Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
110 Kegilaan Roseta


__ADS_3

Nara yang sejak tadi hanya duduk dan berputar-putar pada kursi Alvian, langsung menghentikan kegiatannya saat ponselnya berbunyi.


“Hallo Rian, ada apa?” ujarnya.


Setelah mendengar apa yang di sampaikan Rian adiknya, tanpa menunggu lama Nara langsung berlari keluar dari ruangan itu menuju parkiran. Victor yang tadinya ingin menghampiri Nara, ketika melihat sosok kekasih tuannya terburu-buru menuju parkiran, Ia langsung berbalik arah mengikuti Nara.


“Nona, anda mau kemana?!” ujarnya sedikit berteriak.


Mau sekuat apapun Victor berteriak, Nara sama sekali tidak memperdulikannya. Gadis itu sudah memasuki sebuah taksi, lalu melaju meninggalkan perusahaan Jovanka.


Roseta yang kebetulan melihat hal itu, mendekati Victor sembari melipat kedua tangannya dengan senyuman meledek menatap Victor.


“Lihatlah Victor, dia memang tidak pantas bersama Alvian, “ cibirnya.


Mendengar celutukan tak berguna yang di lontarkan oleh Roseta, membuat Victor hampir memuntahkan isi perutnya.


“Astaga, ada dirimu di sini yah?! Pantes saja, bau bangkai, “ judes Victor melangkah meninggalkan Roseta.


“Awas yah kau, akan ku pecat dirimu setelah aku berhasil menguasai Alvian, “ tekat Roseta.


Kasihan gadis itu, mau Ia berusaha seperti apapun Ia sepertinya akan sia-sia saja. Roseta tersenyum kecil, Ia terlihat seperti merencanakan sesuatu. Dengan sedikit tawa pada wajahnya, Roseta memasuki mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi mengejar taksi yang di tumpangi Nara.


Nara yang sudah berada dalam perjalanan, terus menerus mengecek ponselnya sembari mengirim pesan pada Dito.


“Pak, bisa cepat lagi nggak?!” ujarnya.


“Baik Nona.”


Supir taksi menaikkan sedikit kecepatan lajunya, seusai dengan apa yang di katakan Nara tadi. Nara kembali melirik ponselnya, sama sekali belum ada balasan dari Dito.


Tak menjelang beberapa lama, ponselnya bergetar. Dengan segera, Nara membaca isi pesan yang ternyata dari Dito.


...Dito,


...


[Segera ke rumahmu!]


Nara tak membalas lagi pesan Dito, Ia memasukkan ponselnya kedalam tas lalu fokus pada jalanan yang ditempuhnya. Hingga pada akhirnya,


Bruk


Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, menyerempet taksi yang di tumpanginya.


“Ya ampun! Ada apa ini pak?!” ujarnya bertanya.


“Sepertinya ada yang ingin mencelakai kita, Nona, “ jelas supir taksi.


Mendengar hal itu, Nara membulatkan matanya lalu menekan kuat tempat duduknya.

__ADS_1


“Pak, sebisa mungkin hindari mobil itu.”


Supir taksi mengangguk mengiyakan perkataannya, lalu dengan gesitnya Ia mencoba menghindar dari mobil di belakangnya.


“Siapa dia?” gumam Nara, bertanya-tanya.


Sedangkan di mobil belakang, Roseta yang kebetulan mengendarai mobil itu begitu gilanya membenturkan mobilnya pada taksi tersebut.


“Hahaha, mati lo gadis kampung, “ tawanya renyah, seolah mendapat mainan baru.


Supir taksi terus menambah kecepatan lajunya, hingga Ia berhasil melewati lampu merah. Sedangkan Roseta, harus berhenti di sana ketika lampu sudah menunjukkan warna merah.


“Sial!” umpatnya kesal, sembari memukul-mukul stir mobilnya.


Tanpa di sadari Roseta, sedari tadi Alvaro terus membuntutinya dari belakang. Pria itu sama sekali tidak berbuat apa-apa, sebab Ia ingin Roseta mencelakai Nara. Kenapa begitu? Jika Ia membiarkan Roseta mencelakai Nara, Alvaro jadi punya bukti dan bisa memasukkan gadis itu kedalam penjara.


“Apa sudah berakhir? Akh, sia-sia saja aku mengorbankan baterai kameraku, “ ujarnya sedikit kesal.


Alvaro melepaskan Kamera yang pasang pada spion mobilnya, kemudian melaju mendahului Roseta saat lampu lalulintas sudah berubah menjadi kuning.


“Alvaro, sial! Jadi dari tadi dia mengikuti ku?!” ujar Roseta.


Ia baru saja sadar, ketika melihat mobil Alvaro sudah lebih dahulu melaju melewatinya. Pikirannya campur aduk, Ia sangat yakin jika Alvaro melihat perbuatannya tadi.


“Bagaimana jika Ia melaporkanku pada polisi?!” gugupnya.


Roseta menepikan mobilnya di tepi jalan, Ia mulai memikirkan apa yang seharusnya tidak Ia pikirkan. Jarinya Ia masukan kedalam mulutnya, giginya mulai menggigit setiap kukunya.


Roseta kembali melajukan mobilnya, dengan kecepatan sedang Ia membelah jalanan kota menuju rumahnya.


Sedangkan Nara yang berhasil lepas darinya, sudah berhasil mencapai kediamannya. Setelah memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi tersebut, Nara bergegas menuju rumahnya dengan sedikit berlari.


“Rian, apa kalian di dalam?!” teriaknya menggema.


Sama sekali tidak ada jawaban dari dalam, Nara bergegas hendak meraih heandle pintu. Namun, pintu sudah terbuka dari dalam. Dengan cepat, Nara memasuki rumahnya lalu mengunci pintu dari dalam.


“Kenapa lama sekali?’ tanya Rian, saat Nara baru saja meletakkan tubuhnya di atas sofa.


Tak menjawab pertanyaan Rian, Nara langsung fokus pada apa yang di kerjakan oleh Dito di laptopnya.


“Apa yang terjadi Dit?”


Dito sedikit melirik kearah Nara, lalu memutar laptopnya mengarah pada gadis itu. Mata Nara melembut, ketika melihat tampilan laptop Dito.


“Apa ini Dito?!”


Rian dan juga Dito memutar bola matanya malas, keduanya pikir ekspresi wajah Nara yang terkejut menandakan bahwa gadis itu tau apa yang terjadi. Tapi ternyata, gadis itu benar-benar buta.


“Ada yang melakukan penyerangan pada rumah itu, “ jelas Rian.

__ADS_1


Nara yang tadinya tersenyum, saat ini dirinya benar-benar terkejut dengan apa yang Ia dengar dari Rian.


“Bagaimana bisa?” tanya Nara.


“Entahlah, sepertinya ada yang mengincar berkas-berkas itu, “ ujar Dito.


Ketiganya kembali fokus pada laptop Dito, pada tampilan layar monitor terpampang jelas berita yang menyampaikan tentang kabar meledaknya rumah Jovanka.


“Dengarkan aku, Kita tidak boleh lengah sekarang. Jika mereka sudah meledakkan rumah itu, ada kemungkinan besar mereka sudah mengetahui bahwa wasiat dan juga berkas itu tanpa stempel. “


Nara dan juga Rian mengangguk antusias, keduanya setuju dengan perkataan Dito.


“Benar Dit, tapi kita harus segera memberitahukan pada Lexi, Ia dan juga Marni harus waspada sekarang, “ ujar Nara.


Baik Dito maupun Rian, keduanya hampir melupakan Lexi. Tak mau menunggu lama, Dito meraih ponselnya segera menghubungi Lexi. Ketika panggilan baru saja terhubung, dari luar ada suara seseorang yang sudah memanggil-manggil nama Nara.


“Nara! Apa kau didalam?!”


Dengan gerakan cepat, ketiganya langsung merapikan alat tempur mereka. Setelah berhasil menyembunyikan semuanya, Rian dan Dito menatap televisi sedangkan Nara melangkah membuka pintu.


“Alvaro, sejak kapan di sini?” basa basi Nara, ketika yang terlihat di depan pintu adalah Alvaro.


“Baru beberapa detik, boleh aku masuk?”


Nara menggangguk, membiarkan Alvaro masuk kedalam rumahnya. Ketika Alvaro mendekati ruang tamu, matanya langsung tertuju pada dua pria yang tengah asik mengunyah sembari menonton televisi.


“Wah, asik sekali tonton kalian, “ ledek Alvaro.


Bagaimana tidak meledek? Apa yang di tonton kedua pria itu, benar-benar membuatnya menggelengkan kepalanya.


Nara yang baru saja masuk, ikut tertawa terbahak-bahak meledek kedua pria dihadapannya itu.


“Masa kecil kalian, kurang bahagia yah, “ cibirnya.


Dito dan juga Rian saling bertatapan, lalu keduanya kembali menonton televisi yang menampilkan tayangan tom and Jerry di sana.


“Kalian berdua sangat irih yah? Sudahlah ayok menonton bersama, masa kecil kalian juga tidak terlalu bahagia amat, “ ujar Dito, membalas ledekan Nara dan juga Alvaro.


Baik Nara maupun Alvaro, keduanya seolah mati kutu tak berani lagi menjawab perkataan Dito. Dengan sangat terpaksa, keduanya ikut menonton tonton tersebut.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2