
Mentari perlahan muncul, Diandra bersama beberapa pelayan sejak subuh tadi sudah sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada yang menghias, memasak, dan lain sebagainya.
“Semuanya cepat, Desi bawa bunganya kesini!” teriaknya.
Entahlah, pertunangan itu empat hari lagi lalu mengapa dirinya sibuk mempersiapkan sekarang? Rani bersama putranya Alexo keluar dari dalam kamar, sedikit terburu-buru menuju meja makan.
“Mama kan sudah bilang, bangunnya jangan kesiangan, “ oceh Rani menyiapkan sarapan bagi putranya.
“Sory mom.”
Alvian yang sedari tadi memperhatikan dari lantai atas, menyeruput kopi di tangannya seolah menonton sebuah tayangan yang seru baginya.
“Victor, mereka sudah tiba?” Alvian menempelkan ponselnya pada telinganya.
“Masih ada beberapa barang yang harus mereka siapkan, setelah itu baru mereka ke sini.” Victor menjawab dari balik telepon.
Alvian mematikan panggilannya secara sepihak dengan Victor, lalu mencari nomor telepon Nara menghubunginya.
“Nanti ku telepon lagi, aku sibuk.”
Alvian kembali menjauhkan benda itu dari telinganya, ketika Nara memutuskan panggilannya tanpa persetujuan Alvian. Bukan Alvian namanya, Ia menelpon lagi tak perduli dengan ocehan Nara nantinya.
“Sedang apa kau?”
“Bersiap-siap, ini sudah hampir telat. Nanti ku hubungi lagi,”
“Kau berani mematikan, ku habisi seluruh karyawan kantor,” ancam Alvian.
Sangat jelas terdengar di telinga Alvian, helaan nafas panjang Nara yang kesal dengannya. Alvian mengukir senyuman pada bibirnya, menarik kursi tepat di depan tangga.
“Mau kemana kau bersiap-siap sepagi ini?”
“Membabu di kantor pacarku.” Alvian terkekeh kecil menanggapi perkataan Nara.
“Temui aku di Jovanka house.”
Sama seperti menelpon Victor tadi, belum sempat Nara membalas perintahnya Alvian sudah lebih dahulu mematikan panggilan itu.
Ia kembali menyeruput kopinya, sedikit menatap Tiara yang memasuki rumah itu menghampiri Rani dan juga Alexo di meja makan.
“Hai boy, sudah siap?” tanya Tiara mencomot makanan Alexo.
Saat itu juga, sebuah pukulan kecil di layangkan Rani mengenai lengannya. Tiara terkekeh kecil, mencubit gemas pipi Alexo.
“Sedang ada acara yah, kak?” tanya Tiara, dengan pandangan menelusuri setiap sudut rumah itu.
“Aku juga bingung Tiara, “ ujar Rani, sembari merapikan rambut putranya.
“Sudahlah Aunty, ayok Lexo sudah telat!” Alexo menarik paksa tangan Tiara, keduanya menuju parkiran. Yah, hari ini Tiara yang mengantar Alexo atas perintah Alvian semalam.
“Are you ready?”
“Ready!”
Keduanya mulai melaju, meninggalkan kediaman Jovanka menuju sekolah Alexo. Setelah kepergian keduanya, Lian Sheng bersama beberapa anak buahnya memasuki rumah itu.
“Maaf, anda tidak bisaa langsung masuk. Saya haru menkonfirmasi dulu dengan tuan muda, “ salah seorang penjaga Alvian, menghentikan mereka di depan pintu.
“Silahkan, hubungi menantuku.” Dengan penuh percaya diri, Lian Sheng menyandarkan tubuhnya di samping mobil.
__ADS_1
“Baik tuan,”
Setelah mendapat persetujuan dari Alvian, penjaga memberi Lian Sheng jalan. Pria paruh baya itu berjalan, sedikit menyenggol keras penjaga itu dengan sombongnya.
Ketika kaki Lian menginjak ruang tamu, Alvian dan juga David menyambutnya tanpa adanya senyuman sedikit pun pada wajah keduanya.
“Menantuku, “ ujar Lian menghampiri Alvian.
Ketika dirinya hendak memeluk Alvian, dengan cepat David mengarahkan senjatanya tepat pada keningnya.
“Jangan sentuh tuanku.”
Sedikit kecewa, pria itu terpaksa menjauh dari Alvian. Ia berjalan membuntuti Alvian yang sudah mendahuluinya ke sofa, tak menjelang lama Diandra dan juga Ridwan mendekati mereka.
“Setelah putriku dan juga Alvian menikah, kau akan ku pecat, “ ujar Lian menatap David tajam.
Dalam batin David, Ia ingin tertawa terbahak-bahak hingga terguling di lantai. Begitu sangat lucu, lelucon yang dilontarkan oleh Lian Sheng.
“Anda yang akan di tendang dari sini, “ ujar David santai.
Namun, lawan bicaranya begitu sangat terbakar mendengar kata-katanya. Lian sudah bangkit berdiri, Ia ikut mengarahkan senjatanya seperti apa yang di lakukan David tadi.
“David!” satu kata yang keluar dari mulut Alvian, membuat David menyingkirkan senjata itu dari tangan Lian.
David berbalik arah, melangkah menuju ruang kerja Alvian. Ridwan dan juga Diandra, tersenyum memandangi Lian.
“Dimana Roseta?” tanya Diandra, ketika gadis yang ditunggunya belum muncul.
“Lima menit lagi, dia tiba.”
Perbincangan ketiga orang itu begitu seru, Alvian sama sekali tidak memperdulikan mereka. Ia sibuk memainkan ponselnya, mengirimkan pesan pada kekasihnya.
...
^^^“Kau mau datang, atau?”
^^^
[Iya sayangku, cintaku, AKU SUDAH DI JALAN!]
Alvian terkekeh geli, dari pesan yang dikirim oleh Nara, Ia bisa tau bagaimana wajah kesal Nara saat ini.
“Nak, sedang berkirim pesan dengan siapa?”
Mendengar ke kepoan Diandra, Alvian menatapnya datar tanpa adanya jawaban yang keluar dari mulutnya. Meski menampilkan wajah datar, tapi bagi ketiga orang itu Alvian menatap mereka tajam.
“Evan, ayok kesini!” titah Ridwan, ketika melihat menantunya menuruni anak tangga.
“Sebentar ayah, aku harus mencari Rani.”
Itu hanyalah sebuah alasan, Evan sebenarnya sangat malas duduk di sana. Ia melangkah menuju kolam, menemui Rani di sana.
“Lupakan soal Evan, bagaimana persiapan hari ini?” ujar Lian setelah meletakkan minuman kembali ke atas meja.
“Sejauh yang kau lihat, “ ujar Ridwan.
Mata Lian sedikit melirik ke seluruh ruangan, lalu mengangguk kecil kembali menatap kedua pasangan dihadapannya.
“Al, aku perlu bicara denganmu!”
__ADS_1
Tak mau menunggu lagi jawaban dari adiknya, Rani langsung menarik tangan adiknya ketika sudah berada di belakang pria itu.
“Di sini saja Rani, “ ujar Diandra.
Sama sekali tidak memperdulikan perkataan wanita itu, Rani menarik tangan Alvian mencapai ambang pintu.
“Apa kau sudah tidak waras? Aku akan pergi dari sini, jika kau menikahi Roseta!” ujar Rani berapi-api.
Evan mengusap kasar wajahnya, mendekati istrinya dan juga Alvian. Alvian sedikit menatap Evan, lalu tersenyum kepada keduanya.
“Benarkah?”
Rani meluncurkan pukulan kecil pada lengan Alvian, Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran adiknya itu.
“Aku serius Al, “ kesal Rani.
“Kau akan mengetahuinya sebentar lagi, “ ujar Alvian, menarik Rani masuk kedalam pelukannya.
Alvian melepaskan pelukannya pada Rani, menepuk pelan pundak Evan lalu berjalan kembali kearah Lian.
“Ayok, kita juga harus mengikuti rapat persiapan itu, “ Evan sedikit terkekeh, dengan perkataan yang dilontarkannya sendiri.
Rani sama sekali tidak bersemangat, Ia duduk di sebelah Diandra tanpa menampilkan sedikit ekspresi senang.
“Apa persiapannya sampai tiga hari?”
Akhirnya, Aalvian mengeluarkan suara yang sedari tadi di tunggu oleh ketika manusia itu. Diandra tersenyum, mengangguk mengiyakan perkataan Alvian.
“Iya, H-1 itu tidak akan ada yang bekerja lagi, “ jelas Ridwan.
Alvian sedikit tersenyum, mengangkat jarinya. Saat itu juga, beberapa pelayan mansion Alvian, memasuki ruangan itu membuat penghuni ruang tamu kebingungan.
Baik Victor maupun David, mereka juga melangkah masuk kedalam ruang tamu di susul Bram, lalu Tiara terakhir.
“Semuanya sudah siap, “ ujar David.
Bersamaan dengan berakhirnya Kalimat David, seorang gadis memasuki ruangan itu membuat Rani dan juga Evan menampilkan senyuman keduanya.
“Victor, aku malas berlama-lama, kemana kekasihku yang gila itu?”
Gadis itu adala Nara, Ia melangkah mendekati Victor dan David, dengan berbagai macam ocehan yang keluar dari mulutnya. Nara menutup mulutnya, ketika seluruh mata dalam ruangan itu hanya tertuju padanya tanpa adanya suara.
“Hallo sayang, aku kembali.”
Seorang gadis memasuki ruang tamu, berjalan mendekati Alvian lalu bergelayut manja di sana. Victor mengusap kasar wajahnya, mendekati Nara.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹
__ADS_1