
Mobil itu melaju, hingga tiba di sebuah pantai. keduanya belum turun, Nara masih berusaha menetralkan tangisannya.
"Aku terlalu jauh melangkah, hiks hiks"
Dengan segera, pria yang berada di sampingnya yang tidak lain adalah Alvaro, menariknya masuk kedalam pelukannya.
"Tenanglah, " ujar Alvaro mencoba menenangkan Nara.
"Kau tau, dia dan keluarganya begitu bahagia dengan kehadiran wanita itu."
Tangis Nara semakin pecah, ketika tangan Alvaro mengelus lembut surai panjangnya.
"Netralkan dulu tangisannya, baru kita turun."
Nara menarik nafasnya panjang, menatap kearah depannya. Tangannya membuka pintu mobil Alvaro, kemudian melangkah keluar.
Alvaro pun tak mau menunggu dalam mobil saja, Ia mengikuti langkah Nara yang sudah tiba di hamparan pasir putih pada pinggir pantai.
Alvaro menatap wajah Nara dari samping, menarik tangan gadis itu mendekati ombak.
"Teriaklah sekencang mungkin, " ujar Alvaro.
Nara sedikit menatap Alvaro, berbalik melihat sekelilingnya yang sama sekali tidak menemukan siapapun di sana.
"Aaaa!"
Teriakan Nara menggema hingga beberapa kali, senyuman kecil terukir di bibir Alvaro ketika melihat Nara yang sudah tersenyum lagi.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Lumayan membaik, terima kasih yah," ujar Nara.
Tak menjawab perkataan Nara, Alvaro memunggunginya lalu berjalan kedepan.
"Mau kemana?"
Seolah tuli, Alvaro semakin mempercepat langkahnya membuat Nara harus mengejarnya.
Dengan jahilnya, ketika Nara tiba di depannya, Alvaro langsung menyipratkan air pada wajah Nara.
"Yak! jadi basa deh, rasain nih, " ujar Nara ikut membalas perbuatan Alvaro.
Maka saat itu juga, terjadilah aksi kejar-kejaran antara keduanya. Dan tentu saja, di barengi dengan tawa yang menggelar di seluruh penjuru pantai.
"Nara, coba lihat ini, " ujar Alvaro berhenti di sebuah batu.
Nara yang awalnya curiga, sepertinya akal-akalan saja tidak ingin mendekatkan.
"Nara, ayolah ini sangat lucu!"
Namun, ketika teriakan Alvaro menggema, rasa penasaran dalam dirinya begitu menggebu.
"Nggak bohong kan?!"
Dengan jarak yang lumayan jauh, Nara mencoba memastikan lagi. Senyuman terukir di bibir Alvaro, mendekati Nara.
Nara yang tau maksud dari senyuman itu, tertawa terbahak-bahak berlari menjauhi Alvaro.
"Kenapa lari?!"
Nara semakin larut dalam tawanya, ketika Alvaro hampir mencapai dirinya.
"Apa kau pikir aku bodoh?"
Sadar sudah ketahuan, Alvaro meloloskan tawanya mengikuti Nara.
"Hahahaha"
Seisi pantai saat itu, hanya di penuhi oleh gemahan suara keduanya.
"Hahaha, cukup cukup. Perutku sudah keram Winara, " ujar Alvaro.
Nara berjalan mendekatinya, menarik tangan Alvaro hingga keduanya duduk di hamparan pasir putih, dengan kaki yang sesekali di terpah ombak.
__ADS_1
"Wah sangat indah, " kagum Nara, melihat pemandangan indah dihadapan.
"Iya indah sekali. "
Alvaro sama sekali tidak melihat kearah depan, Ia masih setia dengan wajah Nara.
kruk kruk
"Hahahaha! "
Tawa keduanya tercipta lagi, ketika perut Alvaro berbunyi meminta di isi.
"Ayok cari makan, " ajak Alvaro yang sudah terlebih dahulu bangkit berdiri.
Nara sedikit memegang tangan Alvaro, ikut bangkit berdiri. Dengan beriringan dan tangan yang masih saling berpangutan, Keduanya menuju salah satu tempat makan yang ada di sana.
Setibanya di sana, dengan makanan yang sama pula, Alvaro dan Nara sama-sama memesan seafood. Keduanya menikmati makanan dihadapan mereka, dengan view pantai yang menakjubkan.
"Bagaimana ponselmu?" tanya Alvaro membuka percakapan, setelah mengunyah makanan dalam mulutnya.
Tak langsung menjawab pertanyaan Alvaro, Nara mengeluarkan ponselnya.
"Bagian kirinya ini, nggak bisa di sentuh, " ujar Nara, setelah ponselnya sudah berada di tangan Alvaro.
Alvaro sedikit memeriksa ponsel itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya.
"Gunakan ini untuk sementara waktu, nanti ku kembalikan ponselmu setelah selesai di perbaiki."
Ragu, iya tentu saja ragu. Namun, melihat ketulusan dari wajah Alvaro membuat Nara menerima ponsel darinya.
"SIM card."
Alvaro membuka ponsel Nara, mengeluarkan SIM card milik gadis itu, menyerahkan kepada Nara.
"Dalam ponsel itu, sudah ada nomorku. Ada apa-apa, kau bisa menghubunginya."
Nara sedikit tersenyum, mengangguk mengiyakan perkataan Alvaro. Keduanya kembali menikmati makanan mereka, dengan sesekali ada tawa yang meliputi keduanya.
"Tiara, kau bersama Rani sebentar. Aku ada urusan, " ujarnya.
Tiara sedikit melirik kearah Victor, kemudian mengangguk mengiyakan perkataan Alvian.
Setelah mendapat anggukan kepala dari Tiara, Alvian bangkit mendekati Victor yang saat ini tengah bersama Alexo dan juga Evan.
Evan yang melihat kedatangan Alvian, berjalan meninggalkan putranya dan juga Victor.
"Dady mau kemana?" tanya Alexo melihat kepergian Evan.
"Kepo, anak kecil nggak boleh tau."
Hanya dengusan kesal yang dikeluarkan bocah itu, membuat tawa Victor renyah terdengar.
"Kemana Nara?"
Victor dan Alexo saling bertatapan sekilas, kembali menatap Alvian dengan wajah datar keduanya.
"Apa kalian tuli? Kemana Nara?"
Pertanyaan yang sama terulang lagi, dan dengan ekspresi yang masih sama keduanya tidak menjawab pertanyaan Alvian.
"David kemana Nara?"
Tak mendapat jawaban dari kedua orang dihadapannya, Alvian berbalik bertanya pada David yang baru saja masuk.
"Saya tidak tau tuan, saya baru saja kembali dari markas."
Frustasi yah, itulah yang dirasakan Alvian saat ini.
"Victor!"
Kesal dengan sikap salah satu asisten dan juga keponakannya, suara Alvian meninggi.
"Uncle, berhentilah berteriak."
__ADS_1
Dengan santainya Alexo mengatakan itu, lalu kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Sosisnya enak yah?" tanya Victor kepada Alexo, seolah tidak mempedulikan keberadaan Alvian.
"Apa kau ingin mati?!"
Kesabaran Alvian sudah habis, hanya dengan mengancam Victor menatap wajahnya.
"Uncle, Aunty Nala tadi sudah pergi."
"Kemana?"
"Nggak tau, dia nggak ngomong."
Alexo dan Victor, kembali menyantap makanan dihadapan keduanya. Keduanya merasa kecewa, dengan sikap Alvian terhadap Nara.
"Victor cari dia!"
Mendengar perintah Alvian, Victor melepaskan sendok dari tangannya menatap Alvian.
"Maaf tuan muda, ada yang lebih penting yang harus saya selesaikan hari ini."
Mendapat penolakan dari Victor, dara dalam tubuh Alvian mendidih.
"Mencari siapa Al?"
Suara Tiara membuat semua yang berada dalam dapur, berbalik menatapnya.
"Hai tampan, " ujar Tiara mendekati Alexo.
Tangannya hendak meraih dagu pria kecil itu, tapi sayangnya dengan segera tangannya di tepis Alexo.
"Alexo."
Mendengar penuturan Alvian yang seolah ingin marah, Alexo tersenyum intens menatap Victor.
"Uncle Victor mau sosis lagi nggak? Enak tau buatan Aunty cantik, " ujar Alexo.
"Siapa itu Aunty cantik?"
Tiara sedikit tersenyum, menatap kearah Alexo lalu sedikit melirik Victor yang memasang wajah masam kepadanya.
"Asa deh, lebih cantik darimu."
Hati Tiara seperti teriris, bagaimana tidak? bocah kecil itu sama sekali tidak memanggilnya dengan sebutan yang sama, yang diberikan pada Nara.
"Alexo, Uncle kan sudah ajarin buat panggil yang lebih tua itu, dengan panggilan yang sopan, " ujar Alvian.
Tak memperdulikan perkataan Alvian, Alexo yang di bantu Victor berjalan meninggalkan keduanya.
"Ayok paman Victor!"
Victor ikut mendekati Alexo, dengan tatapan yang masih tertuju pada Tiara dan Alvian. Seketika, senyuman smrik di berikannya ketika Ia sudah mendekati Alexo.
Alvian yang merasa tersindir dengan senyuman Victor, mengusap kasar wajahnya. Ia jugaa ikut melangkah pergi, meninggalkan Tiara yang masih di dapur.
"Sebentar lagi sayang." batin Tiara.
.
.
.
Nah loh Al, dimusuhin ponakan sendiri deh🤣
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚
__ADS_1