
Nara yang tengah sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan di pakainya besok, terlihat begitu sangat sibuk hingga Tina harus menyuapinya makan.
“Ma, mana buku Rian? “ ujar Rian sibuk sendiri dengan buku-bukunya sebab besok hari pertamanya ujian akhir sekolah.
Tak lama kemudian, Firman yang baru kembali dari tempat kerjanya ikut bergabung bersama mereka.
...***...
Pagi ini mentari kurang semangat menampilkan sinarnya. Namun, hal itu sama sekali tak membuat semangat Nara pudar.
Nara mengambil kuas makeup memoles blus pada pipinya, setelah itu mengambil lipstik dan mulai memoles bibir indahnya.
“Maafkan ayah tidak bisa membawamu ke salon, “ ujar Firman memegang kedua pundak putrinya.
“Tidak apa-apa Ayah, “ ujar Nara mengusap tangan ayahnya.
Tina yang sedari tadi memperhatikan keduanya berusaha menahan tangisnya, putrinya hari ini akan wisuda, dirinya sama sekali tak mempunyai sepeserpun.
“Ayolah kau akan telat Nara, “ ujar Tina mencoba kuat.
segera Nara meletakkan alat makeup, lalu berjalan mengambil toganya.
Dengan di bonceng Firman, Nara menuju kampusnya. Sedangkan Tina, masih harus menunggu Rian selesai bersiap.
“Nanti setelah Nara wisuda, Nara bakal cari kerja biar kalau Rian mau wisuda kita sekeluarga naik mobil itu, “ ujar Nara sembari menunjuk sebuah Alphard putih yang lewat.
Firman sedikit terkekeh mendengar impian putrinya, Ia merasa bersyukur memiliki putra putri yang begitu mengerti dengan keadaannya.
“Tapi ayah maunya warna Merah, biar ketika kita lewat mata seluruh orang hanya tertuju pada kita, “ ujar Firman.
“ Ayah Awas! “
Bruk
Nara terlempar jauh dari Firman, ketika sedang asik berkhayal sebuah truk menabrak keduanya. Nara yang masih bisa berdiri, berlari dengan pincang menuju ayahnya yang terkapar tak berdaya.
“Tolong! “
Seluruh warga datang berbondong-bondong menyaksikan korban yang terkapar tak berdaya itu.
“Telpon ambulance, “ ujar seorang warga.
“Ayah, ayah Nara mohon sadarlah, “ ujar Nara mengambil kepala Firman dan meletakkannya di pahanya.
“Na-ra, Ka- kamu ha-harus ke kampus, “ ujar Firman dengan nafas terengah-engah.
Nara menggelengkan kepalanya lalu membuka toganya, “Nggak, Nara maunya sama ayah! “ tangisnya histeris.
“Cepat Nak, “ pintah Firman.
Tangis Nara semakin menjadi-jadi ketika Firman sudah tidak membuka matanya lagi, tubuh Nara saat ini di banjiri oleh da rah seger Firman.
__ADS_1
Alvian dan David yang saat ini tengah melaju menuju kampus Nara, seketika berhenti saat terjadi macet di depan.
“Ada apa pak? “ tanya David pada seorang pengemudi.
“Ada kecelakaan di depan, “ jawab pengemudi tersebut.
David kembali kedalam mobil, Alvian menarik nafasnya dan terus menatap jam yang terlilit di tangannya.
“David kita putar balik, “ pintah Alvian.
Dengan segera David memutar balik menghindari kemacetan itu. Tak lama setelah kepergian Alvian, ambulance pun datang mengevakuasi Korban yang tak lain adalah Firman dan juga Nara.
“Aku mohon ayah sadarlah, “ ujar Nara menggenggam erat tangan Firman saat sudah berada dalam Ambulance yang membawa mereka menuju rumah sakit citra permata.
Setibanya di sana, Firman langsung di bawa kedalam UGD. Namun, belum di tangani membuat Nara kebingungan.
“Kenapa belum di tangani? “ ujar Nara bertanya.
“Maaf anda harus membayar Dpnya Terlebih dahulu baru bisa di tangani, “ujar perawat itu.
Dengan kesal, Nara melepaskan anting-anting serta kalung pemberian Tina lalu menyimpannya di depan perawat itu.
“Jika dalam waktu dua menit belum ada yang menangani ayahku, akan aku hancurkan rumah sakit ini, “ ujar Nara sesaat sebelum melangkah pergi.
Dan yah, dalam waktu dua menit berselang, beberapa orang dokter berlari menuju UGD menangani Firman. Sembari menunggu Firman di tangani, Nara mengirimkan pesan kepada Tina.
Tina dan juga Rian yang sudah bersiap ingin berangkat, menghentikan langkahnya saat ponselnya berbunyi.
“Ada apa ma? “ tanya Rian yang kebingungan.
“Cepat ke rumah sakit, Ayah dan Nara kecelakaan, “ ujar Tina dengan paniknya.
Rian membuang tasnya kedalam rumah, lalu menaiki motornya di ikuti Tina dan menuju rumah sakit.
...***...
Alvian dan David yang baru tiba di kampus, di arahkan menuju aula dimana kegiatan wisuda di langsungkan.
Matanya terus menyapu sekitar aula mencari dimana Nara duduk namun, tak menemukan gadis itu.
Marni dan Bianca yang juga Sedari tadi belum menemukan keberadaan Nara, terus berusaha menghubunginya namun, nihil tak di jawab.
“Bagaimana Ian menjawab? “ tanya Marni kepada Bianca yang mencoba menelpon Rian.
Bianca menggelengkan kepalanya, “Tanta Tina juga nggak jawab, “
“Nara kok bisa-bisanya telat sih, kan nggak lucu, “ kesal Marni yang terus menghubungi nomor Nara meskipun tak di jawab.
Alvian yang kesal tak menemukan Nara, mengambil ponselnya menghubungi gadisnya itu. Namun, hasilnya sama seperti Marni dan Bianca panggilannya tak di jawab Nara.
“Kemana dia? “ gumam Alvian.
__ADS_1
“Bagaimana kau menemukannya? “tanya Alvian saat David menghampirinya.
David hanya menggelengkan kepalanya, Ia sudah menyusuri seluruh penjuru kampus tapi sama sekali tidak menemukan keberadaan Nara.
Kembali ke rumah sakit, Nara menundukkan kepalanya sembari terus terisak melihat ayahnya yang tengah di tangani.
“Mbak lukanya di jahit dulu yah, “ ujar seorang perawat menghampirinya, saat melihat lengan Nara yang berdarah.
“Sudah aku katakan berapa kali Sus, saya tidak mau, “ ujar Nara menolak.
Perawat tersebut menarik nafasnya panjang lalu kembali meninggalkan Nara sendiri di sana.
“Nara! “ teriak Tina yang baru saja tiba menghampiri Nara.
“Ayah! “ tangis Rian pecah ketika melihat ayahnya dari balik kaca.
“Nara kenapa kalian bisa begini, hiks, “ ujar Rian dengan air mata yang terus mengalir menghampiri Nara dan memeluk erat tubuh kakanya.
“A-Aku, “ belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, air matanya seketika terjatuh begitu saja.
Tina hanya bisa menangis tanpa mengatakan apa-apa, sembari terus menatap kedalam UGD.
“Kau harus ke kampus, “ ujar Tina yang baru menyadari hari ini putrinya akan wisuda.
“Tidak! Nara mau disini ma, “ tegas Nara.
“Tidak kak, kau harus pergi. Kau tau kan, ayah akan marah jika dia melihat mu tidak memegang ijazah, “ ujar Rian ikut menyuruh Nara pergi.
Nara menggelengkan kepalanya mempertahankan pendirian, untuk tetap berada di rumah sakit sampai ayahnya sadar.
“Aku ingin tetap disini ma, “ ujarnya sembari menahan tangisnya.
“Nara! “ bentak Tina yang tak kuasa dengan semuanya.
“Apa kau akan seperti ini, sana pergilah. Ketika kau kembali ayahmu sudah sadar
sayang, “ bujuk Tina dengan nada tingginya.
“Baiklah, tapi jika ayah sadar tolong hubungi aku, “ ujarnya.
Nara mencium puncak kepala Rian, lalu mencium punggung tangan Tina berjalan sebentar mengintip Firman.
Ia kemudian berjalan meninggalkan rumah sakit menuju kampus dengan menggunakan pakaian berlumuran darah, serta lengan yang terluka, serta toga yang sudah sobek akibat kejadian tadi.
.
.
.
Berkomentar Dengan Bijak
__ADS_1
makasih sudah mampir