
Nara membuka matanya perlahan, melihat kesekelilingnya dan mendapati Alvian tengah menggenggam erat tangannya sembari menatapnya.
"Aku dimana? "
Alvian tak menanggapi perkataan Nara, Ia masih setia menatap lekat wajah kekasihnya tanpa ekspresi.
"Permisi tuan, ini bubur yang anda minta. "
Alvian menunjuk ke arah nakas. Mbok Ina mengangguk, lalu meletakkan bubur ayam yang baru di buatnya ke atas sana.
"Ada lagi tuan? "
"Tidak Mbok. "
Mbok Ina melangkah pergi, meninggalkan kedua insan yang sepertinya tengah dalam pertengkaran.
"Astaga ini sudah tengah malam! aku harus pulang, " ujar Nara.
Gadis itu bangkit dari tempat tidur, hendak berjalan.
Namun, dengan cepat Alvian menariknya hingga terjatuh di atas pangkuannya.
"Mau kemana kamu? " bisik Alvian.
"I-itu-
Belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, Alvian sudah terlebih dahulu menempelkan bibirnya pada bibir Nara.
"hmm. "
Nara memukul lengan Alvian saat dirinya sudah kehabisan pasokan udara. Alvian melepaskan pangutannya, mengusap pelan bibir Nara.
"Kenapa bisa sampai pingsan? hmmm, " tanya Alvian dengan selembut mungkin.
Ingatan dalam kepala Nara seketika terputar kembali, saat kejadian Alvian membuang laporannya.
"Nggak sadar diri, " umpat Nara yang masih terdengar oleh Alvian.
Alvian tersenyum kecil, memasukan tangannya kebalik baju Nara. Dengan cepat, Nara mendorong tubuh Alvian lalu turun dari pangkuan pria itu.
"Ada apa? "
Nara tak menjawab pertanyaan Alvian, Ia memilih pergi menuju balkon.
Alvian terkekeh pelan, melangkah mendekati Nara lalu memeluknya dari belakang.
"Maafkan saya, saya tidak bermaksud marah. tapi melihat kekasih saya bersama pria lain yang merupakan mantannya, membuat saya susah mengontrol amarah, " jelas Alvian sembari meletakkan kepalanya di atas bahu Nara.
Tak hanya memeluk saja, pria itu justru menghirup dalam-dalam aroma leher jenjang Nara.
Nara melepaskan pelukan Alvian, berbalik menatap wajah pria di hadapannya.
"Jadi Kamu lihat, aku sama Gino di taman? " ujarnya.
Alvian menempelkan jarinya tepat di bibir Nara, dengan sedikit mengusap gumpalan daging kenyal itu.
"Jangan menyebut nama pria lain ketika bersamaku, " ujarnya.
Nara yang tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap Alvian tanpa suara.
"Jangan tinggalkan aku sayang, " ujar Alvian menarik Nara masuk kedalam pelukannya.
"Bagaimana jika kamu yang pergi? "
Pertanyaan yang keluar dari mulut Nara, membuat Alvian melepaskan pelukannya lalu menatap lekat kedalam wajah manisnya.
"Jika aku yang pergi, semua milikku akan ku alihkan atas namamu. "
Nara terbelak kaget mendengar apa yang di katakan Alvian.
"Aku bukan istrimu, jangan seperti itu. "
Alvian memegang kedua pipi Nara, mengecup singkat kening gadisnya.
"Maukah kau menikah denganku? "
"Hmm, aku pikir-pikir dulu deh, " ujar Nara dengan sedikit tawa di ujung Kalimatnya.
Alvian mengeluarkan sebuah kalung dari kantongnya, mengenakan pada leher Nara.
"Itu menjadi tanda jika kau hanya milik seorang Alviano Jovanka, " ujar Alvian.
Nara menyentuh liontin perak yang berbalut berlian, lalu melepaskannya.
"Kenapa di buka? "
Alvian bingung dengan apa di lakukan Nara, Ia tak menyangka hal itu akan terjadi.
__ADS_1
"Ini sangat mahal, apa kamu nggak takut aku menjualnya. "
Gelak tawa keluar dari mulut Alvian. bisa-bisanya wanitanya itu berpikir seperti itu.
Alvian memasang kembali kalung itu pada leher Nara, lalu mengeluarkan sebuah black card.
"Ambil kartu ini, dan jangan pergi dariku. "
Nara seolah bungkam seribu bahasa, melihat kartu langkah itu di berikan kepadanya.
"Nggak mau ah! "
mendapat penolakan dari Nara, membuat hati Alvian sakit seketika.
"Apa ini kurang? "
"Pertanyaan bodoh macam apa ini?! " Nara membatin.
"Lupakan soal itu, aku lapar mau makan. "
Nara menyelonong begitu saja, masuk kembali ke kamar.
Matanya seketika tertuju pada bubur ayam yang sedari tadi terlantar.
"Makan dulu ah, " ujar Nara.
Ia mengambil mangkok kecil itu, lalu memasukkan sesendok bubur dalam mulutnya.
"Apa ini yang dinamakan makan? "
Sejak siang tadi, perutnya benar-benar kosong. Dan yang patut bertanggung jawab atas semua ini adalah Pria yang tengah berjalan mendekatinya.
"Apa lihat lihat?! " judes Nara seketika.
"Ada apa denganmu? "
Bingung harus mengatakan apa sebab Alvian mendekatinya, Nara memilih memasukkan makanan dalam mulutnya sembari menatap sinis pria yang sudah di sampingnya.
"Jangan dekat-dekat deh! " usir Nara.
Alvian menganga tak percaya dengan sikap Nara yang berubah dalam waktu dua menit saja.
"Kenapa hmm? "
Nara yang sudah menyelesaikan makanya, tak menjawab pertanyaan Alvian. Ia meletakkan bekas makannya di atas tangan Alvian.
"Mbo-
belum sempat Alvian menyelesaikan perkataannya, dengan cepat Nara menutup mulutnya.
"Kamu yang bawa, bukan Mbok Ina! " ujar Nara ketus.
Alvian terbelak kaget mendengar permintaan Nara.
"Tapi sayang, "
Nara seketika meneteskan air matanya mendengar penolakan dari Alvian.
"Hiks hiks, kak Alvian emang nggak sayang sama aku. "
"Tidak seperti itu sayang, baiklah akan ku bawa ke dapur. "
Alvian bangkit dari duduknya, berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah tepatnya ke arah dapur.
"Emang enak, " ujar Nara melihat punggung Alvian yang sudah jauh.
"Novita! terima ini, " ujar Alvian sedikit teriakan memanggil asisten rumah tangga.
Seorang gadis menghampirinya, lalu mengambil bekas makan Nara membawa ke tempat pencucian piring.
David yang kebetulan hendak ke dapur mencari kopi, mendekati Alvian yang tengah berada di sana.
"Butuh sesuatu tuan? "
Alvian berbalik menatap David, dan berjalan menuju meja makan.
"Tidak! " jawabnya singkat.
"Da- loh tuan muda, kenapa disini? " Victor yang juga hendak menghampiri David, terkejut melihat Alvian yang berada dalam dapur.
"Berhentilah bertanya atau kalian berdua saya pecat! " kesal Alvian.
"Chagia kok lama sih, aku kan mau minta tolong lagi nih. "
Suara Nara bergema hingga dirinya mencapai dapur, Ia di tatap oleh ketiga pria yang berada di sana.
David dan juga Victor yang baru mengerti mengapa Alvian berada di dapur, menahan tawa keduanya.
__ADS_1
"Mau apa sayang? "
"Nggak jadi, kamu lama! " judes Nara.
Alvian mengusap wajahnya kasar, lalu mendekati Nara yang sudah berada di depan kulkas.
"Mbak, ada ice cream nggak? "
Novita yang di tanyai seperti itu tak langsung menjawab, malah berbalik menatap Alvian meminta persetujuan.
"Ih yang makan itu aku bukan dia! " teriak Nara kesal.
"Ada nggak mbak? " tanya Nara lagi.
Namun, Novita tetap tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu persetujuan dari Alvian.
setelah mendapat persetujuan dari Alvian yang menganggukan kepalanya, Novita membuka pintu lemari es mengambil sebungkus ice cream.
"Makasih, Chagi gomawo. "
Nara menyelonong keluar dapur, sembari membawa Ice cream di tangannya menuju kamar Alvian.
"David, Victor apa yang dikatakannya tadi? " tanya Alvian.
kedua asisten Alvian tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku kedua pasangan itu.
"Berhentilah menertawakan ku, " ujar Alvian.
"Itu bahasa Korea tuan, " jawab David, setelah berhasil menetralkan gelak tawanya.
"Ya saya tau, tapi apa artinya?! "
"Chagia artinya sayang, " jelas Victor.
Alvian seketika menarik senyuman di sudut bibirnya.
"Lalu kata yang satunya lagi? "
"Gomawo artinya terima kasih dalam pengucapan non formal. "
"Kenapa harus terima kasih?! "
Victor dan juga David saling bertatapan dan mengarahkan mata keduanya kembali menatap Alvian.
"Jadi apa mau anda tuan muda? "
Alvian merubah ekspresi wajahnya seketika, dan berlari mengikuti Nara dalam kamarnya.
"Apa kau lihat tingkahnya David? "
"Yah, seperti ABG yang baru kasmaran. "
Pandangan keduanya tidak beralih dari langkah Alvian, sampai pria itu menghilang dari pandangan keduanya.
"Permisi tuan, butuh kopi? "
pertanyaan dari Novita, mengalihkan pandangan kedua pria itu.
"Ah iya, bawakan ke ruang televisi. "
Victor melangkah melangkah pergi, meninggalkan dapur.
David yang hendak melangkah meraih gelas, tak sengaja menyenggol Novita membuatnya jatuh.
"Maafkan saya, kamu nggak apa-apa? "
David dengan sigap membantu Novita bangkit berdiri.
"Kamu nggak apa-apa? " tanya David lagi.
Novita menggelengkan kepalanya, lalu kembali dengan urusannya membuat kopi.
David dengan segera menuang air ke dalam gelas, meneguk habis tanpa sisa dan segera pergi dari area dapur.
"Sayang, " ujar Alvian mendekati ranjang.
Langkahnya terhenti saat berada di bibir ranjang, mendapati Nara yang sudah terlelap dengan Ice cream yang belum di buka.
"Aku mencintaimu. "
Alvian menyingkirkan ice cream itu dari Nara, lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuh kekasihnya. Setelah meninggalkan kecupan hangat pada kening gadisnya, Ia berjalan menuju ruang kerja yang terhubung dengan kamarnya.
.
.
.
__ADS_1
Makasih yang sudah setia sama cerita ini love you 🌹