
Mentari pagi sudah bersinar masuk kedalam kamar yang lebih pantas di sebut hotel berbintang.
Nara menggeliat di atas ranjang, membuka perlahan kedua maniknya lalu bangkit duduk di bibir ranjang.
Matanya menyapu mencari sesosok pria yang tak lain adalah Alvian. Ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Alvian, Nara bangkit dari ranjang berjalan menuju dapur yang berada di lantai bawah.
Saat melewati beberapa orang anak buah Alvian, mereka dengan serempak menundukkan kepala membuat Nara risih.
“Ayolah berhenti menundukkan kepala seperti itu, “ ujarnya.
“Angkat kepala kalian, “ pintah Nara lagi.
Namun, anak buah Alvian sama sekali tidak mau mengangkat kepala mereka, sampai Alvian mendekati mereka. Saat itu juga, mereka semua langsung mengangkat kepala dan pergi meninggalkan area dapur.
“Kegilaan macam itu, dasar menyebalkan. “
Alvian terkekeh pelan mendengar ocehan Nara, lalu ikut melangkah menuju dapur.
Matanya membelak kaget, saat gadis itu hendak ikut membantu mbok Ina.
“Mbok Ina! “ bentak Alvian yang seketika membuat suasana jadi mencekam.
“Nona tolong bantu kami, anda duduk saja nona. “
Mbok Ina mendekati Nara dengan tubuh bergetar hebat, saat itu Alvian sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Nara.
“Kenapa kalian takut dengannya? “
Nara tersenyum meremehkan. Alvian yang melihat tingkah berani Nara, tersenyum kecil lalu melangkah mendekati gadisnya itu.
“Kau benar-benar menantang ku gadis manis, “ ujar Alvian yang sudah berada di belakang Nara.
Nara menghentikan kegiatan yang tengah memotong wortel, berbalik menatap Alvian lalu pandangan tertuju pada David yang baru masuk ke dapur.
“David tolong bantu saya singkirkan pria perusuh ini. “
David mengangguk hendak melangkah mendekati Alvian namun, Ia terhenti saat melihat tatapan tajam tuannya itu.
“Maaf Nona untuk saat ini tidak bisa, “ ujar David.
“Kenapa kau takut dengannya? “
Nara yang semakin menantang, menjadi ciut saat Alvian menarik pinggang rampingnya sampai tak menyisakan jarak di antara keduanya.
Seketika seluruh karyawan Alvian yang berada di sana, berbalik tak berani menatap ke arah keduanya begitu juga David.
Chup
Dengan lancangnya Alvian mengecup singkat bibir Nara, membuat gadis itu membulatkan matanya tak percaya.
“Kenapa kau begitu sangat banyak bicara hari ini hmm, “ bisik Alvian.
__ADS_1
Nara melepaskan pelukan Alvian dari pinggangnya, berlari ke luar dapur menuju kolam.
“hah, lanjutkan pekerjaan kalian. Jangan biarkan dia masuk ke sini lagi. “ pintah Alvian sebelum akhirnya menyusul kepergian Nara.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Setelah selesai bermain kejar-kejaran, Alvian dan juga Nara bersama kedua asistennya bergegas meninggalkan rumah indah itu menuju kantor.
...***...
Nikolas Kazim, pria itu benar-benar murkah saat mengetahui kekasihnya di setubuhi oleh anak buah Kelly yang sudah di bayar Alvian.
“Bang sat! Awas Lo Alvian! “ teriaknya menggema.
Dengan penuh amarah, Niko mengambil ponselnya berjalan menuju mobilnya. Dengan kecepatan tinggi, Ia mengendarai mobilnya menuju kediaman Lidia Jovanka.
Lidia yang saat ini tengah di pijat refleksi, seketika terkejut saat Niko dengan kasarnya membanting pintu.
“Sopan sedikit, kau pikir ini rumahmu?! “
Tak memperdulikan perkataan Lidia, Niko menghujani wajah wanita tua itu dengan beberapa gambar Kelly yang sudah tidak di kenali wajahnya.
“Apa kau lakukan disini?! Kelly tersiksa di sana karena rencana bodoh yang kau lakukan! “
Amarah Niko membara namun, Lidia seolah tidak memperdulikan perkataan Niko. Ia malah melanjutkan kegiatan pijatnya.
Dor
Karena kesal, Niko menghabisi pemijat itu. Lidia menarik nafasnya panjang, lalu bangkit dari tidurnya sembari membungkus tubuhnya menggunakan selimut.
“Akan ku habisi kau sekarang juga, “ ujar Niko mengarahkan senjatanya tepat di kening Niko.
Saat itu juga, anak buah Lidia sudah mengepungnya dengan senjata yang mengarah ke arahnya.
“Kau yang akan mati Niko, “ ujar Lidia santai.
Wanita tua itu berjalan menuju ruang ganti, lalu kembali dengan membawa sepuntung rokok di tangannya.
“Tenanglah Niko, sebentar lagi Alvian akan hancur. “
Sepertinya Lidia begitu yakin untuk menghancurkan cucunya itu. Namun sialnya, Ia sama sekali tidak menyadari sedari tadi Ilone mengirimkan pesan tentang rencananya dengan Niko pada Victor.
“Apa kau yakin tidak ada yang berkhianat disini? Sebab setiap kali rencana kita selalu di gagalkan oleh Alvian, “ ujar Niko menatap lekat ke arah Ilone.
Wajah Ilone seketika berubah merah padam, hal itu semakin membuat kecurigaan dalam diri Niko semakin kuat.
“Apa maksud mu? “ bingung Lidia.
“Kau begitu sangat mempercayai asisten mu itu. “
Pandangan Niko dan Lidia hanya tertuju pada Ilone, dengan keahliannya Ilone merubah eksepsi wajahnya menjadi datar dan ikut menatap Niko dan Lidia tak kala tajamnya.
“Apa kau bercanda? Dia Orang kepercayaan ku, tidak mungkin dia berkhianat. “
__ADS_1
Lidia mengalihkan rasa curiga Niko, yang membuat Ilone menarik nafasnya lega.
“Lupakan soal itu, aku ingin memberitahukan bahwa aku sudah mengetahui kelemahan Alvian, “ ujar Lidia dengan senyuman smriknya.
“Siapa, Roseta? Kau tau kan Lidia, mereka sudah lama tidak berhubungan. “
Lidia menggelengkan kepalanya, menghisap panjang rokok di tangannya lalu menghembuskan keluar.
“Roseta sudah seperti sampah bagi cucuku itu, ada seorang gadis yang akan menjadi sasaran empuk kita, “ jelas Lidia.
Niko menaikkan salah satu alisnya, Ia masih tidak bisa mencerna perkataan Lidia. Lidia mengeluarkan sebuah map coklat meletakkan di atas meja tepat di hadapan Niko.
“Winara Atmaja, “ ujar Niko.
Ilone membelakan kedua matanya tidak percaya, dari mana Lidia mendapatkan berkas itu? Dirinya sedang memperlambat waktu untuk memberikan data palsu kepada Lidia.
Namun, sepertinya kali ini Ia harus benar-benar lebih berhati-hati lagi dengan Lidia.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya? “ tanya Niko meletakkan kembali berkas data diri Nara.
“Kau tidak perlu tau, cukup tunggu saja kabar dariku. “
Niko mengangguk mengiyakan perkataan Lidia, lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu. Namun, Ia menghentikan langkahnya menatap tajam ke arah Ilone.
“Ilone segera siapkan berkas meetingku dengan tuan Kheir, “ ujar Lidia.
“Sudah ku siapkan nyonya dari dua jam yang lalu. “
Lidia tersenyum, melangkah mendekati gadis itu. Ia menatap Ilone dari atas sampai bawah, mencari titik dimanaa gadis itu menghianatinya namun, Ia tidak menemukan apapun.
“Aku sangat percaya padamu. “ ujar Lidia berlalu menuju ruang kerjanya.
Ilone menatap datar mengikuti kepergian Lidia, seketika senyuman di bibirnya mengambang saat wanita tua itu sudah menghilang dari pandangannya.
“Kepercayaan itulah yang akan menghancurkan anda, Nyonya Lidia. “
Ilone mengeluarkan ponselnya dari dalam kantongnya, menekan tombol pause pada rekamannya lalu mengusap layar ponselnya mengirimkan pesan kepada Victor.
“Apa anda yakin akan membiarkan meeting kali ini berhasil Ilone? “ tanya Ino mendekati Ilone.
Gadis itu tersenyum smrik, menatap wajah Ino lalu berjalan mengikuti jejak Lidia.
.
.
.
.
Makasih buat yang sudah mampir, yuk komen sama like jangan lupa masukannya biar aku tau mana yang kurang 🌹
__ADS_1