Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
70 Serangan Lian Sheng II


__ADS_3

Di tengah kesibukan mereka, Victor yang mendapat pesan dari Alvian segera menghentikan kegiatannya menatap semua yang berada di sana.


Ketika tatapan dibalas dengan penuh kebingungan dari penghuni markas itu, Victor dengan cepat menyodorkan ponselnya.


“Lian Sheng kembali.”


Tanpa menunggu lagi, semuanya dengan segera menyiapkan keperluan mereka menuju pantai bagian Utara.


Tiara yang saat itu sempat menguping sekilas, dikejutkan dengan kehadiran Rani di belakangnya.


“Sedang apa di sini?”


Pertanyaan yang biasa saja namun, bagi yang mendengarnya hal itu seperti sebuah belati yang hendak menusuk kedalam lapisan kulit terdalam.


“Mereka mau kemana?”


Mencoba tetap tenang karena tertangkap basah, Tiara balik bertanya dengan mata yang masih tertuju pada Evan dan yang lainnya.


“Bukan urusanmu, ayok kembali kedapur.”


Kesal, tentu saja gadis itu kesal. Sebab, kegiatan nikmatnya dalam menguping dikacaukan oleh Rani yang muncul tiba-tiba.


Rani dengan segera, menarik tangan Tiara menjauhi markas dan keduanya kembali kedapur. Rani yang dengan penuh emosi, memberikan celemek secara paksa pada Tiara.


“Sudah aku katakan, jangan pernah ke belakang! Kau tau kan, bahkan aku juga dilarang Alvian kesana, “ oceh Rani tanpa henti.


Pusing dengan setiap kata yang keluar dari mulut Rani, Tiara mengambil sebuah wortel memasukkan kedalam mulut wanita itu.


“Nggak bisa diam dari tadi, “ ujarnya tanpa dosa.


“Tiara!” teriak Rani kesal.


Tak mau kalah, Rani mengambil kubis yang baru saja dipotongnya memasukkan kedalam mulut Tiara. Diandra yang baru saja kembali, memijat pelipisnya melihat keadaan dapur yang saat ini hancur akibat ulah kedua wanita itu.


“Keluar!”


Mendengar terikan Diandra yang menggema, sontak saja kedua wanita itu menatap kearah meja makan.


“Gara-gara Kaka kan, “ ucap Tiara menyalahkan Rani.


“Enak saja, heh bocah ingusan! kalau bukan kamu yang mulai duluan, dia tidak mungkin marah.”


Bukannya melangkah keluar dari dalam dapur, keduanya sibuk menyalakan satu sama lain. Diandra yang sudah semakin kesal, mendekati keduanya dengan membawa air segelas dalam tangannya.


“Aww iss Tante Diandra, basah kan aku!” teriak Tiara tak terima dengan perlakuan Diandra.


Tak hanya Tiara saja yang kesal, Rani pun sama dengan gadis itu. Diandra begitu keterlaluan menurutnya.


“Apa-apaan sih ma, “ ujarnya.


“Keluar dari dapurku,” ujar Diandra mengecilkan suaranya.


Sembari menarik tangan Tiara dengan kesal, Rani melangkah keluar dari dapur dengan sedikit menyenggol Diandra.


“Dasar murahan, “ gumam Diandra pelan, menatap kepergian dua gadis itu.


Tanpa disadarinya, sedari tadi Gery salah seorang pengawal Rani yang ditugaskan Evan, memperhatikan apapun yang dilakukan Diandra kepada kedua gadis itu.

__ADS_1


...***...


Alvian dan juga Nara yang sudah hampir mencapai pantai, harus terjebak diantara para musuh yang menghadang mereka dari depan.


“Bagaimana ini Al?” khawatir Nara.


Alvian berusaha tenang dan menatap kesekelilingnya, lalu kembali menatap Nara yang masih dalam pangkuannya.


“Apa kau begitu nyaman di atas pahaku?”


Menyadari hal itu, Nara dengan segera berpindah posisi kembali ke kursi penumpang. Namun, belum sempat hal itu terjadi, Alvian sudah lebih dahulu menahannya tetap berada pada pahanya.


“Tetap seperti ini, “ ujar Alvian sedikit genit.


Nara sedikit memukul lengannya, bisa-bisanya Ia berpikir mes um dalam keadaan genting saat ini.


“Nggak, aku mau turun.”


Mendapat penolakan dari Nara, Alvian menatapnya tajam menginjak gasnya lalu menambrak dua mobil dihadapannya.


“ALVIAN!” teriak Nara ketakutan.


“Jadi, mau tetap di sini atau mau turun?”


“Di sini saja, “ jawab Nara cepat, lalu memeluk erat tubuh Alvian.


Alvian tersenyum puas, kembali melajukan mobilnya menerobos musuh-musuh yang menghadangnya di depan. Sesekali, pria itu melayangkan tembakannya saat beberapa musuhnya mencoba mendekat dari belakang.


Setelah berhasil mencapai pantai, Alvian memarkirkan mobilnya sedikit mengusap punggung Nara.


“Ayok keluar.”


“Akan sangat bahaya, jika kita terus berada dalam mobil.”


Masih dengan seluruh isi kepalanya, Nara tetap tidak bergerak dari pangkuan Alvian sembari menahan pria itu.


“Sepuluh menit lagi, pasukaknku akan tiba, “ ujar Alvian sedikit memberi rasa lega pada Nara.


Dengan begitu sangat terpaksa, Nara mengikuti langkah Alvian keluar dari dalam mobil. Keduanya langsung disambut seorang pria dengan mata sipit, tengah menarik panjang rokok pada tangannya.


Dor


Satu tembakan dari pria itu, hampir mengenai Alvian. Tapi untungnya Ia dengan cepat menghindari serangan Lian Sheng.


“Dasar bang sat! Kemana putriku?!”


Alvian tertawa renyah, menarik Nara kebelakang punggungnya sembari mengeluarkan pistolnya.


“Seharusnya kau tanyakan itu kepada ayahku, bukan aku.”


Lian Sheng yang geram dengan perkataan Alvian, kembali melayangkan tembakan. Namun kali ini, Alvian sengaja tidak menghindar.


“Alvian!” teriak Nara menutup matanya, ketika peluru itu menembus dada kiri Alvian.


Mendengar suara terikan Nara, Lian jadi terpancing ingin mengetahui gadis dibalik punggung Alvian. Alvian yang menyadari hal itu, semakin membawa Nara kedalam punggungnya. Ia sedikit menarik tangan gadisnya, melilitkan pada pinggangnya.


“Apapun yang terjadi, jangan lepaskan pinggang ku, “ ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Lian.

__ADS_1


“Akan ku akhiri permusuhan ini, asal dia menjadi milikku, “ ujar Liam entengnya.


“Maaf, dia bukanlah putrimu yang bisa dijadikan bahan taruhan pria hidung belang seperti mu.”


Dengan berakhirnya Kalimat yang diucapkan Alvian, serangan darinya pun berhasil menghancurkan kaca mobil Lian.


Melihat mobil kesayangannya hancur, Lian menjadi geram apa lagi kata-kata Alvian begitu sangat menusuk pendengarannya.


“Kurang ajar! Serang dia!” pintah Lian berapi-api.


Dor Dor


Ketika seluruh pasukan Lian mulai menyerang Alvian, saat itu juga Evan bersama anak buah Alvian muncul dengan meluncurkan beberapa serangan kearah musuh.


“Tuan, kalian pergilah, “ ujar Victor saat sudah berada di samping Alvian dan juga Nara.


Dengan segera dan tanpa menunggu lagi, Alvian melepaskan pelukan Nara memasukan kembali gadis itu kedalam mobil Victor.


“Jangan lewat jalan yang sama, anda harus mengambil jalan lain.”


Mengerti dengan ucapan yang dilontarkan Victor, Alvian dengan segera melajukan mobil itu meninggalkan tempat tersebut.


Lian yang melihat kepergian Alvian, dengan segera berlari ingin mengejar namun sayangnya,


Dor


Victor sudah lebih dahulu menghancurkan seluruh ban mobilnya.


“Sudah saya peringatkan berulang kali, jangan berurusan dengan Ridwan. Kau masih saja tidak mengerti,” ujar David mendekati Lian.


“Kalian sama saja.”


Satu tendangan dari Lian, hampir mengenai tubuh David. Tapi dengan gesitnya, David menghindari tendangan itu dan membalas pukulan Lian.


Lian tersungkur jauh dari hadapannya, tapi pria itu kembali bangkit berdiri melawan David lagi. Sedangkan Victor dan Evan, dengan menggunakan senjata keduanya ngos-ngosan menghajar anak buah Lian.


“Bram kapan tiba?”


Victor melirik jam tangannya lalu membuang senjatanya sembarangan, “Sekarang!”


Mendengar teriakkan Victor, seluruh pasukannya dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu. Lian yang bingung akan hal itu, terus berdiri di tempat sembari tersenyum menang.


“Kejar mereka!”


Bum


Berakhirnya Kalimat yang diucapkan Lian, Bram meluncurkan beberapa peledak tempat di atas seluruh anak buahnya. Mobil-mobil mereka, hancur berkeping-keping begitu juga dengan tubuh mereka.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚


__ADS_2