
Swedia,
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Lidia yang sudah menyelesaikan makan malamnya melangkah menuju ruang kerja yang terpisah dari kamarnya.
"Butuh sesuatu lagi nyonya? "
Mendapat gelengan kepala dari wanita tua itu, Ilone menutup pintu tak lupa Ia menguncinya dari luar.
Dengan senyuman terukir di bibirnya, wanita itu menekan tombol pada ponselnya.
Tak lama kemudian, Ino menghampirinya dengan membawa peralatan yang telah keduanya siapkan.
"Apa kau siap? "
Ilone mengangguk mengiyakan perkataan Ino.
"Bagaimana dengan cctv? "
"Aman, " titah Ino
Ilone mengangguk mengiyakan perkataannya, lalu keduanya mengendap-endap menuju kamar Lidia.
Setelah berhasil masuk kedalam kamar Lidia, Ilone dan Ino mulai meraba-raba mencari pintu yang merupakan brankas pada lemari pakaian Lidia.
"Ino, ketuk di bagian lemari pakaian. Kata tuan Alvian, brankas itu tersembunyi di sana. "
Ino mulai mengikuti Ilone, memeriksa di setiap lemari yang berada disana.
Ilone mengetuk semua lemari, sampai Ia terhenti pada lemari yang berisikan tas Lidia.
"Bunyinya nyaring, " ujar Ino mendekat.
"Ia sepertinya ini, tapi bagaimana cara membukanya? "
Keduanya kembali menelusuri ruangan itu. Hingga akhirnya, Ino tak sengaja menyenggol sala satu tas Lidia yang langsung membuat pintu terbuka.
"Ada ruangan lain dalam kamar ini, " ujar Ino takjub.
Keduanya saling beriringan, masuk kedalam ruangan itu. Ilone menyalahkan flash pada ponselnya mencari di mana keberadaan brankas itu.
Ilone terus melangkah sembari menyentuh setiap barang yang berada di ruangan itu, hingga dirinya memegang sebuah baja yang diduganya adalah brankas.
"Ino, bisa kau cari dimana lampunya? "
Ino dengan segera menelusuri ruangan itu, mencari dimana letak saklar dengan hanya menggunakan flash ponselnya sebagai penerangan.
Ceklek
Bunyi saklar di sentuh Ino, membuat ruangan itu bersinar terang.
Lagi dan lagi, keduanya di buat menganga dengan pemandangan di depannya.
"Gila, brankasnya besar banget. "
Ilone mengangguk setuju dengan perkataan Ino.
"Cari dimana letak tempat password-nya? "
Kembali, keduanya memeriksa brankas yang luasnya memenuhi separuh ruangan itu.
"Ino, aku menemukannya. "
Ino dengan cepat menghampiri Ilone. Ino mulai mengeluarkan peralatannya, lalu berusaha memecahkan password itu.
Usahanya sia-sia, sudah hampir dua kali Ia mencoba gagal. Saat hendak mencoba yang ketiga kali, Ia di hentikan Ilone.
"Ada apa? " tanya Ino bingung saat Ilone memegang tangannya.
"Jika gagal lagi, alarm ini akan berbunyi. "
__ADS_1
Ino mengikuti telunjuk Ilone, mengarah ke sebuah alarm yang berada di sana.
Keduanya tampak berpikir sebentar, lalu menatap ke benda baja itu.
"Bisa kau hubungi tuan muda? "
Ilone mengangguk, mulai menyambungkan panggilan dengan Victor melalui sebuah alat yang berada di balik telinganya.
Saat ini, Victor dan juga Alvian yang hendak menuju ruang tahanan di belakang, menghentikan langkahnya.
"Ada apa? "
"Ada pesan dari Ilone, " ujar Victor.
Keduanya berbalik arah menuju taman belakang, yang di sana sudah ada Evan dan juga David.
"Buka, " Alvian memerintahkan penjaga membuka pintu masuk.
Setibanya di taman belakang, pria itu bersama Victor bergegas masuk lalu membuka laptop di hadapan mereka.
"Ilone, katakan ada apa? "
Ilone yang sudah mendengar suara Alvian, mengarahkan pandangannya ke arah brankas.
"Tuan, brankas ini ukurannya sebesar satu ruangan. Kami sudah menemukan dimana letak password-nya. "
"Lalu apa masalahnya? "
"Sudah dua kali Ino mencoba membobolnya tapi gagal. kami tidak bisa mencoba lagi, karena alarm ini akan berbunyi, " jelas Ilone.
"Kalian keluarlah dari sana sekarang juga, karena hanya aku dan Rani yang bisa membukanya. "
Ilone memutuskan sambungannya sepihak, lalu bersiap-siap keluar dari sana.
Namun, saat Ia sudah berada di depan pintu Ia di sambut Lidia dan juga Niko.
Ino yang mengerti akan kode itu, berbalik arah menuju lubang udara. Sedangkan Ilone, berhadapan dengan kedua musuh Alvian.
"Sedang apa kau?! " tanya Lidia dengan nada yang masih terkontrol.
"Sudah ku katakan kepadamu Lidia, wanita ini tidak bisa di percaya, " ujar Niko.
Ilone masih setia pada tempatnya, sampai Ino berhasil masuk kedalam saluran udara. Setelah Ino sudah berhasil menembus saluran udara itu, Ilone tersenyum menatap Lidia dan juga Niko.
"Anda sala paham nyonya, " tukas Ilone mencari pembelaan.
Niko semakin tajam menatapnya. Pria itu tau, jika Ilone saat ini tengah mencari alasan.
"Jawab! " bentak Lidia.
Ilone menutup matanya saat suara keras Lidia menebus dinding pendengarannya.
"Bukannya anda yang menyuruh saya kesini Nyonya. "
"Kau pikir saya gila, menyuruhmu masuk kedalam sana! "
Ilone tersenyum, mengarahkan ponselnya kehadapan Lidia dan juga Niko.
Dalam rekaman itu, terdengar Lidia yang memintanya untuk mengambil barang dalam ruangan itu.
"Ilone, tolong ambil bungkusan merah dalam ruangan yang berada di balik lemari saya. Gerakan saja tas berwarna abu-abu yang berada di sudut dekat patung. "
"Saya tidak selancang itu Nyonya, " ujarnya.
Ilone menatap wajah Niko yang terlihat kesal, lalu menampilkan wajah datarnya.
"Lalu mana barang itu? "
"Tidak ada Nyonya, sudah saya periksa berulang kali tapi tetap tidak menemukannya, " jawab Ilone.
__ADS_1
"Apa kau sedang berusaha berbohong? "
Niko memang tidak yakin dengan apa di katakan Ilone, di tambah lagi suara rekaman itu terdengar seperti rekayasa belaka.
Lidia menarik nafasnya panjang, berbalik menghadap Niko.
"Dia tidak akan mengkhianati saya Niko, " ujar wanita tua itu.
Setelah mengatakan hal itu, Lidia melangkah pergi meninggalkan kedua insan itu.
"You Lose, " ujar Ilone tersenyum smrik.
Niko yang kesal akan ekspresi wajah wanita itu, mencekal lengan Ilone yang sudah hendak melangkah pergi.
"Kau berani juga yah, " ujar Niko.
Ilone memegang tangan Niko, dengan gerakan cepat memelintir tangan pria itu.
"Argh, " ringis Niko.
"Jangan lupa tuan Niko, kalau aku orang suruhan Alvian, " ujar Ilone melepaskan tangan Niko.
Niko menampilkan senyuman khasnya, lalu mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi merekam suara Ilone.
"Kau tau manis, wanita tua itu akan mengusir mu, malam ini juga. "
Niko yang lalay karena kebahagiaan menyelimutinya, Kalah cepat saat Ilone menendang tangannya.
Ponsel Niko terjatuh ke lantai, Ilone mengambil air berada di gelas menyiram ponsel itu.
"Maaf anda harus berusaha lagi, " ujar Ilone tersenyum menang.
Lagi lagi, Ilone yang hendak pergi di cekal oleh pria itu.
"Apa lagi? " ketus Ilone.
Niko tersenyum smrik menyaksikan keberanian gadis di hadapannya itu.
"Kau lupa kalau aku musuh tuanmu? hmm, " ujar Niko.
Ilone berdecak, mendorong tubuh Niko menjauh darinya.
"Dan kau pasti lupa tuan, kalau aku adalah hacker yang pernah menghancurkan data-data mu, " nantang Ilone.
Niko semakin tertarik dengan gadis itu, Ia mengusap rambutnya lalu mendekati Ilone lagi.
"Kenapa kau lakukan itu? "
Mendengar pertanyaan itu, Ilone terkekeh kecil lalu meraih kerah baju Niko.
"Kenapa juga kau mau merebut apa yang bukan milikmu? "
Niko diam seribu bahasa mendengar perkataan Ilone, lalu melepas paksa tangan Ilone dari kerahnya.
"It's not your business! "
"Oh yah, jika seperti itu apapun yang aku lakukan di sini, itu juga bukan urusanmu. "
Ilone melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut, dengan Niko yang terus memandangi punggungnya yang sudah jauh.
"Aku suka gayamu, gadis kecil. " gumamnya melangkah mengikuti jejak Ilone.
.
.
.
Makasih buat yang sudah mampir ke cerita aku, 🌹
__ADS_1