Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 23 Ungkapan cinta yang memaksa


__ADS_3

Nara yang saat ini baru kembali setelah menebus beberapa obat untuk Firman, di kejutkan dengan dirinya yang tak sengaja berpapasan dengan Alvian.


“Ikut saya! “


Tanpa berbasa-basi, Alvian menariknya menuju taman. Nara yang di tarik paksa, hanya bisa pasrah mengikuti kemana Alvian membawanya.


“Ada apa? “ tanya Nara.


Alvian tidak menjawab pertanyaan gadis itu, Ia malah melirik kesekelilingnya yang ternyata tidak terlalu banyak orang dan,


Chup


Alvian dengan lancangnya mencium pipi Nara tanpa seizin sang empunya. Nara yang terkejut akan aksi gila pria itu, membulatkan matanya.


“Ya, apa kau mabok?! “ oceh Nara tak terima.


“Sekarang kau jadi milikku paham! “


“Kaka gila apa bagaimana sih?! “


Alvian menarik tangan Nara menuju bangku, “Dengar Nara, ciuman tadi melambangkan bahwa kau sudah sepenuhnya menjadi kekasihku. Dan aku tidak menerima penolakan. “


Nara semakin di buat tidak bisa berkata apa-apa lagi, sepertinya pria di hadapannya ini sedang tidak waras.


“Aaa tau ah, “ Nara bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Alvian.


Dengan cepat, Alvian melangkah mengikuti jejak Nara yang sudah hampir jauh dari jangkauannya.


“Nara tunggu dulu! “ teriak Alvian membuat seluruh penghuni rumah sakit itu menatap kearahnya.


Karena malu dengan tingkah bodoh Alvian, Nara menutupi wajahnya menggunakan plastik berisikan obat-obatan ayahnya.


Saat sudah berada dalam ruangan dimana Firman di rawat, Nara hendak menutup pintu menghindari Alvian. Akan tetapi, Ia kalah cepat pria itu justru sudah berada di dalam ruangan itu.


“Kenapa kau lari hmm, “ ujar Alvian dengan nada suara yang mengecil menghampiri Nara.


Nara yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berjalan mundur hingga tubuhnya terhimpit di antara tembok dan juga tubuh Alvian yang sudah mengurungnya.


“Kak jangan macam-macam yah, “ peringat Nara.


Alvian tersenyum smrik lalu mengangkat wajah Nara menatap dirinya. Nara bisa merasakan hembusan hangat nafas Alvian menerpa seluruh wajahnya.


“Memangnya kenapa kalau saya macam-macam, “ tantang Alvian.


Nara menelan salivanya kasar, wajah Alvian yang semakin dekat hingga Ia bisa merasakan hidung pria itu, dengan seketika Nara menutup matanya.


Chup


Satu ciuman dari Alvian berhasil mendarat tepat di atas bibir ranum gadis itu, Nara yang tidak tau harus berbuat apa dalam posisi itu, hanya bisa mencengkeram erat kerah baju Alvian.

__ADS_1


“Maaf, “ sesal Alvian setelah menghentikan aksinya.


Wajah Nara yang suda berubah merah layaknya tomat masak, membuatnya seketika bersembunyi dalam dada bidang Alvian.


Alvian tersenyum kecil lalu mengeratkan pelukannya, “Apa kau mau menjadi bagian dari hidupku? “


Nara mengangkat kepalanya sekilas menatap wajah tampan Alvian yang sedang tersenyum, dan menenggelamkan kepalanya lagi pada dada bidang Alvian lalu membalas pelukan pria itu.


“Seumur hidupku, aku hanya merasakan pelukan ayah dan Rian. Tidak pernah ada pria lain yang berani ku peluk, “ ujar Nara.


Mendengar penuturan gadis yang berada dalam dekapannya, membuat Alvian merasa sangat beruntung bisa menjadi yang pertama merasakan hangatnya pelukan itu.


“Aku masih menunggu Nara, “ kekeh Alvian yang seolah tak puas dengan apa yang di katakan gadis itu.


Karena kesal dengan perkataan Alvian, Nara melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju sofa.


“Kenapa? Saya membutuhkan jawaban yang pasti, “ jelas Alvian bersimpuh di hadapan Nara.


“Jawaban apa? “ Rian yang baru saja tiba, begitu kebingungan dengan percakapan dua orang dalam ruangan itu.


“Sejak kapan kau di situ? “ bukannya menjawab, Nara malah balik bertanya kepada adiknya.


“Baru semenit yang lalu. "


Nara menarik nafasnya lega lalu berjalan keluar meninggalkan kedua pria itu tanpa sepatah katapun.


“Mau kemana dia? “ gumam Rian dengan pandangan yang terus mengikuti jejak Nara yang hampir pudar.


Ting


Tak menjelang beberapa detik, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.


...MINE🌹...


[Apa sekarang aku akan di panggil nyonya Alviano?]


Ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman di kala matanya menyapu berulang kali membaca pesan dari Nara.


Rian yang sedari tadi memperhatikan pria di hadapannya itu, menggelengkan kepalanya.


“Apa sekarang mereka sedang merayakan hari orang gila sedunia?! “ ujarnya pelan.


Alvian yang tidak memperdulikan perkataan Rian, kembali fokus pada ponselnya sembari mengusap-usap bibirnya.


Tak lama kemudian, Nara kembali dengan membawa beberapa kotak makanan di tangannya.


Rian yang melihat kehadiran Nara dengan membawa beberapa makanan, menghampiri Nara lalu mengambil kotak-kotak itu dari tangan Nara.


“Banyak amat, “ ujar Rian yang sudah mendahului Nara duduk di sofa.

__ADS_1


“Ia itu dari Lexo, “ suara kecil itu terdengar begitu nyaring memasuki kamar dimana Firman di rawat.


Rian yang melihat kehadiran Rani, Alexo dan juga Evan bangkit dari duduknya berjalan menggendong bocah kecil itu.


“Alexo kok bisa disini? “ tanya Rian.


“Iya Rian, kita tadi dari dokter kandungan dan melihat Nara makanya kita itu deh, “ jelas Rani yang sepertinya percuma saja, sebab Rian sudah asik dengan Alexo.


“Alvian kamu nggak kerja? “ ujar Evan menghampiri adik istrinya itu.


Alvian yang sedari tadi hanya memperhatikan Nara, seketika mengalihkan pandangannya dari gadis itu lalu mengangguk mengiyakan perkataan Evan.


“Ayok makan, “ ajak Rani yang langsung di setuju Rian dan juga Alexo.


Evan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bocil-bocil di hadapannya itu.


Sedangkan Nara, berjalan menuju kursi yang berada di samping Alvian lalu mendaratkan bo kongnya di sana.


Nara menarik nafasnya panjang lalu meletakkan kepalanya di atas ranjang Firman, sembari mengelus-elus tangan ayahnya itu.


Seolah tidak ingin melewatkan kesempatan, Alvian menggerakkan tangannya hingga memeluk erat pinggang gadis itu.


“Ayah nggak mau bangun kenalan sama Alexo apa? “ gumam Nara pelan yang masih bisa di dengar Alvian.


“Iya nih, Lexo kan mau kenalan sama ayahnya om Ian, “ sambung Alexo.


Alvian mengusap lembut surau panjang Nara, “Sebentar lagi pasti bakal sadar kok, tenang saja. “


Rani, Rian, dan juga Evan saling menatap satu sama lain lalu kembali menatap kedua insan itu. Nara yang menyadari tatapan itu, segera bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar.


“Ada yang tidak beres, “ ujar Evan yang langsung di angguki Rian dan Rani.


“Dasar hama, “ kesal Alvian ikut bangkit dari duduknya berjalan mengikuti jejak Nara.


Tawa kecil ketiganya pecah saat Alvian sudah tidak ada dalam pandangan mereka.


“Sadarlah kapten, apa kau tidak ingin melihat putrimu tersipu malu seperti itu, “ batin Rian menatap ke arah Firman.


Rani yang menangkap basah eksepsi wajah Rian, dengan segera menarik Rian masuk kedalam pelukannya.


“Ia pasti akan segera sembuh, “ ujar Rani menenangkan.


“Benar, tidak usah terlalu bersedih, “ tambah Evan.


Rian tersenyum masam sembari mengusap air matanya yang sudah membanjiri pipinya.


.


.

__ADS_1


Makasih buat yang sudah mampir, yuk komen sama like biar aku tau kalau ada yang kesini 🌹


__ADS_2