Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 13 Grebek Berujung Nobar


__ADS_3

Setibanya di rumah Nara, Firman yang baru saja ingin menjemput Nara menghentikan langkahnya saat melihat putrinya pulang bersama Alvian namun, dengan pakaian yang amburadul.


“Ayah, “ tangis Nara pecah dan berlari kedalam pelukan Ayahnya.


“Kamu apakan putri saya?! “ teriak Firman marah.


Rian dan Tina yang berada di dalam rumah dengan cepat berlari keluar melihat apa yang terjadi di depan.


“Nara, “ ujar Rian lalu menatap Alvian.


“Alvian yang menolongku Yah, aku di hadang beberapa preman untung ada dia, “ jelas Nara panjang sebelum menimbulkan kesalahpahaman.


“Halah, paling juga sedang open tuh, “ cibir Fitri yang entah sedang apa yang dilakukannya dengan sapunya.


“Heh remahan gorengan, Mulut mu itu mau ku sumpal hah! “ ujar Rian yang kesal dengan ap yang di katakan Fitri.


“Anda tidak usah khawatir Paman, setelah ini tidak ada yang berani menyentuh atau menatap Nara lagi, “ ujar Alvian.


“Woooow, “ ujar Rian kagum.


“Sudahlah ayok masuk Nak Alvian, “ ujar Tina.


Semua masuk ke dalam rumah mengikuti Nara yang terlebih dahulu menuju kamarnya terkecuali Rian.


Rian yang masih kesal dengan perkataan Fitri, mengambil beberapa petasan dari dalam kantongnya lalu membakar benda itu dan membuang ke halaman Rumah Fitri.


Bum


“Aaaa! “ teriak Fitri berlari keluar rumah.


Sementara Rian dengan cepat duduk di kursi yang berada di teras, berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.


“Dasar Nakal! “ ujar Tina membawa sapu mengejar Rian yang sudah berlari bersembunyi dibelakang Firman.


“Terima kasih sudah menyelamatkan Putri saya, “ ujar Firman menghentikan kegaduhan Tina dan juga Rian.


“Itu sudah menjadi tanggung jawab saya Paman, “ jawab Alvian.


“Wooow kak, anda pria yang luar biasa, “ puji Rian sembari memainkan kedua matanya.


Alvin hanya tersenyum mendengar pujian Rian, lalu menatap pintu kamar Nara yang masih belum terbuka.


“Tidak usah pikirkan Nara, jika dalam beberapa kondisi seperti ini kamar akan menjadi tempatnya dalam beberapa waktu yang lama, “ ujar Firman yang memperlihatkan ketika Alvian terus menatap ke arah kamar Nara.


“Bisakah saya bertemu dengannya? “ tanya Alvian.


“Silahkan saja jika kamu di bukakan pintu, “ ujar Rian.


Nara memang sangat susah dalam hal berbagai masalah bahkan kepada keluarganya, itulah sebabnya Keluarga Atmaja lebih memilih membiarkannya menenangkan diri dalam beberapa waktu kedepan.

__ADS_1


“Nara bisakah saya masuk?! “ ujar Alvian sedikit berteriak dari balik pintu.


Sedangkan Rian dan juga Firman duduk memantau apakah pintu dibuka untuk Alvian atau tidak.


“Mari bertaruh, jika Nara tidak membuka pintu sebulan kedepan piring kotor menjadi tanggung jawab mu, “ ujar Firman dengan mata yang tak luput dari kamar Nara.


“Setuju, “ ujar Tina dengan membawa teh ke hadapan Rian dan Firman.


“Dih suami dan istri sedang berusaha memperbudak diriku, tapi jika Nara membuka pintu ayah dan mama wajib memberikanku uang sebesar dua ratus ribu, gimana? “ ujar Rian.


Firman mengangguk mengiyakan perkataan putranya yang di ikut oleh Tina. Sementara Alvian, masih terus berusaha di depan pintu.


“Nara, “ ujar Alvian pelan.


Dah yah, kali ini semesta berpihak kepada Rian. Nara membuka pintu kamarnya, dan mempersilahkan Alvian masuk.


“I love you Nara! Dua ratus yeah, “ teriak Rian hebo ketika Nara membuka pintu.


Dengan sangat terpaksa Firman mengeluarkan dua lembar senyuman Soekarno-Hatta dan memberikan kepada putranya.


Alvian tersenyum lalu menarik Nara duduk di bibir kasur, Ia menggenggam erat tangan Nara menatap dalam gadis itu.


“Ketika aku masih hidup, percayalah kau tidak akan pernah terluka sedikitpun, “ ujar Alvian.


Nara tidak bisa berkata apa-apa Ia hanya bisa menatap mencari titik dusta dalam manik coklat pria itu.


“Tidak usah berlarut dalam pikiran mu, keluar dan nikmati kebahagiaan bersama keluargamu. Kau harus bersyukur berada dalam keharmonisan ini, ada begitu banyak orang yang tidak bisa menikmati hal ini, “ ujar Alvian yang sudah berhasil membawa Nara kedalam pelukannya.


“Aku harus pergi, besok temui aku di rumah paham! “ pintah Alvian.


Nara melepaskan pelukannya mengangguk sebentar, lalu menatap langkah Alvian yang sudah berada di luar kamarnya.


“Paman, Bibi, aku pamit! “ ujar Alvian.


“Kau tidak ingin makan malam dulu? “ tanya Tina.


“Lain kali saja bibi, ah iya tupperware mu nanti akan ku kembalikan, “ ujar Alvian.


Tina tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan Alvian. Rian yang melihat hal itu hanya bisa menganga.


“Hati-Hati kak, dan terima kasih sudah mampir sebab, setiap kali kau mampir kami pasti akan makan makanan yang lezat, “ ujar Rian yang mendapat tabokan dari ibunya.


Alvian terkekeh mendengar perkataan Rian.


“Bisakah besok kau bersama Nara ke rumah ku? “ tanya Alvian.


Rian terlihat berpikir sebentar, lalu mengangguk mengiyakan perkataan Alvian.


Setelah mendapat jawaban dari Rian, Alvian bergegas meninggalkan kediaman Nara.

__ADS_1


Beberapa menit selepas kepergian Alvian, Fitri bersama beberapa warga menghampiri keluarga Atmaja bersama Pak Hartono yang merupakan RT setempat.


“NARA KELUAR KAMU! “ teriakan Fitri membuat Firman yang tengah memperbaiki motor Rian, dengan segera berlari kedepan bersamaan dengan Tina dan Rian yang sudah di depan.


“Ada apa Fitri? “ tanya Rian dengan santainya.


“Mana Nara? Dia sudah berbuat Zina, “ ujar Fitri berapi-api.


“Zina pala bapak kau, “ oceh Rian kesal.


“Firman apa benar yang di adukan Fitri kepada kami? “ tanya salah seorang warga.


“Fitnah Pak Hartono, putri saya sedang kena musibah dan sedang tidur mana mungkin dia melakukan hal serendah itu, “ jelas Firman.


“Bohong pak RT, “ serkah Fitri tak ingin para warga membela keluarga Atmaja.


Rian menarik nafasnya panjang, lalu mendorong Firman dan Tina masuk kedalam rumah.


“Kalian masuk saja, “ ujarnya sesaat sebelum mengunci pintu rumahnya dari luar.


“Yah anak itu, bagaimana ini mas? Kita di kunci, “ ujar Tina.


“Mau bagaimana lagi, sana lanjutkan masakan mu, “ ujar Firman tak perduli.


Setelah mengunci kedua orang tuanya, Rian kembali ke depan dengan membawa infokusnya.


“Bapak-bapak ayok nobar Bola, “ ujar Rian yang mengundang kebimbangan dalam diri para warga.


“Fitri hidup itu jangan suka fitnah, ayok Rian disini saja, “ ujar seorang warga yang ikut menarik bangku panjang yang berada di teras rumah Firman membawa ke jalanan.


Rian mulai memutar pertandingan bola yang, dan terjadilah nobar seluruh penghuni kompleks di sekitar rumah Nara.


Fitri yang melihat hal itu jadi kesal, “Pak Hartono bagaimana ini? “


“Sudahlah Fitri, bola lebih seru dari pada fitnah mu, “ ujar pak Hartono yang ikut ambil dalam acara nonton bola dadakan.


Karena kesal tidak di hiraukan, Fitri masuk kedalam rumahnya sembari menghentakkan kakinya.


Dari balik jendela, Nara tersenyum dimana adiknya menjadi garda terdepan dalam setiap masalahnya.


“Benar apa kata Alvian, aku begitu beruntung memiliki keluarga seindah ini. “ gumamnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Berkomentarlah dengan bijak!!


__ADS_2