Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
89 Mengelabuhi Bianka


__ADS_3

Setelah puas mendapatkan apa yang Ia mau, Nara membuka pintu ruangan Alvian membuat ketigaa pria itu langsung menatapnya.


“Kau harus melihat rencana iklan dari aku dan juga Ana, “ Nara menyerahkan berkas ke tangan Alvian.


Tak menerima berkas itu, Alvian malah menarik tangan Nara agar gadisnya duduk di sebelahnya. Setelah itu, barulah Alvian menerima berkas tersebut.


“Bagian ini, kenapa harus menggunakan influencer?”


“Biar banyak peminatnya, lagian Influencer itu tergantung followersnya jadi pasti banyak yang tertarik dengan produk yang ditawarkan, “ jelas Nara panjang lebar.


“Baiklah, “


Tanpa basa-basi, dan kali ini tanpa revisi sama sekali, Alvian langsung menandatangani berkas itu menyetujui rencana yang dibuat Nara dan Ana.


“Kau tidak mabuk?” Nara meletakkan tangannya, pada kening Alvian.


“Pertanyaan dan perbuatan tidak sejalan, “ cibir Victor.


Bagaimana tidak? Gadis itu bertanya mabuk namun, tangannya malah memegang kening Alvian seolah memeriksa pria itu panas tinggi atau tidak.


“Hahahaha, “ tawa renyah David menggelegar.


Dan yah, seperti biasanya bantal sofa mendarat sempurna pada wajah Victor bukannya wajah David, sedangkan David semakin mengeraskan tawanya.


“Yang ketawa meledak itu, Dia bukan saya!” kesal Victor tak terima.


“Kau yang tadi meledak gadisku, “ ujar Alvian menatap tajam wajah Victor.


Nara menarik nafasnya panjang, bangkit dari duduknya berjalan menuju arah pintu keluar ruangan itu.


“Mau kemana?” pertanyaan Alvian, mengiringi langkah Nara.


“Kerja, di sini seperti tidak ada pekerjaan sama sekali, “ cibir Nara menatap geli ketiganya.


Ketika Nara sudah benar-benar menghilang dari pandangan ketiganya, Alvian menatap kedua asistennya.


“Kabur Vic, “ David memukul pelan lengan Victor.


Sesuai dengan perkataan David, keduanya mengambil laptop mereka, berlari keluar dari ruangan Alvian sebelum pria itu mengamuk.


Nara dengan senyuman terukir di bibirnya, berjalan mendekati Meri dan juga Ana yang tengah sibuk membahas proyek di tangannya.


“Mommy, “ ujar Nara.


Baik Meri maupun Ana, keduanya berbalik secara bersamaan ketika suara Nara menembus pendengaran keduanya. Melihat wajah Nara yang terukir senyuman, Meri meyakini gadis itu membawa kabar baik.


“Bagaimana?” tanya Meri memastikan.


“Berhasil, “ ujar Nara sembari tertawa kecil.


“Benarkah?” Ana memastikan ucapan Nara.


Mendapat anggukan kecil dari Nara, Ana melompat kegirangan setelah melihat tanda tangan Alvian sudah terukir pada berkas itu.


“Hahaha, yes kita berhasil, “ girang Ana.


Ria dan Sendri saat ini, tidak ikut larut dalam kebahagiaan kedua gadis itu. Sebab, tugas mereka juga sangat membuat kepala mereka hampir meledak.


“Kalian pasti bisa, kita harus tunjukkan bahwa kita bagian marketing juga bisa, “ ujar Meri berapi-api, menyemangati Sendiri dan juga Ria.

__ADS_1


“Semangat Ria!” heboh Sendri.


Semuanya ikut tertawa terbahak-bahak, menjadikan suara mereka menghiasi setiap dinding ruangan itu dengan segala kebahagiaan.


Namun, dari luar ruangan Bianka yang sedari tadi memperhatikan mereka tersenyum smrik, sembari menekan ponselnya mengirimkan pesan pada seseorang.


“Besok, kau tidak akan tertawa lagi, “ gumamnya berlalu dari sana.


Hari semakin sore, Ria dan juga Sendri yang sudah menyelesaikan laporan mereka, mendekati ketiga wanita itu.


“Mom, sudah selesai, “ ujar Ria menyodorkan hasil kerja mereka.


Meri tidak langsung menerima laporan itu, Ia sedikit melirik Nara terlebih dahulu. Kali ini, mereka harus benar-benar sedikit menggunakan orang dalam.


“Ayok Sen, “ ajak Nara, berjalan mendahului Sendri.


Ketika keduanya melewati devisi keuangan sebab Alvian sedang berada di ruangan David, Nara dengan cepat menarik tangan Sendri menggandengnya.


“Aku akan di bunuh tuan muda, “ khawatir Sendri penuh drama.


“Maafkan aku Sen, tapi kita harus terus seperti ini, “ ujar Nara.


Benar saja, ketika Bianka dan juga beberapa karyawan devisi keuangan melihat keduanya, mereka langsung mengambil beberapa gambar.


“Tuan muda harus melihat ini, “ gumam seorang gadis yang bernama Devita.


Bianka sama sekali tidak memperdulikan hal itu, Ia tersenyum puas ketika melihat kedua insan itu begitu mesra.


“yah, teruslah seperti itu agar Alvian menjauhi mu, “ gumamnya.


“Sampai kapan Nara? Kita harus mengelabui gadis itu, “ ujar Sendri di saat keduanya sudah melewati devisi keuangan.


Nara kembali melepaskan tangannya dari lengan Sendri, mendekati pintu ruang kerja David.


Tok


Tok


“Masuk!”


Setelah mendapat persetujuan dari dalam, baik Nara maupun Sendri keduanya beriringan masuk kedalam ruangan itu.


Melihat kehadiran Nara dan Sendri, Alvian sedikit melirik ke tangan keduanya dan mengerti tujuan mereka berdua menghampirinya.


“Besok akan ku periksa, “ Alvian Menyodorkan tangannya.


“Sekarang saja Al, besok kami hari merekap yang lainnya lagi, “ Nara meletakkan berkas itu keatas tangan Alvian.


Alvian ingin membantah namun, ketika melihat wajah lelah kekasihnya Alvian mengambil pena dan sedikit memeriksa lalu membubuhkan tanda tangannya.


“Pada halaman kedua, harus di ubah.”


Nara dan juga Sendri saling bertatapan sekilas, lalu melirik kedalam berkas itu.


“Bagian mana?” bingung Nara.


Alvian mengarahkan penanya, menunjuk sebuah tanda baca di sana.


“Lalu?”

__ADS_1


“Ini harusnya koma, bukan titik.”


Nara mengusap kasa wajahnya, menarik paksa pena dari tangan Alvian lalu mengganti tanda titik dengan koma.


“Sudah?” Alvian terkekeh kecil, lalu mencubit gemas pipi Nara.


Tak menjelang beberapa detik, mereka di kejutkan dengan kehadiran Victor yang memasuki ruangan begitu heboh. Tak hanya Victor, Ria dan juga Ana membuntuti pria itu dari belakang.


“Grup kantor.”


Penasaran apa yang terjadi, Alvian dan juga Nara bersama Sendri dan David memeriksa ponsel mereka masing-masing.


Alvian beralih menatap Nara dan juga Sendri secara bergantian, mencoba meminta penjelasan dari keduanya.


“Maafkan saya tuan, saya tidak bermak-


“Aku ingin mengelabui Bianka Al, nanti akan ku jelaskan semuanya padamu.”


Nara memotong pembicaraan Sendri, berjalan mendekati Alvian.


“Al, setelah keluar dari ruangan ini bisakah kau melakukan sesuatu?” ujar Nara hati-hati sebab, wajah Alvian sudah tidak bisa diartikan lagi ekspresinya.


“Apa?” judes Alvian.


Nara sedikit menarik nafasnya, membisikkan sesuatu pada Alvian. Semua yang berada di sana, ikut mendekatkan telinga mereka.


“Mau cari mati?!” bentak Alvian. Dengan segera, mereka menjauhkan diri dari Nara dan juga Alvian.


Setelah Nara membisikkan sesuatu, Alvian melangkah keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.


Swedia,


Ilone dan juga Niko yang sudah berada di dalam gudang itu, mulai memeriksa setiap sudut ruangan itu mencari berkas yang mereka perlukan.


“Setelah semua ini selesai, akan ku habisi kau!” ancam Ilone.


Bagaimana tidak, Niko begitu sangat agresif sampai bibirnya terluka. Ini hanya gimik belaka, atau memang Niko yang sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan?


“Terserah, “ pasrah Niko, dengan tangan yang terus mengutak-atik seluruh tumpukan sampah itu.


Setelah itu, sama sekali tidak ada percakapan di antara keduanya. Tangan mereka terus mengobrak-abrik tempat itu.


Mata Ilone terhenti saat melihat sebuah album, Ia sedikit melirik Niko yang masih sibuk dengan pencariannya.


“Kau tau album ini?” Ilone mendekati Niko, menyodorkan album yang sudah usang itu.


Niko meletakkan kembali sebuah berkas yang baru saja di ambilnya, ikut memperhatikan foto-foto dalam berkas itu.


“Ini, bukannya ini, “ Niko menatap lekat wajah Ilone.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2