
“Jadi apa yang aku kerjakan? “ tanya Nara.
Sebab, sedari awal dirinya masuk kedalam ruangan itu Alvian hanya memeluknya tanpa berbuat apa-apa.
“Cukup duduk disini temani aku, “
Nara berdecak kesal, lalu melepaskan pelukan Alvian secara paksa.
“Hahaha jangan marah, Victor akan datang memberitahukan apa yang kau kerjakan. Sepertinya lima menit lagi baru dia akan kesini, “ jelas Alvian.
“Berapa gaji yang akan aku dapat? “ tanya Nara dengan senyuman manis terukir di bibirnya.
Alvian mengusap-usap lembut surau hitamnya, lalu mengeluarkan ponselnya dan terlihat mengotak-atik benda pipih itu.
Ting
Nara yang mendengar ponselnya berbunyi dengan segera memeriksa, matanya seketika membulat melihat isi pesan itu.
“Banyak banget. “
Nara menyodorkan ponselnya kehadapan Alvian, yang memperlihatkan pesan dari M-banking sebesar seratus juta masuk ke dalam rekeningnya.
“Jadilah istriku maka kau akan mendapatkan yang lebih dari itu. “
Nara berbalik menatap lekat kedalam manik indah pria itu, di sana tidak ada candaan hanya keseriusan yang di lontarkan oleh Alvian.
"Datanglah ke hadapan ayah dan ibuku, lamar aku, " ujar Nara, lalu terkekeh geli dengan perkataannya.
Alvian pun ikut tersenyum mendengar apa yang di katakan Nara.
“Tuan, Nona muda bisa di tempatkan di bagian Devisi Marketing. “
Pandangan Alvian dan Nara beralih menatap ke arah pintu yang di sana sudah ada Victor tengah berjalan ke arah mereka.
“Mari nona saya antar, “ ujar Victor.
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Victor lalu ikut melangkah meninggalkan Alvian tanpa sepatah kata pun.
Setelah kepergian Nara, Roseta muncul setelah berhasil kabur dari security memasuki ruang Alvian yang kebetulan hanya Alvian seorang.
“Al, “ ujarnya menghampiri Alvian.
Alvian yang melihat kehadiran gadis itu menarik nafasnya panjang, lalu menekan beberapa tombol yang ada di telepon mejanya.
“Cepat keruangan saya! “
Roseta yang mengerti akan maksud dari perkataan Alvian pada telepon itu, menggelengkan kepalanya mendekati Alvian.
“Nggak Al, aku mau bicara sama kamu, “ ujarnya menggenggam pergelangan tangan Alvian.
Tanpa memberi respon , Alvian menatap wajah Roseta dengan masamnya.
“Maafkan aku Al, aku mau kita kembali seperti dulu lagi. “
“Semudah itukah mulutmu mengucapkan maaf? “
“Aku tau aku salah Al, itu hanyalah masa lalu lihatlah aku sudah kembali. Mari kita perbaiki dan mulai semuanya dari awal lagi, “ ucap Roseta.
Alvian tersenyum smrik lalu menghempaskan tangan Roseta, membuat gadis itu sedikit menjerit.
“Ini kan yang di berikan ayahku, ambil! “
__ADS_1
Alvian mengambil beberapa lembar uang khas dari dalam laci mejanya, menghamburkan ke wajah Roseta.
“Ambil dan jangan pernah kembali! “ teriak Alvian menggema di seluruh sudut ruangan itu.
“Nggak Al, aku mohon kita mulai saja semua dari awal, “ kekeh Roseta yang semakin mengundang amarah dalam dirinya.
Roseta yang hendak memeluk tubuh Alvian, dengan cepat di dorong pria itu hingga dirinya terbentur ke sofa.
“Aku nggak akan menyerah sampai kau menjawab Ia, “ ujar Roseta.
Alvian mengusap wajahnya kasar, lalu melangkah mendekati gadis itu.
“Heii apa kau pikir setelah kau mengkhianati ku aku bisa kembali?! Jangan pikir aku bodoh, kau salah satu dalang dari kejadian lima belas tahun yang lalu. “
Duar
Wajah Roseta seketika memanas begitu juga gesture tubuhnya yang seketika menunjukkan ketakutan.
Alvian semakin menarik sudut bibirnya tersenyum smrik saat menangkap basah kegugupan wanita itu.
...***...
Nara yang baru saja tiba di Devisi marketing bersama Victor, langsung berjalan menuju kursinya.
“Mulai besok anda sudah bisa bekerja nona. “
“Loh kenapa tidak hari ini saja Victor? “
Nara bingung dengan maksud pria itu, dirinya pikir Ia sudah bisa bekerja sama halnya dengan beberapa karyawan baru lainnya.
“Itu anda bisa tanyakan pada tuan muda, Meri ini salah satu anggota mu. “
Nara memanyunkan bibirnya sembari menengok ke arah samping Victor, yang terlihat seorang pria feminim berbadan agak besar menghampirinya.
Dengan senyum mengembang, Nara menerima uluran tangan tersebut.
“Aku Nara. “
“Hai Nara aku Ana, dan itu Ria yang sebelahnya Sendri, “ ujar seorang gadis yang bernama Ana menghampiri Nara.
“Baiklah kalian kembali bekerja, Nona mau ikut saya kembali ke ruangan tuan muda? “
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Victor lalu berjalan mendahului pria itu.
“Wooow ada apa dia sama Tuan muda? “ kepo Ria yang ikut di angguki Ana.
“Heh dia itu calon Nona muda Jovanka grup. Jadi jaga bicara kalian, “ peringat Meri.
“Oh my God, kita se Devisi sama kekasih tuan muda! “ teriak Ana hebo.
“Diam! “
Satu teguran dari pria yang tak jauh dari mereka, mampu membuat kehebohan itu seketika redup.
Nara dan juga Victor yang tiba di depan ruangan Alvian, menghentikan langkah keduanya saat melihat pemandangan di depan sana.
“Lepaskan Roseta! “ bentak Alvian.
Namun, wanita gila itu semakin mengeratkan pelukannya.
“Cih, lagaknya manis di depanku. Tapi memeluk setiap wanita yang ada, “ ujar Nara dengan mata yang tidak luput dari dalam ruangan Alvian.
__ADS_1
Victor yang mendengar perkataan Nara, mengusap kasar wajahnya.
“Nona itu bukan seperti apa yang anda lihat?! “
“Hmm aku tau dia bos mu makanya kau membelanya, lagian aku juga sadar diri kok. Nggak mungkin remahan biskuit bersanding dengan pizza mahal, “ ujar Nara.
Alvian yang mengalihkan pandangannya ke arah pintu, seketika matanya membulat melihat Nara dan Victor yang juga menatapnya.
“Nara! “
Nara dengan secepat mungkin berlari meninggalkan tempat itu.
“Urus dia. “ pintah Alvian kepada Victor sebelum mengejar Nara yang sudah hampir menghilang dari pandangannya.
Setelah kepergian Alvian yang mengejar Nara, Victor memasuki ruangan Alvian sembari menutup rapat pintu itu.
“Jangan macam-macam Victor! “ peringat Roseta mencoba menjauh dari pria itu yang terus mendekatinya.
“Aku sudah memperingati mu waktu itu tapi kau begitu sangat beraninya, tidak mendengarkan. Baiklah sayang, aku akan senang bermain-main dengan wanita sepertimu. “
Victor yang memojokkan Roseta ke dinding, mengurung gadis itu dengan kedua pahanya lalu mengeluarkan sengatan listrik dari dalam kantongnya.
“Aaaa sakit! “ jerit Roseta saat kulitnya tersentuh benda itu.
“Oh tenanglah manis, itu tidak seberapa. Jika kau masih mencoba terus mengganggu Alvian, akan ku pastikan kau dan juga Ridwan hancur di tanganku. Paham! “
Victor mendorong keras tubuh Roseta ke dinding, lalu pergi begitu saja meninggalkan gadis itu yang masih menjerit kesakitan.
“Awas kalian, akan ku pastikan kau dan juga Alvian menerima semua ini, “ gumamnya dengan penuh amarah.
Alvian yang mengejar Nara sampai ke belakang kantor, dengan cepat memeluk pinggang gadis itu.
“Lepaskan! “ teriak Nara sembari memukul tangan Alvian.
Alvian tak melepaskan pelukannya namun, pria itu memutar tubuh Nara agar berbalik kepadanya.
“Apa?! “ ketus Nara.
Alvian terkekeh kecil lalu mengecup singkat pipi gadis itu.
“Kaka mau aku laporin ke polisi? “
“Hmm sana laporkan saja, “ nantang Alvian.
Nara berdecak kecil lalu mengeluarkan ponselnya menekan beberapa tombol.
“Hallo pak, saya mau melaporkan-
Belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, Alvian dengan cepat merebut ponsel Nara.
“Apa kau cemburu? “ ujar Alvian sembari membungkuk mendekatkan wajahnya pada Nara.
Nara tersenyum sinis lalu berbalik, dan saat itu juga Alvian memutar tubuhnya agar berbalik menatapnya.
“Iss tau ah, “ kesal Nara.
Alvian tertawa puas melihat ekspresi kesal wajah gadisnya itu.
.
.
__ADS_1
.
Aaaa makasih ayangnya aku yang sudah mampir ummah, yuk saran dan kritiknya sayang 🌹