Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
72 Roti Bialy


__ADS_3

Nara yang semalam ingin kembali, ketika di takut-takuti Alvian akhirnya Ia memilih menginap di rumah pria itu.


Kakinya melangkah menuju dapur, mendapati Novita tengah sibuk membuat sarapan di sana bersama beberapa pelayan.


“Anda butuh sesuatu Nona?”


Suara Novita melengking, ketika melihat sosok Nara sudah hampi mencapai dapur. Nara hanya menggelengkan kepalanya, sembari menatap mereka yang tengah sibuk memasak.


“Nona muda, anda perlu sesuatu?”


Buk Ina yang baru saja datang, melihat keberadaan Nara di meja makan mendekati gadis itu sembari tersenyum.


Lagi, dan lagi Nara hanya menggelengkan kepalanya, tak menginginkan sesuatu. Dirinya hanya ingin duduk saja di sana.


“Anda sepertinya sangat bahagia Nona?!”


Mendengar penuturan Buk Ina, Nara sedikit tersenyum manis kepadanya. Ia yang tadinya duduk sedikit jauh dari Buk Ina, berpindah posisi mendekati wanita itu yang tengah sibuk membuat adonan.


“Apa yang ingin kalian masak?”


Sama sekali tidak menjawab sedikit pun pertanyaan Buk Ina, Nara berbalik bertanya dengan mata berbinar-binar.


“Kami membuat roti Bialy, “ ujar buk Ina.


“Bi, apa?”


“Bialy, “ jawab buk Ina memperjelas perkataannya.


Nara mengangguk antusias, melihat serangkaian tahap pembuatan roti itu dengan begitu telatennya.


“Ini, roti kesusksesan tuan muda. Jika pagi dia tidak memakan ini, seisi rumah akan sangat berisik dengan suaranya.”


“Benarkah?” ujar Nara memastikan.


Mbok Ina mengangguk cepat, kembali fokus pada pekerjaannya. Nara yang tidak tau harus berbuat apa, hanya bisa memperhatikan apa yang mereka lakukan.


“Mau mendengar cerita?”


“Mau, “


Bukan Nara yang menjawab, seluruh pelayan di sana begitu antusias ingin mendengarkan cerita buk Ina. Bukan tanpa alasan, setiap cerita yang keluar dari mulut Ina begitu sangat asik dalam pendengaran.


“Anda tau Nona, rumah ini seluruh keluarga Jovanka tidak ada yang tau, bahkan Nona Rani sekalipun. Awal kami bekerja di sini, atas permintaan ibunda tuan muda.”


Nara yang hanya bisa mendengar, tersenyum menanggapi setiap perkataan yang keluar dari mulut wanita itu menceritakan tentang Alvian.


“Dan Anda, Anda adalah satu-satunya wanita yang Ia bawa kesini, “ tambah buk Ina lagi.


Mendengar hal itu, Nara awalnya antusias menundukkan kepalanya tidak merespon perkataan buk Ina. Memorinya berputar pada beberapa hari yang lalu, dimana Alvian begitu dingin padanya.


“Anda baik-baik saja Nona?”


“Ah, iya lanjutkan ceritanya.”


Alvian yang baru membuka matanya, tidak mendapati Nara di atas ranjangnya. Yah, semalam Nara tidur di ranjangnya, Ia seperti biasa tidur di ruang kerjanya.

__ADS_1


Sembari menelusuri setiap inci ruang kamarnya, Alvian mendekati kamar mandi.


Dirinya juga tidak mendapati kekasihnya di sana. Alvian Melangkah keluar kamar, senyumannya terukir saat melihat sosok yang dicarinya sedang asik bercerita di dapur.


“Hahaha, benarkah mereka bertiga sahabat?”


Mendapat anggukan kepala dari Buk Ina, Nara semakin renyah tertawa membuat yang berada dalam dapur terpancing.


“Bahagia sekali, “ ujar Alvian mendekati Nara.


Suasana yang tadinya riuh akan tawa mereka, seketika terdiam tanpa suara ketika Alvian mendekati area dapur.


“Kenapa diam? Lanjutkan tawa kalian, “ ujar Alvian.


“Sudah garing kak,” jelas Nara.


Alvian tersenyum kecil, mendekatkan kursinya pada sisi berlawanan arah dengan Nara, memainkan ponselnya dengan tangan mengusap lembut pinggul Nara.


“Boleh aku bantu?”


Pertanyaan Nara yang secara tiba-tiba, membuat seluruh penghuni dapur menelan kasar salivanya menatap Alvian.


“Setelah itu, akan ku bunuh mereka semua.”


Nara menghela nafasnya panjang, memutar kursi sejajar dengan Alvian memperhatikan pria itu dari dekat. Sama sekali tidak ada ekspresi, Alvian hanya mendapat datar ponselnya.


“Orang-orang pada sibuk sendiri, “ sindir Nara.


Alvian menarik Nara masuk dalam pelukannya, dengan pandangan yang masih fokus pada ponselnya. Alvian mengarahkan ponselnya, kehadapan Nara memperhatikan apa yang sedang dilakukannya dengan benda pipih itu.


Nara yang awalnya tertarik dengan kegiatan Alvian, menjadi malas ketika pria itu membuka laporan devisinya.Tiba-tiba saja, David memasuki area dapur dengan sedikit tergesa-gesa menemui Alvian dan Nara di sana.


“Ada yang harus anda lihat.”


Nara melepaskan pelukan Alvian, membuat pria itu bangkit dari duduknya berjalan mendahului David menuju ruang keluarga. Bisa di lihat dari wajah keduanya, sepertinya ada yang begitu darurat.


Ketika David menunjukkan tabnya, Alvian yang awalnya tenang seketika risau saat pandangannya tak lepas dari benda itu.


“Apa kau tidak salah David?”


“Tidak tuan, apa mereka punya hubungan khusus?”


Menjawab pertanyaan Alvian dengan bertanya lagi, membuat David mendapat tatapan yang tidak menyenangkan dari pria itu.


“Dari mana kalian mendapatkan ini?”


“Ilone yang mengirimkan tuan, saya yakin kecelakaan waktu wisuda itu ada hubungannya dengan ini, “ ujar David berasumsi.


Alvian sama sekali tidak melepaskan matanya dari gambar itu, yang dimana dalam gambar tersebut terlihat seorang wanita, tengah tersenyum kepada sepasang suami istri yang begitu familiar dengan Alvian.


“Cari tau semuanya dalam dua hari!”


David mengangguk lalu menyalin soft file itu ke ponsel Alvian, setelahnya Ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah menyelesaikan urusannya bersama David, Alvian kembali menghampiri meja makan. Di sana, sudah tersaji beberapa hidangan yang dibuat pada karyawannya.

__ADS_1


“Ayok makan, “ ujarnya.


Ekspresi wajah Alvian berubah seratus delapan puluh derajat, ketika berhadapan dengan Nara. Tidak seperti awal bertemu David, kini senyuman terukir pada bibirnya.


Alvian mengambil sepotong roti, menyodorkan kearah Nara. Gadis itu membuka mulutnya, melahap roti tersebut.


“Wah, sangat enak, “ hebohnya.


Seisi dapur yang sudah bekerja keras, tersenyum bahagia di saat masakan mereka di puji dengan hebohnya oleh Nara.


...***...


Ridwan yang sudah hampir beberapa hari tidak melihat Alvian, menjadi geram dengan putranya itu. Ia berjalan menuju kamar Alvian, sama sekali tidak menemukan keberadaan pria itu.


Saat kakinya menuruni anak tangga, matanya langsung tertuju pada Bram yang baru saja hendak keluar bersama Alexo.


“Dimana Alvian?”


Dengan nada suara yang begitu tinggi, Ridwan menghampiri Bram. Saat itu juga, Alexa langsung mengeluarkan suaranya beriringan dengan teriakan Ridwan.


“Kecilkan suara ayah, putriku sedang tidur, “ ujar Evan dari ambang pintu kamarnya.


Dari semalam, Rani sama sekali tidak bisa tidur. Alexa yang terus saja rewel, membuatnya harus begadang semalaman.


“Maaf tuan, saya tidak tau kemana perginya tuan muda.”


“Apa kau mencoba menipuku?!”


Masih dengan intonasi yang sama, Ridwan melotot menatap Bram geram dengan sikap tidak jujur pria tersebut.


“Maaf tuan, saya benar-benar tidak tau.”


Setelah mengatakan itu, tanpa memperdulikan perkataan Ridwan selanjutnya, dengan menggandeng tangan Alexo, Bram melangkah keluar rumah.


“Evan! Kemana Alvian?!”


“Ada apa mencariku ayah?”


Sembari menggandeng tangan Nara, Alvian memasuki ruang tamu menemui Ridwan.


Melihat hal itu, Ridwan melangkah ingin melayangkan pukulannya pada Nara. Namun, dengan cepat Alvian menahan tangan Ridwan sedikit menghempaskan kasar. Saat itu juga, seluruh senjata dari Victor dan beberapa pelayan serta pengawal disana, mengarah tepat pada kening Ridwan.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚

__ADS_1


__ADS_2