
Swedia,
Seorang wanita paruh baya dengan di temani beberapa pengawalnya memasuki ruangan yang di siapkan untuk kepentingan bisnis kotornya.
“Bagaimana Mr.Niko? “ ujarnya ketika seorang pria yang usianya tak jauhnya darinya menghampirinya.
“Tawaran yang menarik nyonya Lidia, “ ujar Niko menutup map pemberian asisten Lidia.
“Tapi aku menginginkan tujuh puluh persen, karena resiko menjual benda haram ini sangat tinggi, “ ujar Niko menawar.
“Aku rugi Niko, “titah Lidia tak setuju.
“Tapi ya sudahlah, aku terima penawaran mu, “ tambahnya lagi membuat Niko tersenyum smrik.
“Aku suka bekerja sama denganmu, “ ujar Niko melangkah pergi.
“Bagaimana dengan tawanan ku, “ tanya Lidia sembari menghirup asap rokok keluar dari mulutnya.
“Tawanan mu sudah ku pindahkan ke tempat yang dimana Alvian tidak akan bisa menjangkaunya, “ ujar Niko.
Lidia tersebut bahagia mendengar perkataan Niko, Ia menyandarkan kepalanya sembari terus mengisap asap berbahaya itu.
“Kau ingin bermain-main dengan nenekmu ini Al, “ ujar Lidia.
“Ilone pantau terus pergerakan Alvian, jangan sampai kita lengah, “ pintah Lidia.
Ilone mengangguk mengiyakan perkataan Lidia, lalu berjalan meninggalkan ruangan kekurangan cahaya itu.
“Victor, besok jam dua siang ada transaksi gan ja di pulau seribu. Kali ini kau harus bergerak cepat, “ ujar Ilone setelah menekan tombol di bagian belakang telinganya mengirimkan pesan kepada Victor.
Victor yang sedang berada di parkiran, dengan cepat berlari menuju ruangan Alvian menggunakan tangga darurat.
“Tuan muda sepertinya proyek yang berada di kota b harus kita percepat pengiriman material, sebab beberapa hari lagi itu sudah harus segera di selesaikan, “ ujar David.
“Yah kau segera lakukan pengirimannya, oh iya bagaimana dengan berkas yang aku minta kemarin? “
“Apa anda yakin Tuan ingin mengambil alih universitas itu? “ tanya David hati-hati.
“Yah yakin, Aku melihat ini kemarin di kamar Nara, “ ujar Alvian memperlihatkan kertas yang di dalamnya terdapat keinginan tersebar Nara.
“Apa Nona Na-
Bruk
Belum sempat David menyelesaikan perkataannya, Victor dengan tergesa-gesa menghampiri Alvian dengan nafas memburu.
“Ada pesan dari Ilone, “ ujar Victor menyerahkan ponselnya.
Alvian tersenyum setelah mendengar voice note dari Ilone, Ia tidak sia-sia menjadikan gadis itu sebagai asisten pribadi musuh terbesarnya yaitu Lidia Jovanka Neneknya sendiri.
“Aku tidak akan membiarkannya menghancurkan hidup Rani, setelah apa yang dilakukannya kepada ibuku, “ gumam Alvian pelan.
“Segera sampaikan kabar gembira ini pada Tio, “ ujar Alvian.
“Bisakah aku duduk sebentar saja, “ ujar Victor yang sudah terkapar di atas sofa.
“Sepertinya mulai besok semua lift dalam kantor ini harus di musnahkan tuan, “ ujar David.
Bagaimana tidak, dalam keadaan darurat Victor tidak akan pernah menggunakan lift melainkan tangga darurat ke tempat Alvian, yang berada di lantai dua puluh.
...***...
__ADS_1
Nara yang baru saja tiba di universitas Bina darma, dengan cepat berlari tanpa berpamitan kepada Rian yang telah mengantarnya, sebab dirinya sudah terlambat lima belas menit.
“Diriku bagaikan ojek langganannya, “ ocehannya sesaat sebelum melajukan motornya menuju sekolahnya.
Setelah sudah di dalam ruangan, Nara berjalan menghampiri kedua sahabatnya Marni dan juga Bianca yang terlihat tengah mengobrol dengan seseorang yang tidak lain adalah Ani.
“Nara, kok telat? “ tanya Marni yang seolah sudah muak dengan Ani.
Bagaimana tidak, sejak tadi gadis itu hanya terus memamerkan kekasihnya yang tidak lain adalah Gino.
“Iya, Rian jalannya lelet banget makanya telat, “ ujar Nara.
Ani yang melihat kehadiran Nara, tersenyum sinis lalu kembali menatap ponselnya.
“Tau nggak guys kok ada yah, cewek yang nggak tau malu mau merebut pacar orang, “ cibir Ani
“Siapa An? “ tanya Bianca penasaran.
“Ada loh, ihhh menjijikkan deh, “ ujarnya lagi yang seolah tidak sadar dengan posisinya saat ini.
“Tau nggak kenapa lalat lebih memilih sampah dari pada bunga, karena Ia tau hanya sampah yang akan menggoda baginya bukan bunga, “ ujar Nara membungkam mulut Ani.
Karena kesal dengan perkataan Nara, Ani bangkit dari duduknya lalu berpindah tempat dengan menghentakkan kakinya.
“Kenapa dengannya? “ tanya Bianca bingung.
“ Sudahlah tidak usah di pikiran, “ ujar Marni.
Tak menjelang lama, seremonial pembukaan pun di mulai. Seluruh mahasiswa fakultas ekonomi seketika hening mengikuti kegiatan tersebut.
Beberapa menit kemudian nama mereka di panggil satu-satu dengan menyebutkan IPK masing-masing mahasiswa.
Seluruh mata tertuju padanya, yah sebab nilainya hampir mencapai sempurna membuat semua yang berada di sana.
Setelah tiba di depan para dosen, Nara di berikan map serta sebuah selempang bertuliskan cumlaude.
“Wah keren Nara, “ puji Marni dan juga Bianca bersamaan dengan kembalinya Nara ke tempat duduk.
Beberapa jam lamanya, akhirnya acara yudisium pun berakhir di tutup dengan acara menyanyi dan lain sebagainya.
Nara yang sejak tadi sama sekali tidak membuka ponselnya, mengambil ponselnya matanya membulat melihat dua puluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, yaitu Alvian yang di kontaknya tertulis “Kak Al” dengan segera Ia mengirimkan pesan kepada Alvian.
...KAK AL...
[Maaf Nara nggak bisa jawab telpon Kaka, baru selesai soalnya]
[Baiklah, tapi bisakah kau menghilangkan kekhawatiran ku ini? ]
[/Send picture]
Alvian dikirimi foto Nara yang tengah mengunyah donat pemberian dari fakultas, tersenyum salting sampai membuat David dan Victor melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
[Jika sudah selesai, kabari saya.]
[Oke! ]
Setelah mendapatkan pesan dari Nara, senyuman Alvian semakin menjadi-jadi bagaimana kemasukan setan.
“Apa yang kalian lihat?! “ ujar Alvian kembali menampilkan wajah datarnya setelah tertangkap basah oleh David dan Victor.
“David, urus saja bos mu itu aku mau bertemu Tio. “ ucap Victor sembari berjalan keluar dari ruangan Alvian.
__ADS_1
“David kau urus itu, “ ujar Alvian yang ikut meninggalkan David menuju balkon.
Sementara David hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang pria itu.
Hari mulai gelap, kegiatan tersebut sudah hampir berakhir. Nara berjalan keluar menuju parkiran tanpa Marni dan juga Bianca, sebab mereka masih asik berjoget.
“Aku telpon kak Alvian saja deh, “ ujarnya setelah menatap kesana kemari tak menemukan taksi ataupun ojek.
Panggilan pertama tidak di jawab Alvian, Nara mencoba lagi hingga lima panggilnya tidak di jawab juga oleh Alvian.
Ia memasukkan ponselnya kedalam tas, lalu memutuskan berjalan ke ujung jalan mencari tumpangan.
Ani yang melihat kepergian Nara, mengambil ponselnya menghubungi seseorang lalu tersenyum smrik sesaat sebelum kembali ke aula.
Dengan di temani angin sepoi-sepoi, Nara berjalan berlahan sembari menendang kerikil kecil membayangkan bagaimana hebatnya Ia, menghadapi begitu banyak masalah dalam hidupnya.
“Cewek, “ tanpa di sadarinya sejak tadi beberapa preman mengikutinya.
Nara yang mulai ketakutan ingin berlari namun, seorang dari mereka dengan cepat merobek bajunya.
“Bodynya oke juga nih, “ tawa yang lainnya di saat seorang dari mereka mencoba menyentuhnya.
“Jangan macam-macam yah, Kalau tidak-
“Kalau tidak kau akan teriak begitu, hahaha disini tidak akan ada yang peduli dengan teriakan mu, “ yah benar saja, kawasan kampus Nara di ujung kota yang disana penduduknya masih sangat sedikit.
“Dari pada capek terik, yuk ikut Abang. Nanti juga kamu suka, “ ujar preman tersebut sembari mencolek dagunya.
“Aaa dasar breng sek! “ teriak Nara, ketika tangan preman tersebut dengan lancangnya menyentuh pundaknya.
Buk
“Beraninya kalian menyentuh gadisku, “ ujar Alvian dengan marah.
“Tuan Jovanka, “ ucap preman tersebut ketika mengetahui siapa yang berada di hadapan mereka.
“David urus mereka! “ pintah Alvian yang dengan cepat di laksanakan oleh asistennya.
Nara yang ketakutan, dengan segera berlari ke dalam pelukan Alvian meneteskan air matanya.
“Aku takut, “ ujarnya di sela-sela tangisannya.
“Ada aku disini, tidak akan terjadi apa-apa ketika aku bersamamu, “ ujar Alvian menenangkan.
“Ayok pergi, “ ujar Alvian.
Alvian membuka jasnya, lalu memakainya ke tubuh Nara dan menggendong gadisnya itu membawanya kedalam mobil, meninggalkan David yang tengah asih bermain-main dengan preman sialan tersebut.
“Sebelum jalanan ini bisa ku pake bercermin jangan harap nyawa kalian aman, paham! “ ujarnya dengan tegas.
“Paham Tuan! “
“Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa Bermain-main seperti ini, “ ujar David Menyandarkan kepalanya di atas mobilnya sembari memantau pembersihan malam yang sangat mendadak itu.
.
.
.
Gimana sih Al, sudah sering menyebut gadisnya tapi kok belum di jadikan kekasih sih 🤦😪
__ADS_1