Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
78 Club


__ADS_3

Bersama dengan Tiara, Nara sudah tiba di sebuah tempat yang di tujunya. Tiara mematikan mobilnya, sedikit ragus dengan tempat itu.


“Kau yakin?”


Nara langsung mengangguk, membuka sabih pengamannya turun dari mobil itu. Tiara juga tidak mau ketinggalan, mengikuti jejak Nara keluar dari mobil.


“Nara, tempat apa ini?” tany Tiara risau.


Tempat itu terlihat seperti rumah kumuh, yang sedikit jauh dari pemukiman warga. Sejauh mata memandang, hanya terlihat pepohonan di sekitarnya.


“Ia, ayok masuk!”


Sembari melangkah terlebih dahulu, Nara memasuki rumah itu dengan tangannya yang sudah digenggam oleh Tiara.


Pintu usang itu, di dorong Nara hingga menampilkan isi dalamnya. Mata Tiara terbelak, ketika melihat apa yang ada di hadapannya.


“Gila, seperti sebuah tempat persembunyian, “ kagum Tiara.


Nara hanya bisa tersenyum, mendekati kursi yang di depannya di penuhi oleh perangkat keras komputer yang tersusun rapih memenuhi ruangan itu.


“Sedang apa kalian!”


Keduanya dikejutkan dengan sebuah suara, Nara maupun Tiara langsung berbalik dan mendapati seorang pria menatap kearah keduanya.


“Nara, “ ujar Tiara sedikit takut.


“Tiara, dia Dito sahabat masa kecilku, " ujar Nara memperkenalkan Dito pada Tiara.


Dito, salah seorang teman Nara yang membawanya masuk kedalam dunia hacker. Tak hanya itu, Dito juga yang membantu Nara masuk kedalam universitas, melalui jalur kotor.


Wajah Dito yang tadinya masam, berubah tersenyum manis menatap Tiara sembari menyodorkan tangannya.


“Hello cantik, “ sapanya.


Dengan sedikit ragu, Tiara menerima uluran tangan Dito.


"Hai, " sahut Tiara.


Pandangan Dito beralih menatap dari wajah Tiara, menatap lekat Nara.


“Ada apa Nara?” tanya Dito berjalan menuju kursinya.


“Aku ingin tau ada apa dengan Bita dan juga Marni.”


Mendengar penuturan Nara, Dito sedikit menarik nafasnya panjang menarik dua kursi mendekatinya.


“Duduklah, “ ujarnya.


Nara menduduki kursi itu, tak lupa Ia juga menarik tangan Tiara agar ikut duduk berhadapan dengan Dito.


“Sudah pernah ku katakan padamu, Jauhi Bianka!” ujar Dito.


Seolah Dejavu, Nara mengingat perkataan Lexi siang tadi. Kedua pria itu, sama-sama memperingatinya soal Bianka.


“Ada apa ini?” tanya Tiara.


Pertanyaan yang sama juga, ingin ditanyakan Nara pada Dito. Nara menatap wajah Dito, mencari jawaban di sana.


“Dia ada di balik kecelakaan paman!”


Jantung Nara berpacu tak seusai tempo, hatinya teriris mendengar kata yang meluncur dari mulut temannya itu.


“Lalu, hubungannya dengan Marni?”

__ADS_1


Dito kembali menarik nafasnya panjang, mulai menceritakan detail masalah yang sebenarnya pada Nara.


“Kejadian lima belas tahun lalu, ketika ayah dan ibumu pergi ke Swedia. Keluarga Bianka mengetahui hal itu, mereka juga salah satu dalang di balik pembantaian tersebut. Satu-satunya saksi waktu itu, hanyalah paman dan bibi jadi mereka akan melakukan apapun untuk memusnahkan semuanya. Dan hubungan dengan Marni, apa kau lupa Nara? Lexi adalah salah satu orang yang juga tau mengenai hal itu,” jelas Dito panjang lebar.


Tiara sedikit terkejut akan penjelasan Dito, kejadian lima belas tahun yang di ceritakan Dito sedikit mirip dengan apa yang di alami keluarganya maupun Alvian.


“Kejadian apa?”


Sadar dengan keberadaan Tiara, Dito sedikit menatap Nara. Namun, yang ditatapnya hanya bengong tanpa ekspresi.


“Nara!” ujar Tiara membuyarkan lamunan Nara.


“Ah, iya?”


“Kejadian apa?”


“Itu, kejadian dimana ayah dan ibuku di copet waktu berlibur, “ elas Nara.


Jelas saja gadis itu berbohong, Ia tidak ingin ada seorang pun yang tau selain Dito dan Lexi soal masa kelam kedua orang tuanya pada waktu itu.


Tiara hanya merespon dengan menganggukan kepalanya, ada yang di sembunyikan Nara atau tida Ia akan mencari tau hal ini lalu melaporkan pada Alvian.


“Itu saja Nara?” tanya Dito, memulai kembali percakapan yang hampir putus, akibat pertanyaan Tiara tadi.


“Yah, aku mau kau awasi rumah Marni. Jangan biarkan ada yang melukai bayinya, “ ujar Nara.


“Kenapa tidak kau saja?”


“Dasar malas, “ umpat Nara.


Setelah bertukar kursi dengan Dito, Nara mulai mengoperasikan komputer itu sampai membuat Tiara terkagum-kagum.


“Wah, kau keren sekali, “ puji Tiara.


Mendengar penuturan Nara, Dito menyombongkan dirinya dengan memainkan kedua matanya menatap Tiara.


Setelah masuk pada akses data yang diinginkannya, Nara berhasil mendapatkan lokasi Marni dan Lexi.


“Awasi mereka!” pintahnya.


Dito mengangguk patuh, setelah selesai dengan urusannya Nara mengambil tasnya bangkit dari duduknya.


“Ayok, kita pulang!” ajaknya menatap Tiara.


Tiara juga ikut bangkit dari duduknya, hendak berjalan mengikuti Nara. Namun, keduanya menghentikan langkah kaki mereka, ketika tangan Dito memegang pergelangan Tiara.


“Nara, kau harus membantuku, “ ujarnya.


“Kemana?”


Tak menjawab pertanyaan Nara, Dito menyerahkan kertas bertuliskan sebuah alamat suatu club.


“Kalian bisa kesana? Akan kubantu dari sini, ada sebuah flas yang harus kau ambil Nara. Beberapa data penting, ada dalam flashdisk itu."


“Ayok, sepertinya seru, “ ujar Tiara semangat.


Melihat Tiara yang penuh dengan semangat membara, Nara terpaksa mengiyakan perkataan Dito.


Kedua gadis itu kembali ke mobil, mulai mencapkan gas menuju club yang di katakan Dito kepada keduanya.


...***...


Bram bersama Ada dan juga beberapa anak buahnya, memasuki club itu mulai berbaur mencari target mereka.

__ADS_1


“Itu mereka, “ ujar Adam, dengan mata yang tertuju pada beberapa orang pria yang tengah duduk di lantai atas club itu.


Bram sedikit memukul dada Adam, berjalan mendekati mereka. Sedangkan Adam, memantau dari lantai bawah.


Tiara dan juga Nara yang baru tiba, memasuki tempat itu. Mata keduanya langsung tertuju pada orang yang di maksud Dito.


“Nara, itu dia!”


Telunjuk Tiara tertuju pada seorang pria paruh baya, dengan jarak yang tidak jauh dari keduanya di lantai bawah.


“Ayok Nara, “ ajak Tiara.


Sebelum mulai bergerak, Nara memberikan sebuah pisau lipat kepada Tiara dan juga earphone milik Dito.


“Jaga-jaga, “ ujarnya.


“Benar-benar duplikat Alvain, “ kagum Tiara melihat aksi Nara.


Bram yang sudah hampir mendekati orang suruhan Lidia, sedikit menghentikan langkahnya saat melihat sosok Nara di lantai bawah.


“Nona muda, “ gumam Bram.


Ia masih memastikan lagi, setelah berhasil memastikan jika itu benar-benar Nara, Bram memasang earphone pada telinganya.


“Tuan, Nona muda di sini!” ujarnya setelah menekan earphone pada telinganya.


Alvian yang mendapat pesan tiba-tiba dari Bram, menghentikan pekerjaannya berlari menuju mobilnya di parkiran.


Kembali ke Nara,


Nara sedikit merobek roknya, hal itu ia lakukan agar roknya tidak terlalu ketat. Nara berjalan menuju pria paruh baya itu.


Tubuhnya geli, ketika melihat banyak wanita sedang mengerumuni pria itu, sembari bercumbu di sana.


“Anda Mr. Osman?” tanya Nara.


Melihat sosok Nara di hadapannya, Osman menghentikan kegiatannya berbalik menatap Nara lalu menatap Nara penuh naf su.


“yes i’am, siapa kau?”


Dor


Satu tembakan diluncurkan Nara, membuat seisi club menjadi kacau. Dengan sangat cepat, Tiara mengambil alih tas Osman, mengambil flashdisk yang di maksud Dito tadi.


Melihat apa yang dilakukan Nara, Bram juga langsung meluncurkan aksinya menyerang suruhan Lidia yang juga berada dalam club’ yang sama.


“Shit! Siapa kau?!” teriak Osman, mengarahkan senjatanya kearah Nara.


Dor


Suara tembakan yang dihasilkan Osman, mengarah tepat kearah Nara. Bram yang sibuk dengan urusan, membulatkan matanya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2