
Di pagi harinya tidak seperti biasa, pagi ini Nara bangun begitu pagi karena perutnya begitu mules.
“Aaaa leganya, “ setelah selesai dari toilet, Nara menuju ke ruang tv yang disana sudah ada Rian tengah menonton film horor dengan membawa selimut.
“Kenapa nggak bangunin dari tadi, “ kesal Nara yang melihat adiknya tengah asik menatap layar televisi sendirian.
“Orangnya tidur kayak kebo, bahkan petir pagi ini juga nggak sadar, “ jelas Rian dengan ocehannya.
“Kok bisa yah pagi-pagi hujan? “ tanya Nara.
“Mana aku tau, aku bukan peramal cuaca, “ jawab Rian kesal karena Nara terus mengoceh membuatnya tidak fokus dengan tontonannya.
“Nara, paper bag ini isinya apa mama temuin di kamar? “
Tina menghampiri keduanya dengan membawa paper bag yang entah apa isinya.
Nara yang baru ingat akan pemberian Alvian semalam, mendorong tubuh Rian agar berpindah dan menerima paper bag tersebut dari Tina.
“Apa isinya Ar, “ tanya Rian yang seketika ikut kepo dengan isi paper bag tersebut.
Mata Nara membulat saat mengetahui isinya yang ternyata dua buah ponsel mahal.
“Daru siapa Ar? “ tanya Rian lagi.
Tanpa menjawab pertanyaan sang adik, Nara menuju kamarnya dan menghubungi nomor yang tersimpan di ponselnya dengan emot jantung. Namun, sebelum Ia menjalankan niatnya terlebih dahulu sebuah pesan masuk ke ponselnya.
...❤️
...
[ Gunakan itu sebaik mungkin, satunya untuk Rian. Dan aku tidak menerima penolakan Nara!! ]
Setelah membaca pesan itu, Nara kembali mengurungkan niatnya untuk memarahi Alvian. Ia kembali ke tempatnya semula bersama Rian, lalu memberikan satu ponsel itu kepada sang adik.
“Buat aku? “ tanya Rian dengan tangan tremornya menerima ponsel tersebut.
“Dari siapa Nara? “ tanya Firman yang baru saja datang melihat ponsel mahal di tangan kedua anaknya.
“Alvian yah, katanya hadia karena Nara nilainya A kemarin, “ jelas Nara.
“Yang kemarin foto sama kita itu? “ tanya Rian yang di angguki oleh Nara sebagai jawabnya.
“Alvian siapa? “ tanya Firman lagi memastikan.
“Nara nggak tau Alvian siapa, yang pasti kita ketemu karena, “ ucapan Nara menggantung Ia tau jika dirinya menceritakan yang sebenarnya terjadi ayahnya akan mencari Alvian sampai ke ujung bumi.
“karena apa? “ tanya Rian mengintimidasi.
“Lupakan, aku lapar mau makan, “ ujar Nara bangkit berdiri menuju meja makan yang di sana sudah terhidang beberapa masakan Tina.
“Sepertinya gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu, “
“Bener yah, kita harus selidiki kasus ini sampe tuntas, “ tambah Rian yang ikut di angguk Firman.
__ADS_1
“Sudah cukup! Sana makan, “ pintah Tina.
“Tapi sebelum itu kapten Firman atamaja saya harus makan dulu, “ ucap Rian lalu mengikuti Nara ke meja makan.
“Tunggu saya Barada Rian, “ Firman pun dengan segera menyusul putranya.
...***...
Sementara di kediaman Jovanka, Rani yang dari kemarin penasaran kepada siapa buket itu di berikan, mencoba mengendap-endap masuk kedalam kamar adiknya.
Saat tengah mencari barang bukti yang bisa di gunakan untuk meledek Alvian, mara Rani tertuju pada ponsel sang adik yang berada di atas Nakas.
“Nah ketemu, “ gumamnya pelan setelah berhasil mencuri ponsel Alvian.
Rani bersembunyi di samping nakas, dan mulai membuka ponsel Alvian yang memang tidak pernah di kunci.
Ia melihat seluruh isi ponsel itu, jari telunjuknya berhenti menggoreng layarnya saat melihat foto Alvian bersama seorang gadis di mobil sedang menikmati donat, dengan Alvian yang berdiri di luar sedangkan gadis tersebut di dalam mobil.
“Siapa gadis ini? “ gumamnya bertanya-tanya dengan terus memperbesar dan memperkecil ukuran gambar tersebut.
“Apa kau sudah puas memandanginya kak?! “
seketika Rani mengangkat kepalanya saat suara khas adiknya itu menembus dinding pendengarannya.
Dengan sangat terpaksa, Rani harus menyerahkan beda milik Alvian itu meski dengan kekecewaan.
“Kamu sih yang nggak cerita siapa dia, “ oceh Rani mengalahkan adiknya.
Alvian menarik tangan Rani keluar kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam setelah Rani sudah Ia singkirkan dengan halus.
Sementara di dalam kamar, Alvian mengambil ponselnya lalu berjalan ke arah balkon menikmati rintik-rintik hujan yang menerpa pagi.
“Degupan kencang apa ini, ketika berada di dekat wanita lain kenapa tidak berdetak. Namun, ketika di dekat Nara bahkan hanya melihat fotonya jantungku rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya, “ gumam Alvian merasakan debaran jantungnya.
Alvian kembali ke dalam kamarnya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari memandangi foto dirinya bersama Nara di depan toko roti.
“Menggemaskan, “ ujarnya
Beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarnya membuatnya berdecak kesal.
Ketika Ia membuka pintu kamarnya, tampaklah seorang wanita paruh baya berdiri tegap menatapnya dengan melipat kedua tangannya.
“Ada apa? “ tanya Alvian dengan nada datar.
“Ada yang ingin mamy dan daddy bicarakan, “ ujar Dianra Mama Alvian.
Tanpa memperdulikan Diandra, Alvian berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah yang di sana sudah ada Rani dan juga David.
“Ada apa Dady? “ ucapnya saat kakinya belum sampai ke meja makan.
“Apa yang telah kau lakukan kepada Casandra? “ tanya Dianra nada yang sehalus mungkin, sebab jika Ia berbicara menggunakan nada tinggi putranya itu akan semakin membencinya.
“Aku tidak ingin menikahi wanita murahan yang menjual dirinya ke seluruh pria yang ada di penjuru bumi ini, “ ujar Alvian dengan santainya sembari mengolesi beberapa lembar roti dengan selai lalu mengisinya kedalam piring Rani.
__ADS_1
“APA MAKSUDMU ALVIAN?! “ teriakan dari Diandra membangunkan singa yang tertidur dalam diri seorang Alviano Jovanka.
“Berhenti berteriak nyonya Diandra Gautama!! “ ujarnya dengan nada yang tak kala tinggi membuat Ridwan Jovanka ayahnya bangkit dari tempat duduknya.
“Aku mengizinkanmu menikah ayahku, bukan berarti kau di izinkan mengatur hidupku dengan Rani, PAHAM! “ bentaknya membuat seisi ruangan makan tak berkutik.
“ALVIAN! “
“Diam! Sudah cukup kau menghancurkan hidup kami ayah, aku mohon tinggalkan aku dan Rani sendirian kembalilah ke Swedia aku tidak menerima kehadiran kalian disini, “ ujar Alvian dengan tegasnya mengusir ayah dan juga ibu tirinya itu.
“Berhentilah menjadi liar Alvian, aku hanya ingin tau alasan kau menolak Casandra itu saja, “ ujar Diandra yang mencoba berani meskipun dalam dirinya Ia begitu sangat ketakutan.
“Sudah Diandra, ayok kita pergi! “ pintah Ridwan namun, wanita tersebut tetap ingin menunggu jawaban dari Alvian.
“Mam sudahlah, aku lelah dengan semua ini tolong tinggalkan kami, “ ucap Rani dengan nada halusnya.
“Ayolah sayang, mommy hanya ingin tau alasannya yang masuk akal, “
Alvian yang sudah di kuasai amarah, menghampiri David lalu kembali menuju meja makan dan menumpahkan seluruh isi koper ke atas meja.
Mata Diandra membulat melihat gambar kotor milik Casandra yang tengah asik bermesraan bersama pria lain, bukan hanya satu tapi dengan pria berbeda di setiap foto itu.
“Dasar murahan, “ maki Dianra lalu mengambil beberapa foto tersebut memakai kacamata hitamnya berlalu keluar rumah.
“Maafkan Dady, “ ujar Ridwan mencoba mengambil hati putranya. Namun, sama sekali tidak di ubris oleh Alvian.
“Pergilah Ayah, “ satu kata menyakitkan keluar dari mulut Rani, membuat Ridwan melangkahkan kakinya dengan berat keluar rumah.
Setelah kepergian Ridwan, Alvian memeluk erat tubuh Rani. Sekarang hanya Rani yang Ia punya, setelah kepergian Ibundanya. Rani yang berada dalam pelukan Alvian tak kuasa menahan tangisnya.
“Sudahlah jangan terlalu mengeluarkan berlian berhargamu ini, bayimu akan sedih di dalam sana, “ ujar Alvian mencoba menenangkan.
“Kapan Evan dan Alexo akan pulang? “tanya Rani di sela tangisannya.
“seminggu lagi, “ setelah mendengar jawaban sang adik, Rani melepaskan pelukan Alvian dan berjalan menuju kamarnya.
“Kau tau David, dalam mata Rani aku bisa melihat sosok Nara di dalamnya. Akan tetapi, dalam Mata Nara yang ku lihat mengapa selalu sosok bunda di sana? “ ujar Alvian.
David yang mendengar itu, tersenyum lebar. Ia tau jika takdir menginginkan tuannya dan Nara bersatu.
“Kau tau tuan muda, mungkin saja Nona Nara adalah pelangi indah yang dikirim semesta setelah badai panjang ini, “ ujar David.
Alvian tersenyum lalu berjalan menuju kamarnya. Sedangkan David memilih menghabiskan roti yang belum di sentuh di atas meja makan.
“Sayang kalau tidak di habiskan, “ gumamnya pelan.
.
.
.
.
__ADS_1
BERKOMENTARLAH DENGAN BIJAK!!