Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 36 Ulah Gino


__ADS_3

Tina yang sejak pukul empat pagi kembali ke rumah, membuat Nara harus menunggu sebentar sebelum ke kantor.


Ia mendekati Firman, lalu membersihkan seluruh tubuh ayahnya menggunakan tisu basa dan mengganti pakaian Firman.


“Ayah, Nara sudah kerja di perusahaan paling terkenal. Kapan ayah bangun? Nara mau traktir ayah pake gaji pertama Nara, “ ujarnya.


Tanpa Nara sadari, bulir bening dari matanya seketika terjatuh tanpa seizinnya. Ia mengecup singkat kening Firman, lalu duduk di samping ayahnya.


"Ayah, buka dong matanya sedikit saja, " ujar Nara.


Tak menjelang beberapa lama, Tina kembali bersama Rian. Keduanya beriringan menghampiri Nara yang saat ini pandangannya tak luput dari Firman.


“Nara, sudah sana kerja. “


Nara berbalik mendapati Tina dan juga Rian yang tengah menatapnya dengan senyuman hangat.


“Ah iya, Nara pergi dulu. “


"Mau aku antar? " tawar Rian.


"Nggak usah, kamu sana temui Nabila cari bahan buat ospek nanti. "


Rian mengangguk mengiyakan perkataan Nara, berjalan menuju samping Firman.


"Putrimu sudah bisa pergi sendiri kapten, kapan kamu sadar? "


Tina dan Nara hanya tersenyum pahit mendengar perkataan Rian.


Nara mendekat, mengecup singkat kening Firman, dan berpamitan kepada Tina dan juga Rian lalu berjalan meninggalkan rumah sakit.


Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu mengusap benda pipih itu memesan taksi online setelah berada di halte dekat sana.


Saat itu, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Nara yang tak peduli, memilih bergeser beberapa langkah menjauhi mobil itu.


“Nara! “


Nara seketika berbalik, saat namanya di sebut. Ia kembali menatap ke arah jalanan kota, saat mengetahui siapa yang dengan lancangnya menyebut namanya.


“Nara! “ bentak Gino yang tidak mendapat respon dari mantan kekasihnya itu.


Nara seketika terkejut, lalu berjalan mendekati Gino yang tengah tersenyum ke arahnya.


“Katakan ada apa? “


“Ayolah jangan sok cool, mau kemana kamu? “ ujar Gino.


Nara menghempaskan tangan Gino kasar, pria itu beraninya menyentuh dirinya.


“Nara, sebegitu bencinya kamu sama aku. “


Nara berbalik menatap lekat wajah pria di hadapannya dengan tatapan kebencian.


“Iya, benci banget sampai aku nggak mau lagi lihat mukamu. “


Hati Gino serasa di iris iris, gadis yang masih di cintainya menaruh kebencian begitu besar kepadanya.


“Apa tidak ada lagi kesempatan, “ ujarnya.


Tak menjawab pertanyaan Gino, Nara memilih pergi di saat taksi yang di pesannya tiba.


Dengan cepat, Gino menahan Nara yang ingin membuka pintu taksi.


"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil Gino, aku harus kerja, " kesal Nara.


Seolah tuli, pria itu malah menyuruh taksi pergi setelah memberikan beberapa lembar uang.


"Ini pak, batalkan saja pesanannya. "


"Ya! apa kau tidak waras?! aku harus bekerja, " kesal Nara melihat kelakuan Gino.


Gino tak memperdulikan ocehan Nara, Ia menarik tangan Nara membawa menuju taman di dekat sana.


"Lepaskan Gino, aku harus kerja! " bentak Nara yang sudah tidak tahan dengan kelakuan mantan tunangannya itu.


Gino hanya tersenyum kecil memperhatikan ocehan Nara, hal inilah yang di rindukannya dari gadis itu.


"Aku merindukanmu, " ujar Gino.

__ADS_1


Nara berdecak kecil, lalu berjalan menuju kursi yang berada di sana.


"Apa sudah tidak ada lagi rasa malu dalam dirimu? "


Gino terdiam sebentar, dan ikut duduk di samping Nara.


Ia mengambil tangan Nara, menggenggam erat.


"Aku tau aku salah, begitu bangsatnya diriku sampai mengecewakan mu. Maafkan aku, "


"Sudahlah Gino, sana urusi kekasihmu itu. "


"Aku baru sadar Nara, ternyata dia tidak sebaik yang aku pikirkan, " ujar Gino mencoba mengambil hati Nara.


Nara menghempaskan kasar tangan Gino, lalu bangkit dari duduknya.


Namun, dengan lancangnya Gino memeluknya dari belakang.


"Kembalilah padaku Nara, " ujarnya mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan aku Gino. "


"Tidak Nara, aku mohon sebentar saja. Aku begitu merindukanmu. "


Lagi-lagi, Gino mengeluarkan kata-kata buayanya membujuk Nara.


"Aku bilang lepaskan Gino! " bentak Nara.


Bukannya melepaskan pelukannya, Gino malah semakin mengeratkan pelukannya.


Nara sedikit kasar mendorong tubuh Gino darinya. Setelah bersusah payah, akhirnya Nara berhasil lepas dari pelukan Gino.


"Penghianat tetaplah penghianat. "


Nara mengambil tasnya, lalu melangkah meninggalkan taman itu.


"Kita lihat seberapa tahannya kau menolak ku, " gumam Gino.


Gino yang masih berusaha, berlari mengejar Nara yang sudah sampai di depan mobilnya.


Nara tampak berpikir sebentar, lalu menganggukkan kepalanya. mungkin jika Ia mengijinkan Gino mengantarkannya, pria itu tidak akan mengganggunya lagi.


"Setelah ini jangan muncul lagi di hadapanku, " ujarnya.


"Baiklah. "


Gino membukanya pintu mobil, dengan segera Nara masuk kedalam mobil Gino.


"Aku tidak Janji Nara, " gumamnya pelan, lalu mengikuti jejak Nara yang sudah berada dalam mobil.


Gino segera melajukan mobilnya, menuju tempat dimana Nara bekerja yang tak lain adalah perusahaan milik Alvian.


Tanpa di sadari Nara, sedari tadi Alvian memperhatikannya bersama Gino.


"Kembali ke kantor! " pintah Alvian dengan nada dingin, membuat David dengan segera melajukan mobilnya menyusul Nara.


"Apa kau lakukan Nona muda, serigala ini sebentar lagi akan menghabisi seisi kantor. " batin David.


"Akan ku gunakan dia, sebagai alat untuk menghancurkan kalian berdua. Tunggu saja Alviano, " ujar seorang gadis, yang sedari tadi memperhatikan semuanya.


Nara yang sudah berada di halaman kantor Alvian, dengan cepat keluar dari mobil Gino tanpa sepatah kata pun.


Namun, Gino lagi-lagi menarik tangannya hingga Ia terbentur pada dada bidang Gino.


"Lepaskan Gino! " bentak Nara yang sudah sangat tidak tahan lagi dengan kelakuan pria itu.


"Baiklah, sampai jumpah sayang. "


Nara sama sekali tidak memperdulikan perkataan Gino, Ia melangkah menjauh menuju dalam kantor.


"Sampai jumpa Nara! " teriak Gino mengikuti langkah Nara.


"Akan ku dapatkan kembali dirimu, " gumam Gino.


Setelah itu, Gino melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat tersebut.


Saat itu juga, Mobil Alvian memasuki halaman kantor. Nara yang mendengar suara mobil Alvian, menghentikan langkahnya berbalik.

__ADS_1


Benar saja, Alvian dengan sangat gagahnya melangkah mendekatinya.


"Hai kak, " sapa Nara.


Namun, Alvian hanya meliriknya sekilas lalu menyelonong masuk begitu saja.


Nara menaikkan kedua alisnya, seolah bertanya kepada David.


"Kantor ini akan di landa bencana sebentar lagi, " ujar David, lalu dengan cepat mengikuti langkah Alvian.


Nara yang bingung dengan sikap Alvian, berlari cepat ikut masuk kedalam lift yang khusus untuk pemilik perusahaan.


"Karyawan biasa tidak di izinkan lewat sini, apa aku haru selalu mengingatkan ini kepadamu David! " bentak Alvian.


Nara yang merasa tersindir, dengan jantung yang berdegup kencang karena ketakutan memilih keluar.


"Tutup liftnya David. "


Dengan sangat amat terpaksa, David mengikuti perkataan Alvian.


Sedangkan Nara yang menahan tangisnya berusaha kuat, berjalan menuju tangga darurat dengan tatapan kosong.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan tuan? " tanya David dengan hati-hati.


"Katakan pada Victor, siapkan meetingnya dalam lima menit lagi. "


David menghela nafasnya panjang, saat Alvian sudah bergegas keluar tanpa menjawab pertanyaannya.


Nara yang baru tiba di mejanya dengan nafas memburu, dengan segera di samperi Meri.


"Nara, kau baik-baik saja? "


Tak menjawab pertanyaan Meri, Nara bergegas menuju tempat minum lalu menyeruput habis segelas air.


"Nggak apa-apa kak. "


setelah mengatakan itu, Nara kembali ke mejanya.


"Meri ke ruang meeting, " ujar Victor yang melewati Devisi Marketing.


Meri mengangguk mengiyakan perkataan Victor, lalu mengambil berkasnya menuju ruang meeting.


"Nona anda baik-baik saja? " tanya Victor yang memperhatikan tatapan kosong Nara.


"Ah, iya baik. "


Victor hanya mengangguk mengiyakan perkataan Nara, lalu bergegas menyusul Meri.


Setelah kepergian Victor yang menyusul Meri, Ana dan juga Ria menghampiri Nara.


"Kamu kenapa Nara? " tanya Ana.


"Capek, aku naik lewat tangga darurat tadi, " eluhnya, setelah meletakkan kepalanya di atas meja.


Ria dan juga Ana menepuk jidatnya masing-masing, mendengar kebodohan Nara.


"Kan ada lift, kenapa nggak pake lift? "


Sendri yang baru datang ikut bergabung dengan para gadis-gadis itu.


"Nggak lihat dimana lift yang khusus karyawan, " jela Nara.


"Lift khusus karyawan berada di samping tangga darurat, kalau yang berhadapan dengan tangga darurat itu khusus Tuan Alvian, tuan Davi, dan juga tuan Victor. "


Nara hanya mengangguk, pertanda mengerti dengan penjelasan panjang Sendri.


"Sudah kembali bekerja, setelah meeting selesai akan ada evaluasi seluruh karyawan kecuali security dan ob yang bebas, " ujar Ria.


Nara, Ana, dan juga Sendri mengangguk mengiyakan perkataan Ria, lalu mulai berkutat dengan komputer mereka masing-masing.


.


.


.


Makasih yang masih bersama sejauh ini, jangan lupa like dan komennya 🌹

__ADS_1


__ADS_2