Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 34 The Gosip Hot


__ADS_3

Setibanya Ilone bersama Lidia di perusahaan Lidia, ralat perusahaan milik Alvian yang di rebut paksa oleh wanita tua itu.


“Hallo Mr. Kheir, “ sapa Lidia berbasa-basi.


"Berhentilah berbasa-basi sampah Lidia! Anda pikir saya anak kecil yang bisa di tipu, “ bentak Kheir.


“Maksudnya apa? “


“Kau bertanya maksudnya apa? Lihat ini, kontrak sampah seperti ini kau berikan kepadaku?! “


Lida mengambil berkas kerja sama itu, lalu mulai melihat apa yang salah dari berkasnya.


“Ilone maksudnya apa ini? “


Ilone pun ikut bingung dengan isi berkas itu, Ia kemudian sedikit menjauh dari Lidia dan juga Kheir mencoba menghubungi seseorang.


“Cepat bawakan berkas itu! “ pintahnya dengan suara lantang.


“Sabar Mr. Kheir, asisten saya sedang berusaha memperbaiki semua kesalahan ini, “ jelas Lidia.


“Cukup! Kerja sama ini kita batalkan saja. “ putus Kheir berjalan meninggalkan tempat itu.


“Biar saya saja yang mengejarnya Nyonya. “


Tanpa menunggu jawaban dari Lidia, Ilone dengan cepat berlari menyusul Kheir. Sedangkan Lidia yang kesal, membanting sembarang barang-barang yang berada di sana.


“Aaaa kurang ajar kau Kheir! “ teriaknya menggema.


“Hobinya sekarang membanting barang. Jika itu miliknya tidak apa-apa, tapi itu milik tuanku. Heiii wanita tua berhentilah! “ batin Ino menjerit.


Ilone terus mengikuti langkah Kheir bersama asistennya sampai ke parkiran.


“Mr. Kheir! “ teriaknya.


Kheir berbalik menghela nafasnya sebentar lalu memasang wajah datarnya.


“Ada apa lagi? “


Ilone sedikit tersenyum dengan kata-kata Kheir yang terdengar begitu ketus di telinganya.


“Maaf mengganggu, saya hanya ingin mengatakan bahwa anda melakukan keputusan yang tepat dengan membatalkan kerja sama ini, “ ujar Ilone.


Kheir tampak terkejut dengan ucapan Ilone, sebab Ia sendiri tau bahwa Ilone adalah anak buah sekaligus kepercayaan Lidia.


“Woow mengejutkan ternyata kau tidak di pihak tua bangka itu yah. “


Ilone kembali menampilkan senyuman khasnya, “Aku tangan kanan tuan Alviano. “


“Jadi, apa mau mu? “ tanya Kheir yang penasaran dengan maksud gadis itu mengikutinya.


“Ini ada berkas kerja sama dengan perusahaan Jovanka milik Alvian. “


Kheir menaikkan sebelah alisnya, menerima berkas itu dari tangan Ilone.


“Hmm, saya akan pikirkan lagi. “


Kheir memasuki mobilnya lalu melaju meninggalkan Ilone yang tersenyum puas.


“Hallo Niko temui aku di kantorku, “ ujar Kheir dari balik teleponnya.


Kheir tampak melakukan mobilnya meninggalkan kantor Lidia.


Ilone kembali menemui Lidia. Wanita tua itu semakin frustasi, sebab semua usahanya untuk mendapatkan kerja sama dengan perusahaan milik Kheir hancur berantakan.


“Bagaimana Ilone? “ tanya Lidia saat melihat sosok gadis itu depannya.


“Maaf Nyonya, aku sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Mr. Kheir tetap tidak ingin melanjutkan kerja sama ini. “


Seluruh berkas yang berada di atas meja Lidia, berhamburan ke lantai.


"Cari tau siapa yang menukar berkasnya! " pintah Lidia.


Lidia mengambil sebatang rokoknya, berjalan menuju balkon.


Ilone menarik senyuman pada bibirnya, menatap Ino di samping.


“Ikut aku ke roof top. “

__ADS_1


Ino berjalan membuntuti Ilone hingga keduanya sampai ke atap. Yah hanya tempat itulah yang paling aman bagi keduanya untuk mengobrol.


“Bagaimana, kau sudah menemukan berkas-berkas itu? “


“Untuk berkasnya belum ada di tanganku, tapi tempat penyimpanannya sudah berhasil aku ketahui, “ jelas Ino.


“Sebentar, “


Ilone mengambil earphonenya, lalu menyambungkan kepada Victor.


Victor yang saat ini tengah bersama Alvian di kantor, bergegas mendekati tuanya.


“Sepertinya ada pesan dari Ilone, “ ujarnya.


Alvian melepaskan laptopnya, beralih pandangan ke tablet milik Victor.


“Katakan Ino, dimana berkas itu disimpan? “ ujar Ilone saat Ia sudah berhasil tersambung ke Victor.


“Berkas itu di simpan di brangkas milik nyonya Lidia, “ jelas Ino.


Alvian seketika teringat akan ruang rahasia yang berada di balik lemari pakaian milik Lidia, dulu waktu Ia dan Rani masih kecil keduanya sering bermain petak umpet di sana.


“Ilone dengarkan aku, ruangan itu berada di balik lemari pakaian milik Oma. Untuk masuk kesana kau harus menggunakan password, yang aku sendiri pun tidak tau. “


“Lalu kami harus bagaimana tuan? “


“Apa kau bisa meretasnya? “ tanya Alvian.


“Maaf tuan, jika aku yang meretasnya itu sangat sulit. Sebab, hanya aku yang diizinkan masuk kedalam kamar nyonya Lidia. “


Alvian tampak berpikir sebentar. lalu, pikiran tertuju pada Nara yang saat itu juga masuk kedalam ruangannya.


“Permisi pak, saya ingin meminta tanda tangan disini. “


Nara meletakkan berkasnya di atas meja Alvian.


Alvian dan juga Victor berbalik menatap satu sama lain. Nara yang melihat itu, merasa bingung dengan ekspresi kedua pria tersebut.


“Ilone, aku akan menghubungi dirimu lagi. “


“Berhentilah menatapku dengan tatapan menggelikan itu, segera tanda tangani ini aku capek, “ kesal Nara.


“Hahaha! “


David yang baru tiba di ruangan Alvian, tertawa terbahak-bahak melihat tuannya di marahi oleh Nara.


“Kau mau di bunuh, “ ujar Victor yang sudah membungkam mulut David.


Sedangkan Alvian, saat ini memasang wajah dinginnya menatap David.


“Kak ayolah, “ kesal Nara saat Alvian tidak mengindahkan perkataannya.


“Sebelah mana? “


Nara menunjuk bagian-bagian yang harus di tanda tangani Alvian. Namun, pria itu membelakan matanya kaget dengan isi laporan itu.


“Siapa yang membuat ini? “ tanya Alvian.


Nara berdecak kecil, lalu mengambil kembali laporan dari tangan Alvian dengan ketusnya berkata,


“Aku kenapa?! “


“Mau di bawa kemana? Kesini dulu sayang, “ ujar Alvian.


Nara seketika tersenyum, lalu kemudian tertawa puas setelah mendengar perkataan Alvian.


“Ada baik-baik saja Nona? “ tanya David.


“Tenanglah Bestie, I’m okey. “


Alvian dan Victor saling bertatapan sekilas lalu kembali menatap David dan juga Nara.


“Bestie? “


“Iya beberapa jam yang lalu, sudah ku putuskan David menjadi sahabatku. “


“Apa aku juga boleh? “

__ADS_1


Victor mengedipkan kedua maniknya, mencoba merayu Nara agar menjadikannya sahabat juga seperti David.


“Boleh, David masukan dia di grup kita. “


David mengangguk antusias, lalu mengusap ponselnya. Victor dengan cepat memeriksa ponselnya, yang ternyata sudah di masukan David kedalam grup dengan nama “ The Gosip hot”


“Apa tidak ada nama lain nona? “


“Kalau tidak setuju keluar saja, “ ketus David.


"Iya, kalau tidak mau keluar saja, " ujar Nara menatap sinis Victor.


"Hehehe tidak tidak, aku mau. "


Victor menarik nafasnya panjang, mengusap kasar rambutnya.


Alvian yang sedari tadi memperhatikan kekasihnya bersama kedua asistennya, mencoba taba dengan keadaannya sekarang.


“Kalian ingin bekerja atau ku pecat! “ teriak Alvian.


Seketika, ketiga orang itu terdiam dan berbaris di hadapannya.


“Laporannya sangat bagus, ini sudah ku tanda tangani. David, besok siapakan meeting. Dan kau Victor, terus pantau pergerakan Roseta aku curiga kepadanya. “


“Dasar pemarah! “ ujar Nara menyindir Alvian, lalu melangkah pergi.


“Dasar pesuruh. “ bukan hanya Nara saja, Victor pun ikut pergi dengan menirukan gara Nara.


“Da-


“Apa? “


David yang juga ingin ikut-ikutan seperti Victor dan Nara, seketika mengurungkan niatnya saat melihat tatapan tajam dari mata Alvian.


Alvian menyenderkan kepalanya di kursi, menarik senyumannya mengingat tingkah lucu Nara beberapa menit yang lalu.


"David! "


Teriakkan dari Alvian, menghentikan langkah David yang sudah beriringan bersama Nara dan juga Victor.


"Awas David, tuanmu sedang dalam mode singa, " ucap Nara menakuti David.


Gadis itu tertawa terbahak-bahak, berlari meninggalkan kedua pria itu.


"Bisakah kita keluar dari grup itu? " tanya Victor.


"Kau mau dia marah?! "


Victor mengangguk mendengar perkataan David, tanpa mengalihkan pandangannya dari jejak Nara.


"David! "


Keduanya terbelak kaget, di saat teriakan Alvian kembali bergema sepanjang lorong.


Dengan sangat tergesa-gesa, David berlari menuju ruangan Alvian.


"Maaf tuan, " ujarnya.


"Perbaiki laporan ini. "


David mengambil laporan hasil kerja Nara, dari atas meja Alvian. Matanya membulat melihat isinya, yang begitu tidak layak disebut laporan.


"Jangan katakan kepadanya, " ujar Alvian.


"Baik Tuan. "


David berjalan menuju sofa yang berada dalam ruangan itu, mulai merevisi isi laporan yang di berikan Nara.


.


.


.


Makasih yah, buat yang sudah mampir 🌹


Yuk tinggalin jejak biar aku tau ada yang baca gitu.

__ADS_1


__ADS_2