
Setelah kejadian di rumah Alvian itu, Nar dan Alvian sekarang lumayan terlihat bersama ke kantor. Keduanya kembali terpisah, saat gadis itu sudah tiba di depan ruangannya.
Nara kembali menarik nafasnya panjang, ketika Alvian menatapnya datar tanpa ekspresi berlaku begitu saja.
“Kumat lagi, “ oceh Nara kesal.
Ia melangkah menuju mejanya, lalu di sambut senyuman hangat dari Sendri. Sendiri mendekatinya, dengan segelas kopi pada tangannya.
“Biar nggak ngantuk, “ ujar Sendri, setelah kopi pada tangannya berpindah ke meja Nara.
“Aku nggak minum kopi Sen, lambung,” tolak Nara halus.
Mendapat penolakan dari Nara, tentunya membuat Sendri sedih. Namun, pria itu tidak kehabisan akal Ia kembali ke mejanya dan kembali lagi pada meja Nara dengan sekotak susu.
“Masa minum susu lambung, “ ujarnya dengan sedikit kekehan diakhir kalimatnya.
Nara sudah tidak bisa lagi menolak, dengan sedikit senyuman terukir pada bibirnya, gadis itu mengambil susu pemberian Sendri.
“Sama sikap kesini?” tanya Sendri basa basi.
“Bos.”
Jawaban singkat dari Nara, membuat Sendri hanya mengangguk lalu menyeruput kopinya. Tiba-tiba saja, keduanya dikejutkan dengan pintu yang terbuka.
“Masih pagi, udah pacaran, “ goda Bianka memasuki ruangan itu.
Sendri sedikit tersipu setelah apa yang dikatakan Bianka, memasuki pendengarannya. Berbeda dengan Nara, gadis itu sama sekali tidak memperdulikan perkataan Bianka
“Sudah absen?”
Bianka hanya mengangguk mengiyakan perkataan Nara, kemudian meminum habis susu tadi yang hanya diminum stengah oleh Nara. Jujur, hal itu membuat Sendri cukup sedih melihatnya.
“Apa kau punya kontak Marni?”
“Iya, mau kuberikan?”
Nara langsung menyodorkan ponselnya, Bianka menerima bendah pipi itu langsung menekan beberapa nomor milik Marni.
Setelah selesai, gadis itu mengambil kesempatan menyalin nomor Alvian tanpa sepengetahuan Nara. Tentu saja tanpa Nara ketahui, setelah menyerahkan ponselnya Nara langsung sibuk dengan Sendri.
“Nara, sudah. “
Nara berbalik mengambil ponselnya, langsung sibuk pada benda itu. Bianka tersenyum menang, ketika berhasil menyalin nomor Alvian.
Tanpa dirinya sadar, Alvian sudah mengetahui hal itu. Melihat tatapan Alvian, David langsung mengangguk mengerti.
“Pastikan dia tidak macam-macam,” ujar Alvian.
“Baik tuan.”
Alvian ingin kembali melanjutkan pekerjaannya namun, pikirannya pada Nara tidak lepas dari gadis itu.
“Sial!”
Pria itu bangkit dari duduknya, berjalan keluar ruangan yang membuat David kebingungan dengan tuannya itu.
Ria dan Ani yang di kawal Victor, tertawa ria menuju ruangan mereka. Keduanya menghentikan langkah kaki, saat mata mereka menangkap sosok Bianka di dalam sana.
__ADS_1
“Kenapa berhenti?” tanya Victor.
Tak mendapat jawaban dari kedua gadis tersebut, Victor mengikuti arah tatapan keduanya. Kemudian, tatapnya beralih pada Alvian yang berjalan mendekat.
“Ada meeting dimana?”
Pertanyaan tiba-tiba yang di keluarkan Alvian, membuat Ria maupun Ana, terkejut dengan kehadirannya.
“Cafe xxx dengan tuan Park, “ jawab Victor.
Tatapan Alvian sama sekali tidak tertuju pada Victor, melainkan pada Nara yang sepertinya sibuk dengan Sendri.
Bianka yang sedari tadi tidak dipedulikan, melirik kearah luar dan mendapati Alvian di sana. Ia sedikit merapikan rambutnya berjalan keluar ruangan.
“Mulai ganjen, “ celutuk Ana, membuat Victor dan Alvian menatapnya.
“Siapa?”
Sadar masih ada bosnya di sana, Ria menutup rapat mulut Ana menggunakan tangannya. Sedangkan pembuatan masalah itu, hanya terkekeh kecil menanggapi tatapan itu.
Kedua pria itu menjadi mengerti akan ucapan Ana, ketika Bianka keluar dari ruangan tadi dan langsung mendekati Alvian.
“Tuan, anda sangat keren hari ini.”
Seperti wanita penggoda, Bianka tersenyum genit mendekati Alvian.
“Nara!” teriak Alvian secara tiba-tiba.
Sontak saja semua yang berada di dekatnya, secara bersamaan terkejut dengan teriakannya. Tak hanya mereka, Nara dan Sendri pun ikut terkejut akan suara itu. Dengan sedikit terburu-buru, Nara berlari keluar. Dapat dilihatnya, Alvian sudah tidak lagi berekspresi.
“T-tuan, a-ada yang bisa saya bantu, “ ujar Nara terbata-bata, takut Alvian menyemprotnya.
Alvian melangkah pergi dari sana, membuat Nara dengan segera menyerobot Ria dan Ana mengikuti Alvian.
Victor meluncurkan tawanya, ketika tak sengaja dirinya melihat senyuman pada wajah Alvian. Pria itu sepertinya ingin sedikit menjahili Nara.
Ria mulai kesal dengan senyuman Victor, bagaimana tidak saat ini Ana sudah seperti kesetanan menatapnya.
“Sudah ku bilang, jangan tersenyum!” bentak Ria.
Victor dan Bianka yang terkejut, menatap lekat gadis itu. Sedangkan Ana, yang menjadi kesal meninggalkan tempat tersebut saat Meri menghampiri mereka.
“Kalau anda tersenyum lagi, akan ku habisi kau, “ ancam Ria sesaat sebelum akhirnya mengikuti langkah Ana.
Bianka yang tidak tau harus berbuat apa setelah kepergian Victor, tersenyum smrik lalu mengeluarkan ponselnya.
“Besok akan ku kirimkan sinyal. Setelah itu, lakukan tugasmu.”
Setelah berhasil mengirimkan pesan kepada seseorang, Bianka memasukkan kembali ponselnya pada kantong celananya melangkah pergi dari sana.
...***...
Niko yang sudah berhasil meminjam Ilone dari Lidia, tersenyum senang saat keduanya sudah berada dalam mobil menuju sebuah cafe.
“Berhentilah tersenyum bodoh, kau pikir kau tampan seperti itu?!” oceh Ilone dengan pandangan kearah depan.
Tawa Niko pecah, Ia menginjak gasnya tinggi melakukan mobilnya membela jalanan kota. Niko pikir, Ilone akan takut dengan caranya itu tapi ternyata salah, gadis itu justru tenang tanpa suara.
__ADS_1
“Aku suka, “ ujar Niko dengan senyuman smrik.
Ilone melemparkan tatapan tajamnya, ketika rute yang ditempuh Niko tidak sesuai dengan arah yang seharusnya.
“Mau kemana kita?”
“Ikut saja, aku tidak akan membunuhmu.”
“Yah, bisa saja kau akan menjualku pada para mucikari, “ judes Ilone.
“Mana ada pria yang mau dengan tubuh kurus mu itu.”
Ilone memukul brutal lengan Niko, bukannya meringis kesakitan pria itu justru tertawa renyah dengan perbuatan Ilone padanya.
Niko menghentikan laju mobilnya pada pinggiran pantai, menatap wajah Ilone lalu keluar dari dalam mobil. Melihat hal itu, tak mau ketinggalan Ilone pun ikut turun menghampiri Niko.
“Apa ini meeting penting itu?”
Lagi, dan lagi Niko terkekeh kecil menanggapi perkataan Ilone. Sejujurnya meeting itu hanyalah alasan, agar Lidia mengijinkan Ilone bersamanya.
“Apa kau tidak merindukan ku?”
Tak mau menjawab pertanyaan tersebut, Ilone memilih duduk pada tepian trotoar sembari menikmati indahnya angin yang berhembus.
Niko ikut duduk di samping Ilone, dengan pandangan yang terus tertuju pada wajah manis wanita tersebut.
“Aku tidak ingin, meskipun dalam hatiku berkata iya, akan ku pastikan rindu lenyap selamanya.”
“Sebegitu patuhnya dirimu pada Alvian?”
“Karena hanya dia yang selalu ada, “ jawab Ilone.
Niko mengalihkan pandangannya menatap kearah ombak pantai yang terus menari. Dengan sinar bulan yang terang, menambah indahnya pemandangan malam itu.
Sakit, tentu saja hal itu tengah dirasakan Niko saat mendengar apa yang dikatakan Ilone.
“Maafkan aku, kejadian lima belas tahun lalu membuat ku hampir gila. Alvian sangat lama dalam mengambil tindakan, jadi aku harus pergi darimu,” ujar Niko dari perasaannya paling dalam.
“Aku juga kehilangan Niko.”
Niko dengan segera, menarik Ilone membuat gadis itu menumpahkan kepalanya pada bahu Niko.
“Teruslah berusaha, sebentar lagi semua akan terpecahkan, “ ujar Niko, mengelus lembut tangan Ilone yang sudah berada dalam genggamannya.
Kejadian lima belas tahun lalu, benar-benar berdampak besar kepada para rekan dekat Jovanka.
.
.
.
hmmm, lima belas tahun lalu ni ada apa sih?
maaf jika dari awal ceritanya agak melebar, tapi memang itulah kisah yang aku dapat dari sumbernya langsung. jadi, jangan bosan yah okey ❤️
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚