu pandang, lalu mengangguk seolah pikiran mereka saling terhubung.


“Di sini kalian, Kembalikan flashdisk itu!” teriak Osman menggema.


“Tiara, sekarang!”


Dengan aba-aba dari Nara, Tiara menendang kuat ************ Osman. Ketika Osman sudah tidak berdaya, Nara dengan cepat menyemprotkan cairan cabe ke mata Osman.


Sembari bergandengan tangan, kedua gadis itu berlari keluar club menuju parkiran. Alvian yang sedari tadi memperhatikan mereka, dengan cepat menghabisi musuh di depannya lalu mengikuti mereka.


“Bagaimana dengan flashdisk itu?” khawatir Nara.


“Hahaha kita berhasil Tiara, “ tawa keduanya menggelar di seluruh penjuru parkiran.


Namun, itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Keduanya menghentikan tawa renyah itu, saat mendapati Alvian sudah berada di belakang keduanya.


“Al, “ ujar Nara.


Alvian mengeraskan rahangnya, memegang kuat lengan Nara dengan penuh amarah dalam dirinya.


“Sedang apa kalian di sini?!” bentak Alvian.


Nara yang sudah kebal, tetap tenang menatap wajah Alvian. Berbeda dengan Nara, tubuh Tiara justru bergetar hebatnya.


“Apa kalian tau tempat ini sangat berbahaya?! Jawab!”


Lagi, dan lagi suara Alvian menggema di seluruh penjuru parkiran itu. Untungnya saat ini, hanya ada mereka di sana.


“Bukan urusanmu.”


Nara menghempaskan kasar tangan Alvian, tanpa di sadarinya flashdisk itu tergelincir dari tangannya jatuh ke lantai.


“Flash ini?” batin Alvian melihat benda itu.


Dengan cepat, Nara mengambil benda itu memasukan kedalam tasnya. Alvian yang ingin merebutnya, kala cepat ketika Nara berhasil menjauhkan tasnya.


“Untuk apa Flash itu?” ujar Alvian.


“Bukan urusanmu!” telak Nara.

__ADS_1


Kesal dengan ucapan Nara yang tidak mau menjawab pertanyaannya, Alvian berbalik menatap Tiara. Namun, Tiara yang tau akan maksud dari tatapan Alvian dengan cepat masuk kedalam mobilnya.


“Tanya saja kekasihmu, “ ujar Tiara, sebelum akhirnya benar-benar berada dalam mobilnya.


Alvian menarik tangan Nara, mengukung tubuh Nara di tembok.


“Jawab Nara! Untuk apa flash itu?”


Dapat dengan jelas Nara rasakan hembusan nafas Alvian menerpa wajahnya. Ingin berusaha mendorong tubuh Alvian namun, kekuatannya tidak sebesar pria itu.


“Sudah ku katakan Al, ini bukan urusanmu."


Alvian tersenyum smrik, sembari terus memasukkan wajahnya hingga bibirnya merasakan lembutnya bibir Nara.


“Apa kau mencoba menutupi sesuatu dari ku? Hmm, “ ujar Alvian.


Beberapa menit berlalu, sama sekali tidak ada jawaban dari Nara. Alvian memajukan tubuhnya menghimpit tubuh Nara dengan bibir yang sudah mengigit bibir ranum gadisnya.


“Sakit,” ringis Nara, setelah berhasil sedikit mendorong tubuh Alvian.


“Makanya jawab!” bentak Alvian lagi.


“Kenapa kau ingin tau? Isi flash ini, foto ku bersama beberapa pria waktu kami berhubungan, “ ujarnya.


Bukan hanya Alvian, Tiara yang tidak menurunkan kaca mobilnya dan masih mendengarkan percakapan keduanya terbelak kaget.


“Jangan macam-macam Nara Ak-


“Apa? Memangnya kau siapanya aku berani mengatur hidupku? Terserah aku mau tidur dengan pria manapun, itu bukanlah urusanmu.”


Tiara yang tau Nara berbohong, sedikit menyunggingkan senyumannya. Nara mendorong keras tubuh Alvian, sedikit berlari memasuki mobil Tiara.


“Ayok Tiara, sebelum dia murkah. “


Tiara mengangguk patuh, melajukan mobilnya meninggalkan parkiran. Alvian tersenyum kecil, mengangkat flashdisk tersebut sembari menatap kepergian kedua gadis tersebut.


“Gadis Nakal, “ gumamnya ikut masuk kedalam mobilnya mengikuti jejak kedua gadis itu.


Ketika di lampu merah, Nara sedikit mengintip ke pengendara lain di sampingnya. Matanya membulat, saat mengetahui Alvian yang disampingnya. Keterkejutannya tak sampai disitu saja, matanya kembali terbelak ketika Alvian memamerkan flashdisk tersebut.


“I love you honey, “ ujar Alvian tersenyum.


“Nara, flashdisk kita!” teriak Tiara, ketika mobil Alvian sudah melaju menjauhi mereka.


"Alvian!" histeris Nara.


Pendengaran Alvain masih bisa menangkap teriakan Nara, senyuman kembali terukir indah pada bibirnya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2