
Setibanya di rumahnya, Alvian yang menggandeng tangan Nara di sambut Pak Very dan beberapa orang karyawan lainnya. Ketika Alvian melewati mereka, sontak saja kepala mereka tertunduk memberi hormat.
“Apa mereka tidak capek?”
Alvian menghentikan langkahnya, berbalik menatap pak Very. Sadar akan tatapan itu, Pak Very langsung mengisyaratkan agar anak buahnya mengangkat kepalanya.
Alvian kembali menarik tangan Nara, membawa gadisnya menuju kamarnya. Ketika keduanya sudah berada di sana, Alvian membaringkan tubuhnya di atas ranjang tak lupa menarik tangan Nara.
Al hasil, Nara terjatuh menubruk dada bidang Alvian. Nara yang sangat tidak nyaman akan posisi itu, hendak bangkit berdiri namun, dengan cepat Alvian menariknya keatas tubuhnya.
“Sangat kenyal, “ ujar Alvian dengan pandangan yang sudah berada pada dada Nara.
“Dasar me sum!”
Setelah melayangkan pikulannya pada lengan Alvian, Nara bangkit dari dada pria itu sedikit mendekati kursi.
Alvian hanya bisa terkekeh pasrah, berjalan mendekati kekasihnya dengan tatapan tak biasa.
“Aku mencintaimu, sayang, “ bisik Alvian tepat pada telinga Nara.
Bulu kuduk gadis itu terangkat, ketika Alvian dengan sengaja meniup-niup telinganya kecil. Nara mendorong tubuh Alvian, menjauhinya lalu berlari kearah pintu.
“Rebeka, close the door.”
Nara di buat terpaku melihat pintu itu tertutup sendiri, saat Kalimat yang diucapkan Alvian berakhir. Alvian yang melihat ekspresi wajah Nara, Menyandarkan kepalanya di atas sofa dengan tangan yang menepuk pahanya memanggil Nara.
“Kemarilah, “ ujarnya.
Nara mengikuti tangan Alvian mendekati pria itu namun, Ia duduk dipangkuan Alvian melainkan disamping prianya.
Kesal akan apa yang dilakukan Nara, Alvian dengan segera mengangkat tubuh Nara meletakkannya di atas pahanya.
“Al, aku mau turun.”
“Tetaplah seperti ini sayang, aku menyukainya.”
Bingung harus bagaimana? Nara akhirnya pasrah mengikuti kemauan Alvian yang sudah membenamkan wajahnya pada da danya.
“Kaka!” bentak Nara sebelum Alvian berbuat jauh.
Mendengar panggilan yang dirindukannya dari mulut Nara, Alvian menampilkan senyumannya mengecup singkat dua gundukan gadisnya dari balik baju. Yang tentu saja, langsung mendapat pukulan dari sang empunya.
“Menikahlah denganku.”
Nara menatap wajah Alvian, tersenyum kecil menanggapi perkataan pria itu. Jujur, Ia sangat ingin menjawab perkataan kekasihnya itu namun, keadaannya saat ini belum mengijinkannya.
“Akan ku tunggu hari itu, “ ujar Alvian yang paham, dengan maksud dari tatapan kekasihnya.
Sudah semakin tidak nyaman dengan posisinya saat ini, Nara bangkit dari pangkuan Alvian duduk disamping pria itu.
“Kenapa turun?”
Nara memutar bola matanya malas, memunggungi Alvian lalu memainkan ponselnya. Ah ralat, ponsel pemberian Alvaro waktu itu.
Alvian yang tidak mau tinggal diam, memeluk erat tubuh Nara dari belakang sembari menatap apa yang dilakukan gadis itu. Ia baru tersadar, bahwa ponsel itu bukalah miliknya.
__ADS_1
“Apa Alvaro yang memberikannya?” tanya Alvian.
Meskipun nada suaranya biasa saja namun, bagi Nara itu terdengar seperti sebuah ungkapan kesal Alvian. Ketika tidak mendapatkan jawaban dari kekasihnya, Alvian memasukan tangannya kedalam baju Nara.
Di sana, Ia mulai mengusap lembut perut rata Nara, perlahan naik keatas da da gadis itu. Nara dengan cepat, menjauhkan tangan Alvian.
“Maaf, ponselku rusak,” jujur Nara.
“Kenapa tidak memberitahukan hal ini kepadaku?” bisik Alvian dengan sedikit mengigit kuping Nara.
“Kau begitu dingin padaku.”
Tangan Alvain yang masih terhenti dalam baju Nara, kembali memulai aksinya menelusuri setiap inci gun dukan itu.
“Kak,”
Dengan penuh susah payah, Nara mencoba lepas dari pria itu namun sayangnya, tubuhnya malah menikmati setiap perlakuan Alvian.
“Bukan tanpa alasan aku melakukannya, “ ujar Alvian.
Nara sama sekali tidak fokus pada apa yang diucapkan Alvian, melihat hal itu Alvian tersenyum kecil membalikkan tubuh Nara menghadapnya.
“Buka matamu sayang!”
Wajah Nara seketika berubah menjadi tomat masak, ketika melihat Alvian dihadapannya tersenyum puas dengan ekspresi wajahnya yang seolah menikmati apa yang dilakukan Alvian.
“Ada ingin aku bicarakan denganmu Nara.”
Nara yang tadinya berpaling dari wajah Alvian, berbalik seketika saat mendengar perkataan Alvian yang terdengar begitu serius.
Nara yang bingung akan maksud kekasihnya itu, menatap bingung harus berbuat apa. Alvian mendekatkan wajahnya, hingga keduanya terkikis oleh jarak.
“Sayang, bibirmu menggodaku,” ujar Alvian sedikit mengeraskan suaranya.
Nara yang tadinya gugup, seketika membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan fro ntal Alvian tanpa rem.
“Apa kau gila?!” judes Nara.
Saat Ia hendak melangkah pergi lagi, dan lagi tangannya di cekal Alvian. Al hasil, Nara kembali terjatuh pada sofa tempatnya semula. Melihat Alvian yang memainkan matanya dengan tatapan sekilas mengarah ke ponselnya, Nara mengangguk paham.
“Sayang, kenapa wajahmu memerah, “ ujar Alvian lagi, dengan suara dibuat-buat.
Nara sedikit berdengus kesal, ketika Alvian menatapnya tajam. Dengan helaan nafas berat, gadis itu mendekatinya.
“Bagaimana tidak memerah, kau dari tadi terus menggodaku.”
Alvian hampir meloloskan tawanya, ketika ucapan Nara terdengar seperti sebuah ancaman bukan rayuan romantis.
“Akh Nara, kau membangunkannya.”
Nara menganga lebar melihat tingkah gila kekasihnya, Ia menyeruput habis minuman yang berada dihadapannya. Entahlah saat ini, Ia harus marah tertawa atau bersikap seperti apa? Ia sendiri juga bingung. Ditambah lagi, ekspresi wajah Alvian begitu sangat menyebalkan baginya.
Alvian yang gemas akan sikap Nara, menarik gadisnya masuk kedalam pelukannya lagi. Merasa pengap dalam dekapan Alvian, Nara melepaskan pelukan itu.
“Sedikit lagi sayang, “ bisik Alvian.
__ADS_1
Tangan Alvian yang tadinya berada pada pundak Nara, turun menelusuri paha gadis itu. Ia sengaja melakukan hal itu, agar gadisnya mengeluarkan kata-kata yang membuatnya terpancing.
“Akh, Al lepaskan, “ Des ah Nara, ketika tangan Alvian mengusap-usap pahanya.
“Alvian!” ucap Nara merapatkan giginya kesal.
Setelah ponsel Nara benar-benar tidak hidup lagi, Alvian melepaskan tangannya mengambil ponsel itu.
“Maafkan aku sayang, ada penyadap dalam ponsel ini.”
Mendengar penuturan Alvian, Nara terkejut hebat menutup mulutnya. Ia pikir, Alvian sengaja melakukan hal itu padanya.
“A-aku benar-benar tidak tau, “ ujarnya menyesal.
Alvian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum manis membalas tatapan Nara, “itu bukan salahmu.”
“Ingat, kau harus mengawasinya ketika kalian bersama, Paham!”
Mendapat anggukan patuh dari kekasihnya, Alvian mengusap lembut surai panjang Nara. Ia bangkit dari duduknya, berjalan kearah nakas memasukkan ponsel itu lalu kembali mendekati Nara.
“Pakai ini.”
Alvian menyodorkan sebuah kotak ponsel mahal ke tangan Nara, dengan senyuman terukir di bibirnya Nara menerima benda itu.
“Makasih, “ ujarnya, ketika Alvian mengecup singkat keningnya.
“Besok jangan telat, ada meeting di kantor, “ ujar Alvian memperingati Nara.
Baru saja kebahagiaan tercetak pada bibirnya, Nara harus kembali berdengus kesal dengan perkataan Alvian yang begitu menyebalkan.
...****************...
di sebuah perumahan mewah,
Saat ini, seorang gadis yang sedari menyadap pembicaraan Nara dan Alvian, menjadi kesal ketika mendengar de Sahan yang dilontarkan Nara.
“DASAR JA LANG!” teriaknya menggema, sembari membuang seluruh barang yang berada dalam kamarnya.
Matanya berapi-api, memancarkan api kecemburuan yang begitu besar diliputi amarah menggebu-gebu dalam dirinya.
“Kerjakan tugasmu!” pintahnya dari balik telepon.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚
__ADS_1