
Setelah seluruh atasan, Manager, dan juga setiap kepala Devisi berkumpul, Alvian melangkah masuk dengan di temani David.
Sedangkan Victor, sudah sedari tadi berada dalam ruang meeting.
Suasana meeting yang tadinya biasa saja, di saat kaki Alvian menginjak kedalam suasananya berubah mencekam.
"Mulai presentasinya. "
Meskipun Alvian berucap dengan nada yang biasa saja namun, bagi para pendengarnya itu seperti mematikan.
Tanpa menunggu lama, Aldo yang merupakan manager di perusahaan itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke depan dan mulai mempresentasikan hasil kerjanya.
Di menit awal, Alvian masih menampilkan senyuman. Menit berikutnya, wajahnya sudah tidak berekspresi lagi.
Hingga sampai pada puncaknya, Alvian melonggarkan dasinya menarik nafasnya panjang.
Semua yang berada dalam ruangan itu, tidak berani berbalik sedikit pun di saat Alvian bangkit dari duduknya.
"Cukup Aldi! "
Seolah mendapat panggilan dari malaikat kematian, Aldi menelan kasar ludahnya.
Tak ingin Aldi mendapatkan masalah, dengan cepat Victor menyuruhnya duduk.
"Laporan macam apa ini! " bentak Alvian saat membaca laporan dari Devisi marketing.
Semuanya bingung, bukannya tadi yang di presentasikan hasil rekapan seluruh data karyawan, lalu kenapa laporan devisi marketing yang di cela?
"Ini juga, Laporan keuangan ini banyak coretannya ada apa ini?! "
Takut, hanya kata itulah yang saat ini bisa mengekspresikan perasaan setiap orang yang berada dalam ruang meeting itu.
Victor yang tidak tau apa yang menyebabkan Alvian meraung seperti itu, mendekati David.
"Ada apa? "
David memijat pelipisnya kasar, lalu mengambil nafas sebanyak mungkin.
"Apa yang selama ini kalian kerjakan?! membuat laporan sederhana saja tidak bisa, kalian pikir saya menggaji kalian pake daun hah! "
"Nadia jelaskan kenapa ini bisa kotor seperti ini. "
Nadia yang merupakan kepala Devisi keuangan, menelan salivanya kasar mengambil laporannya dari hadapan Alvian.
"I-itu-
"Revisi dalam waktu lima menit, lalu bawa ke Victor! " bentak Alvian membuat gadis itu tidak berani bergerak dari tempatnya berdiri.
"Meri, jelaskan maksud dari laporan sampah ini. "
Alvian mengambil laporan itu, menghamburkan ke lantai.
"Maaf Tuan, laporan itu di kerjakan oleh Nona Nara, " jelasnya.
"Apa kau tidak bisa mengerjakannya, sampai harus menyerahkan kepada karyawan yang baru beberapa Minggu di sini, Hah! "
Meri Seketika menundukkan kepalanya, lalu sedikit melirik ke arah David dan Victor.
Saat itu, Nara hendak menuju kantin tak sengaja mendengar suara Alvian dari dalam.
Dadanya panas, ketika mendengar perkataan Alvian yang menyebutnya karyawan baru.
Ya memang benar sih, tapikan Nara kekasihnya.
Dengan penuh kekesalan dan amarah, Nara menyelonong masuk ke dalam ruang rapat.
Seluruh mata tertuju padanya, begitu juga Alvian yang memasang wajah tanpa ekspresi.
"Sekarang aku mengerti David, " ujar Victor sepelan mungkin.
"Selamatkan kami Nona muda, " gumam David pelan namun, masih terdengar oleh Victor yang jarak keduanya begitu sangat dekat.
"Ada yang salah dengan laporannya Tuan, " ujar Nara menekan kata Tuan.
__ADS_1
"Meri bawa anggota mu keluar! " ujar Alvian dingin.
Karena sama sekali tidak ada pergerakan dari Meri, Alvian menatapnya tajam.
"Ayo Na-
Belum sempat Meri menyelesaikan kalimatnya, Nara sudah lebih dahulu mencegahnya bicara.
"Sangat tidak profesional. "
Nara menunduk ke lantai memungut laporan yang sudah payah di buatnya, lalu berjalan keluar.
Ia menghentikan langkahnya, berbalik menatap Victor dan juga David.
"Seperti neraka, " ujarnya sesaat, lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
Victor menahan tawanya, sedangkan David tersenyum paksa.
"Kembali bekerja, " ujar Alvian.
Semuanya menarik nafas lega, lalu mengambil barang mereka masing-masing.
"Jangan lupa sore nanti evaluasi, " tambah Alvian lagi.
Semuanya kembali berdecak kesal, sekaligus khawatir dengan apa yang akan terjadi sore nanti.
"Kalau tidak suka, bisa antar surat pengunduran diri ke meja saya! " bentak Alvian.
Suasana yang tadinya riuh, berubah senyap dalam beberapa detik saja.
Alvian bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan ruangan itu di diikuti oleh kedua asistennya.
Nara kembali ke mejanya, Ia melupakan makan siangnya. dan mulai membongkar kembali laporan yang di buang Alvian tadi, lalu mulai memperbaiki semuanya.
"Kamu nggak makan Nar? "
Sendri yang baru saja kembali dari kantin, menghampiri Nara dengan membawa segelas teh.
"Lagi sibuk. "
"Sayang kamu nggak makan? "
Kata kata yang sama kembali terdengar di telinga Nara Namun, kali ini di ucapkan oleh Meri.
"Lagi sibuk, " jawabannya.
"Kamu nggak ma-
"Lagi sibuk! " ketus Nara saat Ana dan Ria hendak menanyakan hal yang sama.
Nara yang sudah hampir dua jam tidak bangun dari kursi, membuat kepalanya seketika berputar hebat.
"Fighting Nara, sedikit lagi, " gumamnya menyemangati dirinya.
Tak lama kemudian, jarum jam menunjukkan pukul empat pas tidak lebih, dan tidak kurang.
"Ayok Nar, ke Aula. "
Nara hanya mengangguk mengiyakan perkataan Sendri, lalu mengambil laporan yang baru di perbaikinya menuju Aula tempat di adakan Evaluasi.
Seluruh karyawan tidak termasuk obe dan security, sudah memenuhi aula.
Nara melangkah mendekati Meri, Ana, Ria dan juga Sendri dengan sesekali memijat pelipisnya.
"Are you okey? " tanya Meri.
Nara tersenyum kecil, mengangguk mengiyakan pertanyaan Meri.
Ia melirik ke sana kemari, mencari keberadaan David ataupun Victor.
Dan yah, keberuntungan berpihak padanya. Victor saat ini tengah terlihat berjalan ke arahnya.
Dengan gerakan cepat, Nara memegang tangan Victor, membuat pria itu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ada apa Nona? Anda baik-baik saja? "
Pertanyaan beruntun dari Victor, membuatnya semakin pusing.
"Kapan akan di mulai? "
"Sedikit lagi, " kata Victor.
Nara mengangguk paham, lalu melepaskan tangan pria itu.
Victor yang sadar akan kondisi Nara, memilih berdiri di samping gadis itu.
Saat itu juga, Alvian bersama David melangkah masuk kedalam Aula.
Suasana yang tadinya riuh akan desas desus para karyawan, seketika berubah tenang seperti tak ada yang manusia dalam ruangan itu.
"Ayok mulai Evaluasinya, kita mulai dari Devisi Keuangan, " ujar Alvian.
"Dalam minggu ini keuangan perusahaan Jovanka, meningkatkan drastis dari minggu-minggu yang lalu, " jelas Nadia.
Alvian mengangguk, matanya yang tak luput dari Nara yang tengah memijat pelipisnya, menjadi sedikit khawatir.
"Bagian media bagaimana? "
"Dari kami, semuanya stabil hanya terkait iklan dengan program tv x masih dalam penanganan, untuk tahap lebih lanjut, " jelas Fano.
"Segera selesaikan, " ujar Alvian.
"Victor bagaimana dengan kondisi perkembangan proyek dengan perusahaan Ivan? "
Victor yang hendak melangkah mendekati Alvian, seketika terhenti di samping Nara saat gadis itu memegang tangannya.
"Victor! " bentak Alvian.
Semua yang berada dalam ruangan itu, menunduk tak berani menatap ke arah depan.
"Maaf Tuan, proyek dengan Pak Ivan sudah dalam proses finishing, dua tiga hari lagi selesai, " jelas Victor.
"Bagaimana dengan devisi marketing? "
Meri yang hendak bangkit berdiri, di tahan Nara. Gadis itu bangkit dari duduknya, berdiri di samping Victor.
Matanya terlihat kunang-kunang, Nara terus menggelengkan kepalanya mencoba tetap fokus.
"Nona anda baik-baik saja? "
Nara tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan Victor.
"DEVISI MARKETING! " teriak Alvian, saat Nara tak kunjung membuka suara.
"Maaf tuan mu-
Bruk
"Nona muda! "
belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, rasa pusing yang Ia rasakan di kepalanya melanda. membuatnya seketika terjatuh pingsan.
"Sial! " umpat Alvian yang langsung berlari ke arah Nara.
Tanpa menunggu aba aba, dengan segera Alvian menggendong tubuh Nara meninggalkan ruangan itu, yang pastinya dengan beribu tatapan mata.
"Kok bisa tuan muda menggendong karyawan baru? " ujar seorang karyawan di sana.
"Iya, ada hubungan apa mereka? " tambah yang lainnya.
"Diam! jika ada yang berani bergosip, akan di pastikan kalian di pecat! " ujar David dengan tegas.
.
.
.
__ADS_1
Makasih yang sudah mampir,
yuk like, komen, beri kritik biar aku tau mana yang kurang 🌹